EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
MEGASWARI Bagian 1


__ADS_3


Bahkan saat lentera langit Sang Mahesa hendak undur diri di balik cakrawala, hendak digantikan Sang Ratu Malam abdi Sang Angkara, sosok gunung suci yang puncaknya selalu mengepulkan asap itu tampak angker penuh wibawa di jarak pandangan mata.


Melihat itu, tanpa sengaja Arumi bergumam sendiri, “I-itu... Gunung Megaswari.”


Tampak Nirya terpaku pula. Benak gadis itu juga masih berusaha mencerna alasan mereka semua digiring ke dekat gunung, bukan keluar di sisi terjauh hutan menuju Wulantra. Tanah tandus membentang sejauh mata memandang. Asap tampak mengepul di atas bebatuan yang bertebaran. Bau belerang amat pekat menusuk hidung, membuat napasnya sesak.


Tak lama kemudian, Sthira dan Begarwana juga tampak menyusul. Mereka ikut terpana di samping Nirya dan Arumi. Begarwana bahkan tergagap, “A-apa-apaan ini? Aku yakin betul ini jalan keluar menuju Wulantra, mengapa malah ke Gunung Megaswari?”


Tiba-tiba suara wanita misterius yang serak bergema, “Aku sengaja menggiring kalian semua kemari, kau tahu persis alasannya, Begarwana.”


“Bukankah aku sudah berusaha menjauhkan mereka dari gunung? Jangan mengada-ada! Pandulah kami ke sisi luar Hutan Sriwedari!”


“Tidak!” bentak suara wanita yang lebih halus. “Akulah yang berkuasa di gunung ini, bukan kau! Antar mereka ke Altar Watubara di lereng gunung ini sekarang!”


Semua pendengar tercekat. Makhluk mana yang mampu bertahan hidup di lahan tandus penuh belerang dan hutan jati yang penuh hewan buas? Belum lagi kalau harus makan buah-buahan hutan yang entah bergizi atau beracun.


“Cepat jawab!” Giliran si suara serak membentak. “Kalau tak menjawab atau menolak, biar rukhan-rukhanku yang memanggang kalian! Asal tahu saja, mereka lebih ‘berapi-api’ di tempat ini daripada di hutan atau di manapun!” Api di punggung para rukhan pengepung berkobar-kobar liar, tak seperti sebelumnya, yaitu kobaran api yang lebih pendek dan melambai seperti dedaunan diterpa angin padang.


Malah Arumi yang menyahut, “Baik, kami akan ke Altar Watubara!”


Begarwana mendelik, tak sudi “wewenang”-nya diserobot begitu saja oleh gadis ingusan ini. Namun si suara halus-misterus langsung bergema, “Lihat, Begarwana. Anak muda itu malah lebih tegas daripadamu. Pokoknya bawa dia dan teman-temannya kemari, biar aku yang menentukan nasib mereka masing-masing!”


“Huh, baik.” Dengan setengah hati, Begarwana berjalan di depan rombongan empat orang itu. Dengan seksama, ia mengamati susunan bebatuan  yang bertumpuk-tumpuk di sana-sini, mencoba memilih jalur yang benar menuju altar.


Sebaliknya, rasa akrab seakan berada di rumah merasuk bagai angin segar di relung jiwa Arumi. Gadis itu seakan kenal betul setiap bebatuan, tiap sudut dinding batu dan tikungan berliku-liku yang ia jalani itu, seolah-olah ia pernah tinggal di daerah ini sebelumnya. Namun tetap saja, bau belerang membuat napasnya berbunyi dan ia merengkuh dadanya. Gejala sesak napas ini pulalah yang mungkin membuat Arumi tak tinggal lama di tempat tak layak huni ini.


Maka, Arumi melangkah cepat dan mendahului Begarwana. Ia berjalan di depan rombongan sebagai pemandu di medan berhawa amat panas, berbukit-bukit dan berbatu-batu ini. Sesekali tampak beberapa ekor rukhan sedang bersiaga atau asyik mengerat belerang membara. Namun mereka tetap di tempat, tak lari ataupun menyerang.


