
Dalam kegelapan, di bawah langit penuh awan, halilintar sambut-menyambut, menyerukan sorak kemenangan.
Namun derai hujan deras bagai air mata yang terus tercurah, menangisi pedihnya akhir perjalanan dan besarnya segala pengorbanan.
Menang pertempuran, tapi kalah dalam peperangan. Itulah yang hampir pasti terjadi.
Ya, Nirya lebih baik menyambut kematian bersama sang kekasih hati daripada berusaha lari pergi. Karena ia tahu, ujung pelarian itu adalah hidup yang hampa tanpa makna, dirundung kesepian dan disiksa rasa bersalah karena hanya mendatangkan bencana, bukan perdamaian.
Saat letusan pembuka Gunung Dantonu menyapa, Nirya justru sedang berjalan mendekati kawah. Spontan gadis itu berseru pada pria yang berdiri paling dekat dengan lubang kawah itu, "Sthira, awas!"
Pria yang dipanggil oleh Nirya itu hendak berbalik untuk lari. Namun tiba-tiba Shtira menegadah, seakan melihat sesuatu di puncak letusan itu.
Saat letusan reda, benda yang ternyata adalah sebuah gada-tombak bermata dua itu jatuh, terjun bebas kembali ke dalam lubang. Namun, tiba-tiba senjata itu melayang seperti disihir. Arah jatuhnya berubah dari ke lubang kawah menjadi ke orang yang telah menumbangkan Vrithra.
Langkah kaki Nirya terhenti. Tampak Sthira mengulurkan satu lengannya ke atas. Dengan mulus ia menangkap gada-tombak itu dan dipegangnya erat-erat.
Yang terdengar berikutnya adalah seruan Taksaka, "Lepaskan, Sthira! Itu Vajra, senjata dewa penampung roh Vrithra! Lemparkan senjata itu ke dalam kawah, jangan biarkan Vrithra bangkit kembali dan membawa prahara!"
Sthira malah menggeleng. "Tidak, Rai. Coba pikir, kalaupun aku melemparkan Vajra ke dalam kawah, letusan susulan pasti akan memuntahkannya kembali ke udara terbuka. Biar aku, pengguna petir saja yang jadi pemilik baru senjata dewa ini. Lagipula, Vajra adalah pengganti yang jauh lebih hebat bagi Gharma, mandauku yang telah hilang."
"Ya, tapi...!" Sebelum Taksaka bisa protes lebih jauh, tiba-tiba Sthira kejang-kejang. Petir menjalari seluruh tubuh pria muda asal Kalingga itu.
Tak hanya itu, wujud Vajra berubah menjadi selarik petir. Lalu petir berbentuk gada-tombak bermata dua itu menghunjam dan merasuki tubuh Sthira, majikan barunya. Sebentuk rajah hitam muncul di belahan tengah dada bidang Sthira.
Sebagai mantan juru kunci Dantonu, Taksaka seketika mengenali rajah itu. "Astaga! Itu aksara gaib kunci Gunung Dantonu! Gunung ini akan benar-benar meletus setiap saat, kita harus lari sekarang!"
Nirya juga berbalik lari bersama Arumi, Taksaka dan Dhaka. Tak ada waktu menangani Vajra sekarang, apalagi senjata itu telah seakan merasuki dan menyatu dengan tubuh Sthira. Keselamatan jiwa semua insan di kaldera inilah yang utama kini.
Tapi, bagaimana mereka bisa melarikan diri dengan selamat dari letusan-letusan susulan yang bakal jauh lebih dahsyat dariapda yang pertama tadi?
Seakan menjawab pertanyaan Nirya itu, Dapu Dapu muncul di celah dinding kaldera dan berseru, "Pasukan elang-kuda Watas datang! Kita selamat!"
Nirya menoleh ke langit, ke arah yang ditunjuk Dapu Dapu itu. Benar, sekelompok elang-kuda besar tampak terbang mendekat. Yang memimpin di depan mereka tak lain adalah si siluman manusia-cendrawasih, Canirwa Krana.
Pasukan penyelamat datang karena hujan telah berhenti beberapa lama, hingga aman untuk penerbangan.
__ADS_1
"Lihat, Sthira! Kita selamat...!" Nirya menoleh dan bergegas menghampiri kekasihnya. Namun yang dilihatnya adalah tubuh Sthira yang tertelungkup, bergeming di tanah.
