
Di sisi lain, Nirya, Arumi dan regunya kini berdiri siaga, siap bertarung mati-matian di dermaga Pelabuhan Dabongsang.
Namun anehnya, massa di kejauhan itu hanya berdiri saja di tempat, tak kunjung menyerang. Gelagat ini membuat Nirya dan Arumi saling bersitatap dengan wajah keheranan.
Kerumunan massa penghadang lantas bergerak ke dua sisi, seolah terbelah di tengah-tengah. Dari belahan itu, tampak seorang wanita berjalan dengan anggun-berwibawa. Nuansa cantik di wajahnya seakan memancarkan cahaya berkilauan, berkebalikan dengan Ni Luh Gusti Widuri, titisan Rangda yang terkesan kelam.
Sambil menyibakkan rambut hijau-kebiruannya yang amat panjang dan bergelombang, wanita itu bicara, “Perkenalkan, namaku Mora Nggarai, abdi dan jawara urutan kedua Dabongsang. Apakah kalian ini utusan dari Jayandra?”
Arumi mengambil kesempatan ini untuk berdiplomasi. Ia mengacungkan medali komando laksamana seraya berseru, “Ya, aku adalah Senopati Arumi Dyahrani, dan ini ajudanku, Nirya Panigara. Kami adalah utusan khusus Prabu Narendra dan Laksamana Begarwana. Selain hendak menuntut kerjasama Dabongsang untuk memasok perbekalan kapal ini secara cuma-cuma, kami juga sedang mengemban misi, yang rinciannya hanya dapat kami beritahukan pada Dabongsang seorang.”
“Ah, begitu rupanya,” ujar Mora sambil mengembangkan senyum tercerahnya. “Terus-terang, baru kali ini aku tahu sebuah kerajaan besar mengutus dua senopati wanita ke kota sarang penyamun ini. Namun, mengingat Dabongsang sendiri menugaskanku sebagai kepala pasukan garis depan untuk ‘menyambut’ semua pendatang, kuduga pasti Jayandra tahu tentang dirikju dan mengutus kalian untuk menghormatiku.”
“Tidak juga,” Arumi bersilat lidah. “Kami diutus karena kami memang senopati andalan Laksamana Begarwana. Andai tidak sedang berperang ke Swarnara saat ini, beliau mungkin akan secara pribadi mengunjungi Dabongsang. Dan tentu kita sama-sama tahu alasannya, ‘kan?”
“Hahaha, tentu, tentu.” Bahkan saat tertawa terbahak-bahak, suara Mora terdengar merdu. “Baiklah, aku akan mengantar kalian menemui junjunganku, Dabongsang. Tentu aku tak perlu mengingatkan apa yang harus dan tak boleh kalian lakukan sebagai duta utusan, bukan?”
“Tak perlu, silakan.”
Nirya berjalan bersama Arumi di belakang Mora. Baru setelah melewati massa penghadang, diam-diam Nirya menarik napas lega. Pasalnya, jantungnya serasa bakal copot tadi. Namun Arumi malah mendelik tajam ke arahnya. Nirya jadi ganti menatap lurus ke depan dengan wajah serius, berharap tak seorangpun curiga dia bukan perwira militer.
Luput dari dugaan orang awam dan kebanyakan warga kota, jalan menuju markas besar Geng Dabongsang ternyata sama dengan jalan-jalan di kota ini pada umumnya, sempit, kumuh dan jorok. Padahal, jalanan itu berada di daerah kaki gunung yang seharusnya tergolong paling makmur di kota ini.
Masalahnya, “orang luar” atau pendatang baru belum tentu memahami “falsafah” unik yang mungkin sekali hanya berlaku di Kota Dabongsang. Falsafah bahwa makin jorok lingkungan suatu daerah kota, makin makmurlah lingkungan itu. Bau sampah bercampur kotoran, ditambah bau pesing dan bisa jadi bau bangkai binatang atau mayat yang terbengkalai membuat Nirya amat mual.
Namun, Nirya terus berjuang keras agar tak muntah. Kalau sampai muntah atau menunjukkan tanda-tanda merasa jijik, sandiwaranya ini bakal terbongkar. Tahan sebentar lagi, Nirya! Sebentar lagi! Batin Nirya.
