EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
DANTONU Bagian 2


__ADS_3


Semua mata tertuju pada Dapu Dapu. Menurut prinsip hubungan antar makhluk yang melebihi alamiah dan di bawah taraf supranatural, perkawinan antara dua siluman beda kaum dimungkinkan asal ada unsur yang sejenis dalam fisik keduanya, misalnya sama-sama siluman manusia campuran. Bila itu terjadi, buah perkawinan mereka bisa jadi adalah siluman jenis baru.


Misalnya, siluman manusia-cendrawasih kawin dengan siluman manusia-serigala. Jadi anak mereka bisa saja menjadi siluman manusia-ikan pesut, asalkan ada unsur manusia dalam tubuh siluman campuran itu. Sebaliknya, secara alamiah burung cendrawasih sudah pasti tidak bisa kawin dengan serigala, ikan pesut atau hewan beda jenis, ajaib atau alami sekalipun.


Si siluman manusia-serigala pemimpin pasukan berseru dengan nada bingung. "Astaga, Canirwa Krana! Bukankah Anda seharusnya tinggal di Telaga Selaksa Swara?"


"Memang benar," sahut Canirwa Krana tanpa menggerakkan bibirnya. Tubuhnya yang dipenuhi bulu-bulu hijau masih melayang penuh wibawa. "Tapi Dapu Dapu itu putraku. Sebagai ibu kandungnya, sudah sewajarnya aku menyambut kepulangannya ke Watas... dan menolongnya saat ia sedang dalam bahaya."


Dengan kata lain, naluri keibuan Canirwa yang amat peka dan gaib membuatnya menyadari keberadaan putranya di Negeri Watas. Jadi ia bergegas terbang dari Telaga Selaksa Swara untuk memastikan Vrithra tak menemukan Dapu Dapu lebih dahulu.


Namun, hujan deras dan sambaran petir menghadang sehingga Canirwa terbang lebih lamban, mencari-cari keberadaan Dapu Dapu di tengah hutan. Suara-suara seruanlah yang akhirnya membimbing seorang itu berjumpa lagi dengan anaknya.


Sebagai salah seorang penguasa daerah di Watas, Canirwa memancarkan wibawanya dengan berseru lebih keras, "Jadi, jangan-sentuh-putraku!"


Si siluman serigala tertunduk dan gemetar oleh hardikan Canirwa. Namun ia tetap protes, "T-tapi Dapu Dapu telah membawa para manusia ke negeri ini! Anda tahu betul titah Rai Taksaka, ganjarannya adalah hukuman mati!"


"Walau memang begitu, tetap bukan wewenangmu untuk menghukum mati seseorang di tempat! Biar Rai Taksaka atau Rai Srisari yang mengambil keputusan, agar kita tahu ada apa dengan para pemimpin kita! Kaum siluman memang sering dianggap kaum liar. Negeri Watas memang terpencil dan terasing, namun kita bisa menjadi bangsa beradab kalau kita mau."


"Tapi aturan dari penguasa kita...!"


"Pokoknya kita bawa mereka semua menghadap Rai Savitri dulu, yang kini tinggal di tepi hutan ini! Biar aku yang mengurus sisanya! Laksanakan, prajurit!"


"S-siap!" Walau bagaimanapun juga, Canirwa Krana adalah atasan semua siluman di tempat itu. Sudah sepantasnya si siluman manusia-serigala merasa beruntung tak dihukum karena kelancangannya terhadap atasan, atau jadi korban amukan seorang ibu yang membela anaknya yang diperlakukan tak adil.

__ADS_1


Selanjutnya, para tawanan digiring menyusuri hutan di bawah lebatnya hujan. Bahkan Dhaka yang bijakpun memilih bungkam. Ia menoleh ke arah Sthira di punggungnya, ternyata pria itu masih pingsan. Dhaka menarik napas lega. Ia tak berani membayangkan andai Sthira dalam keadaan sadar tadi dan emosinya tiba-tiba tersulut. Itulah yang lebih ia takutkan daripada kepungan sepasukan siluman.


Menoleh ke sisi lain, tampak Nirya berjalan di depan todongan senjata-senjata para penggiringnya. Tubuh gadis itu gemetaran akibat basah kuyup dan kedinginan. Menyadari hal itu pula, Arumi yang bertubuh lebih tangguh sebagai sesama gadis mendekati dan merangkul Nirya. Nirya memaksakan senyum. Geliginya masih gemertakan, namun tubuhnya tak terlalu gemetaran lagi.


Untunglah tak terlalu lama kemudian rombongan tiba di sebuah rumah besar berbahan kayu di tepi Hutan Selaksa Boga.  Bentuknya agak mirip Rumah Gadang khas Swarnara, namun dengan atap dan panggung yang lebih rendah. "Aih, dulu ini rumah Banoamak, namun nampaknya sudah ada penghuni baru di sana," ujar Dapu Dapu.


"Rai Savitri?" tanya Nirya.


Justru Canirwa yang menjawab dengan nada ketus, "Ya. Dan beliau adalah 'tawanan' di tempat ini. Kalau kalian memang seperti yang Dapu Dapu ceritakan padaku, tutup mulut kalian rapat-rapat dan bicaralah hanya bila diminta. Sisanya serahkan pada kami berdua, mengerti?"


Nirya, Arumi dan Dhaka mengangguk. Dhaka lantas menoleh ke arah Sthira yang masih digendongnya dengan was-was, jangan-jangan anak muda itu siuman di saat yang tak tepat. Bahkan saat naik, meniti satu-persatu anak tangga kayu yang tak terlalu curam ke pintu masuk, Dhaka bergerak lambat dan amat hati-hati.


