EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
TUBAR'E Bagian 1


__ADS_3


Entah sudah berapa lama aku telah membuang rasa takutku. Jebakan atau bukan, aku pasti akan menghadapi semua musuhku hingga tuntas!


Dengan pemikiran itulah Sthira kini lari secepat-cepatnya dalam gang sempit di Dabongsang, kota para penjarah ini. Sasarannya hanya satu, melumpuhkan Dhaka, si siluman komodo di ujung gang itu.


Saat jarak antara Sthira dan Dhaka sudah amat rapat, malah sama sekali tak ada satupun penjahat lain yang melakukan serangan mendadak.


Dhaka sendiripun malah berbalik lari sambil berseru, “Ikut Dhaka ke dalam rumah ini!”


Mungkinkah si jawara Dabongsang itu hendak menjebak Sthira di rumah itu?


Tanpa ragu Sthira memasuki rumah itu. “Sudahlah, langsung saja tebar jebakanmu, Dhaka! Akan kutumbangkan semua pengeroyok seperti di kedai tadi!”


Dhaka malah protes, “Tunggu dulu! Dhaka tak lawan kamu! Lihat, Dhaka buang senjata!” Si komodorai membuktikan ucapannya dengan mencampakkan tombaknya jauh ke sampingnya.


“Sudahlah, tak usah bersandiwara! Tadi kau menantangku bertarung dengan tangan kosong, ‘kan? Ayo kita tuntaskan di sini, sekarang juga!”


“Anak muda gegabah!” Dhaka menggeleng. “Bilang dulu, nama kau siapa, apa urusan kau cari Wiranata?”


“Aku Sthira dari Kalingga, seorang pendekar pengelana. Saat aku berkunjung ke Gunung Idharma, penguasa gunung itu, Barong muncul di hadapanku. Barong lantas memintaku untuk menyusup ke kota ini, membebaskan raja sejati Rainusa dan membawanya kembali ke Danurah, pusat Negeri Rainusa, mungkin untuk memimpin perjuangan merebut negerinya kembali.”


“Dan kini, kau sedang penuhi permintaan Sang Barong itu, tak takut bicara soal itu pada sembarang orang?  Amat bahaya, tahu!” Dhaka menegur keras. “Dhaka rasa, Barong pilih orang yang salah!”


“Terserah, aku toh tak sendirian saat Barong memilih kami. Kalaupun aku salah, masih ada teman-temanku, Nirya dan Arumi yang akan melanjutkan misi ini. Lagipula, karena kesalahanku adalah membocorkan misi rahasia kami ini padamu saja, maka aku terpaksa harus membungkammu, Dhaka!”


Di kalimat terakhirnya, Sthira menyerbu maju, siap menghantamkan kedua tinjunya yang sarat energi petir ke arah Dhaka. Si manusia-komodo kini berdiri tegak, tak lagi tampak membungkuk seperti biasanya dan tampak kira-kira hampir dua kali lebih tinggi daripada Sthira.


Yang lebih mengejutkan lagi, saat tinju Sthira telak menghantam dada Dhaka, lawan malah bergeming. Tinju petir itu seakan teredam hampir seluruhnya, seolah dayanya terserap ke kedalaman tanah atau bebatuan padat. Reaksi ini membuat Sthira ternganga, tak percaya penglihatannya. Namun, ia tetap sigap dan bergerak mundur, menjaga jarak dari Dhaka.


“Heh, baru paham tubuh dan sisik-sisik Dhaka bagai batu? Batu redam petir, tahu? Dhaka tak serang Sthira, ayo bicara saja!”


Namun Sthira tetap bersikap kepala batu. “Lebih baik aku mati daripada gagal membungkammu!” Ia kembali menyerbu maju, mungkin kali ini mengandalkan kekuatan fisik.


“Dasar bodoh!” Dhaka lantas merunduk dan berputar, menyabetkan ekor panjangnya yang penuh otot dan tenaga dalam. Sthira yang tak siap tersapu ekor itu, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terpelanting, tersuruk di lantai rumah.


Cepat pulih, Sthira hendak bangkit untuk melawan lagi. Namun cakar-cakar panjang dan runcing di telapak tangan Dhaka terlanjur mengancamnya.


“Kalau Dhaka niat bunuh Sthira, Sthira pasti sudah tewas sekarang,” ancam si komodorai, lidahnya yang bercabang bertarik-ulur. “Dhaka bukan musuh Sthira, Sthira mau percaya itu sekarang?”

__ADS_1


Walau nyawanya terancam, Sthira tak sudi tunduk, kelihatan lemah, apalagi mengiba pada lawannya. Hanya satu hal yang disesalkannya, andai ia menggunakan Mandau Gharma, ia bakal bisa bertarung imbang dengan Dhaka yang secara fisik memang lebih kuat dari dirinya.


