EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
WATAS Bagian 5


__ADS_3


"Oi, bangun pak tua!"


Teriakan anak kecil itu membuat Dhaka terlompat, bangkit dari tempat tidurnya di lantai kayu dalam lambung kapal. Tak hanya itu, reaksi naluriah komodorai pejuang yang telah terlatih hampir setengah abad itu terpicu. Dhaka meraih belati yang selalu ada di tempat tidur dan menghunjamkannya ke arah si pengganggu.


Namun, akal sehat Dhaka seketika bekerja. Ayunan lengannya terhenti, belati berhenti melesat tepat seujung kuku di depan kulit leher sasarannya. Rasa kantuk lenyap seketika, Dhaka baru melihat dengan jelas orang itu ternyata adalah Dapu Dapu.


Rona wajah si anak laki-laki cilik itu pucat pasi seketika, bicaranya tergagap, "A-aduh, t-tak perlu begitu, p-pak tua!"


Dhaka cepat-cepat menyarungkan kembali belati di ikat pinggangnya seraya berujar, "Ingat, ingat. Jangan pernah bangunkan komodorai tidur."


"I-iya, iya." Dapu Dapu mengangguk, tapi sikapnya itu memberi kesan ia pernah mendengar ungkapan itu sebelumnya.


Mendadak, Dhakapun teringat sesuatu. "Oh ya! Kita orang harus pastikan arah pelayaran. Juga tentang imbalan untuk jasa Dapu Dapu...!"


"Tenang pak tua, semua sudah Dapu Dapu bahas tadi bersama Kak Sthira dan Pak Nahkoda." Si anak laki-laki berambut hijau itu tersenyum lebar.


"Kok mereka tak ajak Dhaka? Apa Dapu Dapu puas dengan keputusan mereka?"


Dapu Dapu mengangguk satu kali dengan mantap. "Tentu! Dapu Dapu berjasa besar, 'kan? Jadi semua keinginan Dapu Dapu mereka penuhi."


Dhaka mendelik ingin tahu. "Keinginan apa saja itu?"


"Satu, Dapu Dapu ingin istirahat dan tidur di kapal."


"Bukankah itu sudah mereka penuhi?"


"Ya. Tapi dengan syarat, arah haluan harus tetap ke Akhsar."


"Tapi apa sebabnya Dapu Dapu ingin ke Akhsar?"


"Karena keinginan kedua Dapu Dapu adalah pulang."


Mulai tak sabaran dengan jawaban si lawan bicara yang sepotong-sepotong, Dhaka menghardik, "Jelaskan saja semuanya. Ke mana Dapu Dapu ingin kami orang antar pulang?"


"Kenapa tak bilang dari tadi?" jawab Dapu Dapu sambil menjulurkan lidahnya. "Sudah lama Dapu Dapu ingin kembali ke negeri asal Dapu Dapu, yaitu Kerajaan Watas dalam wilayah Akhsar. Tapi Dapu Dapu baru bisa pulang sekarang, dan harus bersama kalian."


"Lho, kok bisa?"

__ADS_1


"Dapu Dapu lari dari Watas karena Naga Vrithra ingin makan Dapu Dapu. Entah sudah berapa lama Dapu Dapu mengarung laut sebagai ikan pesut dan jarang ke darat sebagai manusia. Baru kemarin Dapu Dapu mendengar suara lautan. Katanya, Dapu Dapu bisa pulang asalkan berhasil membimbing Kapal Pinissi keluar dari badai dahsyat. Di Kapal Pinissi itu ada empat pendekar sakti yang akan menolong Dapu Dapu dan membebaskan Negeri Watas dari kekuasaan Naga Vrithra."


"Naga Vrithra? Tolong jelaskan tentang dia."


"Vrithra semula adalah roh naga asing dari seberang lautan, yang menjelma menjadi senjata dewata bernama Vajra. Seorang Resi, pendeta sakti dari Arcapada mewariskan Vajra pada Rai Taksaka, penguasa Negeri Watas untuk dijaga. Mungkin karena tak pernah dipergunakan lagi, Vajra kembali menjelma menjadi roh Vrithra dan merasuki trenggiling yang kebetulan memasuki tempat penyimpanannya di puncak Gunung Dantonu."


Di saat inilah Dapu Dapu menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya. "Vrithra menjelma menjadi naga-trenggiling siluman penguasa halilintar. Ia menaklukkan dan merebut jabatan juru kunci Gunung Dantonu dari Rai Taksaka dan menjajah Watas. Terpaksa aku melarikan diri ke laut lepas, daripada jadi tumbal persembahan untuk Vrithra."


