EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
MANTIKEI Bagian 4


__ADS_3


Nirya hanya bisa terduduk dan bersimpuh menyaksikan akhir proses yang mengenaskan ini. Kedua belah pipinya telah basah kuyup oleh air mata, hatinya terasa tercabik-cabik tanpa sisa, sirna bersama sirnanya sang pujaan.


Melihat sikap Nirya itu, Arumi cepat-cepat membantu si gadis Swarnara itu berdiri. Saat tatapan Nirya tertuju ke wajah Arumi, Nirya terkesiap melihat Arumi juga menitikkan air mata.


"Aku turut berduka untukmu, Nirya. Kekasihmu sekaligus satu rekan seperjuangan kita telah gugur, termakan ambisi dewa gila," ujar Arumi, tidak lagi berusaha untuk kelihatan tegar. "Tapi ingat, tinggal kita yang bisa menghentikan Vajra kini."


"Dhaka setuju," ujar si komodorai sambil memegangi sisi perutnya yang masih berdarah. "Anggap saja Vajra gunung api terakhir yang kita orang daki. Bedanya, kali ini kita orang harus cegah 'gunung api' itu meletus, karena letusannya akan berentetan terus-menerus dan imbasnya bakal hancurkan seluruh Antapada."


"Kalian benar," tanggap Nirya sambil menyeka air matanya. "Walaupun agak melenceng dari tujuan Sthira, kita masih bisa melanjutkan perjuangannya dengan mewujudkan tujuan awal kita yang murni, yaitu perdamaian di seluruh Antapada. Cukuplah sudah segala perang dan bencana ini."


Nirya lantas menatap langsung ke mata Vajra dan berseru lantang, "Kau dengar, Vajra? Itulah pernyataan kehendak Sang Mahesa dan Sang Srisari, yang jauh lebih berkuasa daripada dewa manapun juga di Vanapada! Mereka menempatkan kami di sini untuk menimpakan hukuman abadi padamu!"


Vajra malah menanggapi Nirya dengan tawa membahana. "Hahaha, dewa-dewi macam apa itu? Kalian ini hanya manusia biasa! Sesakti apapun kalian, kalian bukan tandingan dewa terendah sekalipun!"


Arumi melancarkan serangan silat lidahnya lagi, "Wah, rupanya kau lupa, Vajra. Saat kau masih jadi Vrithra dalam wujud naga-trenggiling, kami menumbangkanmu dengan satu kali bantuan aksara suci milik Dhaka saja. Tadi Sthira tumbang oleh gabungan kekuatan kami bertiga ditambah tiga aksara suci, jadi kau akan mengalami nasib yang sama dengannya!"


"Kini aku, Sthira dan Vajra adalah satu.  Kalian manusia tahu apa! Biar kutunjukkan kekuatan yang melebihi dewa pada kalian. Rasakan ini, Naga Halilintar Penumbang Nirwana!"


Dengan raga manusia, Vajra membubung terbang dengan kecepatan melebihi wujud naga-trenggiling Vrithra. Lantas ia menghantamkan tinjunya yang bermuatan petir bertenaga penuh di langit-langit istana. Tanpa ampun, langit-langit kayu dan bahkan atap genting tanah liat Iistana jebol, serpihan-serpihannya berjatuhan dari lubang amat besar di atap itu.


Dhaka berseru, "Semua, awas!"

__ADS_1


Peringatan si komodorai amat beralasan, karena saat berikutnya Vajra menembakkan selarik besar halilintar berbentuk ular naga ke langit. Dari langit gelap penuh awan hitam hujan petir teramat deras tercurah, bukan hujan air biasa. Gilanya, semua curahan petir itu jatuh ke satu tempat, yaitu Istana Mantikei Labih.


Mati-matian, Nirya berusaha menghindar dengan jurus gerak cepat Bayangan Badai. Namun curah hujan petir yang terlalu rapat dan tanpa henti membuat Nirya makin pontang-panting. Puncaknya, tiga larik petir telah menyambar kaki, punggung dan bahu gadis itu. Nirya berteriak kesakitan, namun ia menjatuhka diri dan sempat berguling masuk ke kolong panggung di bawah singgasana.


Baru dalam hitungan detik, lantai kayu yang seharusnya melindungi Nirya pecah berantakan. Nirya lebih terkesiap lagi karena jenazah Triawarman yang hangus jatuh dari panggung itu dan menimpa dirinya. Refleks, Nirya mendorong jenazah itu ke atas. Lalu petir menyambar jenazah itu sekali lagi dan Nirya berguling menghindar.


Mendiang Raja Kalingga telah melindungi seseorang untuk terakhir kalinya.


Namun kali ini Nirya hanya bisa mengandalkan prana pelindung tubuhnya yang telah menipis akibat tiga kali sambaran petir tadi. Beberapa larik curahan petir melaju ke arahnya.


