
Sthira menggeleng perlahan sambil membatin, Tidak, aku tak boleh memikirkan, merasakan hal-hal selain misiku ini. Tapi... Aih, Sang Mahesa, sudah berapa kali Nirya berusaha meneduhkan hatiku, meneguhkan kembali tekadku yang goyah? Padahal ia sendiri selalu nampak ceria, polos dan rapuh... Lebih rapuh namun berpikiran lebih sederhana, lebih tulus daripada Arumi.
Pandangan mata Sthira lantas beralih ke arah Arumi. Gadis Jayandra itu berkata, “Maaf ya, Sthira. Aku tadi hanya berusaha mengingatkanmu pada tujuan semula. Terus-terang, melihat kota tempat tinggalku luluh-lantak, warga-warga sebangsaku yang terkapar akibat bencana yang kita timbulkan, hatiku sempat meragu. Dan sikapmu itu juga membuatku mempertanyakan kesungguhan hatimu...”
“Cukup, Arumi.” Sthira mengacungkan telapak tangannya. “Setiap kali kita merasa sedih, ragu, bahkan menyesal, ingatlah bahwa bencana saat ini masih jauh lebih baik daripada kehancuran menyeluruh yang menanti Antapada bila kita gagal atau berhenti. Ayo kita panjatkan doa bagi arwah-arwah yang terhilang di sini, dan kita lanjutkan perjalanan ke Damarwangi...”
“Psst... Sthira, Arumi, lihat itu...!” Nirya berbisik tiba-tiba sambil menunjuk ke kejauhan.
Tak jauh dari tempat rombongan Sthira berjalan, tampak siluet hewan-hewan siluman dalam kerumunan-kerumunan. Dari suara-suara kunyahan, gemeletuk tulang patah dan suara geraman yang sesekali terdengar, tampaknya mereka tengah memakan sesuatu dengan lahap.
Para korban bencana.
Didekati tiga manusia hidup, para siluman itu lantas menghentikan aksi makan, lalu berputar dan siap menghadang. Bagaimanapun juga, “makanan yang masih segar” selalu jadi pilihan utama.
Saat para siluman mendekat dan makin jelas terlihat dari kabut asap, Sthira langsung mengenali mereka lewat kobaran api yang bertengger dari kepala hingga sepanjang punggung mereka. Itulah siluman kancil-rubah yang disebut...
“Rukhan!”
“Astaga! Pantas saja mereka tak ada di Hutan Sriwedari tadi! Ternyata mereka langsung kemari saat letusan terjadi, mengambil kesempatan dengan berpesta di atas kemalangan penduduk Wulantra!” Arumi geram bukan buatan.
“Para rukhan itu telah lama mengincar kesempatan ini,” rutuk Nirya. “Karena itulah mereka tidak membantu Ni Lara Sati dan Kamaja dalam pertempuran di Lereng Megaswari tadi.”
“Dan kesempatan paling empuk itu adalah kita! Awas semua!” Sambil mengatakannya, Sthira mengayunkan goloknya, Gharma yang telah ia hunus sejak tadi. Rukhan yang ia incar rupanya sempat menghindar. Malah rukhan kedua menyeruak dan menggigit bilah golok Sthira.
“Salah langkah kau!” Dengan satu entakan, Sthira memompakan energi petir lewat bilah Gharma ke dalam tubuh si siluman. Kilat bersambaran seolah keluar dari mata, telinga dan moncong si rukhan.
Tak ada kesempatan memastikan kematian lawan, Sthira langsung disambut terjangan dua rukhan lainnya, yang bergelung ke arahnya seperti bola api yang berputar amat cepat. Mereka menjepit lawan dan tak memberinya kesempatan sama sekali bahkan untuk berkelit sekalipun. Apa akal?
__ADS_1
Mau tak mau Sthira menggunakan akal pertama yang terbit dalam benaknya. Ia beringsut ke satu sisi, dengan sengaja menghabisi satu rukhan seperti menusuk sate. Lalu, dengan energi api yang tersisa di punggung si rukhan, Sthira menyabetkan pedang dengan bangkai yang masih membara tertancap di ujungnya ke arah rukhan kedua. Bangkai rukhan yang tengah terbakar itu lepas, menghantam si rukhan yang sedang bergelung hingga terpental.
Rukhan ketiga menerjang Sthira secara bergelombang, namun malang, Sthira sudah amat siaga. Maka rukhan itu tertimpa nasib yang lebih mengenaskan daripada kedua rekannya. Ia tewas dengan tubuh tercerai-berai ke segala arah, terkena rentetan sabetan golok bertenaga petir Sthira dengan jurus Naga Halilintar Mendaki Langit.
Melihat semua musuh “jatah”-nya tumbang, Sthira menghentikan aksinya sejenak. Namun sebelum ia sempat mengatur napas dan kembali membantu rekan-rekannya, tampak sesosok rukhan yang dua kali lebih besar, lebih berapi-api daripada setiap rukhan lainnya di daerah itu menghadang di hadapan Sthira. Sang raja rukhan menggeram dengan sorot mata merah menyala-nyala, sarat kebuasan bagai magma panas menggelegak.
Ditantang seperti itu, Sthira malah tersenyum tenang. Andai yang menghadang itu sekelompok rakyat bersenjata, Sthira mungkin akan kerepotan memilah-milah siapayang harus atau jangan dibunuh. Namun, pada para monster ini ia tak ragu sama sekali.
Malah Sthira yang menyerang lebih dahulu. Tubuh besar si raja rukhan itu cenderung tambun, namun ia cukup cekatan berlari, menghindari beberapa sabetan golok Sthira. Lantas, ia membalas dengan cakaran dahsyat. Sisi tubuh Sthira dekat pinggang tersayat, terpaksa pria itu menyurut mundur sambil memegangi lukanya.
