
Sudah bukan rahasia lagi, siapapun yang berkunjung ke Danurah, Ibukota Kerajaan Rainusa di pulau paling barat wilayah ini, Penida, pasti merasakan nuansa yang berbeda dengan kota-kota lainnya di seantero Antapada.
Coba bandingkan saja dengan Kota Wulantra, misalnya. Di Wulantra, rata-rata penduduknya memeras otak tiap hari, mencari segala cara yang bisa dihalalkan demi mendapatkan sesuap nasi. Sebaliknya, para penduduk Danurah cenderung menyempatkan diri untuk berdoa tiap pagi pada Sang Mahesa. Begitu pula saat tengah hari selepas makan siang, sore selepas makan malam dan malam sebelum tidur.
Maka, tidaklah mengherankan jika di jalan yang dilalui Sthira dan rekan-rekannya tampak orang-orang tengah beribadah di depan semacam pura kecil di sudut pagar atua gerbang rumah masing-masing. Mereka berdoa dan melakukan upacara penyembahan dengan teramat khidmat. Seakan tak ada satupun, bahkan letusan gunung suci, Idharmapun yang mampu mengganggu mereka.
Bahkan salah seorang Raja Rainusa yang termasyhur, Ida Agung Anggayuha berabad-abad silam telah membangun tempat ibadah yang teramat megah di kaki Gunung Idharma, yaitu Pura Agung Kharayan.
Konon, di tempat itulah tinggal Sang Duta Agung Cahaya yang bernama Barong. Barong adalah raja segala makhluk terang dan roh gaib cahaya, yang selama berabad-abad menjadi penjaga sekaligus juru kunci Gunung Idharma. Ya, Barong adalah juru kunci tertua di Antapada sepanjang masa.
“Benarkah?” tanya Sthira pada seorang pria tua penduduk setempat. Pria tua itu baru saja memberitahukannya tentang pura Gunung Idharma sambil menyajikan makanan di kedai.
“Yah, terus-terang tak ada seorangpun di Rainusa, bahkan di dunia yang pernah memasuki Pura Kharayan bisa sampai di bagian tertinggi dan terdalamnya. Apalagi bertemu langsung dengan Sang Barong yang teramat suci itu,” ujar si pria, wajah keriputnya agak menegang seakan was-was pada para “pelancong” yang banyak tanya ini. Toh ia hanya pelayan kedai, bukan guru atau cendekiawan. “Hanya itu yang saya tahu, permisi.”
Saat si pelayang sudah cukup jauh dari pandangan mata, Sthira menghela napas. “Huh, keterangannya sama saja dengan semua orang yang kita tanyai, bahkan sejak kita pertama kali menginjakkan kaki di Danurah ini.”
Nirya menanggapi Sthira, “Yah, setidaknya kini kita tahu harus ke mana dan bakal berhadapan dengan siapa dalam misi kita di Rainusa ini. Kita hanya butuh lebih banyak informasi, bahkan juga seorang pemandu. Kita tak bisa terus ‘coba-coba jalan’ seperti di Hutan Sriwedari lagi, ‘kan?”
“Kau benar, Nirya,” kata Arumi sambil bersedekap. “Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Tapi, terus terang aku merasa ada sesuatu yang tak beres di sini.”
“Apanya yang tak beres?” tanya Sthira.
“Ada dua hal yang menggangguku. Pertama, sejak memasuki Danurah, aku merasa semua mata penduduk menatapku dengan kurang bersahabat. Walau mereka semua pasang senyum ramah, tatapan mereka menyiratkan bahwa kehadiran diriku, atau mungkin sekali orang-orang Jayandra tak disukai di kota ini.”
“Mengapa bisa begitu? Bukankah orang-orang Rainusa terkenal cinta damai dan ramah pada semua pendatang?” tanya Nirya.
“Memang begitu, tapi belakangan ini tidak,” jawab Arumi. “Perlu kalian tahu, telah lima tahun Jayandra menjajah Rainusa hingga saat ini. Mereka telah mengasingkan Anak Agung Wiranata, Raja Rainusa yang sah dan mengangkat raja boneka, paman Wiranata yang bernama I Gde Bahangga. Sejak saat itu, Rainusa harus membayar upeti yang sangat banyak agar bisa terus di bawah perlindungan angkatan perang Jayandra.”
