EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
IDHARMA Bagian 1


__ADS_3


Jauh sebelum Negeri Kepulauan Rainusa berdiri, Gunung Idharma selalu dianggap sebasgai situs tersuci Agama Mahesa. Inilah agama yang dianut seluruh penduduk Rainusa, yang telah tersebar hingga Jayandra, Swarnara, Kalingga hingga seluruh wilayah barat Antapada.


Sementara wilayah timur Antapada, khususnya wilayah Akhsar, Bethara dan Dhuraga mayoritas rakyatnya adalah pemuja Sang Srisari. Hanya di daerah-daerah “gelap”, wilayah-wilayah tertentu di Antapada terdapat sekte-sekte rahasia atau suku-suku tertentu yang adalah pemuja Sang Angkara, bagaikan duri dalam daging suatu bangsa.


Sedangkan Barong, Sang Singa Suci Dewata lahir di Zaman Pemulihan, Era Dunia Kedua Terra Everna. Telah berkali-kali Barong bertarung melawan Rangda, Sang Ratu Leak. Ia adalah dedengkot kejahatan, duta utama Sang Angkara di Antapada.


Di pertarungan pertama, Barong berhasil membunuh Rangda, sehingga ia dipuja sebagai Duta Mahesa, ditunjuk sebagai penjaga Gunung Idharma. Pura Agung Kharayan lalu dibangun sebagai “istana” Sang Barong dan tempat pemujaan Sang Mahesa. Pura terbesar sepanjang zaman itu juga dianggap sebagai salah satu situs tersuci di Antapada.


Namun, riwayat Rangda tak lantas berakhir untuk selamanya. Sebagai roh kegelapan yang “terpenjara” di Vanapada, dunia fana, Rangda merasuki raga orang pilihannya, mengambil alih raga itu dan kembali beraksi. Ia takkan pernah berhenti berusaha mengalahkan Barong dan menjadikan Rainusa kerajaan kegelapan.


Oleh karena itulah, Barong juga senantiasa menjaga Gunung Idharma. Itulah hakekat hidup abadinya. Ancaman Rangda akan selalu ada hingga akhir zaman, kecuali bila sukma terkutuk teramat sakti itu dapat dimusnahkan tuntas oleh sebentuk kekuatan maha kuasa.


Ni Luh Widuri mengakhiri kisah yang ia tuturkan sepanjang jalan itu dengan menunjuk lurus ke arah pura dan gunung di depannya. “Nah, itulah dia, Pura Kharayan, tempat Sang Barong bertakhta. Menakjubkan, bukan?”


Nirya lantas mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk. Walau masih tampak jauh untuk ukuran pejalan kaki, Gunung Idharma tampak menjulang amat tinggi seolah menutupi langit.


Gerbang depan Pura Kharayan yang berdiri di atas dataran lereng gunungpun bagai menara berbentuk mirip dua keris yang ditegakkan bersisan, penuh detil pahatan nan indah di permukaan bebatuannya. Yang ajaib, gerbang ini seakan-akan sengaja dibangun agar bila dilihat dari jarak tertentu, misalnya di posisi Nirya saat ini, Gerbang Kharayan jadi kelihatan sama tinggi dengan Puncak Idharma.


Yang pertama kali memberikan tanggapan justru Arumi. “Pantas saja, setiap kali Gunung Idharma meletus, daya letusan itu seakan teredam dan tak pernah sampai merusak alam, apalagi kota-kota dan desa-desa di sekitarnya. Ini pasti berkah Sang Barong!”


Namun Sthira malah bermuram durja. “Kalau begitu, satu-satunya cara agar misi kita berhasil adalah membunuh Barong.”


Tiba-tiba si pemandu menoleh ke arah Sthira. “Membunuh Barong, katamu? Misi apa sebenarnya yang sedang kalian jalankan ini, hmm?”


Nirya dan Arumi terkesiap, lalu melirik ke arah Sthira. Si pemimpin kelompok ternganga, baru sadar dirinya kelepasan bicara.


