
"Diam! Beraninya kau bertanya balik, menambah pertanyaan lain pula! Dasar anak tak tahu sopan! Lebih baik Vrithra memakanmu saja, jadi aku tak perlu sampai terusir dari Hutan Selaksa Boga dan dihukum jadi penjaga gerbang seperti ini!"
Gawat, jangan-jangan Banoamak memendam dendam kesumat pada Dapu Dapu. Haruskah warga Watas yang satu ini dihadapi dengan kekerasan?
"Lagipula, apa pula maksudmu membawa empat orang asing ke negeri ini? Siapapun dilarang memasuki Negeri Watas, kecuali seizin Rai Taksaka dan Rai Savitri!"
"Rai Savitri?" tanya Dapu Dapu. "Dapu Dapu baru tahu ada penguasa kedua..."
"Rai Savitri itu istri Rai Taksaka, dan adalah Permaisuri Watas!" Banoamak menggeram tak sabaran, lalu menyiagakan gadanya. "Sudahlah, biar kuhancurkan kalian semua di sini dan kupersembahkan Dapu Dapu pada Vrithra, siapa tahu aku bakal dikembalikan ke rumahku, Hutan Selaksa Boga!"
"Eit, tunggu dulu tuan!" Dapu Dapu mengangkat kedua telapak tangannya. "Dapu Dapu berani kembali ke Watas karena Sang Srisari utus Dapu Dapu untuk memandu para pendekar sakti mandraguna ini. Merekalah yang akan membantu Rai Taksaka menumpas Vrithra dan memerdekakan Watas."
Dahi Banoamak berkerut. "Hah? Aku tak salah dengar, 'kan? Banyak siluman sakti di Watas, apa gerangan yang membuat Sang Srisari memilih empat manusia ini?"
"Alasannya sederhana. Para siluman hanya mementingkan keselamatan diri dan kaumnya masing-masing. Insan-insan sakti di Watas tak bisa bersatu dan bekerjasama. Akibatnya, banyak siluman seperti Dapu Dapu terpaksa lari. Lebih banyak lagi yang jadi korban kekejaman Vrithra."
"Lantas, bagaimana dengan mereka?" Banoamak menunjuk ke arah para manusia.
"Kesaktian mereka mungkin belum tentu bisa menandingi Vrithra. Namun, mereka telah berkeliling Antapada dan menaklukkan makhluk-makhluk dengan kekuatan laksana dewa."
"Bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Kuncinya adalah kerjasama," lanjut Sthira. "Kami saling menolong, saling melengkapi bagai tangan dan kaki. Kerjasama pulalah yang membuat kami berempat tiba di tempat ini dengan selamat. Walaupun kami membuat banyak kesalahan dan berkali-kali gagal, dengan bersatu hati, satu tujuanlah kami akhirnya terus maju ke depan."
Arumi menambahkan, "Jadi Banoamak, maukah kau bekerjasama dengan kami?"
Mendengar itu semua, Banoamak diam sejenak. Lalu tawanya meledak, perutnya yang amat buncit sampai bergoyang-goyang.
"Apa maksudmu dengan itu?" Nirya menggenggam kerambit berantainya erat-erat.
Si siluman anoa-babirusa menghujamkan gadanya hingga seakan tertancap tegak-lurus di tanah. Ia mengangkat kedua tangannya sambil bicara, "Jadi dengan bersatu dan bekerjasama, musuh sekuat apapun dapat ditaklukkan, ya? Bagaimana jika kerjasama ini gagal?"
Sthira menjawab tegas, "Maka Watas akan menjadi kuburan kami."
Suasana hening sejenak. Lalu keheningan pecah oleh suara berat namun agak lembut Banoamak. "Baiklah, aku akan membantu kalian dengan memberikan petunjuk. Saat ini, Hutan Selaksa Boga dikelola oleh Rai Savitri, seorang manusia wanita tanpa kesaktian yang dipaksa bekerja oleh Vrithra. Ia sedang dalam pengaruh makanan pengendali pikiran, sehingga jadi budak tanpa kehendak sendiri. Sembuhkanlah sang ratu, makan ia akan membantu kalian juga."
