EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
IDHARMA Bagian 2


__ADS_3


Maka, kelompok penyusup itu berpencar. Sthira berlari ke jalur lurus, Arumi ke jalur kanan dan Nirya ke jalur kiri. Widuri dan salah seorang muridnya ikut berbelok ke kiri, sementara dua gadis lainnya berpencar, masing-masing mengikuti Sthira dan Arumi.


Melirik ke belakang, Nirya malah mendengus sebal. Mau tak mau ia harus melambatkan langkahnya, membiarkan Widuri dan muridnya menyusul. Setelah dekat, Widuri malah terus berjalan melewati Nirya, menolehpun tidak. Salah seorang muridnya bahkan entah sengaja atau tidak, menyenggol tubuh Nirya sambil lewat.


Nirya tersentak, bukan karena senggolan itu, melainkan karena kulit pangkal lengan si murid yang beradu dengan kulit lengannya itu terasa... dingin sekali. Nirya ingin mendekati mereka, namun suatu firasat seakan memberitahunya bahwa menanyai kedua orang itu langsung adalah tindakan teramat bodoh dan fatal.


Apalagi saat Nirya baru melihat jauh ke depan dan ternyata jalur yang ia pilih itu buntu. Gilanya pula, lari Widuri dan muridnya malah melamban, dan mereka tak kunjung berbalik ke titik percabangan tadi. Puncaknya, kini sedikitnya lima kecak sedang mengejar dari kejauhan. Salah satu dari mereka bahkan menembakkan panah-panah api magis dari telapak tangannya.


“Ayo! Sudah tahu jalur itu buntu, ayo kita serang balik!” seru Nirya sambil menghindari salah satu panah dengan gesit.


“Tahan! Berbalik dan serang jika kuberi tanda!” Widuri makin melambatkan larinya, sehingga ia, muridnya serta Nirya tinggal memusatkan perhatian untuk menghindar saja.


Si gadis murid itu lantas sibuk sekali menepis panah-panah api dengan tenaga dalamnya, seolah melindungi sang guru.


Nirya juga ikut melindungi diri dengan memutar-mutar kerambit berantainya yang sarat tenaga dalam, menepis serangan panah yang makin gencar. Namun sekilas pandang membuatnya mendelik tak habis pikir, mengapa Widuri tak ikut bertarung? Apakah sang guru kini tengah kehabisan energi setelah membuka pintu rahasia dengan sihir tadi? Atau ada maksud lain?


Masalahnya, makin lama Nirya larut dalam prasangka, para musuh malah makin dekat saja. Jangan-jangan, Nirya memang sengaja hendak... dikorbankan?


Menegaskan kemungkinan terburuk itu, kecak terdepan sudah amat dekat dengan punggung Nirya. Ia lantas menusukkan pedangnya sekuat tenaga dan amat cepat, mengancam jantung sasarannya.


Tak ada aba-aba sama sekali dari Widuri di saat segenting ini. “Cih!” Terpaksa Nirya mengambil inisiatif sendiri. Ia meloncat tinggi-tinggi, sehingga si kecak hanya menusuk udara.


Sambil bersalto, Nirya melontarkan rantainya. Kerambit di ujung rantai itu lantas menghunjam tepat di tengkuk si kecak, membuat makhluk itu roboh, tewas seketika.


Namun saat hendak mendarat, tubuh Niry atelah disambut panah api. Posisinya di udara membuatnya sulit menghindar lagi. Panah itu menghantam perut Nirya, namun karena bentuknya hanya energi murni, daya hunjamnya diredam prana pelindung tubuh Nirya.


Nirya jatuh tanpa daya, senjata-senjata para kecak siap menyambutnya. Namun seberkas Sinar Hitam Penembus Sukma melintas dari atas kepala Nirya yang terkapar, tertelungkup di tanah. Sinar itu lantas menerjang, menumbangkan tiga kecak sekaligus.


Nirya lantas berusaha bangkit. Tampak Widuri yang masih mengulurkan kedua tangannya yang berasap hitam. Nirya terhenyak, sangat mungkin si pemandu itulah yang menyelamatkan nyawanya dengan sihir tadi. Tampak pula dua kecak lain tengah melarikan diri, terluka akibat serangan murid-murid Widuri.


