EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
MANTIKEI Bagian 1


__ADS_3


Arah takdir dapat berubah secepat membalik telapak tangan.


Nalar Nirya Panigara, seperti halnya nalar manusia pada umunya sulit menerima kenyataan yang silih berganti ini.


Di satu saat, perputaran takdir tampaknya telah kembali ke jalur yang seharusnya.


Namun, di saat berikutnya, tindakan satu orang malah mengacaukan takdir hingga bergulir keluar dari jalurnya.


Sthira Tarunaga seharusnya menerima hukuman mati. Pengorbanannya, juga pengorbanan Nirya, Arumi dan Dhaka akan memastikan terbukanya pintu menuju perdamaian di seluruh Jazirah Antapada. Kini, pintu perdamaian itu telah ditutup kembali dengan paksa.


Yang tampak kini malah Sthira yang masih berdiri tegak, menggenggam Tombak-Gada Vajra yang berlumuran darah raja negerinya sendiri. Ia menatap tubuh kaku sang penguasa Kalingga dengan senyum yang lebih lebar daripada kebiasaannya.


Teriakan histeris Pirimatha, bahkan Nirya yang meneriakkan nama Sthirapun tak sedikitpun mengubah ekspresi wajah pria itu.


Malah, Sthira menoleh perlahan ke arah Pirimatha seraya berkata, "Perempuan bau kencur sepertimu tahu apa tentang yang terbaik bagi Antapada? Kau tak tahu apa-apa! Kuantar kau menyusul suamimu sekarang!"


Di kata terakhirnya, Sthira lagi-lagi melesat secepat kilat. Ia menghunjamkan Vajra di tangannya, hendak mengantar dua penguasa satu negeri mengakhiri riwayat mereka di ujung senjata yang sama.


Terlalu terkejut dan berduka akibat mangkatnya sang raja, sempatpun Pirimatha tak kuasa menghindar dari hunjaman maut itu.


Tiba-tiba, satu dentangan keras terdengar. Ternyata ujung bilah tombak Vajra ditahan oleh sepasang kerambit berantai Bayunara.


"Lari, Yang Mulia!" Usai berseru pada Pirimatha, si penangkis, Nirya muntah darah dan kembali berseru, "Hentikan ini, Sthira!"


Namun Sthira malah menghardik, "Kau juga... menghalangiku, Nirya? Lihat, permaisuri cilik itu lari terbirit-birit bersama para menterinya! Mereka tak pantas jadi pemimpin Kalingga!"


Sambil terus menahan tekanan lawan, Nirya berseru, "Lantas siapa yang lebih pantas?"


Suara Sthira tiba-tiba berubah jauh lebih berat, lebih keras dan bergema. "Dasar naif, tentu saja aku!" Saat itu pula, kedua bola matanya jadi hitam legam, menyisakan sepasang titik pantulan cahaya putih pada bagian lensa.


"Menjauh, Nirya! Itu suara Vrithra, bukan Sthira!" teriak Arumi


Walau terkejut, Nirya bereaksi secara refleks dengan cepat-cepat mundur. Ia lantas merapatkan barisan di samping rekan-rekannya dan siap menghadapi satu orang yang kini menduduki singgasana Kalingga.


"Nyaman juga singgasana rotan berhias permata ini," ujar Sthira, seterusnya dengan suara Vrithra. "Yah, bukan emas seperti singgasana Maharaja termegah di Arcapada. Tapi setidaknya ini empuk, cukup untuk permulaan." Gaya duduknya mengangkang dan amat santai.


Nirya sudah akan maju untuk melabrak Sthira, namun Dhaka pasang badan, menghalanginya. Dengan isyarat gelengan kepala, Dhaka menunjuk ke arah Arumi yang maju sebagai gantinya.

__ADS_1


"Maaf, Yang Mulia Sthira, atau seharusnya, Vrithra," sambut Arumi dengan nada menyindir. "Apa kaupikir sesaat setelah membunuh raja terdahulu, kau langsung jadi raja?"


"Oh, harus itu!" jawab Vrithra dalam tubuh Sthira. "Jangan pikir ini sama dengan aku menjadikan Rai Taksaka raja boneka di Watas dulu. Aku takkan melakukan itu lagi."


