EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
YAMKORA Bagian 4


__ADS_3


"Cih, murahan!" Dengan cepat dan tetap gemulai, penuh gaya Aswa Rakwar memutar tubuh sambil menghindar.


"Tetap saja kau harus bayar mahal untuk itu!" Sambil mengatakannya, Nirya mendadak mengubah jurusnya. Kerambitnya memanjang hingga lurus sempurna laksana tombak. Lalu ia menusuk-nusuk ke tubuh Aswa dengan variasi dari jurus Pusaran Badai Terabas Selaksa dan gerakan yang sedikit meniru jurus Rentetan Hunjaman Tombak Dhaka.


Reaksi Aswa jelas, terus menghindar dan menangkis serangan dengan tombak lenturnya. Saat menangkis satu serangan, Aswa meliukkan tombaknya sehingga rantai kerambit Nirya menggulung, seakan terlihat pada batang rotan itu. "Ha, terkunci!" soraknya.


"Salah!" Tak habis akal, Nirya menendang dan melempar kedua kerambit di ujung-ujung rantai yang tak terkunci. Kedua bilah berkait sarat tenaga dalam itu ganti meliuk dan mengikat tubuh Aswa, lalu ujung-ujungnya menancap di bahu serta paha wanita berkulit gelap itu. Aswa berteriak kesakitan.


Daripada menunggu Arumi yang masih sibuk memulihkan luka dengan tenaga dalam, Nirya melompat dan menyarangkan satu tendangan keras di kepala Aswa. Sang Aronawa roboh seketika di tanah, tubuhnya masih terikat. Ia setengah sadarkan diri, seakan pasrah menerima maut yang sesaat lagi akan menjemputnya.


Nirya lantas cepat-cepat menarik kembali sepasang kerambit berantainya. Saat ia hendak membenamkan kedua bilah kerambit itu di jantung Aswa Rakwar, tiba-tiba ia mendengar suara desir tinju melesat cepat ke arahnya. Teriring seruan si pelaku, Yori, "Takkan kubiarkan kau mencelakai istriku!"


Terpaksa Nirya hanya bisa berkelit menjauh. Namun hantaman tinju Yori Mbeko tetap membentur tubuh sampingnya. Nyeri tak terkira, tubuh Nirya yang sedang bergerak itu oleng dan hampir roboh, kehilangan keseimbangan.


Giliran Sthira yang menyerang untuk mencegah Yori menghabisi Nirya. "Lawanmu itu aku!" seru Sthira, berondongan tinju petirnya seakan takkan pernah surut.


Yori Mbeko lanjut berjual-beli pukulan dengan lawannya. Bedanya kali ini posisi berdirinya di dekat Aswa Rakwar, jelas melindungi istrinya itu. Nirya berdecak kesal melihatnya, kesempatan emas di depan mata terluput dari genggamannya.


"Biar kubantu!" Nirya hendak maju untuk membantu Sthira.


Namun Sthira malah menghardik, "Tak usah!"


Nirya hanya bisa terpana. Lagi-lagi Sthira bersikap sama seperti yang dilakukannya di Dabongsang. Sekali lagi Sthira menjunjung prinsip pertarungan antar pria sejati harus satu lawan satu, adu kekuatan hingga jelas siapa yang unggul... atau curang.


"Huh, ternyata kalian memang lebih kuat daripada dugaan kami," ujar Yori sambil melangkah mundur sejenak. Ia lantas menoleh sekejap dan menegur, "Kau sudah pulih, Aswa?" Ternyata Yori sengaja mengambil jeda karena kuatir dengan keadaan istrinya.


"Tak apa, itu tadi baru penjajakan saja. Kekuatan dua gadis itu takkan bisa menumbangkanku. Tuntaskan saja bagianmu, Sang Yumano!" Aswa menegaskan kata-katanya dengan melesat langsung ke arah Nirya dan Arumi lagi.


Yori tersenyum lega. "Nah, itu baru Sang Aronawa sejati." Ia kembali menerjang ke arah Sthira dengan Tinju Puncak Beku-nya.


