EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
MANTIKEI Bagian 6


__ADS_3


Di ambang batas asa dan ketahanan tubuhnya, batin Nirya berteriak, Inikah kehendakmu, Sang Mahesa? Aku siap menerimanya, apapun itu, namun kumohon, bantulah aku sekali lagi saja, demi seluruh Antapada!


Suara batin Barong menjawab seketika, Sang Mahesa telah membantumu lewat kekuatanku. Gunakanlah!


Di punggung tangan Nirya yang tak bertato aksara gaib muncul tato baro yang berpendar putih cerah. Itulah Aksara Suci Cahaya, kunci Gunung Idharma. Rupanya juru kunci Idharma, Barong diam-diam telah menanam sumber kekuatan cahaya itu di tangan Nirya saat mereka berdua berkomunikasi batin tadi.


Perasaan segar dan teduh dalam tubuh, juga pendaran aura putih bersih, cerah nan lembut meliputi kedua tangan bahkan seluruh tubuh Nirya. Gejala itu menegaskan keberadaan tambahan tenaga yang berlimpah, seakan tiada batas itu. Itulah energi ilahi yang melebihi dewa.


Maka Nirya berseru lantang, "Kusampaikan kehendak Sang Mahesa, biang prahara penunggang bencana musnahlah!"


Nirya mendorong sepasang kerambitnya hingga menghunjam dada Vajra lebih dalam. Entakan itu juga mengalirkan prana cahaya Aksara Idharma sederas air terjun, menekan balik energi petir dalam tubuh Nirya lalu terus membuncah dan ganti merasuki tubuh Vajra.


Serangan balik tiba-tiba di luar tebakan tergilanya ini membuat Vajra terbelalak, campuran rasa tak percaya, terkejut sekaligus panik. "Apa!? Kehendak siapapun itu, kutolak! Akulah yang harus disembah dunia, bukan Sang Mahesa!"


Teriring satu teriakan Vajra menghentakkan seluruh sisa prana petirnya, mencoba menekan balik gabungan prana angin dan cahaya Nirya.


Namun rupanya bantuan yang tak terduga dari Barong, Duta Sang Mahesa itu membuat Vajra malah mati langkah. Kebanyakan energi pamungkas Darat Berguncang, Langit Gempar telah ia salurkan untuk menyerang para lawan tangguh. Lalu Vajra menyalurkannya lagi untuk membalas serangan Arumi, membebaskan diri dari kuncian Dhaka dan bertahan dari hunjaman kerambit prana angin Nirya.


Masalah terbesarnya, energi yang seharusnya untuk satu jurus itu diboroskan dan terbagi untuk segala aksi tadi. Akibatnya energi Vajra yang tersisa tak cukup untuk menahan, menangkal, apalagi menekan balik energi baru dari Nirya itu.


Ini ibarat sebuah pasukan yang sedang mendesak pasukan musuh. Baik pasukan pendesak dan pasukan musuh sama-sama kehilangan banyak prajurit. Lalu tiba-tiba bala-bantuan untuk pasukan musuh datang tak terduga. Pasukan pendesak sudah terlalu lelah dan tak memiliki cukup banyak prajurit untuk menahan bala-bantuan itu.


Akhirnya, Vajra mengalami nasib yang sama dengan pasukan pendesak itu. Energi cahaya bala-bantuan menyerbu ke dalam tubuh duniawi sang dewa, meluluhlantakkan apapun yang dilandanya tanpa bisa ditahan energi petir yang tersisa.


"Tidaak, aku tak rela!" Vajra berteriak-teriak kalap di sela-sela erangan kesakitannya. "Seluruh dunia, semua dewa dan iblis harus kulawan! Telah ribuan tahun aku menempa diri, tapi mengapa cita-citaku tak kunjung tercapai dan selalu kandas di tengah jalan? Mengapa?"


Sosok bayangan Barong menampakkan dirinya di hadapan Vajra dan berkata, "Itu karena kau bercita-cita merebut apapun yang bukan hakmu, bukan takdirmu. Ikutlah denganku, akan kutunjukkan jati dirimu sebagai Vajra yang sejati."