“Sudah kubilang tahan dulu, tapi kau tak menurut!” tegur Widuri. “Begitulah akibatnya, hampir saja kau kehilangan nyawa, padahal murid-muridku berhasil mengusir musuh tanpa kesulitan berarti.”

__ADS_1


Malu sendiri, Nirya tak berucap sepatah katapun. Lagipula, seharusnya patut dimaklumi kalau Nirya belum kenal betul Widuri dan murid-muridnya, dan cenderung skeptis karena sikap si pemandu yang serba tertutup, serba misterius. Jadi teguran ini malah membuat Nirya makin sakit hati. Tak mau berdebat dan membuang waktu, Nirya bangkit dan langsung melesat, kembali ke arah perempatan tempat mereka berpencar tadi.


Karena kelompok Nirya menempuh jalan yang lebih panjang dan menghadapi lebih banyak kecak, alhasil Regu Sthira sudah sejak tadi tampak berdiri di perempatan.


“Berarti regu Arumilah yang menempuh jalur yang benar. Ayo kita susul mereka!” seru Sthira sambil langsung lari ke arah yang dimaksud.


Nirya dan yang lain-lain mengikuti Sthira, lalu tak lama kemudian berhenti lagi. Pasalnya, kini mereka melihat Arumi di percabangan lain sedang bertarung mati-matian, dikepung kecak dari segala penjuru.


Murid Widuri yang bersama Arumi terkapar di tanah, menutupi luka di perutnya yang terus mengeluarkan darah. Terpaksa Niryalah yang turun tangan, menyentuh luka si murid sambil merapal sihir Semilir Angin Penyembuh. Dengan prana angin, luka si gadis merapat dan pulih, sampai akhirnya gadis itu tersenyum penuh tanda terima kasih. Namun dahi Nirya malah berkerut. Seluruh tubuh gadis yang ditolongnya itu benar-benar amat dingin seperti... mayat.


“Ayo, kita harus bantu yang lainnya!” kata si murid sambil bangkit berdiri.


Nirya ikut bangkit, namun ia memilih mengamati para sasarannya dulu sambil memulihkan tenaganya dengan berdiri diam sebentar.


Kedatangan “bala bantuan” membuat Arumi bergerak lebih leluasa. Ia bertukar sabetan dan tendangan dengan tiga kecak, lalu membenamkan keris panjangnya ke tubuh salah satunya. Namun, di ujung nyawanya, si kecak menggenggam erat keris Arumi, sehingga si pembunuhnya tak bisa mencabutnya. Lebih gawat lagi, tindakan itu membuka peluang emas bagi kedua kecak lain yang langsung menghunjamkan tombak dan keris mereka ke arah Arumi.


Sebagai pemimpin pasukan berpengalaman, Arumi cepat-cepat bereaksi dengan melepaskan kerisnya dan beringsut mundur. Si penombak nyaris menikam rekannya, dan si kecak berkeris malah menikam si kecak sekarat itu. Kecak bertombak berbalik cepat dan menyerang Arumi, yang belum siap. Tiba-tiba langkah si kecak terhenti, kerambit Nirya menancap tepat di ubun-ubunnya.


Di sisi lain, kecak berkeris meraung dan berbalik menyerang Arumi. Ini langkah yang keliru, karena aksi Nirya tadi memberi Arumi cukup waktu untuk mencabut kerisnya dari tubuh kecak pertama. Detik berikutnya, kepala si kecak menggelinding di lantai, terpisah dari tubuhnya.


Namun yang ditanya malah menoleh ke arah lain dan menjauh, menyerang musuh-musuh berikutnya. Nirya mendengus, entah sikap dingin itu bangkit dari keinginan Arumi untuk menyelesaikan misi, atau semata-mata berasal dari status tingginya sebagai senopati, atau...


Apapun itu, Nirya sduah harus bergerak lagi karena Sthira dan Widuri berhasil menerobos kepungan. “Ayo lari! Masih banyak sekali kecak yang tersebar di labirin ini!”


Nirya melangkah secepat angin, namun suatu firasat seakan menahannya.


Benar saja, di persimpangan tiga arah berikutnya, rombongan Nirya kembali dikepung para kecak.