"Sthiraa!" Tanpa pikir panjang, Nirya menjatuhkan dirinya di sisi Sthira dan membalik tubuh pria muda itu. Melihat dada Sthira masih naik-turun, Nirya menghela napas lega.
"Huh, pasti dia pura-pura pingsan lagi," ujar Dapu Dapu dengan nada sinis. "Saran Dapu Dapu, tinggalkan saja si Sthira itu di sini."
Nirya malah menghardik, "Apa-apaan kau ini? Sthira telah membantu kita dengan menumbangkan Vrithra! Lagipula ia masih hidup, mustahil aku akan meninggalkannya untuk mati begitu saja di sini!"
"Terserah. Dapu Dapu hanya memberi saran saja. Tapi ingat, sudah dua kali Sthira sadar tapi pura-pura pingsan. Dan di kali kedua, ia baru mengambil kesempatan terbaik yang tercipta lewat pengerobanan keluarga Dhaka. Sthira benar-benar tak bisa dipercaya. Hati-hatilah, Nirya. Sthiralah pembawa bencana yang sesungguhnya."
Sebelum Nirya bisa protes lagi, Dapu Dapu telah memanjat dan menunggangi seekor elang-kuda dan terbang pergi. Nirya mendengus kesal.
Satu ekor elang-kuda menghampiri Nirya. Namun Nirya menggeleng dan menyingkir sambil berkata, "Tolong bawa orang ini dulu. Ia masih hidup." Ia menunjuk ke arah Sthira.
Secara naluriah, si elang-kuda mengangkat tubuh Sthira dan terbang sambil menggenggam erat tubuh itu dengan cakar-cakar di kedua kaki depannya. Elang-kuda kedua mendarat di sisi Nirya. Kali ini Nirya baru menungganggi hewan ajaib itu.
Baru sesaat membubung di udara, Nirya menoleh ke arah kaldera. Tampak tubuh-tubuh kaku Dibu Anam, Tikha dan Rambu terbaring, berjajar rapi dekat mulut kawah. Dada Nirya terasa sesak, ternyata Dhaka bisa amat tega membuat letusan gunung ini membakar raga sekaligus mengantar jiwa-jiwa para komodorai itu ke akhirat.
Andai Sthira tewas tadi, Nirya pasti akan minta jenazah kekasihnya itu dibawa untuk dikebumikan di tempat yang lebih aman, bahkan bila memungkinkan, di Kalingga.
Nirya membatin, Kalau kau bukan seperti kecurigaan Dapu Dapu tadi, cepatlah sadar kembali. Kita pasti akan ke Kalingga, dan kaulah andalan utama untuk memandu kami semua.
Entah mana yang lebih dahsyat, letusan Gunung Dantonu atau Tubar'e. Yang pasti, segala macam benda, kecil atau besar yang dimuntahkan kedua letusan itulah yang membawa kehancuran besar-besaran di daerah-daerah sekitar pusat bencana.
Letusan Tubar'e telah meluluhlantakkan Kota Dabongsang yang terletak di kaki gunung.
Kota Wulantra yang berjarak cukup jauh dari Gunung Megaswari juga luluh-lantak akibat bencana gunung meletus.
Sedangkan kehancuran akibat letusan Dantonu justru menimpa Negeri Watas yang dekat dan kota yang agak jauh dari Dantonu, yaitu Kaunawa.
__ADS_1
Sesuai perkiraan Dapu Dapu, kehancuran di Kaunawa, kota perdagangan terpenting di Kerajaan Akhsar itu benar-benar melumpuhkan perekonomian seluruh negeri. Selama ini para saudagar berdagang sembunyi-sembunyi di Kaunawa, karena situasi perang berkepanjangan tak memungkinkan perdagangan antar negeri. Hancurnya Kaunawa membuat perdagangan gelap terhenti sama sekali. Ini akan memaksa Hantas, Raja Akhsar melepaskan wilayah jajahannya di Bethara dan mengupayakan perdamaian, pengakhiran perang di Antapada.
Sebagai seorang gadis muda yang awam dalam politik, Nirya tak berpikir terlalu jauh mengenai dampak pelemahan Akhsar akibat bencana hari ini. Saat ini, ia hanya merasa sebuah beban maha berat terangkat dari pikirannya, lalu digantikan beban maha berat yang baru.
Di satu sisi, Nirya amat bersyukur dirinya dan teman-teman seperjuangannya, terutama Sthira selamat dari letusan Gunung Dantonu. Namun peringatan keras Dapu Dapu terus terngiang dalam benaknya.
