
Nirya melihat semua itu, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Itu karena ia sedang sibuk menyembuhkan luka-luka Arumi dengan sihir sambil membisikkan petunjuk Barong padanya.
Sthira merentangkan kedua tangannya dengan gaya dibuat-buat. "Lihat, komodorai. Teman macam apa itu yang tak membantumu menyerang aku. Sudahlah, menyerah sajalah dan pergilah ke neraka." Bercak-bercak luka tersebar di sekujur tubuh Sthira, namun luka-luka itu seolah-olah hanya gatal-gatal saja baginya.
Dhaka tak menjawab, luka-lukanya kali ini terlalu parah dan menyakitkan. Tapi ia tak ingin ke neraka. Ia hanya ingin pergi meninggalkan dunia ini ke tempat keluarganya berada.
"Oh ya, aku baru ingat. Kau ingin mati menyusul keluargamu 'kan, Dhaka? Kululuskan itu!" Sthira menyeruak maju hendak menghabisi si komodorai. Namun hunjaman Gada-Tombak Vajra ditangkis dengan dua senjata bersamaan, yaitu Keris Panjang Agninetra dan Kerambit Kembar Berantai Bayunara.
"Apa?" Kuatir akan serangan balasan, Sthira cepat-cepat mundur dan menjaga jarak.
Lalu Sthira menghardik, "Nirya! Sudah kuperingatkan kau agar lari dan tak ikut campur, tapi kau malah membandel dan bahkan menyembuhkan Arumi!"
"Terima kasih atas perhatianmu, Sthira," balas Nirya. "Namun aku telah memutuskan untuk tak menurutimu kali ini. Aku lebih suka mempertaruhkan nyawa di sini daripada hidup menyaksikan pria yang pernah kucintai memperbudak seluruh Antapada demi ambisi gilanya."
Kata-kata Nirya itu membuat Sthira terpaku sebentar dengan mata terbelalak.
Sesaat kemudian, Sthira malah tertawa keras-keras dibuat-buat. "Wah, wah, polos sekali. Kaupikir aku meminta Vrithra agar tak membunuhmu karena aku masih mencintaimu, Nirya? Salah! Itu adalah bayaran dariku karena kau telah membantu dan mendukungku sampai giliran aku mendukung Vrithra sebagai mitraku yang baru! Tapi, hutangku padamu telah lunas. Sesuai syarat Vrithra, karena kau tak lari dan malah bersikeras terus berusaha menghentikan kami, aku takkan berbelas kasihan lagi padamu dan 'mantan-mantan temanku' itu!"
Jantung Nirya berdebar keras. Namun pengetahuan baru ini membuat matanya menatap Sthira dengan lebih tajam. "Aku tahu itu. Sthira yang kukenal dan kucintai telah tiada di detik Vajra mencabut nyawa Triawarman. Tapi, sebagai bayaran atas segala kebaikan yang telah kauberikan padaku selama ini, kuberitahukan kau satu hal."
"Oh ya? Apa itu?" Sthira mendelik ingin tahu.
"Bukan kau saja yang punya mitra dan pendukung baru. Tubar'e!"
Secara bersamaan Arumi juga berseru, "Oh, aku juga ingin berterima kasih karena kau lebih memilih Nirya daripada diriku, Sthira! Dengan demikian beban hatiku kini amat ringan! Megaswari!" Bersama Nirya, Arumi mengangkat tangannya dan menyerukan mantra gaib.
Nyaris bersamaan, Aksara Angin di punggung telapak tangan Nirya berpendar kehijauan dan Aksara Api di lengan bawah Arumi berpendar kemerahan. Aura hijau dan merah terpancar deras dari masing-masing tubuh kedua gadis itu.
"Huh, kekuatan aksara gaib!" sergah Sthira. "Kalian pikir dengan meminjamnya, kalian bisa menandingi ini?" Sthira merujuk pada kekuatan petirnya yang berasal dari tiga sumber, yaitu tenaga dalamnya sendiri, kekuatan Naga Dewata Vrithra dan Aksara Gaib Petir Gunung Dantonu. Semua itu ia tunjukkan dengan pancaran prana petir dari tubuhnya yang lebih besar daripada yang Arumi atau Nirya tunjukkan.