Nirya dan Arumi mengambil inisiatif dengan menyerang bersama-sama, menggabungkan keunggulan Nirya dalam hal kecepatan dan kelincahan dan Arumi dalam hal kekuatan dan ketangguhan.


"Jelas sudah, mata-mata atau bukan, pendekar seperti kalianlah yang harus dibasmi demi bangkitnya Negeri Dhuraga Raya!" Aswa mengayunkan tombaknya dengan amat ganas, menyerang dua lawan sekaligus.


Nirya mencecar dari sisi kiri dan Arumi dari sisi kanan Aswa. Mungkin belajar dari gebrakan sebelumnya, kini Aswa bergerak kiri-kanan, menggempur tiap lawan bergantian.


Aswa menusukkan tombak pada Nirya, Nirya menghindar dan balas menyerang Aswa. Aswa menghindar sambil melesatkan ujung tombak pada Arumi. Arumi berkelit sambil menyabetkan kerisnya tegak-lurus. Aswa bersalto ke udara dan lagi-lagi menusuk ke arah Nirya.

__ADS_1


Diserang dari atas dan mencecar ke punggung, Nirya bereaksi, menghindar dengan tiarap ke depan. Namun bilah keris panjang Arumi yang baru diturunkan menbyambut tepat di depannya. Terpaksa Nirya menjatuhkan tubuhnya ke satu sisi, akhirnya gagang rotan Aswa menghantam pinggangnya dengan suara lecutan amat keras, membuatnya tersuruk keras di tanah.


"Rasakan balasan untuk tendangan tadi," sindir Aswa sambil menyerang Arumi lagi.


Harus-bangkit-lagi-sekarang? Pikiran itu terngiang berulang-ulang dalam benak Nirya. Semula rasa nyeri menyengat di pinggang membuat tubuhnya seakan menolak digerakkan. Ayolah, bangkit! Harus-bergerak-atau-mati!


Jadi terpaksa Nirya mengerahkan tenaga dalamnya. Teriring satu teriakan panjang, ia memaksa tubuhnya bangkit berdiri. Gadis itu terhuyung-huyung, tatapannya agak sedikit kabur. Namun daya jurus Semilir Angin Penyembuh yang dirapalnya itu terus bekerja, penglihatannya berangsur jernih kembali.


Yang pertama muncul di pandangan mata Nirya adalah Sthira. Pria Kalingga itu masih adu tinju dengan Yori. Nampaknya mereka berimbang, sama-sama kuat dan tahan pukul. Mengingat hardikan Sthira tadi, rasanya belum saatnya Nirya ikut campur dalam "pertarungan antar pria sejati" itu.


Maka, Nirya bergerak menuju ke arah lain. Dhaka tampak cukup kewalahan dikeroyok para prajurit, namun tombaknya tetap bergerak lincah. Satu demi satu pengeroyok tumbang, namun masih butuh waktu untuk menakuti mereka semua.


Nirya bergerak terus, melihat Arumi sedang jadi bulan-bulanan lawannya. Cipratan darah Arumi sendiri seakan menghiasi pakaian dan kulitnya yang tak tertutup zirah.


"Hah, tangguh juga kau, gadis Jayandra!" seru Aswa tanpa sedikitpun menyurutkan tekanannya. "Tapi, dengan pamungkas Topan Puncak Putih Abadi, dinding setangguh apapun pasti mampu kutembus!"


Sesumbar itu diwujudkan Aswa dengan menghantamkan dan menusukkan tombaknya begitu cepat, nyaris tak terlihat.


Masalah terbesarnya, tiap kali Arumi hendak menangkis atau menghindar, tombak itu meliuk dan melukai tubuhnya dari sisi lain. Makin cepat gerakan keris Arumi, gerakan tombakpun seakan mengurung, membatasi dan menutup semua ruang gerak Arumi. Gadis itu mengerang kesakitan. Aswa bakal menutup jurusnya dengan mencabut nyawa Arumi.


Melihat itu, tanpa pikir panjang Nirya menerjang, menabrakkan diri mendorong tubuh Arumi keluar dari kurungan jurus Aswa. Tak hanya itu, ia mengumpankan punggungnya sendiri yang hanya terlindung tenaga dalam, hingga didera batang dan bilah tombak bertubi-tubi.