"Kalian tentu membawa bekal makanan untuk perjalanan ini, bukan?" ujar Banoamak. "Beri Savitri makan bekal itu, maka sihir yang membelenggunya akan hancur."
Dhaka yang kebagian tugas membawa paling banyak barang berkata, "Aih, sayang semua perbekalan tenggelam saat Dhaka jatuh ke telaga tadi."
"Sayang sekali. Terpaksa kalian harus melumpuhkan sang ratu."
"Tunggu!" seru si pemandu. "Dapu Dapu masih punya buah-buahan yang tadi Dapu Dapu petik di hutan Lasuardi untuk tambahan bekal! Dapu Dapu tadi bergelantungan di tubuh Dhaka, jadi tak jatuh. Ini dia!"
Dapu Dapu meraih kantung yang selalu terselempang di punggungnya seraya memeriksa isinya. Ternyata buah-buahan itu masih utuh dan segar, sehingga semua orang di tempat itu menghela napas lega.
__ADS_1
"Bagus sekali, Dapu Dapu!" Dhaka menepuk lembut pundak anak laki-laki itu.
Nirya lantas bicara pada si penjaga, "Terima kasih, Banoamak. Sebaiknya kami berangkat sekarang..."
"Eit, tunggu dulu!" seru Banoamak tiba-tiba. "Siapa bilang aku akan membiarkan kalian lewat begitu saja? Aku memang bersedia bekerjasama dengan kalian, tapi kalian harus melewati hadangan gadaku dulu sebelum masuk!"
Tanpa peringatan lanjutan, si siluman anoa-babirusa bergerak maju sambil memutar-mutar tubuhnya terus-menerus. Gadanya juga berputar-putar, bagai angin puyuh yang terus melanda di medan tarung yang tak terlalu luas ini.
"Tapi tuan...!" Dapu Dapu ingin protes. Tapi karena satu ayunan gada mengarah tepat ke arahnya, ia terpaksa berkelit, menyelinap seperti ikan pesut. Serangan sederhana Banoamak itu ia hindari dengan mudahnya, dan Dapu Dapu terus memasuki mulut gua. "Lewat sini!"
Dengan mudah pula Nirya dan Arumi menyelinap dan menyusul si pemandu, memapah Sthira yang masih belum pulih benar dari kelelahannya.
Di sisi lain, Dhaka yang paling kurang gesit di antara keempat orang sekelompok itu saat berdiri dengan dua kaki sempat terhantam keras di perut. Nyaris kehilangan keseimbangan, ia berseru pada lawannya, "Banoamak, tidur saja dulu!"
Memaksa diri bergerak cepat di sela-sela rasa nyeri, Dhaka memusatkan tenaga dalamnya di pangkal tombak yang tumpul. Lalu ia menghantamkan pangkal tombak itu tepat di antara kepala dan pundak Banoamak, tempat tengkuknya seharusnya berada.
Banoamak seakan mematung di tempat. Lalu ia berkata lirih, "Bagus, jadi aku bisa membuat alasan... para penyusup memang... terlalu sakti." Ia lantas roboh mencium tanah, tak bergerak lagi.
Dapu Dapu yang sejak tadi menunggu rombongan di mulut gua menghampiri Dhaka, dahinya berkerut. Dhaka siap menanggapi anak itu. "Jangan kuatir, tuanmu itu hanya pingsan saja. Dhaka takkan bunuh warga Watas, apalagi yang telah beri petunjuk..."
"Oh, Dapu Dapu tak terlalu pusing apa Banoamak hidup atau mati. Yang pasti jangan sampai ia melukai kakak manis, itu saja." Mendengar komentar polos Dapu Dapu itu, Nirya dan Dhaka hanya menggeleng saja. Malah, dengan nada kembali ceria si anak gimbal bicara sambil berjalan cepat. "Ayo, kita jalan. Perhentian selanjutnya, Hutan Selaksa Boga."
Tiba-tiba, Dhaka merasa perutnya sendiri bergemuruh. Bahkan si komodorai besar, kuat dan perkasa itu di waktu-waktu tertentu bisa lapar seperti makhluk hidup pada umumnya.
__ADS_1
Gambar referensi untuk siluman anoa-**** rusa, Banoamak dari Wikipedia Bahasa Indonesia.