__ADS_1
"Hasil pertarungan tak ditentukan oleh perimbangan kekuatan semata. Ayo kita buktikan sekali lagi di sini," ujar Nirya.
"Maju!" Dengan teriakan Arumi sebagai aba-aba, ketiga pendekar bergerak bersamaan.
Nirya bergerak amat cepat bagai Bayangan Badai. Saat cukup dekat dengan sasaran, ia menebas-nebaskan bilah sepasang kerambitnya yang seperti kait, menghantam sambil terus bergerak. Alhasil, lawan sulit mendaratkan serangan balasannya pada Nirya dan malah terkena entah berapa kali tebasan. Itulah esensi jurus Pusaran Badai Terabas Selaksa.
Sthira melangkah, berlari, berputar kesana-kemari dengan kekuatan jurus penambah kecepatan, Langkah Halilintar. Saat berputar menghindari jurus Nirya sambil bertumpu pada satu kaki, sebatang anak panah berapi dengan prana berbentuk Naga Api Pelacak Hati Arumi menyambut pemuda itu. Sthira berputar lagi dan lari ke arah lain, namun dengan ajaib anak panah itu berbelok dan kembali mengincar jantungnya. Menghindarpun tak sempat lagi.
Namun sebagai manusia-dewa, Sthira tak kehabisan akal. Ia lantas menghantamkan Vajra keras-keras di tanah. Daya hantaman itu menyebar dari sekeliling tubuh Sthira ke segala arah sebagai Gelombang Kejut Halilintar.
Nirya dan Arumi terhantam daya petir. Arumi jatuh tersuruk di lantai.
Sedangkan Nirya masih sempat mengembalikan keseimbangan tubuhnya dengan jurus Bayangan Badai dan kembali mendekati Sthira. Dikerahkannya sisa energi jurus Pusaran Badai Terabas Selaksa tadi. Sebelum Sthira sempat menangkis, tak terhitung sabetan kerambit Nirya yang mendarat di tubuh pria itu.
Setelah Nirya menjauh, tampak Sthira masih berdiri membungkuk. Mungkin untuk pertama kalinya sepanjang pertarungan ini tampak jelas darah mengalir dari luka-luka Sthira.
"Menyebalkaan!" Murka, Sthira kembali mengayunkan Vajra, hendak memaksa diri mengerahkan jurus balasan.
Tiba-tiba Dhaka menyeruak maju dengan tubuh berpendar kuning, penuh daya energi tanah dari Aksara Gaib Barkajang.
Sthira hanya sempat memusatkan tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya. Serangan Dhaka seakan bagai rahang raksasa yang menelan Sthira bulat-bulat, lalu mengunyah "makanan" itu dengan cepat dan berulang-ulang hingga *****.
"Dhaka, jangan...!" Tanpa sadar Nirya bergerak maju. Niatnya adalah mencegah Dhaka agar tak sampai menghabisi nyawa Sthira. Mungkin Vrithra masih bisa diusir dari inang barunya.
Namun Arumi pasang badan dan merentangkan tangan, menghalangi Nirya. "Sadarlah, Nirya! Sthira telah memilih Vrithra dan meninggalkanmu! Jangan berharap padanya lagi!"
Nirya hanya bisa terpaku dan menunggu.
Sesaat berikutnya, "kunyahan" jurus Dhaka selesai. Si komodorai menjauh dan jatuh terduduk, kehabisan tenaga. Yang tertinggal dari serangannya hanya Sthira yang masih berdiri tertunduk. Namun kini tubuh pria Kalingga itu sudah merah sepenuhnya, seakan terguyur darahnya sendiri. Kalaupun tidak tewas, ia pasti sudah lumpuh seperti patung.
"Biar kupastikan biang bencana musnah selamanya!" Melihat kesempatan itu, Arumi melemparkan busurnya ke lantai dan menghunus keris panjangnya, Agninetra. Dari gerakan lari dan ayunan senjatanya, jelas sudah Arumi bakal memenggal kepala Sthira, sekaligus membakar tubuh pria itu dengan energi api di bilah Agninetra hingga hangus jadi abu.