Terpaksa Sthira menggenggam gagang mandau yang disarungkan di punggungnya sambil berujar, “Aku sengaja merahasiakan misi ini darimu. Karena bila kau, dalam statusmu ini sampai tahu, aku terpaksa harus membunuhmu.”


“Dan kehilangan satu-satunya pemandu di dunia ini yang tahu persis seluk-beluk Pura Kharayan? Kurasa itu bukan keputusan yang bijaksana,” ujar Widuri dengan tenang. “Baiklah, demi menghemat waktu, aku takkan menanyakan tentang misi kalian lagi. Sebagai gantinya, kalian harus mengikuti setiap petunjukku tanpa banyak tanya. Setuju?”

__ADS_1


Sthira terdiam sebentar. Ia menoleh pada Nirya dan Arumi yang hanya menaikkan bahu saja seakan berkata, “Terserah kau, ketua.” Akhirnya Sthira berkata, “Baiklah, kami setuju.”


“Baiklah, yang penting kalian percaya padaku dan aku percaya pada kalian,” ujar Widuri sambil kembali melangkah, diikuti ketiga gadis muda muridnya. “Yang pasti, mau tak mau kalian harus menyusup langsung ke jalur menuju Balairung Saka Cahya.”


Kata-kata itu membuat Nirya mendelik curiga. “Bagaimana caranya?”


Widuri hanya membalasnya dengan senyuman. “Seperti kataku tadi, ikuti aku saja.”


\==oOo==


Seumur hidupnya, Nirya tak pernah menyangka bakal harus menyusup dalam sebuah rumah ibadah. Terlebih lagi ia dan kawan-kawannya harus bergantung sepenuhnya pada seorang pemandu yang tak jelas asal-usulnya.


Jadi, di bawah langit malam berbintang ini, terpaksa Nirya bersama Sthira dan Arumi berjalan di belakang Ni Luh Widuri dan ketiga muridnya.


“Lho, mengapa kita memutar dari gerbang utama pura?” protes Nirya sambil menatap si pemandu dengan was-was.


Widuri menanggapinya dengan santai. “Supaya kita tak dicurigai para penjaga pura. Aku saja, seorang pemuka agama tak diizinkan masuk, apalagi kalian. Tak ada pilihan, kita harus bergerak malam ini juga, lewat jalur rahasia.”


“Baiklah, kalau begitu terus ikuti aku.” Ni Luh tersenyum. “Nah, lihat lereng gunung itu. Kita akan masuk dari sana.”


Nirya lagi-lagi menatap ke arah yang ditunjuk. Aneh sekali, tak ada yang menonjol di gunung itu. Tak ada pintu masuk, batu besar, bukaan jalan masuk seperti di gua atau apapun. Namun kali ini gadis itu memilih untuk diam saja dan mengamati tindakan Widuri selanjutnya.


Andai ini jebakan, andai Ni Luh Widuri berkhianat, Nirya dan kawan-kawannya sudah siap-siaga untuk bertarung habis-habisan.


Dengan penuh keyakinan, Widuri tiba dan berdiri tepat di depan dinding lereng Gunung Idharma. Jelas, sejauh mata menyelidik, sama sekali tak ada tanda, ciri apapun yang unik, membedakan tumpukan-tumpukan bebatuan itu dengan sekitarnya.


Wanita pendeta itu lantas mengulurkan kedua tangannya. Ia menyentuh salah satu batu yang tampak menonjol, lalu mengerahkan energi sejatinya, mendorong batu itu hingga melesak masuk. Tak terjadi apa-apa. Widuri bergeser ke samping kanan dan mendorong batu di posisi diagonal di atas batu pertama. Lalu turun secara horisonal menekan batu kedua, dan naik diagonal lagi menekan batu ketiga.


“Kalian mungkin perlu menjauh dari sini sebentar.” Widuripun melangkah mundur ke jarak yang ia anggap aman, diikuti para muridnya, Nirya, Sthira dan Arumi.


Beberapa saat kemudian, bunyi-bunyi gemuruh terdengar. Tampak batu-batu di dinding gunung itu bergeser dengan rapi, dari semula tumpang-tindih kini bergerak secara gaib ke dua sisi. Efek itu menyisakan sebuah lubang besar yang tak lain dan tak bukan adalah jalan masuk gua, dan batu-batu yang adalah “pintu masuk” itu kembali tersusun membentuk gapura.

