
Sthira menggeleng. "Tidak, tujuan kami adalah melemahkan negeri-negeri yang tengah berperang di Antapada, untuk mengakhiri perang berkepanjangan yang telah memporak-porandakan tanah air kita ini."
"Lantas, mengapa kalian ke Dhuraga pula? Mengapa memilih Yamkora, gunung berapi yang telah mati dan terselimuti salju abadi ini?" tanya Yumano.
"Karena yang kami incar adalah nyawa kalian," seru Arumi sambil menodongkan keris besarnya ke arah para "sasaran" itu. "Dhuraga sudah makin kuat dan agresif, cepat atau lambat pasti akan menjarah dan menjajah negeri-negeri Antapada yang sudah lemah."
Nirya menimpali, "Singkirkan sosok pemersatu negeri, suku-suku Dhuraga akan tercerai-berai dan lemah kembali."
Sejenak, keheningan merebak. Lalu suara tawa Yori alias Cayari Yumano membahana, memecah keheningan itu. "Hahaha! Terawangan kami ternyata benar. Sebagai sesama juru kunci gunung api, kami telah merasakan kontak batin kami dengan beberapa juru kunci lainnya terputus. Ini adalah kesempatan emas bagi Dhuraga untuk menguasai seluruh Antapada, dan persiapan kami hampir rampung. Tak kusangka, ternyata rentetan letusan gunung api itu bukan kebetulan dan alamiah, melainkan disebabkan oleh ulah kalian!"
Aswa alias Cayari Aronawa menambahkan, "Jadi, kami berterima kasih pada kalian karena telah menciptakan kesempatan ini. Walau begitu, karena kalian datang untuk menghentikan kami pula, terpaksa kami harus menghentikan kalian. Dan ternyata, untuk itu kami harus mengerahkan kekuatan pamungkas!"
Bersambung-rasa, seluruh tubuh sepasang cayari raksasa itu berpendar amat cerah. Aura di tubuh mereka terpancar dan berkobar-kobar, tanda mereka tengah menghimpun energi pamungkas untuk mengerahkan jurus terkuat mereka.
"Hati-hati, jurus pamungkas biasanya melanda ke segala arah!" seru Sthira. "Ayo, lari ke gua itu!" Tanpa banyak bicara, ketiga pendekar lain langsung berlari mengikuti pria Kalingga itu.
Dhaka tentunya yang paling cepat kembali dalam gua. Tubuhnya gemetaran begitu hebat, lidah bercabangnyapun terasa kaku sehingga ia tak bicara sejak tadi.
Di sisi lain, Nirya merasakan satu gejala lain lagi. Sambil terus lari ia berseru, "Dengar teman-teman! Rasakan juga, sepertinya sedang ada gempa!" Ia menajamkan pendengarnanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa suara gemuruh yang ia dengar itu bukan bersumber dari sepasang cayari raksasa itu.
__ADS_1
Baru tepat di mulut gua, Nirya berbalik dan kali ini menajamkan indera penglihatannya. Sambil melayang tak jauh dari tanah, Cayari Yumano-Aronawa terus mengepakkan sayap, mengumpulkan energi putih hingga pancaran di tubuh keduanya makin besar. Tampak pula larik-larik energi putih terpancar dari puncak putih yang disebut "salju" oleh para penjaganya itu. Yang mencengangkan adalah, suara gemuruh dan guncangan bagai gempa bumi itu ternyata berasal dari puncak salju tepat di atas kepala Nirya tersebut.
Terkesiap, Nirya cepat-cepat memasuki gua, lalu berseru ke luar, "Yumano dan Aronawa, hentikan jurus kalian! Kalau diteruskan, kalian bakal menyebabkan gempa di puncak yang kalian sebut 'bersalju' itu!"
Balasan Yumano bergema seketika, "Gadis naif, apa kau pikir kami akan berhenti menghabisi kalian, apalagi setelah kalian mengungkapkan aksi paling mengerikan sepanjang sejarah Antapada yang kalian lakukan itu? Biarlah ada gempa di Dhuraga, asal para pembawa bencana ini celaka!"
"T-tapi...!" Nirya kehabisan kata-kata untuk berdebat. Arumi menghardik, "Sudahlah, Nirya! Teman-teman, aku akan menghadang pamungkas mereka dengan pamungkasku! Salurkanlah energi kalian padaku!"
"Baik!" seru Nirya, mewakili semua anggota.
Lantas Dhaka memposisikan dirinya tepat di belakang Arumi, Sthira di belakang Dhaka.
Nirya di posisi paling belakang memutar-mutar telapak tangannya, menghimpun tenaga dalam sebanyak-banyaknya hingga kedua tangannya berpendar hijau. Lalu Nirya menempelkan telapak tangannya ke punggung Sthira seraya menghentak dan berseru, "Terima pranaku!"
Menerima asupan tenaga dalam yang hangat, Dhaka sempat melenguh nyaman. Namun tentunya energi itu bukan untuk disimpan sendiri. Jadi Dhaka menyalurkan prana Nirya dan Sthira, ditambah prananya sendiri ke tubuh Arumi.