Nirya dan Sthira pasang wajah keheranan melihat tingkah laku para makhluk gaib itu, apalagi melihat Arumi. Namun mereka enggan bertanya, takut konsentrasi gadis Jayandra itu terganggu. Hanya Begarwanalah yang tak hentinya menggerutu tak jelas.


Keempat insan itu tersu berjalan, hingga akhirnya sebuah altar batu tampak jelas dalam jarak pandang Arumi. Altar itu menyerupai sebuah panggung bertangga, tingginya kira-kira sedada Arumi saat berdiri tegak.

__ADS_1


Di tengah-tengah panggung batu itu tampak sebuah patung kristal berwarna merah darah, yang terus-menerus berpendar seakan ada api abadi di dalamnya. Patung itu berwujud sesosok makhluk siluman. Kepala dan bagian atas tubuhnya menyerupai seorang wanita yang terkesan perkasa. Tubuh bagian bawah dan kedua kaki depannya menyerupai harimau, tubuh dan kaki belakang kuda. Patung manusia-kuda itu berdiri di atas dua kaki belakang dan dua kaki depan terangkat, seolah sedang mencakar.


Yang paling menarik dari patung itu adalah sebentuk huruf gaib yang menyala-nyala bagai kobaran api, dan bentuknya serupa lidah api yang sedang menyala di api unggun. “Astaga, itu pasti Aksara Api Kunci Gunung Megaswari!"


Arumi langsung mengenali penampakan ini. “Dan patung itu... Itu adalah Sang Penjaga Api Abadi, Kamaja!”


“Bagus sekali, kau langsung mengenali benda dalam kenanganmu. Padahal kau baru mulai bisa berjalan saat meninggalkan tempat ini dulu.” Suara wanita serak berkumandang.


Semua mata lantas tertuju pada sesosok wanita yang memegang sebuah tongkat kayu untuk berjalan. Walua mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke mata kaki, ada keanehan-keanehan yang tak bisa ia tutupi. Di antaranya, tangan yang memegang tongkat itu tampak penuh keriput dan bagai kulit membungkus tulang, sementara tangan satunya berkulit putih dan mulus.


Begarwana menghardik sambil mengacungkan gadanya lurus-lurus ke arah wanita itu. “Jangan macam-macam kau! Ayo kita selesaikan urusan di tempat ini, dan aku pulang ke Wulantra!”


“Tapi rumahmu sebenarnya di sini ‘kan, Begar? Jangan berdalih,” ujar si wanita itu sambil tersenyum di balik tudung kotor yang menutupi separuh wajahnya. “Dan wah, kau sudah besar dan cantik sekali, Arumi! Mirip diri kami saat masih belia dulu!”


Benak Arumi, Sthira dan Nirya seakan teraduk-aduk, serasa ingin meledak.


“A-apa-apaan i-ini?” Arumi terperangah, orang inikah sumber perasaan akrab nan dekat yang merasukinya sejak tadi? “S-siapa kau? Mengapa kau bersikap seolah-olah amat mengenalku?”


Karena itu, sisi mulus wajah wanita itulah yang membuat Arumi bagai tersambar petir. “K-kau... wajahmu... mirip denganku!”


Walau bisa tertipu, mata tak bisa menipu. “Tentu saja mirip, karena kami adalah Nyi Lara Sati, ibu kandungmu,” tandas Lara, sisi muda kepribadian wanita itu dengan suara halusnya.


Seluruh dunia di sekitar Arumi terasa berputar amat cepat. Tubuh gadis itu goyah dan hendak tumbang, namun dengan sigap satu kaki menjejak tanah kuat-kuat, menopang tubuh rampingnya agar tak jatuh.


Arumi menggeleng kuat-kuat, meracau seperti kena gangguan jiwa, “Tidak. Mustahil. Ayah-ibuku adalah petani. Mereka telah membesarkanku, namun keduanya tewas saat rumah kami terbakar. Lama aku jadi pengemis dan terlunta-lunta di Wulantra. Hingga suatu hari, aku bertemu Begarwana dan ia mengangkatku sebagai muridnya. Aku...”


