EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
HAMENTANE Bagian 4


__ADS_3


Istana Mantikei Labih di Hamentane bisa jadi adalah salah satu bangunan paling menakjubkan di seantero Antapada, setidaknya bagi Nirya Panigara.


Nirya sudah seling melihat istana Kerajaan Swarnara di Ringidatu. Bentuknya adalah rumah gadang terbesar dengan atap berbentuk cekung hingga lima susun. Tepian dinding dan atapnya berlapis emas, sesuai ciri khas Swarnara sebagai penghasil emas terbanyak di Antapada.


Nirya juga pernah satu kali memasuki kompleks keraton di Wulantra, ibukota Jayandra. Alih-alih bangunan setinggi-tingginya hingga seakan mencakar langit, struktur Keraton Wulantra justru terdiri dari bangunan-bangunan dan pavilyun-pavilyun satu tingkat, serta satu menara yang menjulang tinggi di bangunan tengah.


Cakupan kompleks Keraton Wulantra jauh lebih luas daripada Istana Ringidatu. Struktur seperti ini memberikan keuntungan tersendiri, yaitu pertahanan yang lebih tangguh bila keraton diserang pasukan musuh. Musuh akan kebingungan seolah terjebak dalam labirin.


Mantikei Labih bisa dianggap sebagai kombinasi bangunan tinggi ala Swarnara dan mencakup daerah yang amat luas seperti keraton di Jayandra.


Atap tiga susun yang menaungi setiap tingkat istana ini membuat Mantikei tampak lebih besar dan lebih luas daripada Istana Ringidatu dari segi bangunan. Walau tak berlapis emas dan terkesan agak suram, Istana Mantikei menyimpan keagungan dan sejarah tersendiri.


"Kau tahu, Nirya," Sthira meneruskan keterangannya. "Mungkin inilah satu-satunya istana di Jazirah Antapada yang belum pernah dimasuki, apalagi dikuasai pasukan negeri asing."


Ingin Nirya terlonjak takjub, namun seluruh tubuh dan syarafnya terasa terlalu tegang untuk itu. Sambil terus jalan, tatapannya hanya tertuju pada corak-corak warna-warni seperti gunung-gunung berlereng pelangi yang menghiasi semua kayu penopang atap di sana.


Tambahan pula, sedikitnya enam orang prajurit bersenjata lengkap berdiri siaga di tiap sudut dan lorong istana. Terlatih dengan disiplin tinggi, tak satupun dari mereka yang menoleh ke rombongan Sthira. Mereka hanya menatap lurus, berdiri tegak dengan senjata di tangan.


Sthira tak bicara lagi, karena kini mereka tiba di sebuah pintu besar bercorak warna-warni di tiap tepiannya.


Si komandan tampak membisiki seorang pria yang lalu masuk lewat pintu besar itu. Suara-suara seruan sayup-sayup terdengar dari dalam sana.


Pintu besar kembali terbuka. Si pria melambaikan tangan pada si komandan. Si komandan lantas berjalan masuk bersama para pengawal dan rombongan.


Nirya menoleh ke kiri dan kanan. Tampak orang-orang yang mengenakan baju-jubah panjang dnegan corak dan motif warna-warni khas Kalingga duduk berjajar di atas panggung-panggung di kiri-kanan balairung. Nirya berasumsi, keenam belas orang itu nampaknya adalah pejabat-pejabat tinggi setara menteri dan para tetua, penasihat negeri.


Wajah-wajah yang kebanyakan berkeriput itu menatap tajam pada rombongan Nirya dengan dahi berkerut. Karena itulah Nirya menangkap kesan entah sebagai tahanan atau tamu negara, kehadiran orang-orang asing, apalagi dari negeri-negeri yang sekarang berperang dengan Kalingga tak disukai di istana ini.


Mata Nirya lantas tertuju pada dua figur terpenting yang menempati singgasana di panggung tertinggi balairung ini. Pria dan wanita itu sama-sama mengenakan pakaian warna-warni terindah, juga mahkota tinggi penuh warna, hiasan dan permata.


Kharisma mulia layaknya pemimpin besar suatu negeri seakan menekan Nirya, membuat gadis itu bersama rekan-rekannya berlutut penuh hormat tanpa diminta.

__ADS_1


Sang Raja Kalingga, Triawarman Taladjan mengelus janggut hijaunya seraya berkata, "Kalian orang-orang yang ditangkap karena berencana menyulut kekacauan di Hamentane. Namun kalian berdalih hendak menghadap kami saja. Untuk apa? Jelaskanlah pada kami."