Tak lama kemudian, Mora berhenti melangkah. Ia lantas bicara pada Nirya dan Arumi, “Maaf, regu kalian harap tinggal di sini. Ini tempat penerimaan ransum dan perbekalan dekat gudang. Sedangkan kalian, dua perwira wanita naiklah ke kereta ini. Kami akan menutup mata kalian, dan tentunya kalian tak keberatan, bukan?”
“Sama sekali tidak,” jawab Arumi tegas.
__ADS_1
Jantung Nirya berdebar keras lagi. Apa ini berarti mereka harus percaya penuh pada para penjahat ini? Walaupun pernah belajar “pertarungan tanpa mata” dari gurunya, Panigara, Nirya merasa belum cukup menguasai ilmu itu sampai detik ini.
Dengan kerambit kembar siap dihunus kapan saja, Nirya hanya duduk saja di kereta dengan mata tertutup kain hitam yang tebal yang terikat amat ketat. Kedua telinganya juga separuh tertutup, namun ia masih tetap mendengar dengan jelas. Jadi, Nirya terus memusatkan pikirannya, menangkap suara sekecil apapun dengan pendengaran yang telah dipertajam lewat latihan. Satu suara tebasan, tusukan dan desir energi pukulan atua semacamnya, ia harus siap.
Waktu terus berlalu. Yang Nirya dengar kini adalah decit roda kereta yang berputar amat cepat, dan ringkik kuda yang tengah berpacu. Suara-suara hiruk-pikuk warga kota lambat-laun makin sayup-sayup, berganti suara gemersik cabang-cabang pepohonan yang ditiup angin.
Setelah beberapa lama, barulah kereta kuda berhenti. Seorang penjahat wanita bawahan Mora membuka kain penutup mata Nirya. Hal pertama yang Nirya lihat di sini adalah Arumi yang pasang wajah terheran-heran setelah tutup matanya dibuka. Reaksi Arumi itu membuat Nirya menoleh ke sekelilingnya.
Rupanya, saat ini Nirya dan Arumi sedang berada di kaki Gunung Tubar’e. Namun pemandangan di sekitar mereka hanya terdiri dari pepohonan dan bebatuan. Jadi daerah ini jelas-jelas berada di luar Kota Dabongsang.
Nirya dan Arumi turun dari kereta, dikawal empat pendekar wanita yang terkesan cukup tangguh. Para tamu sengaja diperbolehkan membawa senjata masing-masing, dengan catatan mereka harus siap menghadapi perlawanan para penjahat tangguh jika mereka melakukan tindakan bodoh, contohnya menyerang Dabongsang.
Nirya lantas memasuki sebuah gua yang ambang pintu masuknya dikelilingi pilar-pilar batu. Ia memperhatikan pahatan-pahatan di pilar-pilar batu itu yang menggambarkan seorang wanita cantik bersayap kupu-kupu. Dugaannya, gua ini semula adalah sebuah kuil untuk menyembah figur bagai dewi pada pahatan-pahatan itu. Dan kuil ini malah disalahgunakan, dinistakan sebagai markas besar Geng Dabongsang.
Menyusuri lorong-lorong gua, Mora mengantar kedua “tamu” itu ke sebuah ruangan gua yang agak luas. “Inilah ruang latihan. Yang Mulia Dabongsang akan menemui kalian setelah latihan ini selesai, jadi silakan menunggu di sini dan menonton saja.”
Bersama Arumi, Nirya berdiri di tepi ruangan latihan dan berusaha tak bicara sepatah katapun, padahal sang tuan rumah ada di hadapan mereka.
Suara si lusuhpun mencericit, “Kumohon, hampuni hamba. Tolong...!”
Sebaliknya, si pria kedua malah tertawa. “Hei, sudah kubilang aku akan mengampunimu bila kau berhasil bertahan hidup dari tiga jurusku, bukan? Jangan berlagak pengecut begitu, masih ada dua jurus lagi toh?”
“Kumohon... kumohon...!”
Jelas, dari penampilannya saja, pria bertubuh kekar, tinggi-besar, berambut gondrong dan seluruh tubuh dan wajahnya penuh carut-marut bekas luka itu bagaikan naga dan cacing dibanding si lusuh.
Satu-satunya mata si kekar yang sehat dan utuh menyorot jijik. “Huh, siapa suruh kau mengutip uang pajak yang seharusnya kausetor penuh! Kaupikir sama sekali tak ada hukum di kota ini, hah? Salah besar! Ada satu-satunya hukum yang berlaku, yaitu kehendak dan kata-kata Dabongsang! Dan kau harus dihukum karena melanggar hukum itu! Sudahlah, jalani saja hukumanmu, setidaknya beri perlawanan terkuatmu! Ayo! Kau boleh maju lebih dahulu kali ini!”
