EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
WATAS Bagian 2


__ADS_3


Kesal karena terjebak permainan kata, Nirya melabrak, "Lantas apa yang akan kalian lakukan, hah?" Kerambit Bayunara tergenggam erat di tangan, siap berkelebat.


"Membunuh kalian semua di sini dan menghancurkan kapal kalian, tentunya! Supaya tak seorangpun bakal melaporkan keadaan Dhuraga yang sedang lemah ini pada pemimpin negeri kalian masing-masing!"


Dhaka angkat bicara, "Kami orang bukan duta negeri-negeri! Kami tak akan lapor...!"


Si Komandan menyela, "Sama saja! Kalian ini orang asing, bisa saja kalian menjual informasi tentang Dhuraga ke negeri-negeri lain! Lihat, kapal kalian telah terkepung perahu-perahu kami! Kami tahu kalian belum pulih dari pertarungan yang lalu, jadi terima saja kematian kalian dengan pasrah!"


Dhaka menoleh sesaat ke arah laut. Ancaman si komandan ternyata bukan gertak sambal. Kapal Pinissi tampak seakan terkepung oleh perahu-perahu kecil yang menyemut. Walau satu perahu kecil hanya ditumpangi lima prajurit bersenjata, jumlah perahu dan pengepung itu tetap lebih banyak daripada jumlah seluruh awak Kapal Pinissi.


Satu hal lagi, tenaga dalam dan kekuatan kelompok Dhaka memang belum pulih benar. Tampak ketiga rekan Dhaka telah mulai bertarung dengan puluhan prajurit pengepung. Walau kekuatan tiga pendekar sakti itu cukup berimbang dengan sepasukan tentara, siapa yang bakal menyelamatkan kapal?


Maka Dhakalah yang harus melakukannya. Ia mencoba mengerahkan tenaga dalam seadanya, namun apakah itu cuup untuk mengerahkan jurus terkuat Komodorai? Lagipula mampukah jurus terkuat Komodorai itu menyapu bersih seluruh armada perahu Dhuraga?


Dhaka telah membulatkan tekadnya. Ia harus terus mencoba. Kalaupun harus memaksa diri mengerahkan enaga lebih dari seharusnya dengan resiko merusak diri sendiri, ia harus melakukannya agar para rekan seperjuangannya dapat berlayar meninggalkan Dhuraga dan melanjutkan misi besar ini.


Seolah menjawab seruan hati si komodorai, tiba-tiba aksara gaib Gunung Barkajang, yang rupanya selama ini bersemayam di tubuh Nirya terpancar keluar lewat tato hitam di telapak tangannya. Lalu tato itu lenyap seketika.


Cahaya putih kecoklatan sarat energi berunsur tanah itu melesat bagai anak panah dan tepat menghunjam, merasuk ke dalam dada Dhaka. Tato hitam bergambar Aksara Barkajang terlukis di bagian dada zirah kulit tebal si komodorai.


Seakan mendapatkan asupan tenaga baru, Dhaka Komodorai lantas berseru sekeras suara, "Semua awas! Inilah pamungkas Komodorai, Maha Bencana Gempa Semesta!" Seiring peringatannya itu, Dhaka melompat tinggi-tinggi, lalu menghantam tanah keras-keras dengan kedua telapak tangannya.


Alhasil, sebentuk gelombang gempa dahsyat mengguncang tanah. Anehnya, gempa itu bisa diarahkan dan bukan ke kedalaman pantai, melainkan ke laut lepas. Akibatnya, sebentuk ombak besar melanda lewat permukaan air laut. Itulah gempa laut, yang istilah lainnya dari Shima adalah tsunami. Tanpa ampun, kapal-kapal kecil yang terlanda tsunami itu oleng seketika dan semua penumpangnya tercebur dalam laut.


Kapal Pinissi juga terlanda ombak dadakan itu. Hebatnya, struktur badan kapal yang sempurna keseimbangannya mencegah kapal itu oleng terlalu miring hingga tenggelam. Para awak kapalpun masih sempat berpegangan di tambang-tambang, tiang-tiang kapal atau semacamnya.


