
Habo lantas maju sambil melayangkan tinju pertama dan menghardik, “Biarkan kuhukum kau mewakili Tuan Paju...!”
Sebelum Habo sempat menyelesaikan kata-katanya, tinju Sthira yang sarat tenaga dalam telah bersarang di dagunya. Si botak terpental setengah melayang, lalu jatuh dengan keras di lantai kedai dan tidak bergerak lagi. Sthira hanya berdiri saja di tempat, tanpa bicara sedikitpun. Matanya menyorot tajam, siap menyambut lawan berikutnya yang kini maju.
“Aku, Rofi membalaskan dendam Habo!” Tubuh Rofi jelas kalah kekar dari Habo, namun pria bermuka tirus itu melangkah dan bergerak jauh lebih cepat dari rekannya. Seperti lebah, ia menyengatkan beberapa pukulan di tubuh Sthira, dan tak satupun tinju Sthira mengenainya.
“Ha! Habislah kau!” Rofi melayangkan satu tinju pamungkasnya yang berkekuatan penuh, mengarah ke rusuk untuk menumbangkan lawan.
Namun tanpa diduga, Sthira malah menangkap pergelangan tangan Rofi di tengah jalan dan memuntirnya, mengunci pergerakan Rofi sepenuhnya.
“Pukulan-pukulan kecilmu hanya tepukan saja buatku! Yang namanya pukulan besar itu yang seperti ini!” Satu tinju Sthira sarat tenaga dalam berkekuatan penuh menghantam ulu hati Rofi dengan amat telak, lawan sampai terlonjak. Lalu Rofi dilepas dan dibiarkan mencium lantai, pingsan seketika.
Sthira melangkah mundur sambil berputar penuh kewaspadaan. Di tengah kumpulan insan yang berbuat curang sesering mereka makan ini, maut menguntit setiap saat.
“Heh, gilkiranku bersenang-senang!” Akhirnya si algojo, Paju Gulak maju. Ia mengepal-ngepalkan tinjunya yang berukuran lebih besar dari tinju Sthira. Langkah-langkah kakinyapun sengaja dihentakkan, membuat lantai bergetar serasa ada gempa.
Lalu, tanpa peringatan, Paju menyeruak maju. Sthira yang sudah siaga melompat tinggi-tinggi dan bersalto melewati kepala si algojo, lalu mencangkulkan kakinya sekuat tenaga. Namun ternyata Paju amat cekatan. Ia menangkap pergelangan kaki Sthira di udara, lalu membanting tubuh pemuda itu di lantai. Imbas yang amat keras di punggung membuat Shtira berteriak kesakitan.
“Aku lebih kuat darimu, bung!” Tak berhenti di sana, Paju melompat dan hendak menimpa Sthira dengan seluruh bobot tubuhnya. Menyadari Paju memang benar, Sthira cepat-cepat berguling ke samping dan berhasil menghindari benturan. Namun imbas benturan tubuh yang nyaris seberat sapi itu lagi-lagi bagai gempa, menambah cedera Sthira.
Sambil menahan nyeri, Sthira bangkit berdiri. Namun, tubuh besar Paju yang masih terbaring di lantai membuat Sthira mengerutkan dahi.
Apalagi ditambah ocehan si tambun, “Ayo, serang aku sekarang. Dari manapun boleh.”
Ditantang dengan cara seaneh itu, Sthira malah bergerak lamban dan matanya menyorot waspada.
__ADS_1
Baru beberapa saat kemudian, Sthira maju. Ia hendak menghantam sasaran yang bisa jadi adalah titik kelemahan tiap manusia, yaitu ubun-ubun kepala Paju.
“Heh, terjebak kau!” Tanpa terduga, tubuh Paju berputar seperti gasing. Kedua tangan gemuknya terulur lurus, hendak menangkap Sthira. Paju bakal “melumat” Sthira dengan segenap kekuatan tubuhnya bagai raksasa melawan manusia.
“Pikir lagi!” Sebelum tangan Paju meraihnya, kaki Sthira seakan mendarat di perut Paju yang bagai bantal raksasa. Lalu, Sthira menggunakan daya injakan perut itu dan melompat lagi, melambung sambil bersalto cukup tinggi. Lalu ia terjun sambil melancarkan tendangan petir. Lututnya menghantam tepat di pipi Paju, teriring suara tulang dan gigi patah.
Sthira meloncat untuk menjauh dari lawan. Ia baru berhenti bergerak saat mata-kepalanya memastikan Paju Gulak tetap terkapar di tempatnya, tak bergerak lagi.
Namun, sebelum Sthira dapat mengatur napas, terdengar teriakan-teriakan marah.
“Paju Gulak roboh!”
“Ayo semua, balaskan dendam Paju Gulak!”
“Beri anak ingusan itu pelajaran!”