"Ah, jadi itu sebabnya," kata Dhaka sambil mengangguk. "Dhaka paham kini maksud Sang Srisari utus Dapu Dapu dengan cara yang ajaib. Oya, apa Dantonu itu gunung api?"


"Ya. Letaknya di tenggara Pulau Akhsar. Walau jauh dari pusat negeri, Gunung Dantonu dekat dengan kota perdagangan terpenting di Akhsar, yaitu Kaunawa."


"Andai Vrithra tumpas, Dantonu pasti meletus. Bila Kota Kaunawa kena imbas bencana, perdagangan di Akhsar akan carut-marut, dan seluruh negeri itu melemah. Mungkin daerah-daerah taklukan Akhsar bakal berontak dan merebut kemerdekaan. Apakah bakal begitu?"


"Mungkin saja. Entahlah, Dapu Dapu tak tahu pasti."


Dhaka menahan napas, terpukau. Informasi yang baru ia dapatkan itu lebih banyak lengkap dari perkiraannya semula, berhubung asalnya dari anak kecil berusia sepuluh tahun. "Wah, pengetahuan Dapu Dapu banyak sekali ya."


"Yah, selama berkelana melintas lautan, Dapu Dapu jadi belajar ini-itu." Dapu Dapu lagi-lagi tersenyum lebar-lebar.


"Apa Sthira dan yang lain-lain sudah tahu pula tentang apa yang terjadi di Watas, juga tentang Vrithra?"


Dapu Dapu menggeleng.


"Dapu Dapu tak mengerti maksud Dhaka. Tapi baiklah, Dapu Dapu akan ceritakan pada mereka." Setelah mengatakannya, anak laki-laki berambut gimbal itu melesat pergi.


Tinggal Dhaka yang berteriak, "Jangan lupa, ceritakan tentang Gunung Dantonu juga!" Lalu Si komodorai duduk sambil geleng-geleng kepala, berusaha mengulum senyum di moncong komodonya.


\==oOo==


Cerita Dapu Dapu tentang Gunung Dantonu, Negeri Watas, Naga Vrithra, Kota Kaunawa dan hubungan antara semua itu ternyata berbuah manis.


Kini, di bawah keteduhan matahari fajar, Kapal Pinissi telah merapat dekat daratan Pulau Akhsar. Sekoci-sekoci telah diturunkan, dan para penumpangnya adalah Sthira, Nirya, Arumi dan Dhaka. Pastinya, Dapu Dapu si pemandu berenang di laut dalam wujud ikan pesut.


Saat menjejakkan kakinya di pasir seputih salju nan hangat, Dhaka melenguh lega dan nyaman. Itu perasaan yang cukup lama tak ia rasakan sejak kali sebelumnya menjejak pasir pertama kalinya di pantai Pulau Dhuraga.


Bedanya dengan Dhuraga, kali ini hutan yang berbatas dengan pantai tampak tak terlalu padat pepohonan. Ada semak-semak dan lapangan-lapangan berumput di sela-sela beragam jenis pohon itu.


Tampak bayangan beberapa gunung menjulang di kejauhan. Mungkinkah salah satunya adalah Dantonu? Mungkin ada di antara para awak kapal yang orang Akhsar yang bisa memastikannya. Namun Watas adalah satu-satunya jalan menuju Dantonu dan adalah negeri siluman yang tersembunyi, bahkan asing bagi warga Akhsar sendiri. Karena itulah, satu-satunya yang tahu jalan menuju dan melintasi Watas hanya Dapu Dapu.

__ADS_1


Masalahnya, di mana si pemandu itu berada sekarang? Dhaka dan para rekannya menoleh kesana-kemari.


Nirya berkomentar, "Kalau Dapu Dapu tak kunjung muncul, mungkin lebih baik kita bertanya pada Daeng Hasan. Mungkin ada gunung berapi lain yang dekat dengan pusat Negeri Akhsar..."


"Hus! Kita tak mau siapapun dari awak Pinissi tahu tentang misi kita yang sesungguhnya," tegur Arumi. "Nanti mereka salah paham tentang bencana-bencana yang timbul karena kedatangan kita!"


"Oh ya, benar juga." Nirya menutup mulutnya.


Sthira berujar, "Tapi tetap saja, bila ternyata Dapu Dapu pergi begitu saja...!"