Gawat, sepertinya kali ini Sthira yang telah salah langkah.
Mendapat kesempatan mendesak calon mangsanya, si raja rukhan dengan langkah-langkah cepat dan berdentuman siap nyeruduk sekaligus membakar Sthira dengan kepala-punggung berapinya.
Untuk sesaat, Sthira tampak mati langkah.
Sthira tak menoleh ke belakang sama sekali.
Sadar pemimpin mereka tumbang, para rukhan yang tersisa berlarian tunggang-langgang ke segala arah, hingga hilang dari pandangan semua manusia di sana.
Tak lama kemudian, Nirya dan Arumi kembali bergabung dengan si pemimpin. Sthira jadi tampak lebih berwibawa setelah menumbangkan rukhan terbesar dan terganas dalam kepungan kabut asap panas tadi. Yang pasti, ketiga manusia itu takkan ngotot menghentikan “pesta” para rukhan yang ada keniscayaan, terdorong naluri dan hasrat hewani mereka. Tentunya, para rukhanpun tak lagi berani mengincar ketiga pendekar sakti itu.
Sudah cukuplah kehancuran yang dibuat Sthira dan kawan-kawan di Wulantra ini. Agar negeri yang telah dua kali dilemahkan ini berpeluang untuk pulih dan kuat lagi, tak ada cara lain kecuali meneruskan perjalanan.
\==oOo==
“Semua, tarik layar dan angkat sauh!” seru nahkoda kapal perang Jayandra. “Arahkan kapal ini ke Danurah, Ibukota Rainusa!”
Mendengar perintah itu, Sthira baru bisa bernapas lega di dek kapal. Ia menatap pada Arumi sambil tersenyum penuh rasa kagum dan terima kasih.
__ADS_1
Betapa tidak, belum lama berselang Sthira sempat mati-matian menyembunyikan ekspresi wajahnya yang tegang. Otot-otot tengkuk dan lengannya ikut menegang saat mendengar si nakhkoda waktu itu bicara, “Ke Danurah? Ada surat perintah langsung dari Laksamana Begarwana atau Prabu Narendra?”
Arumi malah hanya menatap tajam kedua mata si nakhoda yang seakan berkantung itu. “Ini perintah dan mandat rahasia dari Mahapatih Galahasin.”
“Maaf, tapi saya butuh bukti berupa surat...”
“Kalau ada surat perintah, ini bukan misi rahasia lagi namanya,” sergah Arumi. “Satu tambahan lagi, mulai saat ini kau, dan seluruh awak, pasukan dan kapal ini sepenuhnya berada di bawah komandoku, Arumi Dyahrani.” Ia sengaja tak menyebut-nyebut tentang insiden Gunung Ratauka dan betapa mereka beruntung bisa luput dari kehancuran. Karena sebenarnya Arumi, Sthira dan Niryalah yang berhutang budi pada si nahkoda dan para awak kapal ini.
“A-apa?!” Sang nahkoda terkejut bukan kepalang. “T-tapi tak bisa begini caranya, senopati! Harus ada surat penunjukan, instruksi langsung...”
“Apa perlu ini agar kau yakin?” Arumi mengangkat semacam plakat dan mengacungkannya ke arah lawan bicaranya.
Melihat plakat itu, si pria berusia empat puluhan itu pucat-pasi seketika, lalu berlutut dan menyembah-nyembah di hadapan senopati itu. “M-maafkan hamba! Ampun beribu ampun, hamba tak tahu anda memegang plakat emas laksamana Jayandra! Ampun, jangan hukum mati hamba!”
“Sekali lagi kau mempertanyakan perintahku, nahkoda, anggaplah kepalamu telah terpisah dari raga!” seru Arumi penuh wibawa. Diam-diam gadis itu mengedip ke arah Sthira dan Nirya, pertanda plakat itu pasti ia dapatkan dengan mencurinya dari pemilik aslinya, Begarwana di Gunung Megaswari.
Arumi pasti berniat menggunakan plakat itu sebagai cara terakhir, kalau menyebut kata-kata “misi rahasia” dan “Mpu Galahasin” saja tak cukup untuk mendapatkan kepatuhan si nahkoda dan seluruh pasukan yang ingin ia “pinjam” itu.
Lagipula, bila sampai terlambat membujuk si nahkoda dan kabut asap letusan Megaswar mencapai Damarwangi, kapal itu mungkin tak akan mau bertolak sama sekali.
Kenyataannya, taktik Arumi itu berhasil, dan kapal yang mereka tumpangi itu kini tengah berlayar dengan kecepatan penuh menuju Rainusa.
“Nah, dengan begini kalian harus berusaha lebih keras melindungiku. Aku harus tetap hidup agar misi kita bisa selancar ini,” kata Arumi sambil tersenyum nakal.
Menyusuri pantai selatan Pulau Jayandra, tatapan Sthira tak lepas dari Arumi. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu, namun sang senopati wanita itu sedang terlalu sibuk mengawasi si nahkoda kapal. Arumi malah berusaha lebih mengenal dan menyemangati setiap awak kapal dan prajurit yang semuanya berjumlah tiga puluh tujuh orang itu.
Maklumlah, ini kapal perang ukuran menengah yang semula tak diutamakan dalam jajaran Armada Jayandra. Orang-orang itu belum sadar bahwa kini mereka sedang ikut serta menentukan arah laju sejarah. Apa reaksi mereka andai mereka tahu? Masihkah mereka akan mendukung misi Sthira-Nirya-Arumi? Atau malah menjadi penentang dan pencegah?
Sumber Gambar Referensi Kota Danurah: Kerajaan Buleleng, Bali (Google)
__ADS_1