
Satu hal yang pasti, memang ada beberapa orang yang sedang bertarung melawan Dabongsang Bersaudara saat ini. Namun Sthira saja sudah bagai telur di ujung tanduk dengan satu serangan kapak kembar Dabongsang Zakuay saja.
Walau demikian, si pendekar berpengalaman dari Kalingga itu bereaksi amat cepat dan tepat. Ayunan mandau besarnya tepat menghentikan laju kedua bilah kapak itu, menimbulkan bunyi berdenting nyaring. Takut terkena serangan balik Sthira, Zakuay cepat-cepat jaga jarak.
Melihat celah kesempatan menyerang Zakuay langsung dalam lingkup keroyokan para penjahat, Sthira berbalik ke arah Dhaka dan Wiranata. Ternyata Dhaka masih sibuk melindungi Wiranata dan masih bertarung sengit melawan Hurek dan para anak buah lainnya.
Sthira telah menetapkan sasaran utamanya, jadi seluruh perhatiannya kini terpusat pada sasaran itu. Kupercayakan Hurek pada kalian, batinnya.
Masih dalam kondisi prima, tentu Zakuay bergerak lincah keluar dari kerumunan. "Jangan berdiri saja, kalian semua habisi Sthira!" perintahnya.
Zakuay memang pemimpin tertinggi, tapi ia tak seksatria adiknya. Hurek tak mau mengorbankan anak buah demi melemahkan lawan. Sekilas pemikiran itu membuat Sthira mendengus sinis dan bergerak makin cepat. Kelebatan mandaunya dan darah yang terciprat di sana-sini membuktikan taktik Zakuay itu hanya murahan dan pasaran belaka. Itu hanya berguna agar Zakuay dapat mencuri serang dari celah kerumunan lagi.
Kali ini, serangan mendadak Zakuay tak kunjung datang, bahkan hingga Sthira berhasil menerobos kepungan dan berhadap-hadapan dengan sasarannya itu.
Ternyata Zakuay cukup paham taktik yang sama takkan manjur dua kali dalam satu pertarungan yang sama. Mata Sthira makin tajam menatap si tambun itu, berusaha tak lengah dan terus melacak gerakan sekecil apapun yang dibuat si Dabongsang sulung itu.
Para penjahat yang seharusnya merubung Sthira lagi bergerak maju-mundur. Apalagi melihat rekan-rekan mereka yang telah terkapar, terus menjalankan perintah Zakuay sama saja dengan bunuh diri.
Maka Zakuay berseru, "Cukup! Biar kuacak-acak wajah manis si Kalingga itu!" Ia maju ke arah Sthira yang kebetulan berdiri di tengah arena. Para penjahat lain terpaksa menyingkir. "Lagipula, jurus Kapal Karam di Pusaran Hitam andalanku cukup untuk menghabisinya!"
Zakuay membulatkan ujarannya dnegan mengulurkan kedua tangannya lurus-lurus ke depan. Kedua tangan itu seolah mengarahkan pusaran gelora Energi Air Hitam dari tubuh perapalnya ke sasaran.
__ADS_1
Seketika, Sthira merasakan dirinya terkurung, terkepung energi pengikis dahsyat dari segala arah, tak ubahnya sebuah kapal layar yang sedang terjebak dan terombang-ambing pusaran ombak dahsyat di tengah lautan. Kecuali ia bisa menggali dan masuk sampai jauh ke dalam tanah, tak ada jalan untuk menghindar sama sekali.
Terpaksa Sthira melawan, mencoba menangkal serangan lawan dengan jurus yang sepadan. Ayunan mandaunya menebar Gelombang Kejut Halilintar ke segala arah pula. Kekuatan jurus kedua petarung itu hampir setara, namun kecepatan jurus Sthira mendobrak gerakan jurus Zakuay yang cenderung lincah-gemulai.
Akhirnya, gelombang kejut Sthira berhasil menerobos kepungan energi Zakuay. Bahkan, sisa gelombang tersebut menerjang ke segala arah, menerpa Zakuay dan beberapa penjahat. Dua penjahat yang terkena paling telak tewas seketika, sisanya luka-luka ringan atau parah.
Tubuh subur Zakuay sendiri terpelanting hingga membentur dinding, lalu jatuh-luluh di lantai tanah. Ia terkapar saja di sana, bergeming.
Melihat kesempatan menghabisi lawan, Sthira hendak menyerbu maju. Mandaunya tergenggam erat, siap membuat kepala Zakuay melayang. Namun tiba-tiba gerakannya terhenti. Sthira mencengkeram dadanya sendiri, ada rasa gatal, nyeri dan perih luar biasa di sana, juga di seluruh tubuhnya.