Beberapa saat kemudian, kapal kembali oleng dan mencebur kembali dengan keras, kali ini di posisi tegak lurus seperti semula. Segelintir awak kapal yang kurang beruntung sempat tercebur dalam laut dan perlu diselamatkan, namun kabar baiknya tak ada yang tewas.

__ADS_1


Hasil buah tangan Dhaka seketika terpampang di depan semua mata. Hanya Kapal Pinissi yang masih tegak sendirian di atas permukaan air laut, di tengah hamparan perahu-perahu yang hampir semuanya oleng, pecah dan tenggelam. Tak jelas nasib para prajurit Dhuraga di laut itu, yang pasti penyerbuan mereka ke kapal besar sudah mustahil kini.


Tambahan pula, semua prajurit Dhuraga di pantai yang melihat kejadian di laut itu menghentikan pertempuran seketika. Dengan wajah pucat-pasi, mereka semua, termasuk para perwira pasukan berbalik dan tunggang-langgang melarikan diri.


Tak perlu ditanyakan lagi, mereka jelas ketakutan. Arumi, Duta Yamkora yang baru bakal murka dan melepaskan kekuatan pamungkas Aksara Es Yamkora, menumbangkan semua prajurit Dhuraga sekali gebrak seperti aksi Dhaka tadi.


Setelah yakin semua prajurit tak tampak lagi, seakan lenyap ke dalam hutan, Arumi jatuh roboh di tanah berpasir. Sthira cepat-cepat mengangkat dan memapah gadis berzirah itu, keduanya berjalan perlahan-lahan ke tempat yang agak teduh di bawah pohon.


Nirya pasang wajah sebal melihat Sthira. Dhaka lantas menghampiri gadis itu dan menepuk bahunya.


"Tenang, hati Sthira sudah milik Nirya. apapun yang Sthira lakukan sebagai pemimpin kelompok terhadap anggotanya, itu takkan ubah kenyataan hati kalian telah bertaut oleh cinta. Cinta kalian itu bagai rantai kerambit yang takkan putus ditebas senjata dewata apapun."


Seakan mengiyakan kata-kata Dhaka, terdengarlah seruan Sthira, "Nirya, tolong rawat Arumi ya!"


"Eh, ya!" Terkesiap, Nirya hendak bergerak membantu kekasihnya itu. Namun ia sekilas menoleh pada Dhaka, tersenyum sambil berkata, "Saat mengumbar kata-kata bijak, gaya bicaramu jadi beda ya, sesepuh."


Dhaka mengangkat bahu, tanda ia sendiri tak sadar telah bicara dengan gaya berbeda seperti tadi. Mungkin secara tak sadar pula ia menyampaikan kebijaksanaan dari pengalamannya selama hidup berbaur dengan manusia dan kaum-kaum lainnya.


Selama bertahun-tahun Dhaka berkelana untuk mencari tahu keberadaan keluarga dan sebagian besar warga sukunya. Namun tak ada titik terang sama sekali, sepotong petunjukpun tiada. Jadi terpaksa, untuk bertahan hidup ia mengandalkan kekuatannya, mengabdi dalam Geng Dabongsang untuk membebaskan junjungan sejatinya, Wiranata.


Giliran Sthira menepuk pundak Dhaka, membuat si komodorai melonjak. "Wah, sedang melamunkan apa?" tanya si pria Kalingga itu.


Dhaka gelagapan. "D-Dhaka sedang lepaskan lelah saja kok."


"Begitu ya. Nah, ayo kita berenang ke kapal, membantu para awak Pinissi dan merawat yang terluka."


Melihat Dhaka bergeming di tempat, Sthira menegur, "Lho, ada apa? Kok diam saja?"


"Dhaka tak bisa renang. Air laut dingin, brr!" Dhaka menggigil bukan buatan.

__ADS_1


\==oOo==


Akibat serangan pasukan Dhuraga, para awak Pinissi, dibantu oleh keempat pendekar terpaksa bekerja sepanjang malam untuk memperbaiki kerusakan kapal.


Baru saat matahari kembali bertakhta di puncak langit, tepat di atas kepala, barulah Kapal Pinissi bertolak dari Dhuraga. Kondisinya kini tak seprima sebelum diikutsertakan dalam Armada Jayandra dalam kampanye perang ke Swarnara. Putaran haluan tak sehalus dulu, dan laju kecepatan kapalnya juga terasa berkurang akibat kain layar juga tidak sempurna lagi.