Tiba-tiba, teriring satu teriakan keras Dhaka pasang badan dan menghalau sambaran-sambaran itu dengan putaran cepat tombaknya. Nirya terhindar dari serangan fatal, namun Dhakalah yang tersambar telak.


Hujan petir reda seketika. Nirya bangkit sambil memegangi luka berdarah di bahunya. Namun ia terkesiap melihat darah mengucur dari perut bawah Dhaka.


Tangan Dhaka menyentuh perut bawahnya, lalu bergerak ke atas. Mata si komodorai lantas terbelalak melihat telapak tangannya yang berjari empat dan berkulit kelabu berganti warna, berlumuran cairan merah kehitaman dari tubuhnya sendiri. Tubuh Dhaka limbung dan hendak roboh, namun dengan sigap Nirya menangkap dan memapahnya.


Niat baik dan tindakan Nirya itu malah berbuah teguran dari Dhaka. "Tak usah pedulikan Dhaka! Balas Vajra!"


Nirya menunjuk ke depannay sebagai jawaban. "Lihat, Arumi sudah melakukannya. Aku masih harus menghimpun tenaga lagi. Pulihkanlah lukamu dulu, tetua!"


Si komodorai sepuh mengangguk lemah.


Nirya lantas maju ke arah daerah bentrokan Arumi dan Vajra sambil terus menghimpun tenaga dalam. Segala luka dan nyeri yang ia derita kini sungguh tak tertahankan. Nirya baru saja memilih memulihkan diri dahulu seperti Dhaka. Namun ia memilih menghimpun kekuatan pamungkas dengan asupan tambahan dari Aksara Gaib Angin.

__ADS_1


Seperti Dhaka telah menolong Nirya, kini Nirya harus siaga dan membantu Arumi kapan saja. Tentunya ia harus melihat situasinya terlebih dahulu walau sesaat sebelum bertindak.


Dengan semangat berkobar-kobar, Arumi menyabet-nyabetkan goloknya sambil berlari, melompat dan berputar. Larik-larik api yang tak terhitung banyaknya melesat kesana-kemari, seolah tengah mengurung Vajra.


Setiap larik api, baik yang menyambar sasaran atau tidak meliuk dan berbalik lagi ke arah sasaran yang sama. Dengan demikian, tak setitikpun energi pamungkas terbuang sia-sia. Arumilah yang pegang kendali.


Namun Vajra juga tak kehabisan akal. "Heh, inikah yang kaunamakan jurus pamungkas, Segenap Murka Hangus Semesta? Kuterima semuanya!"


Sang dewa berdiri saja di tempat. Tiga pasang sayap hitamnya bergulung, seakan membungkus tubuh Vajra hingga ia tampak seperti kepompong ulat sutera. Tanpa ampun, larik-larik api Arumi menghantami "kepompong" itu. Tak lama kemudian, tampak retakan-retakan merah yang menyebar di sekujur permukaan kepompong pelindung itu. Akhirnya, seperti kulit telur, kepompong hitam pecah, menyerpih dan akhirnya buyar.


Sisa larik api Arumi lantas menghantami tubuh lawan. Tampak darah merah Vajra memercik kesana-kemari. Akhirnya semua larik api Segenap Murka Hangus Semesta mengenai sasaran. Jurus pamungkas rampung, meninggalkan Vajra yang tetap berdiri di lantai istana yang sudah jebol berantakan sampai ke tanah.


Kehilangan sayap-sayap hitamnya, Vajra bergeming. Apakah si biang bencana ini akhirnya meregang nyawa?


Belajar dari pengalaman, Nirya dan Arumi malah menjauh, menjaga jarak dari Vajra. Nirya bahkan tak jadi melancarkan serangan susulan untuk menghabisi lawan.


Benar saja, tiba-tiba Vajra menyeringai amat lebar. "Wah, wah, gadis-gadis bocah ini makin pandai, ya. Tapi itu percuma. Jurus Naga Halilintar Penumbang Nirwana tadi hanya pembuka saja. Lagipula, agar dapat menguasai negeri ini aku terpaksa harus menghancurkan pusatnya dulu, yaitu Kota Hamentane."


"Gila kau, Vajra!" bentak Nirya sekeras suara. "Sudah pasti tak ada seorangpun di negeri ini, di Antapada bahkan di seluruh Vanapada yang sudi bertekuk lutut padamu!"


"Kalau begitu, semua insan di dunia ini, termasuk kalian harus takut padaku!" bentak Vajra. "Pamungkas Vajra, Darat Berguncang, Langit Gempar akan meruntuhkan segala nyali, bahkan nyawa kalian semua! Biar seluruh dunia gentar pada Vajra Maha Digdaya!"


Gambar referensi untuk Dewa Indra, raja para dewa dan pemilik sejati senjata Vajra.

__ADS_1


Sumber: Situs Mantra Hindu Bali


__ADS_2