Sambil terus tertunduk Sthira menyahut, "Nama hamba Sthira Tarunaga, mantan Perwira Kalingga. Ini rekan-rekan seperjuangan hamba, Nirya dari Swarnara, Arumi dari Jayandra dan Dhaka dari Rainusa."


"Lalu apa yang ingin kalian sampaikan?"


"Kami adalah para pendekar yang bertindak secara swadaya, mengemban misi mulia demi menghentikan perang di Antapada."


"Menghentikan perang?" Triawarman hendak mencela dengan berkata, "Memangnya kalian bisa?" Namun yang ia katakan malah, "Bagaimana bisa? Bagaimana cara kalian melakukannya?"


Sthira kembali menerangkan, "Sejauh ini, kami telah menantang tujuh juru kunci dan berhasil merebut enam aksara gaib. Bencana letusan gunung api yang berentetan berhasil melemahkan Swarara, Jayandra, Dhuraga dan Akhsar, bahkan menghancurkan Dabongsang, kota para penjahat di wilayah Rainusa."


Suara-suara napas tertahan terdengar. Semua pendengar di balairung terpaku, terdiam seketika saat mendengar keterangan Sthira itu. Mimpipun mereka takkan mengira bencana letusan gunung berapi bisa terjadi berturut-turut, apalagi penyebabnya adalah ulah empat pendekar nekad.


Bahkan Triawarman sendiripun berkata terbata-bata, "M-mengerikan! Untuk apa... Apa tujuan kalian memicu... bencana-bencana itu?"


Sthira mengulum senyum sambil menegadah, menatap lurus ke arah sang raja. "Bukankah amat jelas? Tentu saja untuk mempersembahkan seluruh Antapada bagi Kalingga. Kalingga yang masih kuat harus tampil sebagai pemersatu Antapada, membantu negeri-negeri yang telah dilemahkan agar bangkit kembali. Alhasil, Negara Kesatuan Antapada akan menjadi kekuatan besar yang sebanding dengan Kekaisaran Khor, Kekaisaran Wushu dan negeri-negeri besar lainnya. Hanya itulah satu-satunya jalan."


Selain Nirya, semua orang menahan napas dan lalu kasak-kusuk, menyuarakan keterkejutan bukan kepalang. Kata-kata Sthira itulah yang ditakutkan oleh Arumi dan Dhaka. Namun kini mereka hanya bisa terdiam. Situasi yang mereka hadapi ini memang serba salah, dan inilah puncaknya.


Sejarah akan mencatat Kalingga sebagai negeri pertama sepanjang zaman yang mempersatukan seluruh Antapada.


Anehnya, yang angkat bicara kemudian adalah wanita yang kelihatannya jauh lebih muda dari sang raja yang duduk di sebelahnya. "Mungkin niat kalian itu mulia. Perang di Antapada telah berlangsung terlalu lama. Melemahkan secara drastis negeri-negeri yang berperang akan memaksa mereka mengusahakan perdamaian dan gencatan senjata."


Diam-diam terbersit rasa kagum Nirya terhadap Permaisuri Pirimata Thifala. Walau tak terlalu cantik, uraiannya yang akurat tentang dasar pemikiran Misi Cincin Api mencerminkan wawasan pemikirannya yang amat luas. Sesuai uraian Sthira pada Nirya, justru pesona kecerdasan, bukan kecantikan wanita yang terlahir dengan nama Thifala itulah yang telah memikat hati Triawarman. Sang Raja Kalingga mempersunting putri ratu dari Akhsar itu dan langsung menganugerahkan kedudukan permaisuri padanya.


Pirimatha melanjutkan, "Karena tak ada gunung berapi di Pulau Kalingga, kalian kehabisan akal. Terjadilah pertentangan antara kalian berempat. Lalu ada teman kalian yang terpaksa berkhianat, meminjam tangan prajurit Kalingga untuk menangkap pendukung ide Kalingga mempersatukan Antapada. Namun akhirnya kalian berempatlah yang menghadap kami di sini."


Keringat dingin Nirya bercucuran. Dengan gamblang Pirimatha telah membongkar hampir seluruh rencana mereka, bahkan mengungkapkan hampir seluruh kejadian yang ada. Saat Pirimatha berbisik pada suaminya, Sthira, Arumi dan Dhaka yang lebih pemberani daripada Niryapun tak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda akan angkat bicara, apalagi mendebat sang permaisuri.


