
Apapun itu, kini Sthira hanya bisa menghela napas. Ia mengalihkan pandangannya dari Arumi dan berjalan menyusuri geladak kapal. Matanya beralih dari hamparan laut luas ke kapal layar yang jenisnya disebut Pinissi ini. Konon Jayandra merebut kapal ini dalam pertempuran laut melawan Kerajaan Akhsar beberapa tahun silam.
Kapal Pinissi ini dilengkapi dua tiang utama dan tujuh helai layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di tiang depan dan dua di tiang belakang. Ukuran panjangnya dua puluh tiga meter, lebar sembilan setengah meter, tinggi kapal tiga setengah meter dan menjulang sampai tiga puluh lima meter. Setelah bergabung dalam Armada Jayandra, kapal ini dinamai Jalaruna.
Sthira terhenyak. Mau tak mau ia berdecak kagum melihat kapal indah nan tangguh ini. Saat berikutnya, perhatiannya teralihkan dan terpusat justru bukan pada kapal itu, melainkan pada salah seorang penumpangnya. Tepatnya, pada seorang gadis berambut jingga yang tengah melepas lelah, berdiri sambil bersandar di pagar geladak.
Itulah Nirya, kepalanya menegadah dan matanya tertutup. Senyum gadis itu mengembang teramat manis, sambil ia menghirup udara laut nan segar sepuas-puasnya. Rambut dan pakaiannya berkibar-kibar ditiup angin. Di mata Sthira saat ini, Nirya yang ceria lebih cantik dari Arumi yang serius dan kaku. Segala gerak-gerik gadis Swarnara itulah yang menarik si pemuda Kalingga mendekat selangkah demi selangkah.
Hingga akhirnya Sthira menemukan kata-kata sapaan untuk Nirya. “Tak apakah kau berangin-angin di sini, Nirya?”
Nirya menoleh sambil tersenyum. “Oh, luka-lukaku dari Megaswari hampir pulih sepenuhnya kok. Kurasa aku bisa bertarung lagi bilamana perlu.”
“Haha, kurasa kita tak perlu bertarung saat ini, berkat ketegasan Arumi,” tanggap Sthira, berusaha agar dirinya tak terlihat tegang dengan ikut bersandar santai di pagar geladak.
Nirya menghela napas. “Ya, untung saja Arumi dapat diandalkan saat tak berada dalam tekanan terlalu berat yang sampai mengusik, bahkan merusak kehidupan pribadinya.”
Tawa Sthira berderai. Ya, ia tak dapat mengingat kapan terakhir kali ia tertawa keras dan lepas seperti ini. Selama mengenal Nirya, apalagi Arumi pula, yang mereka bertiga bicarakan hampir selalu tentang hal-hal serius atau berhubungan dengan misi. Saat canda merebakpun, Sthira selalu menahan tawa saja.
Terkesiap, tawa Sthira terhenti seketika.
“Lho, ada apa, Sthira?” Nirya mendelik penuh tanda tanya.
Sthira mengelus-elus rambutnya. “Eeh... Hanya goyangan kapal sedikit menyentak saja kok.” Padahal Sthira baru sadar Niryalah yang telah membuat dirinya tertawa lepas tadi.
Mungkin, mungkin saja Sthira baru sadar pula ia merasa lebih nyaman bersama Nirya yang apa adanya ini. Arumi memang terkesan lebih cerdas dan lebih dewasa daripada Nirya. Namun itu membuat gadis itu terkesan selalu mengenakan topeng, menyembunyikan jati dirinya yang labil, yang sebenarnya sudah terungkap di Megaswari.
__ADS_1
Arumi terkesan masih berharap pada karir dan reputasinya sebagai senopati di Jayandra. Walaupun kini ia tengah menjalani misi yang bakal membuat masa depannya tak pasti lagi, jelas Arumi cari aman. Andai ia dan teman-temannya gagal dan misi mereka harus terhenti di tengah jalan, Arumi masih bisa pulang dan kembali mengabdi di Jayandra sebagai senopati.
Namun, bagaimana dengan Nirya yang telah kehilangan segala-galanya dan Sthira yang telah meninggalkan segala-galanya? Hanya misi inilah masa kini dan masa depan bagi mereka berdua. Sekali terhenti di tengah jalan berarti mati.
Ya, mati memang bakal jadi pilihan terbaik daripada menyaksikan salah satu negeri di Antapada menghancurkan negeri-negeri lain yang telah dilemahkan. Menyaksikan hal yang ditakutkan Mpu Galahasin menjadi kenyataan.
“Oi, kok melamun?”
Lagi-lagi Sthira terperanjat, ditegur Nirya lagi. Namun kali ini Sthira tak bicara apa-apa. Berdalih saja tidak, apalagi mengaku.
“Sedang memikirkan sesuatu?” Bibir Nirya menyamping, dahinya berkerut. “Jangan-jangan... ini tentang kelanjutan misi kita lagi, ya?!”
Sthira gelagapan. “E-eh... bukan! Bukan, kok! Aku hanya...”