__ADS_1


“Nah, ayo kita masuk,” ujar Widuri, masuk paling awal bersama ketiga muridnya.


Nirya mengikuti mereka sambil bertukar pandang dengan Arumi dan Sthira. Mereka mengangguk pelan, tanda sejauh ini semua aman-aman saja.


Saat melangkah lebih jauh dalam “gua”, lagi-lagi Nirya terperangah. Dinding-dinding batu gua yang kasar tampak berganti menjadi dinding-dinding batu bata yang rata, penuh pahatan gambar bagai relief sebuah candi.


Bila diperhatikan, pada relief-relief itu tergambar kisah kelahiran Sang Singa Suci, Barong, amal baktinya sebagai pelindung negeri dan pertarungan-pertarungannya melawan Rangda serta para iblis dan siluman. Anehnya, entah ini disengaja atau tidak, dinding yang berpahatkan awal kisah Sang Barong itu terletak di dekat ambang pintu masuk rahasia, bukan pintu masuk yang resmi dari pura.


Lagipula, dinding-dinding sepanjang koridor ini tampak berdiri tak beraturan, tak ubahnya sebuah labirin. Jadi, bila seseorang hendak “membaca” kisah-kisah di relief itu secara berurutan, berarti ia harus siap keluar-masuk jalan buntu.


“Jadi, agar tak memboroskan waktu, sebaiknya kita abaikan saja relief-relief itu. Ayo kita cari jalan masuk ke kediaman Barong bersama-sama!” seru Ni Luh Widuri.


“Lho, bukankah kau bilang kau sudah tahu persis jalur ke Balairung Saka Cahya?” Nirya mendelik penuh selidik.


Widuri seakan telah menyiapkan jawabannya. “Ngg, ya, tentu saja... Namun perlu kalian tahu, dinding-dinding pada labirin ini dapat berpindah-pindah secara magis. Jadi, apa yang kuketahui kemarin pasti bakal beda dengan sekarang. Labirin ini berubah-ubah sewaktu-waktu seakan... hidup!”


Sthira menegur Widuri, “Seharusnya kau beritahu kami tentang itu sejak awal.”


Widuri membalas, “Kalau kuberitahu, kalian pasti akan berpikir macam-macam. Kalian perlu tahu, kalian butuh aku bukan hanya sebagai pemandu, tapi juga sebagai pembuka pintu-pintu yang tersegel... Dan juga penjaga-penjaga seperti itu!”


Di arah yang ditunjuk Widuri, tampak segerombolan makhluk dengan tubuh penuh bulu serba putih datang menyerbu. Perawakan makhluk-makhluk kurus itu seperti manusia, semuanya mengenakan topeng putih yang menutupi seluruh wajah hingga pangkal rambut putih mereka yang mengembang berantakan. Satu-satunya pakaian yang mereka kenakan hanya sehelai sarung kotak-kotak hitam-putih yang menutupi bagian bawah tubuh mereka. Mereka tak bicara, hanya bersuara, “Cak-cak-kecak!”


“Para kecak!” seru seorang gadis murid Widuri.


“Lari! Kita tak bisa menangani mereka semua sekaligus!” Widuri ambil langkah seribu, diikuti seluruh rombongannya.


Benar saja, beberapa kecak yang menguasai sihir mulai menembaki para “penyusup” dengan macam-macam peluru sihir. Nirya berhasil menghindari satu-dua tembakan. Namun, sebatang es tajam menyerempet bahunya. Nirya mengerang kesakitan, namun ia berusaha untuk tak mempedulikan luka goresan itu dan terus lari saja.


Saat tiba di sebuah perempatan, Widuri berseru, “Semua, berpencar! Tumbangkan para kecak bila terdesak!”


Hanya para murid Widuri yang menjawab, “Baik, guru!”

__ADS_1


Sumber gambar referensi untuk Pura Agung Kharayan adalah Pura Besakih di Bali: google.com


__ADS_2