Maka, berdasarkan masukan dari Pirimatha, Raja Triawarmanlah yang menyampaikan keputusannya. "Setelah cukup mendengar segalanya, aku percaya niat dan tujuan kalian, kelompok Sthira mulia, demi kebaikan seluruh Antapada. Namun cara kalian mencapai tujuan itulah yang amat kusesalkan. Bahkan, kalaupun membawa bencana beruntun adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian, aku tak akan pernah menjalaninya."


Nirya menelan ludah. Firasatnya berkata ia takkan suka kata-kata sang raja berikutnya.

__ADS_1


"Jadi, setelah mempertimbangkan masak-masak, aku, Triawarman, Raja Diraja Kalingga memutuskan untuk tidak menerima seluruh Antapada. Apalagi sebagai hadiah dari kalian, para pembawa bencana."


Pirimatha menambahkan, "Kalaupun Jayandra, Swarnara, Rainusa, Akhsar dan Dhuraga tak dilemahkan, Kalingga tetap akan menyerukan pengakhiran Perang Besar Antapada lewat cara-cara damai dan diplomasi, betapapun mustahilnya itu."


Nirya sama sekali tak mempercayai pendengarannya. Kalingga yang selama ini dikenal sebagai negeri paling gemar perang di Antapada malah memilih mengusahakan perdamaian? Bilamana memang demikian, alangkah baiknya. Amanat Mpu Galahasin terpenuhi, rakyat negeri-negeri Antapada akan bisa hidup tenteram. Impian Sthira dan Nirya untuk membangun keluarga yang wajar dan bahagia bisa terwujud.


Sabda Triawarman masih berlanjut. "Walau kalian telah amat berjasa mewujudkan kesempatan emas untuk pengakhiran perang ini, kalian telah melakuakn kejahatan paling keji dan tak terampuni. Karena itulah aku, Raja Diraja Kalingga menghukum kalian berempat, Nirya, Sthira, Arumi dan Dhaka dengan hukuman pancung. Pengawal, seret keempat penjahat ini keluar! Panggil algojo kerajaan untuk melaksanakan tugasnya sekarang juga!"


Segala rona semangat sirna seketika dari paras Nirya. Semua ini sungguh di luar segala dugaannya, segala harapannya.


Misi berhasil dengan gemilang, namun harus kehilangan nyawa.


Andai Nirya, Sthira, Arumi dan Dhaka tahu mengenai pemikiran raja dan permaisuri penguasa Kalingga ini, mereka tak perlu saling bentrok dan nasib mereka harus berakhir di sini. Atau jangan-jangan, semua peristiwa ini semata-mata adalah suratan takdir Sang Mahesa, maha penentu sebab-akibat?


Kelompok Nirya telah melanggar hukum alam dan nyaris mengukir takdir baru. Namun Sang Mahesa malah menempatkan orang-orang dan fakta-fakta tak terduga, mengembalikan keseimbangan takdir ke jalur yang semestinya.


Pada akhirnya, kemahakuasaan Sang Mahesalah yang menang dan mengatasi segala sesuatunya, termasuk takdir yang berasal dari kehendak manusia.


Tapi tidak, Nirya tak erla menerima takdirnya sendiri. Secepat mungkin ia menghunus kerambit kembarnya yang tersembunyi. Kalaupun harus mati, Nirya harus bertarung mati-matian, kalau perlu melawan keroyokan seluruh pasukan kerajaan.


Arumi dan Dhaka juga siap siaga. Mungkin takdir pulalah yang membuat pihak istana dan komandan pasukan penawan lupa menahan senjata-senjata kedua pendekar itu sebelum memasuki balairung singgasana.


Namun, ada yang lebih sigap lagi. Tiba-tiba tenaga dalam berunsur petir terpancar deras dari seluruh tubuh Sthira. Secepat kilat, Sthira bergerak hingga tampak seperti selarik petir saja. Yang paling gila, sosok petir itu seketika menembus tubuh sasarannya, yaitu... Raja Triawarman Taladjan.


Sang raja terbelalak di desahan napas terakhirnya. Di dadanya menancaplah bilah tombak-gada dewata, Vajra. Si pelaku, Sthira mencabut senjata itu dan malah tersenyum penuh kemenangan.


Raja Kalingga telah mangkat.


Pirimatha berteriak histeris, mencakar pipinya sendiri.


Namun Nirya lebih histeris lagi. "Sthiraa!"


Sesungguhnya di detik itu, dua pria telah tiada.

__ADS_1


Gambar referensi untuk Istana Mantikei Labih di Kalingga adalah Istana Kadriah dari masa Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat. Sumber gambar: Google.


__ADS_2