
Kembali dalam markas besar Geng Dabongsang...
Setelah dengan amat meyakinkan "menyingkirkan" Jawara Empat, Gega, kini Dhaka bisa dengan tenang menggiring "tawanan"-nya, Sthira dalam lingkungan penjara bawah tanah tanpa gangguan sedikitpun.
Atau lebih tepatnya, pada dasarnya para penjahat memang tak mau ikut campur dalam ajang perebutan kedudukan antar jawara. Jauh lebih menguntungkan bagi mereka untuk berpihak pada jawara yang menang daripada mengeroyok pendekar sakti yang berkekuatan setara sepuluh pria dewasa, seperti Dhaka misalnya.
Segala sesuatunya, nyawa, kedudukan, wibawa dipertahankan hanya dengan mengandalkan kekuatan semata. Begitulah siklus yang terjadi dalam lingkungan hukum rimba seperti di Geng Dabongsang ini.
Jadi, walau terkesan pasrah digiring ke penjara, tak sedetikpun Sthira mengendurkan kewaspadaannya. Mata, telinga, seluruh tubuh dan kesadarannya terus terpusat pada Dhaka dan lingkungan sekitarnya.
Perebutan kekuasaan adalah hal yang lumrah di geng ini. Mungkin saja Dhaka menganggap ini kesempatan untuk "menyelam sambil minum air". Demi memperkokoh kedudukannya, seperti katanya pada Gega tadi, Dhaka bisa saja membongkar rencana mereka dengan alasan pura-pura bersekongkol dengan Sthira, dan meraup semua jasa karena telah menggagalkan upaya pembebasan Wiranata.
Ada satu hal lagi yang memperingan prasangka Sthira pada Dhaka. Gelang-gelang yang terpasang terpasang di kedua pergelangan tangannya seharusnya adalah gelang bermuatan sihir. Orang yang dibelenggu dengan gelang ini pasti lemas, tak bisa mengerahkan tenaga untuk bertarung, apalagi menghimpun tenaga dalam dan mana untuk merapal sihir. Belenggu Sthira itu jelas gelang biasa, jadi Sthira hanya pura-pura lemas saja sejak memasuki markas ini.
Namun, segala hal yang memperkuat dan melemahkan kepercayaan Sthira pada sekutu barunya itu bakal dipastikan setelah tubuhnya didorong dengan kasar ke dinding sel penjara bawah tanah.
"Heh, kau pikirlah cara meraih simpati Paduka Dabongsang setelah kau buat onar itu," ejek Dhaka di depan para anggota geng lainnya. "Coba saja berteman dulu dengan satu-satunya tawanan di penjara ini, semoga beruntung, hahaha!"
Dhaka dan semua penjahat pergi dari bagian paling bau, lembab dan jorok di Markas Dabongsang ini. Saat mereka semua tak terlihat lagi, Sthira baru bisa bernapas lega.
Yah, kelegaan itu hanya sekejap. Itu karena saat berikutnya, Sthira melihat seorang pria bertampang amat lusuh meringkuk di sudut sel itu. Pria itu menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Namun Sthira dapat merasakan sebentuk aura yang tak biasa terpancar dari segala keberadaan diri pria itu.
Sthira terkesiap dan menghampiri pria misterius itu. Katanya, "A-apakah anda... Paduka Raja Wiranata?"
Si pria tak langsung bereaksi. Perlahan-lahan, ia mengangkat kepalanya dan terlebih dahulu mengamati orang yang mengajaknya bicara itu. Seharusnya wajah pria itu mampu menyejukkan hati siapapun yang melihatnya. Namun wajah rupawan nan belia itu kini tertutup kumis-janggut lebat, ditambah rambut panjang acak-acakan. Kini penampilan pria itu lebih banyak mengundang decak kasihan daripada rasa suka.
Setelah beberapa saat kesunyian, pria itu bicara dengan nada mengayun, “Wiranata ya... Sudah lama aku tak mendengar nama itu disebut, apalagi dengan imbuhan ‘Paduka’, ‘Raja’ atau semacamnya. Namaku Jah. Tiada yang lain, hanya Jah.”