“Mau curang? Aku juga bisa!” Mengerahkan tenaga dalam terkuatnya, Sthira menjatuhkan dirinya sambil meninju lantai kedai dengan amat keras. Seketika itu pula, sebentuk Gelombang Kejut Halilintar menebar ke sekeliling Sthira. Imbas benturan dan daya petir merambat di permukaan tanah, teriring suara dentum bagai ledakan.
Puluhan orang tersambar gelombang itu, entah terpental atau beridir di tempat sambil kejang-kejang, lalu roboh. Sisanya yang hanya terkena imbas terlemah karena berdiri agak jauh dari pusat gelombang kembali menyerbu maju.
Beslum sempat menyiapkan jurus selanjutnya, Sthira terpaksa meladeni jual-beli serangan. Tentunya, ia berusaha “membeli” sesedikit mungkin dan “menjual” sebanyak mungkin. Dalam hitungan menit, tinggal Sthira sendirian yang berdiri di tengah ruang kedai yang porak-poranda. Sedangkan semua orang yang melawannya terkapar di lantai, ada beberapa yang pingsan, dan sisanya mengerang kesakitan, cedera mereka terlalu parah untuk bangkit berdiri lagi.
Tanpa buang waktu, Sthira merebut kantung berisi uang taruhan dari tangan si wanita penghibur yang bertindak sebagai bandar itu. Wanita yang tak bisa disebut cantik itu berdiri saja dengan pasrah, tubuh montok andalannya gemetaran.
Nah, sekarang waktunya memeras paksa informasi dari si Paju Gulak. Dengan pikiran itu, Sthira berjalan hampir santai untuk menanyai si tambun “orang dekat” Dabongsang itu.
Tiba-tiba, sesosok siluman manusia-kadal bertubuh tinggi-besar menghadang di depan Sthira dengan tombak di tangan.
__ADS_1
Spontan Sthira menegur, “Ada apa ini? Apa kau ingin menantangku pula?”
Si kadal menjawab, “Ikut Dhaka keluar. Kita tarung tangan kosong.”
“Aku menolak. Aku ada urusan dengan si tambun itu.” Sthira menunjuk ke arah Paju. “Kita bertarung di sini saja supaya cepat selesai, sebelum dia siuman.”
“Anak muda lugu.” Dhaka menggeleng. “Paju Gulak jawara terlemah Dabongsang. Ada empat jawara lebih kuat dari dia, Dhaka termasuk mereka!” Ia menepuk dadanya sendiri yang berkulit tebal, berwarna serba kelabu. Nampaknya memang siluman kadal-komodo ini bagai mengenakan pakaian zirah sepanjang waktu.
Sthira terperanjat, ternyata Dhaka juga jawara anak buah Dabongsang. “Huh! Malah aku punya lebih banyak alasan untuk melumpuhkanmu di sini dan menanyakan keberadaan Anak Agung Wiranata padamu!”
Dhaka amat terkejut. “Apa katamu? Kau cari Wiranata? Ikut Dhaka, sekarang!” Si siluman komdo lantas berbalik dan lari menuju pintu keluar kedai.
“Berhenti kau, pengecut!” Sthira spontan mengejar Dhaka. Ia lebih baik melumpuhkan satu lagi jawara Dabongsang ini dan mengorek keterangan darinya daripada menunggu Paju Gulak siuman.
Repotnya, Dhaka malah terus berlari menyusuri jalanan. Satu ketika, ia menoleh. Setelah memastikan Sthira masih mengejarnya, Dhaka tiba-tiba berbelok ke sebuah gang.
Sthira tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia berpikir, karena tadi Dhaka mengaku dirinya salah seorang jawara andalan Dabongsang, bukan tak mungkin ia adalah jawara yang datang setelah menerima laporan dari para penjahat di kedai. Sangat mungkin Dhaka telah menyiapkan jebakan atau serangan mendadak di lorong itu, mengingat ia sangat bersikeras memancing Sthira keluar dari kedai tadi.
Lalu, Sthira melihat Dhaka berbalik, berdiri dalam lorong itu dan berseru, “Cepat, anak muda! Masuk sini! Kita bicara!”
Sulit sekali menebak ekspresi wajah komodo dari Ras Komodorai itu. Namun, nada suara Dhaka terkesan serius dan tulus layaknya seorang pejuang tua yang bijaksana. Bahkan gerak-geriknyapun tak terkesan mengumbar kesangaran dan keberingasan.
Keringat dingin Sthira menetes. Siapkah ia menghadapi serangan mendadak atau kejutanb apapun di lorong itu, ketimbang dikeroyok setiap saat oleh massa, yang pasti semuanya adalah anak buah Geng Dabongsang?
Lagipula, kunci penentu semua ini adalah, siapakah Dhaka si komodorai ini sebenarnya?
Ilustrasi: Dhaka Komodorai by Andry Chang
__ADS_1