Tiba di ruang dalam rumah, pandangan mata Dhaka langsung tertuju pada sesosok wanita yang duduk, tertunduk lunglai di kursi kayu yang berukiran indah. Kedua siku tangan wanita itu bertumpu pada meja kayu besar di hadapannya. Akibatnya, wajah wanita itu tertutup seluruhnya oleh rambut hitam dan panjang, tapi terurai kusut dan acak-acakan.


Tanpa menoleh atau bergerak sedikitpun, Rai Savitri bicara. Suaranya amat serak seperti seorang wanita tua-renta. "Diadili oleh siapa? Berdasarkan titah Rai Taksaka, bukankah sudah kuperintahkan kalian untuk membunuh mereka di tempat?"


"Ya, tapi...!"


"Tak ada tapi-tapi! Lancang kau! Pengawal, seret siluman tak tahu diri itu keluar, lalu penggal kepalanya!"


Canirwa langsung menyela, "Tunggu dulu, Rai! Aku, Canirwa Kranalah yang mencegah mereka membunuh anakku dan rombongannya!"


"Oh begitu?" Rai Savitri menurunkan tangannya dan bangkit berdiri. Wajah yang tampak di balik jalinan rambut kusutnya itu terkesan seperti wajah wanita tua yang menyeramkan. Pipinya cekung, bibirnya yang seharusnya tebal merekah malah pecah-pecah. Matanya yang berbayang hitam di bagian bawah kelopaknya menyorot nyalang seperti hewan buas sedang mengincar mangsa. "Kalau begitu, bunuh Canirwa Krana, anaknya dan rombongan anaknya!"


Para prajurit siluman dalam ruangan itu hendak maju, namun langkah mereka terhenti seketika. Rupanya para pendekar memasuki ruangan ini dengan masih menyandang senjata mereka masing-masing. Canirwa sengaja terburu-buru masuk tadi. Itu karena ia tahu situasi seperti ini bakal terjadi dan ia pasti takkan membiarkan para prajurit itu menahan senjata-senjata milik rombongan Dhaka.

__ADS_1


"Coba saja kalau kalian bisa," hardik Canirwa yang bersama Dapu Dapu, Arumi, Nirya dan Dhaka  yang menggendong Sthira saling memunggungi satu sama lain.


Sebentar lagi tempat ini akan menjadi ajang pertumpahan darah, Savitri yang tak memiliki kesaktian apapun pasti bakal menjadi korban pertama. Entah ia menyadari hal itu atau tidak, si wanita penguasa negeri yang sudah seperti gila itu kini menumpukan kedua tangannya di meja, seluruh tubuhnya gemetaran hebat.


Sebelum kemungkinan kejadian terburuk meletus sewaktu-waktu, Dapu Dapu memberanikan diri maju dan berseru, "Tunggu, semua! Kumohon, gunakan akal sehat kalian! Dapu Dapu kembali kemari bersama para sahabat yang telah Dapu Dapu selamatkan dari badai dan mereka mengantar Dapu Dapu pulang ke Watas! Kami sadar kami belum sempat mempersiapkan bingkisan untuk Rai Taksaka dan Rai Savitri, jadi Dapu Dapu memetik buah-buahan segar ini untuk Rai Savitri nikmati!"


Melihat buah-buahan ranum itu, air liur Savitri terbit.


"Mangga, pisang, pepaya! Berikan padaku, sekarang!" Savitri berteriak seperti wanita tua pikun atau anak kecil yang rakus.


Dapu Dapu ragu sejenak, lalu dengan takut-takut mendekati meja. Tak berani ia menatap wajah, apalagi mata istri sang penguasa ini. Ia menoleh sejenak pada Canirwa. Sang ibu mengangguk, siap melindungi anaknya setiap saat.


Saat Dapu Dapu menaruh semua isi buntelannya di atas meja, tiba-tiba saja Savitri menerjang maju. Namun yang "diterkam" sang ratu adalah buah-buahan itu. Satu pisang dibuka kulitnya dan dihabiskan sekali lahap.


Makin seperti gila, Savitri bangun dan menghantamkan satu buah pepaya di meja sampai pecah berantakan. Lalu seperti harimau melahap mangsanya ia memakan daging buah di pecahan-pecahan pepaya itu.


Belum puas juga, Savitri meraih buah mangga yang tergeletak di meja. Saat akan menggerogoti mangga itu beserta kulitnya, tiba-tiba gigitan wanita itu terhenti di permukaan kulit mangga. Lalu ia mengulurkan mangga di tangannya sambil berseru, "Pelayan, kupas ini!" Seorang pelayan maju dan melaksanakan perintah itu.


Semua siluman warga Watas dalam ruangan itu tersenyum dan menarik napas lega. Dari sikap terakhir tadi, jelaslah itu pertanda akal sehat sang ratu telah pulih seperti sediakala. Sikap Savitri kini memang terkesan agak angkuh, namun itu adalah bawaan dari apapun latar belakang dan statusnya sebelum menjadi Permaisuri Watas.


Saat mencicipi mangga yang dagingnya kuning pucat itu, dahi Savitri berkerut. "Ah, ini masih masam, tapi tak apalah! Lagipula, rasanya aku baru saja terbangun dari mimpi buruk yang berkepanjangan..."


Rai Savitri lalu melayangkan tatapan ke sekelilingnya dan berkata, "Lho, ada apa ini? Jelaskan padaku!"


Sumber referensi gambar untuk Canirwa Krana, siluman wanita-cayari-cendrawasih adalah Phoenix Woman Wallpaper by Rahzriel from Zedge.net.

__ADS_1


__ADS_2