"Tapi, aura raja yang melingkupimu tak bisa bohong," debat Sthira. "Sekeras apapun usahamu untuk menutupinya, kau adalah Raja Rainusa sejati."
__ADS_1
"Tak ada Wiranta! Namaku Jah! Jah! Ingat itu!" hardik si pria dengan kasar.
Sthira tercengang. Ia tak habis pikir, apa maksud Wiranata dengan pemakaian nama "Jah" itu. Apakah sang raja sudah terlalu depresi sehingga kehilangan kewarasan dan akal sehat? Ataukah Wiranata menaruh curiga pada Sthira, pendekar bukan orang Rainusa yang sengaja ditempatkan di sini oleh Dhaka?
Atau, apakah Dhaka sebenarnya bukan orang kepercayaan Wiranata?
Namun, daripada memperumit keadaan, Sthira terpaksa ikut dalam "sandiwara" ini saja. "B-baik, Jah. Ya, memang Jah jauh lebih mudah diingat daripada Wi...!"
"Eit, eit, eit...!" Wiranata alias Jah menyela. Entah ia menyadarinya atau tidak, aura agung raja yang dimilikinya kembali menekan Sthira.
"Baik, Jah. Sekarang sebaiknya kau bersiap-siap, kita keluar dari sini..."
"Tunggu, bung. Ini satu-satunya tempat aku bisa bersemedi dalam kedamaian. Untuk alasan apa aku meninggalkan tempat ini? Apalagi bersama orang Kalingga asing yang namanya saja aku tidak tahu?"
Sthira tersentak. "Ah, maafkan kekurangajaranku. Namaku Sthira Tarunaga. Aku memang berasal dari Kalingga, namun aku adalah pendekar pengelana yang tak mengabdi pada Raja Kalingga atau siapapun."
"Jadi, atas petunjuk atau permintaan siapakah kau hendak membebaskanku? Dhaka, pejabat setia di Rainusa, atau... Sang Mahesa sendiri?"
Mendengar itu, Wiranata terpaku sejenak. Sesaat kemudian, ia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Lucu juga, Sang Mahesa mengutus dutanya, Barong untuk mengutus orang lain lagi untuk membebaskan si Jah ini. Pantas saja ia tak turun tangan langsung!"
Sebenarnya Barong punya alasan kuat untuk tidak secara pribadi datang ke Dabongsang. Sthira tahu betul alasan yang amat berkaitan dengan dirinya dan "Cincin Api" itu. Tapi ia memilih tak mengungkapkan itu ke Wiranata untuk menghindari salah paham.
Maka, Sthira malah menjawab, "Ya, Sang Mahesa memang sungguh ajaib dan tak terduga. Nah, karena aku sudah di sini, itu tandanya Sang Mahesa menghendaki dirimu untuk keluar dari 'kedamaian' dan kembali ke Danurah, membenahi seluruh Rainusa yang telah 'diacak-acak' oleh Bakangga."
Melihat gelagat dari raut wajah masam Wiranata mungkin tak akan berubah, Sthira cepat-cepat menambahkan, "Kumohon kembalilah, demi rakyat Rainusa."
Wiranata mengerutkan dahi sejenak, lalu akhirnya berujar, "Baik, aku akan ikut denganmu. Dengan syarat, hingga kita keluar dari Kota Dabongsang, kau harus tetap memanggilku Jah dan pura-pura tak tahu jati diriku yang sebenarnya."
"Baiklah." Bagi Sthira, urusan panggil-memanggil nama adalah hal mudah, walau bukan sepele. Yang repot adalah pura-pura tak tahu Jah adalah seorang raja.
"Kalau begitu kita tinggal menunggu hingga Dhaka siap dan menjemput kita di sini."
__ADS_1
Sambil mengatakannya, Wiranata hanya mengangguk cepat dan kembali meringkuk di pojokan. Sesekali ia menggaruk-garuk ketiaknya dan lubang ***** di balik celana lusuhnya dan melenguh nyaman.