“Aih, pantas saja mereka bersikap begitu,” tanggap Nirya. “Apalagi kau mengenakan perlengkapan perang Jayandra.”
“Jadi, bagaimana langkah kita selanjutnya?” tukas Sthira.
__ADS_1
Nirya menanggapi Sthira, “Yah, setidaknya kini kita tahu harus ke mana dan bakal berhadapan dengan siapa dalam misi kita di Rainusa ini. Kita hanya butuh lebih banyak informasi, bahkan juga seorang pemandu. Kita tak bisa terus ‘coba-coba jalan’ seperti di Hutan Sriwedari lagi, ‘kan?”
“Kau benar, Nirya,” kata Arumi sambil bersedekap. “Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Tapi, terus terang aku merasa ada sesuatu yang tak beres di sini.”
“Apanya yang tak beres?” tanya Sthira.
“Ada dua hal yang menggangguku. Pertama, sejak memasuki Danurah, aku merasa semua mata penduduk menatapku dengan kurang bersahabat. Walau mereka semua pasang senyum ramah, tatapan mereka malah menyiratkan bahwa kehadiran diriku, atau mungkin sekali orang-orang Jayandra tak disukai di kota ini.”
“Mengapa bisa begitu? Bukankah orang-orang Rainusa terkenal cinta damai dan ramah pada semua pendatang? Tanya Nirya.
“Belakangan ini... tidak semua,” jawab Arumi. Perlu kalian tahu, telah lima tahun Jayandra telah menjajah Rainusa hingga saat ini. Mereka telah mengasingkan Raja Rainusa yang sah, Anak Agung Wiranata, lalu mengangkat raja boneka, paman Wiranata yang bernama I Gde Bakangga. Sejak saat itu, Rainusa harus membayar upeti yang sangat banyak agar bisa terus di bawah perlindungan angkatan perang Jayandra.”
“Aih, pantas saja mereka bersikap begitu,” tanggap Nirya. “Apalagi kau mengenakan perlengkapan perang Jayandra.”
“Ya, aku tak menyangka sikap penduduk setempat bakal sekeras ini.”
Sthira lantas mengambil keputusan cepat. “Kau harus menyamar sekarang juga, Arumi. Mengenai pemandu, mungkin kita bisa bertanya pada...”
Sthira menoleh cepat, tangannya siap mencabut goloknya. Namun ia tak melanjutkan aksinya, melihat wanita itu berparas cukup cantik dan berpakaian sederhana layaknya penduduk setempat. Dan terutama, gerak-geriknya tak tereksan hendak menyerang.
“Siapa kau? Ada urusan apakah dengan kami?” tegur Sthira.
Si wanita menjawab, “Aku dengar dari pembicaraan penduduk kota, kalian sedang mencari pemandu untuk ziarah ke Pura Agung Kharayan, bukankah begitu?”
Sthira terdiam sejenak, lalu bicara lagi, “Ya, itu benar, tapi...”
“Kalian tak sekadar ingin berziarah, ‘kan? Kalian ingin terus menjelajah hingga ke Balairung Saka Cahya, ruang inti Pura Kharayan. Karena itulah satu-satunya alasan siapapun butuh pemandu.”
Sthira, Nirya dan Arumi saling bertatapan.
Giliran Arumi memberi tanggapan, “Pantas kau bisa menebaknya. Tapi kau belum menjawab pertanyaan kami tadi.”
“Ah ya. Namaku tak penting, dan bukan aku yang akan memandu kalian. Orang yang kalian cari-cari itu pasti adalah guruku.”
__ADS_1
“Gurumu?” sergah Arumi. “Apakah beliau adalah tokoh keagamaan yang sangat berpengaruh, sangat sakti, digdaya atau semacamnya?”