Sesaat kemudian, sepasang cayari raksasa di udara tuntas menyerap prana, kobaran aura bagai sepasang sayap tambahan terpancar dari punggung mereka masing-masing. Secara bersamaan pula mereka berseru, "Inilah hukuman mati, Beku Mutlak Murka Yamkora!"
Secara bersamaan, kedua cayari raksasa menembakkan dua larik besar prana putih-kemerahan dan putih-kebiruan dari paruh mereka. Walau tak menyerang dari segala arah seperti perkiraan Sthira, kedua larik itu jelas tertuju tepat ke mulut gua tempat Kelompok Cincin Api berlindung.
Tentu saja kali ini Arumi juga siap. Gadis itu mengacungkan keris panjangnya, Agninetra lurus-lurus dan menembakkan selarik besar api dari jurus Semburat Magma Inti Neraka. Dengan asupan energi tambahan dari Dhaka, Sthira dan Nirya, larik api ini makin kuat. Buktinya, saat ketiga larik energi bertumbukan di udara, larik api mampu menahan dua larik es. Nampaknya kekuatan dua cayari raksasa lawan empat pendekar sakti itu berimbang.
__ADS_1
Yang terjadi selanjutnya adalah, kedua energi itu bagai sedang saling dorong-ulur. Pertama, larik-larik es menekan larik api hingga tepat di mulut gua. Lalu, tak lama kemudian larik api menekan balik larik es. Apakah akhirnya Cayari Yumano-Aronawa kehabisan energi?
Mendadak, kedua larik es itu bergeser hingga saling bersinggungan. Anehnya, larik putih-kemerahan bukan menghancurkan, melainkan saling membelit dan mengikat, menyatu dengan larik putih-kebiruan. Larik merah-biru baru itu bergerak bagai gelombang, membuat dayanya menjadi berlipat ganda. Alhasil, larik es gabungan dengan cepat menekan larik api.
Melihat itu, wajah Nirya yang masih terus menyalurkan prana berubah pucat-pasi. Firasat buruk yang kembali menjalari benaknya diperparah dengan guncangan gempa yang makin hebat dari luar dan amat terasa dalam gua ini.
Namun justru pendekar terdepan, Arumi yang tak kehabisan akal. Sambil berteriak sekuat suara, gadis itu menghentakkan seluruh tenaga dalam yang ada, membuat larik apinya makin besar dan cepat sambarannya. Kedua larik api dan es berkekuatan berlipat ganda itu bertumbukan di udara. Akibatnya, terjadilah ledakan amat dahsyat dekat mulut gua.
Imbas entakan Arumi itu membuat teman-temannya terpental. Nirya di paling belakang bahkan terantuk keras di dinding ceruk gua dan tak bergerak sama sekali dalam beberapa menit.
Mengerang didera rasa sakit teramat-sangat, Nirya perlahan-lahan membuka matanya. Yang pertamakali ia lihat adalah rekan-rekannya terkapar di posisi terpencar-pencar dalam gua. Tak ada pergerakan dari luar sana, ada apa gerangan yang telah terjadi?
Namun yang paling membuat Nirya terperanjat adalah jalur masuk gua tampak tertutup oleh sebentuk dinding berwarna putih bersih. Didorong rasa ingin tahu, Nirya menghampiri dinding itu dan menyentuhnya. Seketika, telapak tangannya terasa perih. Makin lama Nirya menyentuhnya, tubuhnya mulai gemetaran lagi.
Dingin sekali. Inikah yang disebut "salju" itu? kata Nirya dalam hati. Masalahnya kini, satu-satunya jalan keluar dari gua sudah tertutup rapat. Harus ada cara keluar dari sini, kalau tidak kami pasti bakal tewas kehabisan udara.
Nirya lantas mendapat akal. Ia berdiam sejenak, mengumpulkan para yang bisa ia himpun dari sekitarnya di satu titik, yaitu ujung bilah kerambit. Lantas Nirya menggunakan jurus Angin Membelah Awan, menghunjamkan kerambit bermuatan penuh itu pada dinding putih.
Kabar baiknya, jurus kerambit Nirya berhasil menorehkan satu retakan besar di dinding saljut. Kabar buruknya, masih ada salju yang menutupi ujung retakan itu. Kabar terburuknya, retakan tadi perlahan kembali tertutup oleh longsoran salju. Nirya jadi tak habis pikir, setebal apa dinding ini sebenarnya?
Tubuh Nirya makin gemetar dan napasnya terengah-engah, semacam embun putih mengepul dari hidung dan mulutnya. Walau demikian, gadis itu hendak ambil ancang-ancang lagi. Kalaupun harus memaksa diri menantang batas kekuatannya sendiri, dengan resiko melukai, bahkan merusak diri sendiri, Nirya takkan membiarkan teman-teman seperjuangannya, apalagi Sthira, celaka.
__ADS_1
Tiba-tiba sebentuk tangan kekar menepuk pundak Nirya. Gadis itu lantas menoleh dan melihat Sthira. Setitik darah dari luka dalam mengalir keluar dari sisi bibir pria itu.
Jalur Cincin Api Pasifik di Indonesia, persebaran gunung berapi. Sebenarnya gunung-gunung di Papua tidak termasuk dalam jalur ini, namun di Everna Gunung Yamkora digolongkan gunung berapi. Sumber gambar: Ekspedisi Cincin Api Kompas.com.