Walaupun wajahnya tengah menghadap dinding, Sthira yakin kini Wiranata sedang tersenyum damai sekaligus merenung. Karena "jemputan mendadak" inilah, Wiranata harus kembali mengingat-ingat jati dirinya, "berubah" dari Jah kembali menjadi raja di pengasingan.
Lagipula, waktu yang ada untuk proses "perubahan" itu ternyata amat singkat.
Belum genap satu jam Sthira lagi-lagi "mencicipi" penjara bawah tanah, Dhaka kembali muncul di bagian paling sepi di Markas Dabongsang ini.
Kali ini, Dhaka tak mau repot-repot lagi bicara pada para penjaga. Dengan gerakan yang amat cepat dan mendadak, tombaknya menghunjam tubuh kedua pria penjahat itu tanpa ampun, mengakhiri nyawa mereka.
Teriakan para penjaga itu mungkin bakal membuat lebih banyak orang menyerbu tempat ini. Tak mau buang waktu sedetikpun, Dhaka melesat dan menjebol pintu jeruji besi sel yang sudah amat rapuh dan berkarat itu dengan kekuatan dahsyatnya.
"Ayo ikut Dhaka! Kita pergi dari sini, Sthira dan Yang... eh, Jah!" seru Dhaka.
Karena memang sudah siap, Wiranata bergegas ikut di belakang Sthira dan Dhaka. Raut wajahnya kini lebih tegang daripada saat Sthira pertama kali melihatnya. Apakah ini karena Jah sudah sepenuhnya kembali menjadi Wiranata? Entahlah, yang penting mereka harus keluar dari markas ini dengan selamat. Sebisa mungkin jangan sampai mereka dihadang oleh para penjahat, apalagi Dabongsang Bersaudara.
Tanpa golok miliknya, Sthira terpaksa memungut golok biasa dari jenazah salah seorang penjaga. Ia memilih mengikuti gerakan Dhaka di depannya, tak terburu-buru, tak terlalu lamban dan langkah-langkahnya nyaris tak bersuara.
Bahkan saat menaiki tangga kayu yang berderit setiap dipijak, Sthira berusaha keras agar tak menimbulkan suara berisik dengan melangkah perlahan-lahan.
Justru saat Sthira menapakkan kakinya di lantai dasar, serombongan penjahat sudah membentuk pagar betis mengepung dirinya, Dhaka dan Wiranata.
Yang mengejutkan adalah, pemimpin rombongan itu, seorang pria tinggi-kekar-besar yang belum pernah Sthira lihat sebelumnya menapak maju dari pagar betis, langkah-langkah kakinya berat seakan menimbulkan gempa. Yang paling mengejutkan bagi Sthira adalah, pria itu menggenggam erat sebilah golok besar terhunus, yang mudah ia kenali sebagai Mandau Petir, Gharma. Bukankah seharusnya Gharma ada di tangan Arumi? Bagaimana bisa golok itu berpindah tangan?
Sebelum Sthira bisa berpikir lebih jauh, si pria besar menghardik keras, "Eit, eit! Jangan harap kalian, tikus-tikus bisa pergi dari sini membawa sandera paling berharga di Dabongsang!"
Dhaka malah menghardik balik, "Jawara Satu merangkap Wakil Ketua Geng Dabongsang, Dabongsang Hurek! Dhaka tak sangka, walau Jawara Dua sedang tak ada di markas, malah Hurek yang muncul di sini!"
"Huh, kau meremehkanku, Dhaka Komodorai! Aku tak hanya paling kuat, tapi juga berakal panjang! Aku sudah 'mengendus' rencanamu saat kau menapakkan kaki di markas, menyusupkan tahanan dengan belenggu palsu! Apalagi setelah kau membunuh Gega, pendukung dan sekutu utamaku! Jadi apapun rencanamu, hasilnya tetap akan sama, nasibmu dan si mata-mata itu pasti berakhir di sini, sekarang juga!"
Sumber Gambar: Danau 3 Warna Gunung Kelimutu untuk referensi kawah danau 3 warna Gunung Tubar'e. Sumber: Metroterkini.com
__ADS_1