
“Tergantung. Yang pasti kau telah membuktikan bahwa kau jauh lebih kuat daripada para juru kunci gunung api lain yang telah kami hadapi, yaitu Gajahmina, Sabailuha, bahkan Kamaja. Kau telah menumbangkan Sthira, yang terkuat dalam tim kami dengan satu tinju saja, apalagi bila kau menyerang kami?”
Barong mengangguk, wajah manusianya tersenyum, sarat kharisma. “Jadi, apa kalian bersedia pergi dari sini baik-baik dan membebaskan Wiranata?”
“Ya! Kami akan pergi sekarang. Tapi bila kau ingkar janji suatu saat nanti, kami pasti akan datang lagi memburumu!” Arumi tak segan-segan menunjuk langsung ke arah Barong.
Tiba-tiba satu suara wanita nan lantang menyela, “Dasar bidak-bidak tak berguna!”
Semua kepala menoleh, semua mata tertuju pada si penyela. Ternyata ia adalah si wanita cantik pemuka agama sekaligus pemandu tim Sthira, Ni Luh Widuri. Widuri tiba di ruang utama Balairung Saka Cahya ini bersama dua gadis muridnya.
“Bukannya bertarung mati-matian melawan Barong hingga ia melemah, kalian malah membiarkan diri kalian didikte olehnya begitu saja!” lanjut Widuri. “Kupikir kalian ini benar-benar pendekar tangguh! Aku sungguh menyesal telah bersedia menjadi pemandu kalian!”
Sthira yang baru pulih dari imbas pukulan Barong tadi bangkit dan berkata, “Tunggu, jadi kau membiarkan kami lebih dahulu menemui Barong karena kau tahu kami pasti akan bentrok dengannya? Kau tahu kekuatan kami bertiga takkan mampu mengalahkan salah satu entitas gaib terkuat di Antapada itu, jadi kami hanya dijadikan bidak-bidak olehmu saja?”
Nirya menimpali, “Ternyata ‘urusan’-mu itu adalah bertarung melawan Barong, ya?”
Widuri bertepuk tangan. “Tepat, tepat. Ini membuktikan kalian memang lebih piawai bersilat lidah daripada bertarung. Sayangnya, kesadaran kalian itu terlambat, dan kini kalian harus mati di sini, menjadi tumbal dalam pertarungan abadi antara cahaya dan kegelapan ini!”
Arumi ternganga. “W-Widuri, ternyata kau adalah...!”
Widuri memutar tubuhnya dengan gemulai, sambil kakinya terangkat dari lantai. Melayang di udara, wujudnya berubah hampir seketika menjadi sosok serba hitam dengan rambut hitam panjang terurai hingga ke lutut. Sulur-sulur hitam di bagian bawah tubuhnya menyebar hingga tampak seperti gaun panjang, sepenuhnya menutupi kedua kaki aslinya.
“Akhirnya kau muncul lagi. Kali ini kau langsung mengunjungiku, bukan menghancurkan desa atau menculik bayi-bayi tak berdosa seperti sebelumnya... Rangda!” seru Barong, tubuhnya kini diselimuti prana putih keemasan yang pancarannya terasa hingga ke dekat dinding balairung.
Wajah Ni Luh Widuri kini telah berubah menjadi hitam menyeramkan. Saat mulutnya terbuka, tampaklah sederetan taring tajam dengan dua taring paling ujung mencuat ke bawah seperti taring ular. Saat menjulurkan lidah, tampak lidah itu jadi teramat besar dan panjang, warnanya semerah darah. Kedua matanya jadi merah berlensa hitam, menyorot lurus dan nyalang ke arah musuh abadinya.
Suaranyapun berdesis seperti manusia-ular saat ia berkata, “Benar, kali ini aku, Rangda telah berhasil menembus labirin dan pertahanan istana Sang Barong. Memancingmu keluar adalah cara yang basi, jadi aku meminjam kekuatan para murid terkuatku dan ketiga pendekar lugu itu. Bersiaplah, Barong. Hari ini kau akan kukirim kembali ke Sang Mahesamu!”
“Wah, baik sekali kau, Rangda. Sudah berabad-abad, bahkan melintas zaman aku menantikan kesempatan untuk kembali pada Sang Mahesa. Tapi maaf, satu-satunya cara untuk kembali padanya adalah dengan memusnahkanmu selama-lamanya, Rangda! Dan ya, biar aku bersiap-siap!”
Sambil Barong mengatakannya, seluruh tubuhnya seakan terbungkus oleh cahaya putih menyilaukan. Bahkan Rangda, Nirya, Sthira dan Arumipun menutup mata mereka yang menyipit dengan tangan.
“Huh, menyebalkan!” Rangda alaminya memang tak suka cahaya matahari dan setaranya seperti ini.
Cahaya tubuh Barong lantas membesar dan berubah bentuk, lalu buyar.
Saat itulah Nirya membuka mata dan ternganga. Yang ia lihat adalah wujud asli Barong, yaitu seperti singa putih raksasa.