"Sama saja. Lihat, orang-orang yang seharusnya jadi abdimu telah lari. Tinggal kami yang tetap di sini untuk menghentikanmu."


"Jangan harap kalian bisa menang lagi dariku seperti di Watas," ancam Vrithra. "Kali ini, takkan ada Sthira, Taksaka dan Canirwa untuk membantu kalian. Takkan ada pula empat komodorai bodoh yang rela mengorbankan nyawa untuk menahan murkaku."


"Ya, kami tahu itu. Tapi kau tak mengenal kami, Vrithra. Sthira sejati pasti mengerti, kalah kekuatan tak pernah jadi penghalang bagi kami." Arumi mengibaskan keris panjangnya, kobaran api memercik di sampingnya.


Nirya dan Dhaka mengangguk setuju. Raut semangat di wajah mereka makin nyata, aura yang melingkupi tubuh mereka berkobar-kobar. Dalam hal bersilat lidah untuk membangkitkan semangat kawan dan mengganggu mental lawan, Arumilah ahlinya.


Namun, semua "jurus kata" itu tak sedikitpun menggurat rona dan garis-garis emosi di wajah Sthira-Vrithra. "Jadi penghalang atau tidak, hasil akhir bentrokan ini sudah pasti kematian orang-orang tak tahu batasan diri seperti kalian."


Arumi membalas dengan satu argumen terakhir. "Kita lihat saja, siapa di antara insan yang puas diri dan insan yang selalu berjuang untuk melampaui batasan diri yang akan bertahan hidup di akhir pertarungan ini."


Ya, Arumi memang sengaja bersilat lidah untuk mengulur waktu dan mengukur kekuatan mental lawan. Ternyata, walau kini berinang manusia, Vrithra menunjukkan mentalitas dewatanya yang setara atau melebihi Barong, Singa Suci Dewata. Sama sekali tak bisa dibuat marah agar menyerang, mengamuk atau bertindak serampangan. Satu-satunya cara melawan Sthira-Vrithra hanyalah adu kekuatan, kecepatan dan kecerdikan.


Peringatan Dapu Dapu ternyata amat berdasar, namun harapan Nirya akan kesejatian Sthira sebagai ksatria serta cinta Nirya pada Sthira membuat Nirya tetap melindungi kekasihnya itu, apapun yang terjadi.


Kini, ternyata Sthira sudah menyambut Vrithra dalam tubuhnya. Mereka berdua menjadi sehati-sepikir, dua jiwa telah menyatu menjadi satu.


Nirya mencoba berkelit dari ayunan beruntun Vajra yang seluruhnya terbungkus petir nan dahsyat. Namun, segesit apapun pergerakannya, Vajra terus saja mengejar ganas bagai harimau hendak menerkam mangsanya. Nirya makin sulit menghindar, apalagi dari hantaman gada petir yang mengancam kepalanya.


Tanpa peringatan, Tombak Komodorai Dhaka menusuk lurus dan beruntun dengan jurus Rentetan Hunjaman Tombak. Daya prana tanah berhasil mementalkan Vajra hingga berubah arah, meluputkan Nirya dari kematian.


Tiba-tiba, Sthira memanfaatkan daya dorong tusukan tombak Dhaka, lalu menyalurkan daya itu ke dalam Vajra dan mengubah hantaman gada jadi tusukan tombak.


Ujung tombak menghunjam dada Dhaka tanpa ampun. Si komodorai terdorong mundur hingga tesuruk di lantai, darah merembes keluar dari pecahan kulit tebalnya. Untunglah Dhaka selalu siap-sedia dengan lapisan aura pertahanan tubuh Sisik Batu Cadas, sehingga ia masih bisa bergerak lagi dengan susah-payah.


Tak memberi kesempatan Sthira mengatur napas, Arumi maju menyerang. Gadis itu melompat, sambil menyabetkan Keris Agninetra dengan gerakan silang-menyilang secepat satu tangannya terayun. Rentetan Sabit Api Saling-Silang melesat lebih cepat lagi ke arah Sthira.


