EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
TUBAR'E Bagian 3


__ADS_3


Bicara tentang jawara-jawara terkuat dan terbengis di Dabongsang, Arumi dan Nirya kini sedang bersama salah satunya, yaitu Jawara Dua, Mora Nggarai.


Bila ditinjau dari penampilan serta tingkah lakunya yang tak bercacat-cela, Mora sama sekali tak terkesan berbahaya. Tapi bisa saja bahkan senopati secerdik Arumipun dibuat percaya pada Mora. Bisa saja peringkat dua adalah bagi yang terlicik di antara kelima jawara.


Ketiga wanita itu kini tengah mendaki lereng Gunung Tubar'e. Lereng itu tampak seakan berkilap oleh teriknya cahaya mentari yang terpantul di embun dan sisa air hujan yang menempel di sana. Permukaannya jadi agak licin dan terlalu curam untuk didaki dengan berjalan kaki, namun mau tak mau lereng itu harus dilalui karena itulah jalan satu-satunya untuk mencapai puncak gunung yang tampak seperti dataran itu.


Di sisi lain, dahi Nirya terus berkerut. Mata gadis itu sebentar-sebentar menatap was-was pada "kawan baru" mereka itu. Jangan-jangan Mora itu sejenis dengan Widuri, Minata atau Begarwana. Walau begitu, Nirya terus saja memanjat lereng cadas dengan mendayagunakan kerambit kembar berantainya, mengaitkan ujung-ujung bilahnya pada dinding-dinding batu. Ia hanya kalah cepat dari Mora, yang nampaknya amat mengenal setiap jengkal gunung ini bagai membalik telapak tangan.


Beda dengan Arumi yang lebih mahir bergerak di atas kapal yang mengarung gelora air daripada di kemiringan lereng gunung. Hanya mengandalka tali dan kait seperti pendaki gunung pada umumnya, gadis berambut merah itu bergerak paling lamban dan kerap berhenti.


Untunglah Mora tak tampak terburu-buru. Setiap kali mereka berpijak di tempat aman di lereng, wanita itu berhenti sejenak. Dalam kesempatan itu Mora mengingatkan kedua rekannya tentang apa yang akan mereka hadapi di puncak nanti.


"Beto'dila adalah siluman katak-buaya raksasa yang sebenarnya tak terlalu dahsyat kekuatannya. Namun ia berhasil mengusir Dewi Sasanda, juru kunci sejati Tubar'e dengan asupan energi hitam dari Dabongsang Zakuay. Sejak itulah, Beto'dila menguasai Puncak Tubar'e dan kunci gaib gunung itu ada dalam tubuhnya."


Arumi menanggapi, "Astaga... monster itu mengalahkan seorang dewi?!"


"Ya, Beto'dila memang sekuat itu."


"Lantas, mengapa kau mengajak kami?" Nada bicara Nirya menyiratkan kecemasan. "Kesaktian kita bertiga, walau digabung sekalipun mustahil mengalahkan makhluk yang telah mengalahkan seorang dewi!"


Mora mengkoreksi, "Mengusir, lebih tepatnya. Walau 'terusir' itu hampir selalu diartikan 'kalah', namun bisa saja itu terjadi karena sang dewi sengaja mengalah."


"Bagaimana bisa?" tanya Arumi dengan mata terbelalak.


"Entahlah." Mora mengangkat bahu. "Hanya sang dewilah yang tahu seluruh kebenarannya. Satu-satunya cara agar kita tahu apakah kita dapat mengalahkan Beto'dila atau tidak adalah dengan menghadapinya."


Arumi kembali tercenung. Kata-kata Mora itu cukup beralasan dan masuk akal. Namun itu sama sekali tak membuat debar jantungnya melembut. Ini jelas sebuh pertaruhan hidup-mati. Masalahnya, andai yang terburuk yang terjadi, akankah Arumi, Nirya dan Mora bertahan hidup melaluinya?


Yang perlu diperhatikan saat ini juga adalah jalur pendakian selanjutnya sampai ke puncak. Ternyata lereng gunung yang harus dilalui amat curam, hampir tegak lurus seperti tebing cadas. Tubuh ketiga pendaki gunung ini kini terhubung dengan seutas tambang, yang cukup kuat menahan bobot tubuh tiga wanita yang relatif ringan.