Sambil menyabetkan golok petirnya menepis sihir para kecak, Sthira berseru, “Kepungan para kecak terlalu rapat! Kita hanya bisa menerobosnya dengan maju bersama-sama!”


Arumi menimpali, “Tapi ke arah mana? Kiri atau lurus?”


“Lurus biasanya pasti buntu,” jawab Widuri dengan yakin. Kita ke kiri saja!”

__ADS_1


“Bagaimana kau tahu pasti itu jalur yang benar?” sergah Nirya.


Salah seorang murid yang sudah “gerah” dengan protes-protes Nirya menghardik balik, “Ikuti saja petunjuk guru! Itu yang terbaik!”


Sebenarnya, sambil bertarung dan menyembuhkan rekannya tadi, Nirya sempat mengamati dinding-dinding labirin. Beberapa dinding itu memiliki relief, dan sisanya adalah dinding batu yang polos dan rata. Walau sudah berusaha mengingat gambar pada relief itu, Nirya belum menemukan mata rantai ceritanya.


Kali ini pula, para anggota lain telah menerobos ke jalur kiri. Terpaksa Nirya ikut, namun pandangan matanya terus terpaku pada dua lempeng dinding berpahatan yang mengapit satu dinding polos di tengahnya.


Tiba-tiba Nirya mendengar suara batu besar bergeser dari dinding lempeng tengah itu. Ia lantas berteriak ke arah rekan-rekannya, “Hei, semua! Kembalilah ke persimpangan! Ada jalan rahasia hendak terbuka sendiri di sini!”


Widuri yang tentu lari paling depan tak mau atau pura-pura tak mendengar teriakan Nirya itu. Sthir yang sejak tadi menunggu Nirya bahkan berkata, “Sudahlah! Mungkin pemandu kita yang benar dan ‘jalur rahasia’ itu ternyata jebakan!”


“T-tapi reliefnya...!”


Sthira malah menarik tangan Nirya. “Awaas!” serunya.


Berkat peringatan Sthira itulah, Nirya sempat berkelit dan lolos dari sabetan senjata-snejata para kecak. Dengan gigi gemertak karena geram, Nirya terpaksa memilih bergabung dengan rekan-rekannya daripada sendirian dikepung kcak.


Setelah menempuh dua tikungan, barulah mereka sadar jalur yang mereka pilih itu berujung buntu. Nirya, Sthira dan Arumi langsung berbalik mendadak, menerjang ke arah gerombolan kecak yang mengejar mereka.


Arumi menembakkan selarik Sabit Api Saling Silang yang menumbangkan tiga kecak secara bersamaan. Kerambit Nirya menghembuskan Angin Membelah Awan dan mencacah tubuh empat kecak lainnya, dua di antara mereka tewas seketika. Barisan kecak buyar seketika, gerakan mereka jadi kacau-balau. Ini kesempatan emas untuk...


“Giliranku menerobos! Heaa!” Sthira lantas mempercepat larinya dengan kekuatan Langkah Halilintar, lalu menerjang barisan dengan bawah-ke-atas dan atas-ke-bawah, kombinasi dua jurus Naga Halilintar Mendaki Langit dan Naga Halilintar Menghunjam Cadas.


Para kecak bertumbangan seperti rumpun bambu dibabat dengan sabit raksasa, menyisakan celah yang cukup besar dan lega untuk diterobos.


“Kesempatan! Majuu!” Semua anggota tim lari, menuruti seruan Sthira itu.


Kembali di persimpangan tadi, Nirya kembali mengutarakan usulannya, “Lihat! Ada jalur yang terbuka! Dinding tadi bisa bergeser sendiri, ayo kita lewat sana!”


“Ah, benar juga, Nirya! Ayo!” seru Sthira, kali ini mengikuti gadis berambut jingga itu. Sedangkan yang lain pasang muka masam.


Namun, yang tampak di kejauhan adalah dinding yang menjulang, menutup jalur ini.

__ADS_1


“Ha! Ini jalan buntu!” Widuri tersenyum. “Kalaupun tadi kita salah jalan, masih ada jalan kedua yang terbuka! Ayo kita kembali dan ambil jalan itu sebelum...!”


Gambar referensi pasukan kecak - tari kecak dari google.com.


__ADS_2