Jadi, Sthira malah balik bertanya, “Aku penasaran, dari reaksimu saat aku menyebut nama Wiranata, apa hubungan antara kau dan Raja Wiranata, Dhaka?”


Dhaka menjawab, “Dhaka ingin bebaskan kaum Dhaka, kalau perlu dengan singkirkan Dabongsang pula. Dhaka percaya, bila Wiranata kembali bertakhta, Kaum Komodorai akan kembali sejahtera, bebas dari tekanan pajak selangit Dabongsang!”


“Lantas, mengapa kau jadi jawara Dabongsang?”


“Agar Dhaka dapat terus komunikasi rahasia dengan Wiranata, tunggu hingga pahlawan kuat lain datang, yang mampu bantu Dhaka lawan banyak anak buah, bahkan jawara-jawara andalan dan Dabongsang sendiri.”


“Apakah pahlawan yang kaumaksud itu... aku?”


“Jelas ya. Sungguh langka pendekar yang mampu tumbangkan hampir seratus orang yang keroyok dia, dengan tangan kosong pula. Andai tenaga dalam kau bukan petir atau sisik-sisik Dhaka tak sekeras batu, mungkin Dhaka tumbang tadi.”


Pernyataan yang terus-terang dan rendah hati Dhaka itu justru jadi pukulan telak ke nurani Sthira, membuat ekspresi keras di wajahnya mengendur seketika.


Akhirnya Sthira bicara, “Rupanya misi dan tujuan kita sama, yaitu membebaskan Wiranata. Sebagai jawaran yang paham seluk-beluk Geng Dabongsang, kurasa kau sudah lama punya rencana, bukan?”


Dhaka hanya menanggapi Sthira dengan senyum yang tak begitu kentara di sudut moncongnya.


\==oOo==


Nirya berdiri terpaku dengan pikiran yang bercabang, antara mengawasi arus barang dan sesuatu yang amat mengganggunya, seperti ruam di kulit yang gatalnya tak kunjung hilang. Namun Nirya berusaha keras menyembunyikan ekspresi amat suram di wajahnya itu. Jangan sampai ada anak buah Dabongsang, apalagi Mora, si jawara urutan kedua menangkap gelagatnya itu.


Gawatnya, Mora yang sejak tadi berdiri agak dekat dengan Nirya dan Arumi di geladak kapal menghampiri dan berdiri tepat di belakang punggung Nirya. Keringat dingin gadis itu menetes, siap mengantisipasi tusukan dari belakang atau semacamnya.


Anehnya, Mora malah berbisik di telinga Nirya, “Kau dan Arumi temuilah aku di ruang perwira kapal setelah pemuatan barang selesai. Aku perlu bicara sangat penting dengan kalian berdua. Mengangguk saja bila kau mengerti.”


Nirya mengangguk. Ia hanya bisa terpaku melihat Mora melenggang pergi dengan gaya yang anggun. Masalahnya, apa yang akan ia bicarakan itu? Kalaupun Mora berniat jahat, ia pasti bakal melakukannya saat pertama kali menghadang Nirya dan Arumi, tak perlu sampai serepot ini, bukan? Wajah Nirya makin suram saja, diterpa bermacam-macam pikiran gara-gara wanita yang isi hatinya tak bisa ditebak itu.


Dalam ruangan rapat perwira kapal, rasa sesak Nirya tak kunjung membaik. Ini bukan sesak napas karena udara dalam kapal kayu yang lembab nan pengap ini.


Apalagi saat Mora masuk, bergabung dengan Nirya dan Arumi. Wanita itu tak langsung bicara, malah menatap wajah Nirya yang pucat dan wajah Arumi yang tanpa ekspresi.


“Hmm, jadi inilah Nirya dan Arumi yang sebenarnya, bukan ‘topeng’ yang kalian kenakan saat menghadap Dabongsang,” ujar Mora yang malah tersenyum lembut.


Arumi menjawab, “Pakai topeng atau tidak, semua yang kami sampaikan pada Dabongsang itu benar.”


“Ya, mungkin memang benar. Tapi ada kebenaran-kebenaran lain yang tak kalian sampaikan pada beliau, bukan?”

__ADS_1


Nirya menimpali, “Memang, ada beberapa masalah kecil, namun itu bukan urusanmu.”


Mora berkata, “Oh, seperti tentang golok besar yang direbut Hurek tadi, itu pasti bukan milik salah satu dari kalian, ‘kan? Kalau ya, kalian pasti takkan menyerahkan senjata yang adalah jiwa tiap pendekar itu tanpa perlawanan.”


Arumi menghela napas. “Ya, keadaannya memang serba-salah. Terus-terang, golok itu milik salah seorang rekan kami, Sthira yang pergi dari kapal setelah bertengkar denganku. Dasar pria, ia tak suka jadi bawahan seorang wanita. Dan sekarang kami harus mencari Sthira dulu... atau menganggpnya sudah gugur, dan misi kami gagal dan terhenti sampai di sini sudah.”


