EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
YAMKORA Bagian 1


__ADS_3


Sasaran pembunuhan yang akan dilakukan kelompok Nirya adalah Aswa Rakwar dan terutama suami Aswa, Yori Mbeko. Entah Gunung Yamkora yang mereka jaga bisa kembali bangkit dari keadaan "mati" dan tertutup salju abadi dan meletus atau tidak.


Namun sampai matahari menyusup di balik pepohonan dan terus tenggelam di balik cakrawala, tak sedetikpun Nirya melihat penampakan pria perkasa pemersatu Dhuraga yang sering bepergian menjarah negeri-negeri lain itu. Apakah saat ini Yori sedang pergi berlayar lagi?


Pikiran itulah yang kini berkecamuk dalam benak Nirya. Padahal gadis berambut jingga itu duduk beralaskan batu-batu yang sengaja "dipasang" di atas tanah, mengelilingi sebuah meja besar yang dipahat dari batu pipih.


Di atas meja itu tersaji beberapa jenis makanan. Walaupun semua bahannya diambil dan diolah langsung dari alam, semua hidangan itu disajikan seapik mungkin, membelai pandangan mata dan menggugah selera.


Daripada terus berlarut-larut memikirkan ketidakhadiran Yori Mbeko dan nantinya mengundang kecurigaan tuan rumah, Nirya memilih berdiri mengulurkan tangannya, mencicipi hidangan-hidangan "jamuan kenegaraan" itu satu-persatu.


Yang pertama adalah hidangan pembuka. Bentuk makanan itu seperti tahu yang dipotong kotak-kotak. Permukannya tampak kenyal, berwarna coklat dan nyaris transparan.


Si pemandu, Wufabwe yang sengaja duduk dekat para tamu seakan tak pernah berhenti bicara, menjelaskan tentang tiap hidangan yang tersaji, kali ini pada Nirya. "Nah, yang kotak-kotak kenyal itu terbuat dari olahan campuran rumput laut dan kaka'o, kami menyebutnya a'gar."


"A-gar... agar?" kata Nirya sambil mengambil dan mencicipi sebuah. "Hmm, manis, segar dan lezaat!" Ia tersenyum manis dan tulus.


Wufabwe mengangguk. "Yap, persis. Agar-agar... Kurasa itu gagasan nama yang bagus. Dua kali sebutan nama karena kesegarannya juga ganda. Nanti aku sampaikan usul itu pada Sang Aronawa."


Giliran Dhaka bertanya, "Hidangan utama juga sedap sekali. Apa nama ini?" Ia menunjuk ke masakan berwarna merah-putih di piringnya.


"Oh, itu adalah betatas yang dimasak dengan sagu, daging cincang dan rempah-rempah. Kami belum punya nama untuk masakan itu, mungkin para tamu punya usul?"


Nirya berkomentar, "Bagaimana kalau 'Dhuraga Adiboga'? Rasanya sangat beragam, manis dari betatas, gurih dari daging dan rempah-rempah, ditambah asin dari garam dan pedas dari cabai. Benar-benar kaya rasa!"

__ADS_1


"Usul bagus, walau kedengarannya agak berlebihan," sergah Arumi. Wajahnya agak muram, entah kapan terakhir kalinya ia menikmati hidangan penuh cita rasa seperti ini dan kapan ia bisa mencicipi kenikmatan hidup lagi layaknya senopati.


Kini, yang ia miliki hanyalah misi ini.


Di sisi lain, tampak Sthira tengah menikmati minumannya. Sekali tenggak, wajahnya berubah lebih cerah dan segar.


Wufabwe menerangkan, "Wah lihat, rupanya Sthira sudah tersihir nikmatnya kopi. Sebenarnya rasa kopi itu pahit, namun serbuk kaka'o membuat rasa kopi lebih manis. Cobalah juga, kalian pasti akan supa, tapi ketagihan tak ditanggung, lho!"


Kelakar Wufabwe itu disambut tawa dari semua tamu dan undangan. Bahkan Arumi yang serba seriuspun memaksa dirinya tertawa pula.


Untuk memeriahkan perjamuan, tuan rumah menyajikan musik dan tari-tarian sejenak. Muda-mudi melenggak-lenggok penuh semangat di bawah penerangan obor, diiringi musik dari gendang dan tabung-tabung bambu.


Saat itu pula, Nirya tanpa sadar tersenyum. Ingin ia terus merasakan suasana penuh kedamaian dan suka-ria ini. Ini suasana yang amat jarang ia dapatkan di Perguruan Bayunara yang penuh disiplin, suasana yang amat ia ingin bagi seterusnya dengan para rekan merangkap sahabat seperjuangannya dalam Misi Cincin Api ini.


Gagasan, atau tepatnya firasat itu membuat Nirya berhenti makan dan minum seketika.