Wajah Barong saat ini benar-benar persis singa, jauh berbeda dengan penggambarannya dalam karya-karya seni. Bedanya dengan singa pada umumnya, sepasang taring panjang-runcing bagai bilah pedang berlekuk kencuat dari rahang atasnya, seperti macan bertaring panjang di Zaman Prasejarah.
__ADS_1
Tubuh Barong dipenuhi bulu putih yang pendek. Bentuk tubuhnya seperti tubuh singa Ubanga, bukan berbulu panjang, tebal dan bertubuh seperti beruang dalam versi karya seni. Pelbagai perhiasan emas perada menghiasi kepala, leher, tubuh bahkan kaki-kaki Barong, sempurna memancarkan kemuliaannya.
Satu lagi perbedaan yang mencolok adalah, di tubuh Barong ada sepasang sayap rajawali yang berbulu serba putih. Sayap-sayap itu kini terlipat rapi, dan bakal terbentang sampai maksimal lima kali lebar tubuhnya jika Barong membubung dan terbang.
Mata singa Barong menatap tajam Rangda, teriring ucapannya, “Akan kubuat jiwamu amat tersiksa, hingga kau lebih memilih neraka daripada dunia, Rangda!”
“Cih! Kata-kata keji itu berasal dari bibir Barong, insan suci yang budi pekertinya diteladani semua orang?” sindir Rangda. “Bila kau bertarung dengan keji pula, apa kata dunia?”
“Tenang saja, sikap kejam hanya kutujukan untuk dirimu seorang, hei ratu kekejian!”
“’Ratu kekejian’, katamu? Sungguh pujian yang indah, jadi harus kubalas dengan menunjukkan kekejian yang setara! Rasakan ini!” Rangda mengulurkan kedua cakar tangannya yang semua kukunya sepanjang dan seruncing belati.
Dari balik tubuh hitam Rangda melesatlah larik-larik peluru hitm yang bentuknya seperti Selaksa Arwah Menyerbu Kota. Tak hanya Barong, peluru-peluru sarat energi kegelapan itu juga mengincar Sthira, Nirya dan Arumi.
Sebagai tandingan Rangda, Barong menepis peluru-peluru itu dnegan aumannya yang sarat energi murni. Akibatnya, sebagian besar peluru buyar, dan sisanya mendarat di tubuh Barong. Jurus auman Singa Suci Memanggil Mentari itu rupanya sudah terbaca oleh Rangda pada pertarungan-pertarungan mereka sebelum ini. Jadi Rangda telah melatih jurus-jurus arwahnya jadi lebih kuat, bahkan cukup tajam untuk menjebol jurus Barong. Hasilnya, Baronglah yang pertama berdarah dalam bentrok kali ini.
Nirya, seperti halnya para rekannya pontang-panting menghindari peluru-peluru arwah.
Malangnya, Sthira yang masih terluka dihantam wujud manusia Barong tak bisa bergerak cepat. Tanpa ampun, dua peluru arwah menghantamnya. Untunglah Sthira meredam kekuatan itu dengan energi pelindung tubuh dan tangkisan Gharma. Jadi ia selamat namun terluka cukup parah. Ia terkapar sambil muntah darah.
“Percuma! Barong dan Rangda terlalu kuat! Kita harus pergi dari sini!” seru Nirya.
Arumi mengangguk setuju, ia bergerak hendak membopong Sthira. “Harusnya Idharma jadi sasaran terakhir kita! Kita akan kembali kemari lagi saat kita sudah jauh lebih kuat nanti! Itupun kalau kekuatan kita bisa mengimbangi Barong!”
Nirya dan Arumi menoleh, melihat dua leak rajni, jenis leak terkuat kedua di bawah Rangda ini makin membuat Nirya dan Arumi kewalahan, apalagi harus melindungi Sthira di belakang kedua gadis itu.
Nirya sendiri baru menangkis cakar leak rajni dengan rantai kerambitnya. Di saat bersamaan, ia berputar cepat dan mengayunkan kerambit untuk menggorok leher lawan. Si leak yang cerdas menunduk untuk menghindar, tapi kerambit kedua menusuk dada atasnya.
“Kena kau!” Memanfaatkan kesempatan, Nirya mengerahkan jurus Bayangan Badai. Ia berkelebat teramat cepat sehingga lawan hanya bisa merasakan hembusan angin saja, tak bisa melihatnya. Saat berikutnya, tubuh si leak rajni sudah terbelenggu rantai.
Nirya lantas membenamkan kerambit keduanya di sisi samping leher jenjang si leak. Memastikan si leak takkan bisa bertahan hidup, Nirya melepaskan belenggu kerambitnya dan membiarkan lawannya berdiri limbung dalam kondisi sekarat.
“Hehee... Apa kau tak tahu?” ejek si leak rajni. “Aku sudah lama mati, jadi tak bisa dibunuh lagi oleh siapapun!”
Membuktikan ucapannya, makhluk semacam mayat hidup itu bergerak maju lagi. Cakar hitamnya diayunkan ke arah Nirya yang belum siap dan mengandalkan refleks semata, menggores lengan atas si gadis kerambit itu.
