
“Pengkhianat! Ternyata kau bersekongkol dengan Begarwana!” tukas Nirya.
“Dengarkan aku dulu!” Arumi menghardik tak kalah keras. “Aku pernah bilang, Begarwana adalah satu dari segelintir orang yang berhasil keluar hidup-hidup dari Hutan Sriwedari. Kalau kita membunuhnya, takkan ada siapapun lagi yang bisa memandu kita keluar dari hutan menyesatkan ini!”
Begarwana mengiyakan. “Benar itu. Aku tak perlu mengulangi kata-katanya lagi.”
Sthira dan Nirya terperangah. Begarwana pasti sudah memperhitungkan hal ini saat ia memutuskan masuk Hutan Sriwedari sendirian. Mereka geram saat melihat lelaki itu berdiri santai dan tersenyum penuh percaya diri sejak tadi. Namun apa daya, satu-satunya harapan hidup mereka saat ini bergantung pada orang ini.
Penuh gaya, tubuh tinggi-kekar Begarwana berbalik membelakangi Sthira. “Ikuti aku. Serahkan diri kalian pada para prajurit di luar hutan nanti.”
Sthira mendengus kesal, ia terpaksa menurunkan goloknya dan mengikuti Begarwana, Niryapun berjalan di sampingnya.
Namun malah Arumi yang berseru, “Tunggu, Begarwana! Kalau memang kami bakal ditangkap di luar sana, bukankah sama saja kami akan menghadapi hukuman mati?”
“Itu pasti. Tapi setidaknya kau masih berkesempatan menunjukkan bakti dan membalas budi gurumu di sana, daripada kalian mati kelaparna atau terbunuh dalam hutan terpencil ini, bukan?” Walau mungkin ia tahu Arumi telah membeberkan hubungan guru-murid di antara keduanya pada Nirya dan Sthira, Begarwana tak lantas mengakui itu secara terbuka.
“Masa bodoh. Aku tak berhutang apa-apa lagi pada guru yang tak sudi menyelamatkan nyawa muridnya sendiri.” Perubahan sikap Arumi yang drastis dan mendadak itu lati-lagi membuat Nirya dan Sthira mendelik. Tambah mendelik lagi mereka saat Arumi menghela napas dan berjalan searah dengan Begarwana. “Ayo, teman-teman. Biarlah Sang Mahesa yang menentukan nasib kita selanjutnya.”
__ADS_1
Nirya, Sthira dan Begarwana saling bertatapan. Begarwana mengangkat bahu seolah berkata, “Jangan tanya aku. Walau telah bertahun-tahun kenal Arumi, aku sendiri saja kadang kewalahan menghadapi sikapnya.”
Bertekad keluar dari Sriwedari sebelum gelap, Begarwana berjalan dengan langkah-langkah cepat. Wajah-wajah rindu rumah dan hidangan tak menyurutkan langkah Nirya, Sthira dan Arumi, walau rasanya bagai keluar dari mulut harimau, masuk mulut buaya.
Namun, raut frustrasi yang lambat-laun tergurat di wajah pria berkumis lebat itu tak luput dari pengamatan Arumi. Tiap kali Arumi mendekat untuk bertanya, Begarwana malah menjaga jarak dari ketiga “pengikut” itu. Jadi Arumi hanya bisa berasumsi, mungkin faktor usia yang tak lagi muda, daya ingat yang menurun serta keinginan untuk mengembalikan pamor dan kehormatan di mata Prabu Narendralah yang membuat Begarwana bersikap begitu.
Entah untuk keberapa kalinya, Begarwana berjalan maju, mundur dan berbalik kesana-kemari. Itu mungkin cara menjelajah yang tak biasa dalam hutan, bahkan tak mengikuti jalan setapak yang ada. Beda dengan Arumi-Nirya-Sthira yang hanya terus maju saja.
Arumi sendiri tak punya pilihan selain mengikuti jalur yang dipilih Begarwana. Namun dirinya malah mulai meragukan daya ingat gurunya itu.