“Hanya apa? Sudahlah, akui saja kau tengah memikirkan Arumi! Aku siap dimintai pendapat kok.” Sebelah mata Nirya berkedip nakal.
“Trauma, tertekan, lalu larut dalam duka?” Senyum Nirya sirna seketika, berganti kata-kata ketus. “Ya, seharusnya aku jadi seperti wanita pada umumnya, menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya dengan pelbagai macam samaran.”
“Tapi, apakah...?”
“Apapun yang kau pikirkan, Sthira, aku ini masih gadis biasa. Tentu kau tahu sejak pertama kali kita bertemu, ‘kan? Aku menangis saat rumahku musnah dan guruku terbunuh. Aku menangis saat tahu banyak penduduk kotaku jadi korban bencana. Aku menangis lagi saat Armada Jayandra musnah, Arumi kehilangan orangtuanya dan jatuh korban warga Wulantra. Bahkan sebelum ini semua terjadi, aku selalu menangis melihat dampak perang antar negara-pulau yang berkepanjangan. Melihat rakyat Antapada menderita. Jadi, bisa diblang hidupku ini memang penuh tangisan.”
Sthira hanya menatap Nirya, tak berani berkomentar lagi. Firasatnya berkata, yang akan ia dengar berikut ini mungkin adalah hal terpenting yang akan ia ingat hingga akhir hayatnya.
Dengan tersenyum lembut Nirya berkata, “Untunglah, sebelum segala tangisanku jadi berlarut-larut, Guru Panigara memberiku nasihat berharga. Menurut beliau, tangisan takkan menyelesaikan masalah. Wajar saja bila kita menangis sebagai reaksi atas kesedihan yang kita rasakan. Justru orang yang menahan air matanya saat bersedihlah yang cenderung mengandalkan akal daripada nurani kemanusiaannya.”
Merasa tersindir, Sthira berujar, “Tapi itu masih wajar, ‘kan?”
__ADS_1
Nirya menggeleng. “Guru Panigara tak menjelaskan sejauh itu, tapi menurutku itu masih wajar kok. Nah, yang lebih penting lagi, beliau memberitahuku cara-cara untuk mengatasi kesedihanku, agar jangan sampai berlarut-larut. Pertama, katanya, ‘latihlah dirimu dengan tekun, kuasailah bidang yang kautekuni itu.’”
Sthira mengangguk. Hasil ketekunan Nirya telah berkali-kali ia lihat dalam tiap pertarungan. Buktinya, mereka bertiga masih bernapas dan bergerak bebas saat ini.
“Yang kedua, ‘berdoalah terus, dan percayalah pasti ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.’”
Mendengar yang satu ini, dahi Sthira berkerut. Apa benar doa saja cukup untuk mendatangkan harapan? Ingin ia protes, tapi terpaksa ia urungkan karena penjelasan Nirya belum rampung.
“Dan ketiga, ‘bilamana kesempatan untuk mengatasi tangis-duka dan menciptakan harapan baru itu mendatangimu, sambutlah tanpa ragu.’” Nirya mengakhiri penjelasannya. “Kesempatan dan harapan itu telah kusambut, karena aku melihatnya dalam dirimu, Sthira. Aku yakin Arumi pasti merasakan hal yang sama denganku saat menyatakan dirinya setuju bergabung dengan kita. Hanya saja, ia masih bisa berubah jadi ragu sewaktu-waktu.”
Sthira tak sanggup berkata-kata lagi. Untuk sesaat matanya terasa amat gatal, dan ia menyeka air mata haru yang diam-diam menyelusup keluar dari sana. Tak apalah Nirya melihat itu sekarang. Setidaknya, Kini Sthira yakin, dalam “misi gila”-nya untuk memperjuangkan satu harapan, ia tak sendirian. Ada dua pendekar tangguh lain yang menaruh harapan dan kepercayaan yang sama, seiring-sejalan dan menyabung nyawa bersamanya.
Terlebih Nirya, tampak senyum di wajahnya itu menyiratkan ketulusan, bukan keluguan. Senyum termanis itu mungkin hanya ditujukan pada Sthira seorang. Mungkinkah Nirya telah...?
Sthira menggeleng. Tidak, bukan saatnya ia memikirkan, apalagi mengambil keputusan tentang hal-hal yang sifatnya pribadi sekarang. Harus diakui, Sthira sangat menyukai pembicaraannya dengan Nirya, dan saat ini Nirya jelas lebih menarik daripada Arumi. Tapi bagaimana selanjutnya? Mungkin di saat-saat berikutnya terkuak lagi hal-hal lain di diri Arumi – selain paras dan kecerdasan – yang lebih menarik daripada Nirya.
Mungkin ya, mungkin tidak.
Mungkin Sthira takkan pernah tahu pasti.
Setidaknya, biarlah Sthira menikmati saat ini bersama Nirya.
Saat angin laut sejuk menerpa, membawa harapan baru.
Dan suara-suara burung camar mengumandangkan doa-doa, semoga perdamaian di seluruh Antapada niscaya tercipta, lewat “Misi Cincin Api” ini.
Sumber Gambar Astana Giri, Danurah - Puri Agung Peliatan, Bali (Google)
__ADS_1