“Aha! Itu juga. Misi yang teramat rahasia dari Jayandra, sehingga Dabongsangpun tidak berhak tahu.” Mora menjentikkan jarinya. “Nah, supaya jelas duduk perkaranya, katakan saja tentang misi itu padaku, dan aku bersumpah takkan memberitahukan itu pada Dabongsang.”


Nirya dan Arumi saling bertukar pandang, Arumi terpaksa mengangkat bahu. Situasinya makin serba-salah sekarang. Lebih baik bertaruh dnegan resiko berdarah-darah di tempat ini, lalu bertolak pergi melarikan diri daripada berurusan dengan Dabongsang Bersaudara dan semua anak buah mereka.


Jadi Nirya angkat bicara, melakukan pertaruhan itu. Ia memberitahu Mora tentang misi untuk melemahkan negeri-negeri yang sedang berperang di Antapada lewat letusan gunung-gunung api di wilayah kekuasaan masing-masing. Nirya sengaja menambahkan bahwa misi ini adalah tugas dari Mahapatih Jayandra, Mpu Galahasin.


Arumi bahkan juga merekayasa fakta bahwa mereka baru saja gagal di Idharma, gunung pertama yang mereka datangi dalam misi ini. Bahkan Barong, juru kunci gunung itu mengalahkan mereka semua, namun mengampuni nyawa mereka. Syaratnya, Nirya, Arumi dan Sthira harus membuat Gunung Tubar’e jadi yang pertama meletus.


“Oh? Apakah itu karena juru kunci Gunung Tubar’e adalah yang terlemah, juru kunci di antara para juru kunci gunung-gunung api utama lainnya di Antapada?” sergah Mora.


“Ngg, kami tak tahu soal itu...” jawab Nirya polos.


Tawa Mora meledak. “Hahaha! Terus terang, sudah lama sekali aku tak bicara dengan orang-orang tulus hati seperti kalian, sejak aku datang di kota ini. Di Dabongsang, manusia berhati tulus sungguh langka. Hampir semua orang di sini selalu menipu sesamanya. Bahkan akupun harus menipu semua orang agar bisa bertahan hidup, bahkan berjaya sebagai jawara urutan kedua!”


Nirya terperanjat. Jadi citra Mora sebagai jawara selama ini hanya tipuan belaka? Ingin Nirya menanyakan identitas asli Mora, namun karena Arumi juga diam saja, ungkapan rasa penasaran itu hanya tetap menggantung di ambang bibirnya saja.


Lagipula, Arumi justru mengatakan hal yang lebih penting, “Nah, karena sekarang kau sudah tahu tentang misi rahasia kami, apa yang akan kaulakukan?”


Tangan Nirya siap menghunus kerambit kembar berantainya, bersiap untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi.


Justru Mora menjawab, “Aku menawarkan diri untuk jadi pemandu kalian ke Gunung Tubar’e.”


“A-apa?” Nirya terkejut bukan kepalang. “Apa sebabnya?” Bukankah Mora seharusnya adalah musuh saat tahu Nirya dan kelompoknya hendak mencelakakan Dabongsang? Seluruh geng dan kotanya sekaligus?


“Alasanku sederhana saja. Aku lebih suka kota ini berpenduduk lebih banyak orang jujur daripada penjahat,” jawab Mora dengan tegas. “Aku ingin hidup tenang dan normal, tak terbelenggu dan diperbudak lagi oleh ancaman Dabongsang bersaudara.”


Wajah cantik Mora lalu memerah, sehingga ia tak jadi mengungkapkan alasannya yang kedua. Namun, raut wajahnya itu rupanya terbaca dan dipahami oleh Nirya, sebagai sesama wanita. Wiranata bisa jadi adalah seorang pria yang amat tampan atau punya daya tarik dan kharisma luar biasa, tak heran ia mampu menarik hati wanita secantik dan seanggun Mora.


Arumi juga tak berkata apa-apa, tanda mungkin ia sepaham dengan Nirya.


Maka, setelah Arumi dan Nirya saling bertukar anggukan, Arumi menyatakan, “Baiklah, kami tak keberatan kau jadi pemandu kami, Mora. Tapi, bila kau berkhianat, pembalasan kami akan sangat mengerikan.” Sebenarnya ini bukan kata-kata kosong, tapi Mora belum tahu “prestasi” tim Arumi sebelum Idharma.


“Jangan kuatir. Kedamaian jiwa takkan mungkin bisa diperoleh lewat pengkhianatan,” ujar Mora, senyumnya mengembang selebar-lebarnya.

__ADS_1


Sumber Gambar: Referensi untuk kawah danau 3 warna di Gunung Tubar'e dari Kawah Danau 3 Warna di Gunung Kelimutu, Katalogwisata.com.


__ADS_2