"Benarkah?" Wajah Vajra yang semula mengerutkan dahi berubah cerah. "Tunjukkanlah padaku, aku sudah lelah pada segala kesia-siaan ini."


Barong mengangguk dan tersenyum tulus. "Mari."


Di saat bersamaan, cahaya putih cerah berangsur-angsur meluas dan membungkus tubuh Vajra dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Lalu, tubuh putih itu mulai terurai menjadi partikel-partikel cahaya yang tak terhitung banyaknya. Titik-titik terang itu lantas berkumpul dan melayang di telapak tangan Barong yang terulur ke atas.


Beberapa saat kemudian partikel-partikel cahaya putih itu membentuk sebuah gada-tombak bermata ganda, yaitu Vajra dalam wujud senjata dewata. Gada-tombak Vajra lantas mendarat di genggaman erat tangan Barong.


"Baiklah, terima kasih atas perjuangan dan kerja keras kalian, para pendekar budiman. Dengan ini, Antapada dapat menatap masa depan yang penuh kedamaian," kata Barong pada trio Nirya, Arumi dan Dhaka. "Dengan jasa ini, dosa besar kalian karena telah memicu rentetan bencana letusan gunung api dan menghilangkan nyawa banyak orang telah tertebus separuhnya."


Arumi yang berjalan tertatih-tatih mendekati Nirya protes, "Separuh? Lantas dengan cara apa kami menebus dosa kami yang separuh lagi?"


"Tentunya dengan membaktikan sisa hidup kalian untuk melindungi yang lemah, memelihara perdamaian dan menjaga aksara-aksara gaib yang kini kalian miliki itu." Aksara Gaib Idharma kembali melayang dan merasuki dada Barong, pemilik sejatinya.

__ADS_1


Nirya mendengarkan semua penuturan dan percakapan tadi, namun ia hanya terpaku dengan air mata membasahi pipinya. Ternyata tubuh Sthira Tarunaga ikut terurai bersama Vajra alias nama lamanya, Vrithra. Seakan separuh jiwanya telah pergi meninggalkan gadis malang itu.


Mungkin akhirnya dosa-dosa Sthira telah disucikan berkat pertobatan Vajra. Sthira Tarunaga, pendekar sakti mandraguna dari Kalingga kini memiliki peluang besar untuk beristirahat dengan damai di Nirwana.


"Selamat tinggal, para Pendekar Cincin Api. Sampai kita jumpa lagi!" Sambil mengatakannya, Barong melesat dan membubung terbang, membawa Vajra bersamanya. Hingga akhirnya sosoknya menghilang di balik awan. Hampir seketika awan hitam lenyap, berganti langit biru cerah dan kumpulan awan-awan seputih kapas.


Menyaksikan itu semua, Arumi berkata, "Sang Mahesa sungguh mulia. Sejahat apapun musuh, ia tetap membukakan pintu pengampunan bagi si pendosa itu. Syukurlah Vrithra alias Vajra telah memilih masuk lewat pintu itu. Semoga di masa depan Vajra bisa tampil sebagai pendukung para pahlawan, bukan lagi biang prahara dan tirani. Ya 'kan, teman-teman?"


Nirya mengangguk mantap ke arah Arumi. Nirya menoleh ke arah Dhaka, namun tak ada tanggapan dari komodorai itu.


Sang pejuang perkasa hanya berdiri tegak di tempat, bertopang pada tombaknya yang menancap tegak-lurus di tanah. Nyaris seluruh tubuhnya telah menghitam, bau hangus dan darah yang telah mengering amat pekat memenuhi udara. Aksara Tanah Barkajang melayang dari tubuh Dhaka dan hinggap seperti tato di punggung telapak tangan Nirya.


Nirya dan Arumi menatap Dhaka Komodorai sambil menitikkan air mata.


Arumi berkata, "Selamat jalan, wahai Dhaka Sang Perkasa. Akhirnya kau berkumpul kembali bersama keluargamu tercinta. Kami akan selalu mengenang keberanian, pengorbanan dan kepahlawananmu."