"Dapu Dapu tidak meninggalkan kalian!" teriak si pesut sambil melompat dari permukaan laut. Ia berubah wujud di udara dan mendarat di tanah berpasir sebagai si anak laki-laki cilik.


Dhaka menegur, "Ke mana saja Dapu Dapu? Kami orang jadi salah paham, tahu!"


Dapu Dapu menggaruk kepalanya dengan menampilkan wajah polos. "Hehe, Dapu Dapu tadi ingin menikmati saat-saat menjadi pesut sebelum tinggal di daratan lagi. Maaf ya."


Dhaka menggeleng. Dasar anak-anak, selalu saja kurang serius. Padahal misi ini amat penting bagi masa depan Watas, tanah air Dapu Dapu sendiri.


Sthira menyela, "Sudahlah, ayo kita berangkat."


Perjalanan melintasi hutan kali ini terkesan jauh lebih santai daripada di Dhuraga. Hanya para pemandu jalan saja, Wufabwe dan Dapu Dapu yang tingkah lakunya mirip satu sama lain, yaitu ceria, penuh semangat dan banyak bicara.


Sempat di suatu saat, Dapu Dapu menunjuk ke satu arah dan berceloteh, "Lihat, hewan itulah yang disebut trenggiling. Kulit sepanjang tubuhnya beruas-ruas dan amat keras. Tak hanya itu, saat hidupnya terancam, trenggiling akan menggulung tubuhnya hingga tampak seperti bola. Taring para pemangsa yang menggigit bola itu pasti bakal ngilu luar binasa, haha!"


Hanya Nirya yang tertawa mendengar kelakar Dapu Dapu itu. Sebaliknya, Dhaka mencoba mengingat setiap keterangan tentang trenggiling itu dan membayangkan apa yang terjadi apabila hewan berkulit tebal itu mempunyai bentuk dan ukuran tubuh sebesar naga.


Selain trenggiling, rombongan Dhaka diperkenalkan pula pada dua hewan khas Akhsar lainnya. Yang pertama adalah kerbau atau sapi hutan yang disebut anoa. Tubuh anoa lebih kecil daripada kerbau atau banteng biasa. Tanduknya yang panjang menjulang dan wajahnya mirip rusa, namun tubuhnya lebih besar daripada rusa jantan dewasa.


Satu hewan lagi adalah babirusa, sejenis **** hutan yang hanya pejantan dewasanya memiliki gigi yang mencuat dari rahang bawahnya dan melengkung, hampir seperti gading gajah. Fungsi gigi lengkung itu sama seperti cula pada badak, yaitu sebagai senjata untuk membela diri dari pemangsa atau bertarung antar sesama pejantan.


Dapu Dapu bicara terus sambil tertawa kecil. "Coba bayangkan, bagaimana jika ada siluman gabungan anoa dan babirusa yang bakal kalian temui?"


"Yah, selama kami tak harus melawan mereka semua, kami pasti akan menemui para insan unik di Watas dengan senang hati," ujar Arumi.


"Itu tergantung sikap dan tingkah laku kalian di Watas nanti. Pokoknya, kalau ingin melintasi Watas dengan damai, ikuti saja petunjuk Dapu Dapu." Anak laki-laki itu menepuk-nepuk dadanya. Namun Dapu Dapu menepuk terlalu keras sehingga ia batuk-batuk sendiri.


Semua polah-tingkah Dapu-Dapu itu membuat Dhaka cukup tergelitik. Namun pikiran si komodorai tua masih berkutat pada Vrithra, sang naga-trenggiling. Ia mencoba mereka-reka bentuk tubuh Vrithra, serangan halilintarnya yang mungkin tak jauh beda dari Sthira, serta cara-cara yang bisa dicoba untuk meredam serangan musuh itu.


Namun saat memikirkan cara menembus pertahanan kulit tebal, apalagi bila Vrithra bisa bergelung seperti trenggiling, benak Dhaka masih menemui jalan buntu. Jadi Dhaka akan mencoba membahasnya bersama Sthira atau Arumi sepanjang perjalanan ini.

__ADS_1


Sayangnya, sebelum pembahasan itu membuahkan hasil, Dapu Dapu terlanjur berkata, "Nah, kita sudah tiba di pintu gerbang menuju Negeri Watas. Berhati-hatilah melangkah, dan bukalah mata lebar-lebar sepanjang waktu."


Referensi Gambar untuk konsep monster Vrithra, si naga-trenggiling adalah gambar trenggiling. Sumber gambar: Situs Suara Nusantara.


__ADS_2