__ADS_1
Nirya sudah bergerak pula ingin mencegah Arumi. Maksudnya agar gadis itu mengamati situasi lebih dahulu. Mungkin roh Vrithra telah keluar dari tubuh Sthira dan musnah, sehingga mungkin akhirnya Sthira akan meninggalkan ambisinya.
Langkah-langkah kaki Arumi mendadak terhenti, wajahnya terperangah melihat sesuatu di hadapannya. Terkejut pula, Nirya juga ikut melihat ke arah tatapan mata Arumi itu. Tampak tubuh Sthira kini terbungkus aura petir yang menyambar-nyambar. Namun itu jelas bukan petir biasa, karena warnanya hitam pekat. Energi semacam itu tak pernah terpancar bahkan dari tubuh Naga-Trenggiling Vrithra di Dantonu sekalipun.
Bibir Sthira bergerak, namun suara yang keluar dari sana adalah suara berat dan agak bergetar. Itu suara Vrithra. "Dasar tak berguna! Baru satu kali digempur kekuatan tiga aksara gaib, kau sudah tak sadarkan diri. Terpaksa mulai saat ini kuambil alih tubuhmu sepenuhnya! Lagipula, sejak awal aku tak pernah berniat berbagi kekuasaan denganmu. Dunia akan mengingat aku, Vrithra sebagai Penakluk Agung, bukan kau, Sthira Tarunaga!"
Mewujudnyatakan kata-kata Vrithra itu, aura halilintar hitam di tubuh Vrithra makin besar dan menyebar. Hampir sekejap, tubuh Sthira jadi hitam sepenuhnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
Dengan setitik rasa cinta yang tersisa, Nirya berseru sekuat suara, "Sthira, sadarlah! Lawan Vrithra! Sadarlah, Sthira! Sthira!"
Namun, segala teriakan dan percikan air mata Nirya sia-sia. Aura hitam yang membungkus tubuh Sthira bagai kepompong terbuka dan berubah wujud menjadi tiga pasang sayap petir yang masing-masing panjang bentangannya kira-kira dua kali tinggi tubuh Sthira. Tak hanya itu, warna kulit Sthirapun berubah menjadi ungu, berpadu-padan dengan semacam tato merah darah berpola rumit yang memenuhi seluruh tubuhnya.
Bersuara Vrithra, Sthira lantas mengangkat Gada-Tombak Vajra tinggi-tinggi dan berseru, "Vajra, menyatulah dengan tubuhku, jadikan aku sempurna!"
Melihat gelagat ini, Nirya berteriak histeris, "Sthira, jangaan!"
Tanpa peduli apapun lagi, Nirya maju untuk mencegah proses peralihan wujud ini. Namun gadis itu menabrak sebentuk medan energi tak kasat mata, lalu terpental dan jatuh.
Terlambat sudah, Sthira ungu telah menghunjamkan ujung bagian tombak Senjata Vajra ke tengah-tengah dadanya sendiri.
Inilah saat segala unsur kemanusiaan dalam diri Sthira benar-benar telah tiada.
\==oOo==
Hunjaman ujung bilah tombak di tengah dada memulai proses penyatuan antara senjata dewata, roh dari senjata dan tubuh si pengguna senjata merangkap inang baru roh dewata itu.
Tahap pertama, bagian gada yang paling dekat dengan ujung tombak yang menghunjam dada Sthira memanjang dan melengkung. Bentuknya berubah menjadi zirah pelindung dada, pinggang dan bahu berwarna emas.
Tahap kedua, gagang emas Vajra yang berhiaskan permata mirah membentuk titik tengah zirah yang memanjang ke ulu hati.
Tahap ketiga, bagian gada dan tombak lainnya berubah menjadi sabuk, pelindung tangan dan pelindung kaki. Sebuah mahkota emas bertatahkan beragam permata terpasang di kepala Sthira-Vrithra sehingga ia tampak seperti memiliki banyak tanduk.
__ADS_1
Mata hitam sosok manusia dewa itu menyorot tajam ke arah ketiga lawannya. Suaranya bergemuruh laksana guntur saat ia berkata, "Akulah Vajra, dewa maha digdaya dan calon penakluk segala negeri. Yang tunduk padaku hidup, yang melawan mati."
Ilustrasi Maha Vajra, personifikasi gabungan senjata dewata, manusia dan dewa oleh Andry Chang. FINAL BOSS.