Mora, yang berlengan paling kekar dan paling paham medan menempati posisi "jangkar", yaitu yang mendaki paling awal dan di cadas tampak di posisi paling atas. Ini berarti, Mora bakal harus menahan bobot kedua rekannya andai misalnya, pengangan Arumi terlepas.

__ADS_1


Nirya, yang bertubuh paling ringan di antara ketiganya justru di posisi terbawah. Andai ini Gunung Barkajang, ia pasti bisa memanjat lebih cepat daripada Mora.


Di posisi tengah, Arumi yang lebih kuat fisiknya daripada Nirya justru bergerak paling lamban dan paling hati-hati. Di lereng amat curam ini, kurangnya pengalaman Arumi mendaki gunung makin kentara. Tubuh gadis itu gemetaran, membuatnya makin sulit mempertahankan cengkeraman tangan dan kaitnya pada lereng batu.


Jadilah Arumi kena hardikan Mora, "Hati-hati, anak laut dari Jayandra! Jangan lihat ke bawah! Satu kesalahan saja dari dirimu, nyawa kita bertiga yang bakal terancam!"


Tambahan terpaan angin dingin di ketinggian gunung ini makin membuat Arumi waspada dan mengerahkan lebih banyak tenaga ke kedua lengannya. Sejak dirinya bergabung dengan Sthira dan Nirya, Arumi tak pernah harus mendaki sampai ke puncak gunung hingga kini. Pertarungan-pertarungan di Gunung Megaswari dan Gunung Idharma terjadi di kaki gunung dan dalam gua lereng gunung.


Jadi, ini memang tantangan yang sama sekali baru bagi Arumi. Darah juru kunci Megaswari, Nyi Lara Sati yang mengalir dalam tubuhnya bukan jaminan "anak laut" bisa jadi "anak gunung" dalam sekejap mata.


Karena kurang terlatih pula, setelah mendaki beberapa lama, peluh Arumi bercucuran tak terkendali. Untung ia mematuhi pesan Mora dengan meninggalkan perangkat zirah besinya di kapal. Jaid kini napasnya masih cukup teratur, tak terengah-engah.


Arumi sudah tak merasa malu mengakui kekurangannya mendaki. Tak ada yang ia tutup-tutupi, jadi ia tak kesulitan memusatkan pikirannya pada satu hal. Hal itu adalah meraih cadas demi cadas di depannya, terus-menerus hingga yang digapai adalah tepian puncak gunung.


Segalanya berjalan lancar sejauh ini, yang mengganggu hanyalah hembusan angin gunung yang membekukan tulang.


Tiba-tiba, Arumi terkesiap mendengar suara Nirya yang melengking, disusul perasaan ada sesuatu yang berat menariknya kuat-kuat ke bawah. Sambil menguatkan cengkeramannya, Arumi menoleh ke bawah.


Ternyata malah Nirya yang pegangannya terlepas, dan kini bergelantungan di udara.


"Cukup!" hardik Mora. "Pegang erat-erat, semua! Arumi! Di hitungan ketiga, kita ayunkan Nirya ke arah lereng! Satu, dua, tiga!"


Arumi cukup sigap menanggapi aba-aba dan maksud Mora itu. Urat-urat seakan bertonjolan di sisi-sisi leher yang berdekatan dengan kepalanya. Sekuat tenaga, Arumi mengayunkan tambang penghubung. Daya ayunan bertambah sebagian dari tenaga Mora.


Nirya memanfaatkan daya ayunan tambang untuk meraih lereng. Ujung kerambitnya mencengkeram batu, namun kaitan itu terlepas lagi dan ia kembali ke posisi bergelantung.


Daya tarik ke bawah yang mendadak dari Nirya lagi membuat pegangan kait satu tangan Arumi hampir terlepas pula. Arumi berteriak lagi, mengerahkan lebih banyak tenaga dalam. Kait dan lima jari Arumi mencengkeram lebih dalam seakan terbenam, membuat lubang-lubang di batu gunung itu. Pegangannya kini jauh lebih kokoh dari sebelumnya.


"Coba lagi, Nirya!" Kembali Arumi mengayun rekannya.


Dengan pikiran dan prana yang lebih terpusat, Nirya berhasil menancapkan kedua kerambitnya di dinding batu lereng. Setelah kembali ke posisi "aman" itu, barulah Nirya dan Arumi bisa bernapas lega.