Pandangan mata Nirya beralih ke sekeliling, pada Istana Mantikei Labih yang megah dan kini hanya tinggal reruntuhan. Apakah ini akan jadi akhir dari rentetan bencana terbesar di Antapada sepanjang sejarah ini, sejak kemunculan pertama Trinitas Sang Mahesa, Sang Srisari dan Sang Angkara di Vanapada?


Jawabannya ada di tangan satu orang, dan ia bukan Arumi maupun Nirya.


\==oOo==


Sementara Istana Mantikei Labih yang telah rata dengan tanah mulai dibangun kembali, para penguasa dan petinggi Kerajaan Kalingga menjalankan pemerintahan di istana sementara, yaitu rumah seorang bangsawan kaya-raya di Hamentane, ibukota Kalingga.


Tepat saat matahari berada di puncak langit, Ratu Pirimatha tampil di hadapan massa rakyat di halaman istana sementara itu, menyampaikan pidato dan titah pertamanya.


"Penghancuran Istana Mantikei Labih dan pembunuhan Raja Triawarman adalah sebuah malapetaka. Namun itu bukanlah bencana alam, melainkan akibat kesengajaan dan ulah si pembawa bencana sejati, yaitu Vrithra." Pirimatha sama sekali tak menyebut nama Sthira Tarunaga. Apa ini berarti Sthira telah diampuni?


Mendengar kata-kata sang ratu dari sisi samping panggung, diam-diam Nirya menghela napas lega. Arumi di sampingnya menepuk pundak gadis Swarnara itu. Nama Sthira mungkin bakal terlupakan dan takkan masuk dalam sejarah. Namun tentunya ini jauh lebih baik daripada diingat sebagai tokoh yang dihujat sejarah.


Pirimatha melanjutkan, "Selain di Kalingga ini, malapetaka dan bencana ternyata terjadi juga di wilayah-wilayah lain di seantero Antapada. Letusan enam gunung api berturut-turut telah menghancurkan


Ringidatu, ibukota Swarnara;


Armada laut Jayandra;


Wulantra, ibukota Jayandra;


Dabongsang, kota para penjahat di Rainusa;


Teminobe, ibukota Dhuraga Bersatu;


Negeri Watas dan Kota Kaunawa di Akhsar."

__ADS_1


Mendengar nama-nama tempat itu disebut, meledaklah seruan-seruan dan kasak-kusuk massa. Beberapa yang sempat Nirya dengar adalah, "Ini terlalu mustahil untuk suatu kebetulan!" "Pasti ada yang sengaja memicu bencana berantai itu!" "Jangan-jangan Vrithra pula penyebabnya!" "Gila sekali si pemicu bencana itu!" "Tak termaafkan!"


Suara Pirimatha lembut namun jelas terdengar oleh semua. "Tenang, semua! Yang perlu kalian tahu, orang-orang yang telah mengalahkan para juru kunci gunung api dan sengaja memicu bencana beruntun itu telah membayar sebagian dosa mereka dengan menghentikan si pembawa bencana yang sesungguhnya, yaitu Vrithra! Sebagai Ratu Kalingga, setelah merenungkan segala peristiwa ini secara mendalam, aku baru paham bahwa pemicu bencana berantai ini tak lain adalah kita semua, para warga Antapada!"


Jantung Nirya serasa terentak keras mendengar itu, begitu pula dengan Arumi dan semua orang lainnya. Suara-suara protes massa terdengar lagi, namun bungkam hampir seketika saat para prajurit mengacungkan tombak-tombak mereka.


Nirya sendiri tak berani buka suara menanyakan maksud pernyataan sang ratu. Ia memilih terus pasang telinga dengan sabar.


Pirimatha melanjutkan penjelasannya, "Andai segala perselisihan dan bentrokan yang terjadi antara negeri-negeri Antapada diselesaikan dengan cara-cara damai, Perang Besar Antapada tak akan meletus. Andai tak terjadi perang besar berkepanjangan ini, takkan ada siapapun yang memancing di air keruh, memicu bencana-bencana dengan dalih untuk melemahkan negeri-negeri Antapada agar perang berakhir dan perdamaian kembali tercipta."