Mengerang kesakitan, Nirya bergerak menjauh untuk menjaga jarak. Namun rasa ngeri itu tak mau hilang, malah mulai menjalar perlahan-lahan. Alangkah terkejutnya Nirya, melihat bagian lengan yang tergores itu mulai membiru. Ternyata kuku-kuku leak rajni itu beracun. Bilamana racun itu menjalar hingga ke jantung, tamatlah riwayat Nirya.
Belum sempat merapal sihir penyembuhan, tanpa pikir panjang Nirya menyayat lengan yang membiru itu. Darah yang menghitam karena racun mengalir keluar dari bekas luka itu.
“Giliranku menghabisimu!” Leak rajni maju berlari, kuku-kuku beracunnya siap dihunjamkan ke jantung lawan.
__ADS_1
Nirya yang makin lemah karena kehilangan banyak darah mengayunkan kerambit berantainya untuk menangkis sekenanya. Tapi apakah itu cukup untuk menangkal cakar-cakar bertenaga penuh si leak? Wajah Nirya pucat seketika, maut menyapa di depan mata.
Tiba-tiba lagi, langkah si leak rajni terhenti. Ekspresi ganas di wajahnya lenyap seketika, berganti tatapan kosong. Saat berikutnya, tampak kepala leak itu bergeser dari titik lehernya, lalu jatuh dan berguling di lantai. Tubuh leak rajnipun roboh sesaat kemudian, lalu berubah menjadi abu dan asap, takkan pernah bergerak lagi. Saat berikutnya, tampaklah si pelaku yang berdiri dengan keris panjang yang bilahnya berlumuran darah hitam.
Nirya menghela napas lega. “Terima kasih banyak, Arumi. Tapi... mengapa leak itu...”
“Aku baru tahu saat memenggal kepala leak lawanku tadi,” jawab Arumi. “Ternyata itulah satu-satunya cara membunuh makhluk yang bisa beregenerasi macam leak rajni...”
“... Dan kecak!” Nirya menutupi mulutnya, terkesiap. Untunglah ia belum tahu tentang itu saat melawan para kecak di labirin tadi. Dan alasan mengapa “untung” akan ia saksikan sebentar lagi.
“Ayo, bantu aku, Nirya!” seru Arumi sambil kembali membopong Sthira. “Tak kusangka, laki-laki ini berat sekali!”
“Aku... dengar itu...” Suara Sthira itu membuat Arumi dan Nirya terperanjat. Bukan karena takut pria itu tersinggung, tapi semata-mata mereka takjub dengan daya pemulihan tubuh Sthira yang lebih cepat dari rata-rata manusia biasa.
“Terserah. Pokoknya kita harus keluar dari tempat ini sekarang!” kata Arumi. “Kita tak mau jadi sasaran serangan nyasar dua raksasa digdaya yang tengah bertarung itu, ‘kan?”
Sthira protes, “Tapi, misi kita...!”
“Lihat! Barong sengaja memancing Rangda menjauhi kita!” Nirya menunjuk ke arah langit-langit Balairung Saka Cahya, yang sebenarnya adalah kawah Gunung Idharma. “Kita tak mungkin bisa lanjut di sini, Sthira! Sadarilah itu!”
Sambil menggemeletakkan gigi, Sthira berjalan ke arah pintu masuk. “Huh, kita pergi!” Ia lantas lari, mengerahkan tenaganya yang baru pulih.
Tak segera ikut lari bersama kedua rekannya, Nirya menegadah ke arah Barong dan Rangda yang sedang bertarung sengit.
Sekilas, tampak jelas mata singa Barong menatap Nirya dengan sorot penuh arti. Arti bahwa semua yang ia katakan saat menghadapi Nirya tadi benar adanya. Rainusa sedang teramat lemah, dan satu-satunya jalan agar dapat pulih kembali adalah dengan membebaskan Wiranata, raja sejati Rainusa yang arif bijaksana.
Dan kini, harapan itu terletak di pundak Arumi, Sthira dan Nirya.
\==oOo==
Sambil berlari, Nirya yang masih cukup hapal jalur yang benar di labirin Gunung Idharma berlari paling depan, memandu kedua rekannya, Sthira dan Arumi.
Di sana-sini, terdengar suara-suara pertarungan. Para kecak penjaga labirin tidak lagi “mengganggu” tim Nirya. Selain karena niat ketiga insan ini bukan membawa bencana di tempat ini lagi, para kecak sedang sibuk bertempur melawan sepasukan leak yang diam-diam ikut menyerbu Idharma, menyusul ratu mereka.
Berbeda dengan leak rajni, wujud leak biasa amat mengerikan, baik yang masih berbentuk manusia maupun yang tinggal kepala yang melayang-layang bersama bagian dalam tubuhnya yang menjuntai, melekat pada tulang belakangnya.
Andai tadi kelompok Nirya berhasil menumbangkan Barong, mereka takkan dibiarkan keluar hidup-hidup dari Idharma. Jadi, keputusan untuk lari dari pertempuran ini adalah yang paling tepat.
Nirya tak ambil pusing lagi. Tinggal satu pikiran di kepalanya, ia harus terus lari.
Lari.
__ADS_1
Sumber gambar: Barong versi Shin Megami Tensei.