Ditantang seperti itu, mau tak mau si terhukum menyeruak sambil menyabetkan goloknya sekuat tenaga.
Si kekar sengaja memberi jeda dengan berkata, “Hanya sebegitu saja?” Lalu ia maju pula.
__ADS_1
Dengan kelincahan atletis yang luar biasa, si kekar mengayunkan kedua kapak di tangannya sambil berputar seakan menari. Dalam setarikan napas, ia menebas dua kali secara vertikal dan dua kali secara horisontal ke tubuh lawannya. Anehnya, setelah si kekar selesai dan berdiri membelakangi lawannya, tak tampak bekas-bekas luka baru di tubuh si lusuh itu.
“Haha... tak kena, tubuhku serasa tersengat, tapi tak luka!” Wajah si buruk rupa berubah cerah. “Apa ini berarti, aku telah... diampuni? Oh, terima kasih, terima kasih!”
Sebaliknya, si kekar malah menyerukan perintah, “Singkirkan mayat itu dari ruangan ini!”
“Apa!? Tapi aku sama sekali...!” Sebelum si lusuh sempat menyelesaikan protesnya, darah bersemburan deras dari tubuhnya. Ternyata baru sekarang luka-luka sabetan kapak itu terbuka, berbentuk tanda silang ganda yang memanjang. Tubuhnya seakan terbelah enam, dan ia roboh seketika di atas genangan darahnya sendiri.
“Hukum Dabongsang berhasil ditegakkan,” ujar si kekar, menyarungkan kembali kedua kapaknya dengan santai, seolah pembantaian tadi hanya pemanasan belaka. Bulu roma Nirya merinding, ternyata Dabongsang bisa sekejam dan sekeji ini.
Si kekar lantas berseru, “Nah, siapa lagi yang bakal jadi lawan latihanku?”
Mora menyahut, “Kebetulan ada dua utusan wanita dari Jayandra yang mengunjungi kita. Bagaimana kalau kalian tunjukkan kebolehan kalian di hadapan Yang Mulia Dabongsang?”
Nirya menyahut, “Maaf, tapi kami hanya utusan biasa tanpa kekuatan besar dan ilmu beladiri tingkat tinggi...!”
Namun telapak tangan Arumi terulur tepat di depan mulut Nirya. “Sudah kubilang, biar aku saja yang bicara!” bisik Arumi. “Asal kau tahu, sudah tradisi setiap utusan Jayandra selalu diuji ilmu beladirinya sebelum diperkenankan bicara dengan Dabongsang. Bila beliau tidak senang, kepala si utusan langsung melayang! Nih, pegangi saja dulu golok Sthira ini!”
Arumi menaruh begitu saja mandau besar dan sarungnya di tangan Nirya. Tubuh Nirya yang ramping terbungkuk dan oleng sesaat oleh beban berat mendadak itu.
“Maafkan ajudan baruku dari Swarnara itu,” seru Arumi pada Mora dan si kekar. “Biar aku, Arumi Dyahrani, Senopati Jayandra saja yang jadi lawan latih-tanding!”
Nirya terkesiap. Mungkinkah wanita seperti Arumi mengimbangi, bahkan mengatasi kekuatan Dabongsang yang amat perkasa itu? Bila Arumi, yang perannya amat vital dalam misi ini sampai tewas, Niryapun bakal tewas pula atau jadi pelarian, dan habislah seluruh misi besar “Cincin Api” ini.
“Baiklah!” ujar Dabongsang. “Sebagai imbalan atas rasa percaya dirimu itu, aku akan bertarung dengan tangan kosong!” Ia mencampakkan kedua kapaknya ke sudut-sudut lantai ruangan.
“Aku juga tak pakai senjata!” Arumi menitipkan busur, kantung penuh anak panah dan keris panjangnya pada Nirya, sehingga Nirya hampir terjatuh oleh bobot empat macam senjata di pelukannya.
Dengan jantung berdebar-debar, Nirya hanya bisa menonton Arumi bertarung saja.
Ilustrasi: Dabongsang Zakuay dan Dabongsang Hurek by Andry Chang.
__ADS_1