Tanpa sadar Nirya mengangguk. Lagi-lagi Pirimatha menyampaikan pemikirannya yang luas, bahkan mungkin membalik pandangan umum. Sebagai permaisuri, Pirimatha tak kuasa mencegah Raja Triawarman ikut "bermain" dan bahkan menjadi salah satu dalang kekacauan perang ini. Sekarang, dengan wewenang penuh sebagai ratu, inilah saatnya Pirimatha memperbaiki seluruh keadaan ini.


Maka sang ratu bertitah, "Maka, mulai saat ini aku, Pirimatha, sebagai Ratu Kalingga menyatakan penghentian perang dengan negeri-negeri lain di Antapada. Kalingga juga akan mengutus para perunding ke Jayandra, Swarnara, Rainusa, Akhsar dan lain sebagainya untuk menyerukan perdamaian."


Itulah dia, bibit yang ditanam lewat perjuangan Nirya, Sthira, Arumi dan Dhaka telah mulai tumbuh tunas. Kini, Pirimathalah yang akan merawat tunas itu hingga menjadi pohon yang menghasilkan buah-buah perdamaian.


Namun, ada harga yang harus dibayar. Ada kutukan yang harus ditanggung oleh mereka yang telah memilih cara yang salah untuk tiba di tujuan ini. Dan itu bukan semata-mata hanya mengusahakan dan menjaga perdamaian di Antapada saja.


Memikirkan "kutukan" baginya itu, Nirya jadi tak menyimak bagian akhir pidato Pirimatha yang berkaitan dengan urusan dalam negeri Kalingga.


Yang Nirya tahu pasti kini, tanpa Sthira hidupnya takkan pernah sama lagi.


\==oOo==


Sementara itu, di pura rahasia Barong dalam lereng Gunung Idharma, Rainusa, wujud manusia Barong, Singa Suci Dewata dan Duta Sang Mahesa sedang bicara dengan seseorang berjubah dan bertudung putih.


"Ini dia. Sesuai petunjuk Sang Mahesa, kutitipkan Senjata Vajra padamu," ujar Barong sambil menyerahkan gada-tombak dewata itu di tangan si tudung putih.


Sosok misterius itu ternyata adalah seorang pria. Tudung yang ia kenakan cukup lebar sehingga yang tampak di mata lawan bicaranya hanya sebagian hidung serta mulutnya yang dikelilingi kumis dan janggut putih berpotongan rapi.


Mengamati senjata di tangannya itu, si pria misterius mengulum senyum. "Ya, aku akan memastikan Vajra berada di tangan-tangan yang benar kali ini.  Aku akan memecahnya menjadi tiga senjata yang berbeda-beda kekuatan dan unsurnya, lalu mempercayakannya pada para pahlawan terpilih. Harap saja jika suatu hari roh Vrithra bersatu kembali, ia akan jadi pribadi utuh yang baik hati."


"Ya, itu juga harapanku, Arya Manikrama," tanggap Barong. "Seperti di masa Indra berkuasa di Arcapada, firasatku berkata Vajra akan terus berjalan di jalur para pahlawan. Entah ia akan mendukung para pahlawan ataupun menjadi pahlawan itu sendiri."


"Baiklah, aku akan memulai tugas dan perjalananku ini sekarang juga." Setelah mengatakannya, tubuh Arya mulai diselimuti cahaya putih. "Tak perlu terburu-buru dan tak perlu menunda-nunda. Toh kita sama-sama Duta Sang Mahesa dan sama-sama hidup abadi."


Saat itu pula sosok Arya Manikrama lenyap, berpindah dimensi, berpindah semesta.


Tinggal Barong kembali dalam kesendiriannya, kembali bertugas sebagai Duta Mahesa di Jazirah Antapada.


"Ah, lagi-lagi sepi dalam puraku ini," gumam Barong. "Aku jadi penasaran, kapan Rangda akan berkunjung kemari untuk bertarung denganku lagi."


Gambar Ilustrasi untuk Ratu Pirimatha dari Kalingga adalah Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga.

__ADS_1


Sumber gambar: Japo.com / Japotrik.blogspot.com


__ADS_2