Benarkah Sthira tak bisa dipercaya?
Apakah seluruh misi pembawa rentetan bencana ini bukan semata-mata untuk memaksa semua negeri di Antapada menghentikan perang berkepanjangan?
Apakah Nirya, Arumi, Dhaka dan banyak insan lainnya hanya diperalat oleh Sthira, sehingga mereka yang telah kehilangan segalanya punya harapan untuk diperjuangkan? Atau seperti Dhaka, yang karena perjuangan ini malah kehilangan segala-galanya?
Jangan-jangan, perasaan Sthira pada Nirya hanya bagian dari sandiwara belaka?
Kalau begitu, selama ini Nirya hanyalah salah seorang pendosa terparah di dunia. Ia telah meninggalkan jejak kehancuran dan kematian. Namun jejak itu malah memandu jalan menuju terjadinya perang baru, serta kehancuran dan kematian yang lebih banyak dan lebih parah daripada perang yang seharusnya mereka akhiri ini.
Walau jiwanya amat tersiksa kini, akal Nirya masih cukup sehat untuk mengenang saat-saat perpisahan dengan Dapu Dapu, Rai Taksaka, Rai Savitri, Canirwa Krana dan para warga Watas lainnya.
"Kami akan mengungsi sementara waktu, hidup berpindah-pindah dari hutan ke hutan. Setelah keadaan cukup aman, baru kami akan kembali ke Lembah Watas di kaki Gunung Dantonu, membangun negeri kami kembali."
Ada perbedaan antara ujaran Rai Taksaka itu dengan rencana Wiranata, Raja Rainusa dalam pengasingan. Wiranata sama sekali tak berminat membangun kembali Dabongsang. Ia malah memilih sebuah desa sebagai cikal-bakal basis perlawanannya untuk merebut kembali takhta. Andai Wiranata memilih diam di Dabongsang, cepat atau lambat pasukan si raja boneka, Bakangga akan datang dan kembali membuat bekas kota para penjahat itu rata dengan tanah.
Namun, persamaan yang nyata dalam rencana kedua pemimpin itu adalah mereka berdua masih memiliki harapan. Selama hayat masih dikandung badan, negeri yang hancur dapat dan akan dipulihkan, bahkan lebih makmur dan jaya daripada sediakala.
Setelah direnungkan kembali lebih matang, barulah Nirya, Arumi dan Dhaka menyadari satu hal teramat penting. Kebanyakan juru kunci dan penjaga gunung berapi yang mereka hadapi selama ini justru adalah pembawa bencana pula.
Sabailuha membuat Gunung Ratauka meletus karena dirinya tengah terdesak. Padahal kalau ia lari saja, Armada Jayandra takkan hancur dan malah membawa prahara di Swarnara.
Kamaja mempengaruhi Laksamana Begarwana dan bisa saja Arumi pula. Begarwana mungkin akan menjadi sosok ambisius. Dengan dukungan Kamaja ia akan memberontak, merebut tampuk pemerintahan tertinggi di Jayandra, beralas timbunan mayat menggunung.
Beto'dila bekerjasama dengan Dabongsang Bersaudara mengelola sebuah kota sumber teror dan kekacauan, ancaman nyata bagi Antapada secara keseluruhan.
Sedangkan Cayari Aronawa, Cayari Yumano dan Vrithra punya cara kerja yang mirip. Mereka sama-sama menguasai satu negeri sebagai basis untuk nantinya menebarkan kekacauan, melemahkan dan menguasai seluruh Antapada.
Andai rencana mereka semua itu berjalan lancar, akan lebih banyak korban berjatuhan dan akan terjadi kehancuran yang lebih parah di seluruh Antapada. Bahkan pemimpin-pemimpin seperti Wiranata dan Rai Taksakapun akan kehilangan harapan.
"Karena semua itulah, tak ada jalan bagi kita selain menuntaskan misi ini," ujar Arumi sambil mengakhiri paparannya. "Ingatlah amanat Mpu Galahasin. Kita tak boleh gagal di ujung perjalanan ini. Andai itu terjadi, terkutuklah siapapun yang telah memulainya."
__ADS_1
Gambar Referensi untuk Sthira Tarunaga, Fantasy Dayak Warrior by Admira Wijaya
Sumber DeviantART dan Tantraz Comics Bali