"Cih, murahan!" Bereaksi amat cepat pula, Sthira ikut melompat sambil melesatkan energi sabetan tegak-lurus dari jurus Naga Halilintar Mendaki Langit.


Prana yang terpusat di Gada-Tombak Vajra memecah sabit-sabit energi api itu. Tak berhenti di sana, daya hantaman gada terus menerpa Arumi yang tengah melayang turun. Tubuh Arumi kembali melayang dan jatuh menghantam dinding. Gadis itu muntah darah, kondisinya lebih parah daripada Dhaka.


Tinggal Nirya yang masih berdiri menghadapi Sthira. Pertunjukkan tadi makin menegaskan keunggulan kekuatan Sthira yang terpaut jauh dari Arumi, Dhaka dan dirinya. Kini tubuh Nirya gemetar bagai terguncang hebat. Namun selain perbedaan kekuatan, masalahnya adalah Nirya masih punya rasa pada pria yang telah menerima roh naga dewa itu.


"Sebelum kau membunuhku, Sthira, tolong jawab pertanyaanku," ujar Nirya dengan bibir dan suara bergetar.

__ADS_1


Suara Vrithra membentak, "Manusia tak berhak menatap, apalagi bicara padaku!"


Nirya membentak balik, "Aku tak bicara padamu, Vrithra, melainkan Sthira! Sthira, kalau kau masih ada di dalam sana, jawab aku!"


Terjadi keheningan sesaat. Lalu suara Sthira tedengar. "Aku masih di sini. Bicaralah."


"Sthira, andai kau tak menerima Vrithra dalam dirimu dan kita semua dihukum mati di sini, apakah yang akan kaulakukan?"


"Aku akan tetap mencoba membunuh Raja Triawarman dan Permaisuri Pirimatha."


"Andai kau berhasil membunuh mereka, apa yang kau lakukan setelahnya?"


"Sama seperti andai aku gagal membunuh raja," ujar Sthira. "Aku akan melarikan diri bersamamu, lalu mengasingkan diri, menghilang dari perputaran dunia dan membangun keluarga bersamamu."


Nirya tersenyum tulus. "Baiklah, kini ambillah nyawaku."


Vrithra kembali mengambil alih tubuh Sthira dan berseru, "Hentikan mengulur waktu dan matilah, Nirya!" Sthira lantas mengangkat Vajra dan menghunjamkannya ke arah Nirya.


Tiba-tiba gerakan tangan Sthira terhenti.


"Apa-apaan ini, Sthira?" hardik suara Vrithra yang bergema. "Ingat perjanjian kita. Jangan coba-coba menahanku."


Suara asli Sthira menyahut, "Mungkin kau lupa syaratku yang satu ini. Semua orang boleh kaubunuh, kecuali Nirya Panigara."


"Benarkah? Si Nirya itu telah membuang kesempatan untuk menjadi Permaisurimu dan malah berusaha menghentikan kita, padahal ia tahu ia pasti kalah. Kalau kau ingin meraih kejayaan, wanita itu harus kaulenyapkan!"


"Tanpa Nirya, kejayaan apapun tak berarti bagiku."


"Wanita itu tidak berarti bagi kejayaan yang akan kita raih!"


"Oh? Jadi kau takut pada satu wanita yang tak berarti itu?"


Suara Vrithra makin kasar. "Jaga bicaramu, manusia. Atau kubungkam kau selamanya."


"Tidak sebelum kuhancurkan tubuhku lebih dahulu."


Suara Vrithra bungkam sejenak. "Baiklah," kata suara itu. "Tapi bila Nirya terus melawan, aku tak bisa menjamin seranganku takkan mengenainya."


"Kalau itu yang terjadi, apa boleh buat. Aku juga tak berminat didampingi permaisuri yang bodoh." Masih bersuara asli, Sthira maju dan mengayunkan Vajra lagi. "Biar kucoba tangani para mantan temanku itu dulu."

__ADS_1


Gambar referensi senjata gada Vajra adalah pusaka gada Vajra senjata Dewa Siwa. Sumber: Bukalapak.com


__ADS_2