Ternyata Energi Air Hitam lawan juga mengenai Sthira. Pengaruh daya kikis air itu agak lambat bereaksi karena tertahan dan harus menyelusup dulu lewat lapisan prana pelindungnya. Entah sejak kapan, Sthira lagi-lagi merasakan siksaan tak tertahankan. Ia berteriak-teriak kesakitan, rasanya tubuhnya akan meledak setiap saat.
Kondisi Zakuay ternyata tak lebih baik daripada lawannya. Ia muntah darah dan bangkit berdiri dengan susah-payah. Tubuhnya kejang-kejang, pengaruh energi petir Sthira masih terasa.
Sambung rasa dengan sang kakak yang sedang terdesak, Hurek sudah menjauh dari pertarungannya melawan Dhaka sesaat sebelum Zakuay meneriakkan namanya. Jadi hampir seketika, kedua Dabongsang Bersaudara telah berdiri bersisian.
"Ada apa, kak? Apa kita bakal mengerahkan jurus terlarang ilmu Energi Air Hitam?" tanya Hurek.
"Ya, terpaksa. Kau sendiri juga kewalahan, 'kan?" tanggap Zakuay sambil tersenyum getir. "Ingat Hurek, bila hanya salah satu dari kita yang selamat setelah mengerahkannya, dialah yang harus meneruskan kepemimpinan dan keberlangsungan kekuasaan Dabongsang!"
"Setuju, walau aku berharap kita berdua selamat. Ayo kita mulai, kakakku."
"Ya, adikku."
__ADS_1
Seketika, sebentuk medan Energi Air Hitam bergelora seperti buih dan ombak di sekeliling tubuh Dabongsang Bersaudara.
Melihat itu, Dhaka dan Wiranata cepat-cepat menghampiri Sthira. Dhaka berseru, "Gawat, energi yang dua Dabongsang pancar jauh lebih dahsyat dari yang sebelumnya! Dhaka tak tahu soal ini!"
"Benarkah?" Sthira terkejut bukan buatan. "Satu saja akalku, karena mereka melancarkan jurus gabungan, kita harus menangkalnya dnegan menyatukan prana kita pula! Ayo! Karena aku masih terluka, kusalurkan seluruh sisa pranaku ke tubuhmu, Dhaka!"
Wiranata menimpali, "Aku juga! Terimalah sedikit tabungan pranaku ini, gunakan jurus terkuatmu!"
"Tapi...! Baik!" Tak ada waktu lagi berpikir terlalu panjang, Dhaka menghimpun segala energi yang bisa ia dapatkan, ditambah asupan tenaga dalam dari Sthira dan Wiranata. Tubuhnya berpendar cerah, sisik-sisiknya tampak berkilapan. "Semoga jurus Cengkeraman Runtuhan Gua Dhaka unggul!"
Tekanan pada Sthira dan rekan-rekannya mencapai puncaknya saat Zakuay berseru, "Kalian bertiga adalah ancaman yang terlalu besar bagi Dabongsang, layak dibasmi dengan jurus terlarang, Air Hitam Membanjiri Mayapada!"
Teriring teriakan membahana, dua bersaudara Dabongsang maju. Hurek yang besar dan kuat bertumpu pada kakinya, berputar-putar seperti gasing. Tak hanya itu, ia juga memutar-mutar tubuh pendek-gemuk kakaknya, menggenggam erat kaki Zakuay seperti tengah mengayunkan sebuah tiang atau batang pohon jati.
Sementara Zakuay menyemburkan Energi Air Hitam sebanyak-banyaknya dari tangan dan mulutnya, menumpahkan semuanya ke segala arah, tak pandang kawan maupun lawan. Semua penjahat anak buah Dabongsang telah lari kocar-kacir sesaat sebelum jurus dikerahkan. Namun beberapa insan malang terpapar energi pamungkas itu dan tewas dengan tubuh remuk-redam, seolah meleleh.
Kini, hanya Dhaka yang mampu mencegah dirinya, Sthira dan Wiranata bernasib sama dengan para penjahat itu. Entah apa yang dipikirkan Dhaka, gerakan jurus Cengkeraman Runtuhan Gua malah tampak seperti jurus pembuka, Rentetan Hunjaman Tombak.
Dhaka justru maju dan menghunjamkan tombaknya dengan amat cepat, berulang-ulang ke satu titik sasaran. Maksudnya adalah untuk membuyarkan Energi Air Hitam yang menerpa ke arahnya dan terus menerobos sampai ke sasaran utama, entah itu Hurek atau Zakuay.
Namun, terlepas dari semua itu, menang atau kalah, hidup atau mati baru benar-benar ditentukan saat inti kedua jurus air dan tanah itu bertumbukan.
Kepada siapakah takdir akan berpihak?
__ADS_1
Ilustrasi untuk tokoh "Jah" oleh Andry Chang