"Nah, tujuan perjalanan kita berikutnya adalah negeri kepulauan, Bethara. Pasti ada gunung berapi dekat pusat negeri, dan kita akan melemahkan Bethara seperti halnya negeri-negeri lainnya di Antapada," ujar si pemimpin kelompok, Sthira dalam rapat rahasia di kapal.


"Bukankah Bethara adalah negeri taklukan Akhsar?" protes Arumi. "Negeri itu sudah dilemahkan dan bahkan tak memiliki pemimpin dari rakyatnya sendiri. Bethara adalah bagian dari Akhsar dan tunduk pada Hantas, Raja Diraja Akhsar."


Nirya mengangguk, kali ini setuju pada Arumi. "Kurasa yang harus kita lemahkan lebih dahulu adalah Akhsar. Dengan demikian, kekuatan pasukan pendudukan mereka di Betharapun juga melemah. Bila masih ada kesempatan, kita bisa kembali ke Bethara dan membuat negeri itu jadi begitu lemah, hingga sulit pulih kembali."


Dhaka menyela, "Wah, kita orang memang tak perlu kejam begitu, Nirya. Tapi Nirya dan Arumi benar, Dhaka setuju kita harus langsung ke Akhsar saja..."


Tiba-tiba para peserta rapat dikejutkan oleh Sthira yang menggebrak meja. "Pokoknya kita harus ke Bethara dulu, baru ke Akhsar! Misi kita ini harus tuntas dan lengkap, yang berarti kita harus melemahkan semua negeri tanpa kecuali! Entah kalian setuju atau tidak, itu keputusanku sebagai ketua yang tak akan pernah berubah oleh apapun." Sthira lantas menegaskan lagi, "Apapun!"


Sebelum Dhaka sempat melontarkan kata-kata bijak dan masuk akalnya lagi, sebelum Nirya dan Arumi mencoreng wajah Sthira lewat protes yang sepertinya masuk akal. Sebelum apapun terjadi, Sthira telah keluar dari ruang rapat itu dengan wajah mendongkol.


"Dasar darah muda," gumam si manusia-komodo tua sambil geleng kepala.


Nirya dan Arumi lantas menoleh pada Dhaka. Dengan mengerutkan dahi Arumi bicara, "Bagaimana ini, sesepuh? Haruskah kita mengikuti keputusan ketua keras kepala kurang asam-garam itu? Atau aku menggunakan pengaruhku lagi pada awak kapal dan nahkoda agar melaksanakan usulmu?"


Nirya menimpali dengan, "Ingat, Arumi. Kali lalu kita menentang keputusan Sthira, kelompok kita sempat pecah di Dabongsang. Walau toh kita berhasil bekerja  beriringan di dua tempat berbeda, belum tentu kita bakal seberuntung itu bila kelompok kita pecah lagi kali ini."


Mendengar segala pertimbangan itu, kesimpulan Dhaka cukup sederhana. "Kalau situasinya begitu, kita ambil jalan terbaik dari pilihan-pilihan yang serba buruk. Menurut Dhaka kita ikuti saja keputusan Sthira kali ini, biar nanti Sang Mahesa yang akan atur selebihnya."


Sebenarnya Dhaka ingin menambahkan, "Bila suratan Sang Mahesa menyatakan Bethara harus dilemahkan dan tertimpa bencana, terjadilah. Tapi bila tidak, berarti Sang Mahesa menitahkan kita agar secepatnya menuju Akhsar."


Namun nampaknya Nirya dan Arumi cukup cerdas untuk memahami sepercik saja cara kerja Sang Mahesa maha kuasa ini. Yang memastikannya, wajah kedua gadis itu berubah cerah dan mereka tak menanyakan apapun lagi.

__ADS_1


Saat Nirya dan Arumi telah undur diri dari ruang rapat rahasia itu, tinggal Dhaka sendirian saja di dalam. Si komodorai bergumam, "Manusia membuat rencana, namun Sang Mahesa, Sang Angkara dan Sang Srisarilah penentu segala peristiwa."


Sekali lagi, referensi kapal Pinissi dari Google.


__ADS_2