Lara memotong dengan suara halus, “Wah, kasihan. Sepertinya Arumi sudah lupa sama sekali pada kita ya, Nyi Sati.”


Berganti Sati yang menatap ke sampingnya dan menampilkan wajah keriput, seakan tengah berbincang-bincang dengan Lara. “Kau benar. Ini semua gara-gara Arumi tak tahan dengan lingkungan ini waktu masih bayi. Kita meminta Begarwana membawanya pergi untuk ia rawat, tapi rupanya ia menitipkan Arumi pada keluarga lain!”


“Ya, ya! Begar ingkar janji, tak menjalankan tanggungjawabnya sebagai ayah kandung Arumi!” seru Lara dengan lirih.


Arumi terkejut bukan kepalang. “H-hah?! J-jadi Begarwana adalah... ayah kandungku!?” Nirya dan Sthirapun menatap geram pada laksamana Jayandra itu.

__ADS_1


“Tepat sekali! Sejak saat itu, tak pernah sekalipun Begar mengunjungi kami lagi. Kabar tentang buah hati kamipun tak ada!” teriak Sati, suaranya makin serak bagai tercekik.


Berganti ujaran Lara, “Lebih dari sepuluh tahun kami menanti, dan menanti. Rupanya Sang Angkara akhirnya menjawab doa-doa kami, mengantarkan Arumi dan si pendosa, Begarwana kemari. Mari Arumi, biarlah ibumu ini memelukmu, mencurahkan segala rindu kasih sayang yang telah lama terkubur.”


Namun Arumi tetap bergeming. Matanya masih menyorot tajam pada wanita aneh berkepribadian ganda itu. Nyi Lara Sati langsung bereaksi, “Lho, kok diam saja?”


“Buktikan dulu kau benar-benar ibu kandungku,” kata Arumi dengan nada amat dingin.


“Hahaha, anak ini tak seperti diri kami saat seusianya. Dia selalu berhati-hati,” ujar Lara.


Sati menimpali, “Nah, kalau kami tak salah ingat, Arumi memiliki tanda lahir berupa bercak hitam di pangkal betis kirinya. Benarkah itu, nak?”


Tanpa sengaja Arumi menyentuh paha kirinya. Ekspresi wajahnya berubah cerah sesaat, namun saat berikutnya kembali dingin.


Lara mendelik. “Ada apa? Ibu tahu, ibu tak sala ingat. Tak maukah kau memeluk orang yang telah melahirkanmu ini? Meneteskan setitik kebahagiaan pada hati yang telah lama kering-kerontang dalam kesepian ini? Apa lagi yang harus ibu buktikan padamu, nak?”


“Tak ada lagi,” jawab Arumi. “Hanya saja, aku baru saja dikhianati orang yang lebih dekat denganku daripada yang kuduga selama ini.”


“Siapa dia?” tanya Sati.


“Siapa lagi kalau bukan DIA!” Arumi menunjuk lurus-lurus dengan kerisnya ke arah... Begarwana. “Orang yang seharusnya adalah ayah kandungku sendiri!”


Begarwana tanpa sadar menjejak mundur selangkah, mulutnya ternganga ingin menyanggah.


“Apa yang telah ia lakukan padamu, nak!?” tanya Lara.


Dengan singkat namun padat, Arumi membeberkan kejadian di Gunung Ratauka, terutama tentang tindakan pengecut Begarwana yang melarikan diri tanpa menyelamatkan Arumi. Padahal ia tahu Arumi adalah putri kandungnya sendiri.


Fakta baru itu menyadarkan Arumi tentang satu hal yang amat vital. “Oh, aku baru paham sekarang. Jangan-jangan, karena aku ini anak haramnya, Begarwana ingin melenyapkanku, aib sekaligus duri dalam dagingnya ini! Ia sudah punya keluarga sendiri di Wulantra, dan selama ini aku mengira ia sebatas guruku saja!”


Begarwana berdalih, “Kau salah paham, Arumi! Aku sudah mendidikmu dengan keras, menanti waktu yang tepat untuk mengaku bahwa aku ini a...”


Keterangan Gambar: Referensi Chara Arumi Dyahrani dari Pinterest

__ADS_1


__ADS_2