“Bisa jadi, walau mungkin agak berbeda dari anggapanmu. Maaf, aku tak bisa memberitahu kalian tentang guruku terlalu banyak. Aku akan membawa kalian pada beliau, tapi jangan tanya apapun lagi. Kalau kalian tak setuju, perjanjian ini kita batalkan saja.”
Mendengar kata-kata separuh mengancam itu, Sthira mencoba memilah-milah kata-katanya. “Baik, bawalah kami ke hadapan gurumu. Tapi jika kalian ternyata menipu atau semacamnya, biar senjata-senjata kami saja yang bicara.” Ia tak perlu mencabut goloknya, kata-kata tadi sudah cukup untuk menyatakan sikap dan keputusannya.
Si wanita lokal itu hanya langsung berbalik dan mulai berjalan. “Ikut aku,” katanya. “Jangan tertinggal, atau kalian akan rugi sendiri.” Dalam sekejap, langkah-langkah wanita itu jadi teramat cepat, seakan ia lenyap dari balik ambang pintu kedai.
Terpaksa Sthira pontang-panting lari menyusul Nirya dan Arumi. Untunglah Arumi telah meninggalkan uang lebih canyak dari harga seluruh pesanan mereka, jadi mereka tak dikejar dan tak terlalu menarik perhatian penduduk setempat.
Hanya saja, Arumi terpaksa “meminjam” kain taplak di meja yang kosong, yang langsung ia kenakan seperti tudung dan jubah, menutupi pernak-pernik ala Jayandra yang dikenakannya. Yah, anggap sajalah itu “hadiah langsung” karena kemurahhatiannya.
Di waktu matahari hendak terbenam ini, memang sebaiknya rombongan Sthira tak mengambil resiko terus dikenali, menghindari konflik yang tak perlu. Maka Sthira memusatkan pikirannya hanya untuk menyusul tiga wanta yang berkelebat bagai bidadari terbang itu.
Tanpa disadari Sthira, mereka tiba di daerah penuh pepohonan lebat di perbatasan Kota Danurah. Kebanyakan kota di negeri-negeri Antapada memang tak dibatasi tembok atau pagar. Jadi, tiap pertempuran nyaris selalu dilakukan di medan terbuka, baik darat, laut maupun udara. Tak ada pengepungan berkepanjangan, para penduduklah yang memilih menyerah atau melawan dengan resiko kotanya dihancurkan.
Oleh karena itu pulalah, Kota Danurah yang tak berpembatas mudah berkembang hingga merambah ke hutan seperti ini.
Namun, pengembangan kota dengan cara seperti ini cenderung jadi tak terkendali. Buktinya, tempat yang kini dituju rombongan Sthira lebih mirip belantara lebat nan gelap daripada daerah pinggiran kota. Jelas, Sthira tak yakin ia masih di Danurah sekarang ini.
Yang lebih mengherankan lagi, tampak ketiga orang yang Sthira ikuti tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Ada apa gerangan?
Apakah mereka sudah tiba di tempat yang dimaksud?
Ataukah orang yang hendak mereka temui hanya ingin bertemu di tempat rahasia, gelap nan angker seperti hutan ini?
Tanpa peringatan, beberpaa sosok seperti hantu terbang menyerang. Sthira terkesiap. Dengan refleks yang amat terlatih ia berkelit ke samping. Satu “hantu aneh” berhasil mencakar lengan atas Sthira, sementara ia menghindar dari dua “hantu” lainnya. Gilanya, kuku-kuku si hantu itu cukup runcing. Darah Sthira yang tertumpah jadi bukti, para penyerang ini sama sekali tak bisa dipandang sebelah mata.
Sebagai seorang petarung duel, Sthira mengungkapkan ketidaksukaannya diserang mendadak dengan menyabetkan goloknya, menembakkan selarik energi berbentuk seperti Naga Halilintar Mendaki Langit ke arah si penyerang. Sayang, si hantu terlalu gesit. Akibatnya, tembakan sabit itu meleset sama sekali.
Belum sempat Sthira berdecak kesal, dua “hantu” lain tampak melesat secepat lesatan anak panah tepat ke arahnya.
Sumber Gambar Leak: Tribunnews.com
__ADS_1