Akhirnya, rasa frustrasi Begarwana pecah sudah. “A-aneh... Aku sudah hapal betul jalur jalan keluar dari hutan ini. Tapi mengapa jalannya berubah? Seharusnya pohon jati itu tak ada di sini, di sana, dan di sana pula...!”
Begarwana menggeleng angkuh. “Tidak. Aku masih menjadi laksamana karena kecerdasan, kekuatan dan wibawaku. Bila sampai aku lupa, mustahil aku mau bunuh diri dengan memasuki hutan ini lagi.”
“Apapun itu, lakukan saja urusanmu.” Arumi memutus perkara dengan menatap tajam Begarwana. “Bila kita benar-benar dibuat tersesat sampai kelaparan, akan kupastikan kau yang pertama mati.”
Begarwana hanya mendengus saja dan terus berjalan di depan. Tangannya sudah bergetar hebat. Ingin ia mengayunkan gada besar yang tergantung di punggungnya itu, menghancurkan kepala orang-orang giringannya ini. Namun, niatnya itu urung seiring wajahnya yang berubah cerah.
Arumi mendekat dengan keris panjang tetap terhunus. Rupanya sikap Begarwana itu bukan tipuan. Tak lama kemudian, pepohonan di depan mata makin renggang dan renggang.
__ADS_1
Tiba-tiba, latar belakang di balik pepohonan yang seharusnya terbuka malah tertutup rapat barisan pepohonan. Arumi terkesiap. “Apa ini tipuan?”
Begarwana menggeleng. “Kurasa tidak. Aku tahu, ini jalur yang benar untuk keluar dari rerimbunan.” Lantas ia berdecak kesal. “Jangan-jangan pohon-pohon itu sengaja ditempatkan di sini untuk menghalangi kita agar tak keluar dari hutan.”
“Apa, benarkah? Kalau begitu, kita harus menebang atau membakar semua penghalang itu dan menerobos keluar,” ujar Sthira, energi petir yang membungkus bilah goloknya menyambar-nyambar ganas.
Namun Nirya bergerak maju, menghalangi Sthira. Katanya, “Tunggu, Sthira. Coba pikir, mungkin sekali sejak awal ada pohon-pohon yang sengaja bergerak diam-diam, menutupi jalan hingga kita hanya berputar-putar saja di tempat. Sekarang kita malah digiring ke tempat ini. Pasti beberapa pohon di sini adalah siluman gaib. Karena itulah, sebaiknya kita tak membinasakan satupun dari mereka, agar jangan sampai hutan ini marah dan mengepung kita.”
“Lantas, apa usulmu?” tantang Begarwana.
“Entah bagaimana dengan kalian, aku akan mencoba menyelinap di antara pepohonan itu sampai ke seberang,” jawab Nirya. Gadis itu lantas melesat dan menyusup di antara “pagar betis” pepohonan itu hingga tak terlacak mata jeli Arumi sekalipun.
Gantinya, terdengar suara gemersik dahan-dahan dan dedaunan, tak terdengar suara Nirya sama sekali. Arumi terkesiap. Apakah Nirya terhantam oleh pohon-pohon bergerak itu? Setelah suara gemersik redapun, suara Nirya tak kunjung terdengar.
Maka, tanpa pikir panjang Arumi ikut menyelinap. Gerakannya tak kalah lincah dari Nirya, ditambah tubuh yang ramping dan lentur, membuat Arumi mampu melewati hadangan batang dan sapuan ranting pohon-pohon gaib itu tanpa banyak kesulitan.
Hingga akhirnya kedua kaki Arumi mendarat di tanah, di balik “pagar betis” itu.
Namun, saat tatapannya tertuju ke bentangan pemandangan di depannya, mata Arumi terbelalak. Ini bukan jalan keluar hutan ke Wulantra.
__ADS_1
Keterangan Gambar: Referensi untuk Laksamana - Senopati Begarwana dari gambar 3D Arya Wiraraja, Senopati Singasari (Sumber: IDSejarah).