Bahkan Mora memuji Arumi, "Itu tadi sudah luar biasa untuk orang yang tak pernah mendaki gunung sebelumnya." Sambil ketiganya melanjutkan pendakian.

__ADS_1


Arumi diam-diam tersenyum, rasanya semangatnya baru mengembang tiga kali lipat. Namun sanjungan Mora tadi tak melunturkan kewaspadaannya. Kaya pengalaman tempur, benak Arumi spontan kembali ke kondisi semula, yaitu berkonsentrasi penuh pada cadas di depannya.


Tak ada insiden berarti lain terjadi, hingga akhirnya kaki Arumi menginjak tanah di atas puncak Tubar'e.


Nirya yang baru saja mencapai puncak dan kini ada di belakang Arumi berkata, "Maaf soal tadi, Arumi, pikiranku sempat bercabang, ini karena..."


"Sudah, jangan disebut," potong Arumi sambil setengah berbisik. "Kekuatiranku sama denganmu soal apa Mora dapat dipercaya atau tidak. Namun, karena kita sudah di puncak Tubar'e, kini yang harus kita kuatirkan adalah musuh sekuat apa yang bakal kita hadapi di sini."


Mora yang posisinya beberapa langkah di depan Nirya dan Arumi berseru, "Beto'dila telah menyadari kehadiran kita! Ia bersembunyi dalam salah satu dari ketiga danau itu! Waspadalah!"


Dalam rangka mencerna peringatan Mora, Arumi melayangkan pandangan matanya jauh ke depan. Puncak Gunung Tubar'e rupanya berbentuk sebuah dataran luas. Kaldera, yakni danau kawah di tengah-tengah dataran itu tampak sangat unik, kalau bukan dianggap salah satu keajaiban dunia.


Tiga danau di kaldera itu tampak tak beraturan. Yang terunik adalah warna air di tiap danau berbeda-beda. Air di danau terbesar berwarna kuning kecoklatan. Rupanya dasar danau itu mengandung belerang dari sisa lava letusan sebelumnya yang menyumbat lubang kawah.


Air di danau terbesar kedua berwarna biru, tergolong jernih dan wajar karena memang tak bersambungan sama sekali dengan danau belerang. Apalagi danau terkecil, yang airnya berwarna hijau. Danau ini agak dangkal, dan dasarnya penuh ditumbuhi lumut hijau. Mungkin danau inilah yang paling lembab dan subur tanahnya, karena sering kemasukan lava dari danau sebelahnya.


Di Zaman Sihir ini, mungkin Nirya, Mora dan Arumi hanya menganggap fenomena danau tiga warna ini hanya keajaiban belaka, tak mengindahkan faktor ilmiahnya sama sekali.


Namun, terlepas dari semua ini, ada gejala aneh yang jelas tak lepas dari pengamatan Mora. "Ini parah... Air danau ini keruh sekali, seakan menghitam."


Nirya menanggapinya, "Apa itu karena Energi Air Hitam?"


Mora mengangguk. "Bisa jadi. Aku sudah pernah melihat Dabongsang Bersaudara menggunakannya. Tapi aku tak sedikitpun menduga pengaruhnya pada air kaldera bisa sebesar ini." Raut wajahnya yang menyiratkan kepedihan membuat Arumi yang melihat itu mendelik.


Namun, sebelum Arumi sempat menanyakan sesuatu pada Mora, sebuah riak gemerisik pada permukaan air hitam mengalihkan perhatian gadis dari Jayandra itu.


"Ssh! Kalian dengar itu?" Rasa penasaran mendorong Arumi melangkah mendekati sumber suara.


Mora berseru, "Tunggu, Arumi! Kita diam dulu saja di sini, berjaga-jaga kalau...!"


Peringatan Mora terlambat. Dari danau berair biru kehitaman itu satu sosok raksasa melesat keluar. Tak hanya itu, sosok monster buaya berkaki dan berkepala katak itu melompat tinggi-tinggi di udara, bagai harimau hendak menerkam ke arah mangsanya. Rahang kataknya menganga luar biasa lebar, deretan taring buaya yang masing-masing sepanjang belati runcing pada rahang itu siap melumat satu manusia bulat-bulat.


Melihat itu, wajah Arumi pucat-pasi seketika. Jangankan menghindar, ingin berteriakpun sudah tak sempat lagi.

__ADS_1


Sumber gambar referensi untuk Beto'dila: Crocodile Fish, Komodo National Park Website.


__ADS_2