Melihat gelagat Nirya itu, Aswa Rakwar di ujung seberang meja bertanya, "Lho, mengapa berhenti? Teruskanlah, hormatilah hasil jerih payah tuan rumah dengan menikmati semua hidangan ini sampai tandas."


Nirya mencoba berkelit, "Maaf, Sang Aronawa. Bukan maksud hamba tak sopan, tapi hamba sudah benar-benar kekenyangan sekarang. Mohon izin untuk ke belakang dulu."


"Ah, rupanya begitu. Tapi kau tak perlu ke belakang atau ke mana-mana."


"Apa maksud Sang Aronawa?" Terperanjat, Nirya bereaksi hendak bangkit dari tempat duduknya. Namun seluruh tubuhnya terasa amat berat, bahkan seakan seberat gunung. "A-aku tak bisa bergerak sama sekali!"


"Apa?" Sthira dan Arumi bereaksi bersamaan. Mereka hendak bangkit, namun tubuh mereka juga tak bisa bergerak seperti terhimpit gunung.

__ADS_1


Dhaka, anggota dengan fisik terkuat dalam kelompok Sthira masih bisa bergerak, namun teramat lamban. Ia bangkit sambil berusaha mengibaskan ekornya untuk menyapu semua makanan di meja, tapi ekornya terasa lemas, tak bisa terangkat lebih tinggi daripada sejengkal dari tanah. Maka Dhaka berseru penuh murka, "Kalian racuni Dhaka! Mengapa?"


Dengan tenangnya Aswa Rakwar berdiri tegak, membusungkan dada sambil berkacak pinggang, membuat dirinya tampak terkesan lebih kekar. "Alasannya sederhana saja. Para saudagar, para raja Antapada seharusnya menyerahkan hadiah-hadiah berharga lewat para utusan mereka pada kami sebagai tanda itikad baik. Itu tradisi yang berlaku hingga kini, 'kan?"


Arumi mencoba membela diri dengan bersilat lidah lagi, "Ya, kami tahu itu. Namun kami sempat diserang para bajak laut dari Dabongsang dan dirampok habis-habisan. Kami, para pendekar tangguh berhasil mempertahankan kapal dan nyawa kami. Namun bila kami pulang, ke negeri kami masing-masing dengan tangan kosong, kepala kamilah yang akan melayang."


Sthira menambahkan, "Kami mohon, pahamilah keadaan kami dan lepaskanlah kami. Kami janji akan membawa hadiah yang dua kali lipat lebih banyak dan dua kali lipat lebih berharga daripada yang telah terampas itu."


"Mungkin lain kali para saudagar sebaiknya ikut pula dalam rombongan. Dengan pengetahuan yang luas, mereka takkan mudah terpukau oleh hidangan-hidangan yang cara penyajiannya kami bajak. Terutama tanaman dan biji kopi hasil jarahan kami berabad-abad silam dari kapal-kapal Al-Kalam. Dan mungkin mereka bisa juga mengenali racun racikan dukun sakti Dhuraga, yang kami tambahkan diam-diam dalam makanan kalian," ujar Aswa. "Lagipula, apa kalian pikir kami berminat membina hubungan dagang dengan negeri-negeri di Antapada?"


Nirya, Sthira, Arumi dan Dhaka terperangah. Kali ini tipuan mereka dibalas tipu daya pula, dan mereka telah terjebak bagai musang dalam jerat pemburu. Habislah sudah, Misi Cincin Api harus diakhiri dengan bencana yang lebih besar lagi di Antapada.


Apalagi Aswa Rakwar menambahkan "kata mutiara" terakhir, "Lagipula, untuk apa kami berjual-beli, kalau kami bisa mendapatkan segalanya dengan menjarah?"


Nirya seakan membeku sepenuhnya. Ternyata Aswa Rakwar sudah terang-terangan menyatakan ambisinya. Ini adalah tantangan sekaligus ancaman nyata, tak hanya pada kelompok Nirya, tapi juga seluruh Antapada.


Negeri manapun yang menang atau kalah dalam Perang Akbar Antapada ini, Dhuragalah yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Cepat atau lambat, dari negeri primitif yang sama sekali tak diperhitungkan, Dhuraga akan bangkit menjadi penguasa seluruh jazirah.


"Prajurit, giring para pengacau ini ke dalam penjara! Persiapkan tiang gantungan! Kita akan jadikan mereka sasaran latihan lempar lembing besok pagi!"


Hanya satu hal yang dipkirkan Nirya saat sekelompok prajurit menyeret tubuh kakunya. Habislah sudah. Hanya Sang Mahesa yang bisa menyelamatkan kami kali ini.


Gambar referensi untuk kostum Yori Mbeko dan Aswa Rakwar adalah kostum penari Tari Yospan.


Sumber Gambar: GenPI.co (Google)

__ADS_1


__ADS_2