"Saatnya hukuman mati dijatuhkan." Aswa kembali maju sambil kedua tangannya bergantian memutar-mutar tombaknya.


Melihat aksi penuh gaya itu, Nirya kembali menggigil dan keringat dinginnya bercucuran. Inikah pertanda firasat terburuknya sesaat lagi bakal jadi kenyataan?


Mendadak pula, sepasang tangan kokoh secepat kilat mengangkat tubuh Nirya. "Ayo lari!" Itu suara Sthira.


Sambil menahan sakit, Nirya mulai berlari. Tangan Sthira erat menggenggam tangannya. Itu membuat Nirya seakan mendapatkan energi dan semangat baru, larinya makin cepat.


Nirya menoleh sejenak, melihat Dhaka juga ikut lari sambil menggendong Arumi di punggungnya. Gadis itu luka parah, dan tak jelas apakah ia pingsan atau sadar. Si komodorai itu memang amat kuat, "beban" yang ia pikul itu sama sekali tak memperlamban larinya.


"Jangan lari kalian, pengecut!" teriak Yori Mbeko sambil mengejar keempat lawannya bersama Aswa dan para prajurit.


Pengecut. Satu kata itu mengusik kalbu Nirya. Selama ini ia dan kelompoknya tak pernah lari dari lawan apapun. Waktu masih bertiga bersama Sthira dan Arumi, andai ada Dhakapun mereka selalu bertarung frontal. Bahkan walau kalah dan dilepaskan karena belas kasihan Sang Barongpun, tak pernah selangkahpun diambil untuk lari menyelamatkan diri.


Kini, mereka terpaksa ambil langkah seribu.


Berusaha menyelamatkan nyawa masing-masing dari musuh-musuh yang terlalu tangguh untuk dikalahkan, tindakan pengecutkah itu?

__ADS_1


Jawabannya adalah, tergantung ke arah mana Nirya dan kawan-kawannya lari.


Sedikit menegadah, Nirya terkesiap, baru sadar bahwa di hadapannya puncak putih menjulang tinggi nan agung.  "S-Sthira, tidakkah seharusnya kita lari ke arah pantai?"


Sthira menjawab cepat, "Kita pasti bakal tersesat di Hutan Apukondao sebelum mencapai pantai. Hanya puncak putih itulah satu-satunya jalan."


"Tapi hawa dan energi dingin milik Yori dan Aswa sangat mungkin bersumber dari sana! Bukankah ini sama saja...!"


"Bunuh diri? Mungkin saja. Tapi daripada tersesat dan pasti mati, aku lebih memilih bertaruh pada ajaran guruku!"


"Apa itu?"


Sthira menoleh sekilas ke arah Nirya sambil berkata, "Makin kuat lawan, makin jelas pula titik kelemahannya."


"Jadi kita baru dapat mengetahui titik lemah Yori-Aswa saat mereka berdua dalam kondisi terkuat?" Nirya mengerutkan dahinya.


"Ya."


"Itu menakutkan."


"Aku tahu."


Lantas Nirya memaksakan senyum. "Yah, apa boleh buat. Semoga kau benar, Sthira."


"Semoga saja."


"Karena kalau tidak, aku hanya ingin mati bersamamu, di sisimu saja."


Hening sesaat. Entah apakah Nirya pernah mengutarakan perasaannya seperti ini, namun baru kali ini ia dapat membuat Sthira bungkam sesaat.


Yang pasti, baru kali ini Nirya mendapat jawaban dari Sthira, "Aku juga hanya ingin mati bersama di sisimu, Nirya."


Tak ada kata lagi yang terucap, segalanya jelas kini.


Entah maut atau mukjizat yang menjemput Nirya dan kelompoknya di ujung pertaruhan ini, tiada lagi sesal yang mengiring langkah-langkah mereka.


Genggaman tangan Nirya dan Sthira makin erat, tanda hati mereka telah bertaut.


Gambar referensi untuk Cayari Yumano, Raja Cayari Es adalah Ice Phoenix by ShadowDragon.

__ADS_1


__ADS_2