
“Daratan! Kota Dabongsang telah tampak!”
Suara pelaut di tiang utama kapal membuat Nirya terperanjat. Ia bereaksi cepat, berlari dari dek ke anjungan juru mudi tempat Arumi selalu berdiri siaga.
Nirya langsung bicara pada Arumi, “Kita masih belum masuk jarak tembak mereka, ‘kan? Kita harus merapat dulu di sini dan melanjutkan perjalanan lewat darat...!”
Namun Arumi malah menyela dengan nada tenang, “Kita merapat di pelabuhan kota.”
“Hah? Apa kau sudah gila?” teriak Nirya. “Apa kaukira para penjahat itu bakal membiarkan kapal perang Kerajaan Jayandra merapat?”
“Bila segala keterangan yang kita dapat tentang Dabongsang dan sejarahnya benar, kita akan masuk tanpa gangguan sedikitpun. Serahkan saja padaku, Nir. Pasukan panah, siaga!”
Sebelum Nirya sempat protes, Arumi telah terlanjur lari ke arah haluan. Gadis itu sudah siap dengan busur dan anak panah di tangan, siap bertindak bersama pasukannya bila terjadi hal-hal yang tak terduga. Tak mau ada konflik yang tak perlu meledak lagi, Nirya memilih pergi ke geladak dekat kabin-kabin kapal saja, hendak menilik keadaan Sthira.
“Sthira! Sthira, keluarlah! Kita harus bersiap-siaga!” Nirya mengetuk pintu kamar perwira, namun tak ada jawaban sama sekali.
Nirya tersentak. Ia coba-coba mendorong daun pintu, yang ternyata langsung terbuka. Tak perlu berfirasat, sekali lihat sudah pasti Sthira tak ada dalam kamar itu.
Secepat kilat Nirya naik ke geladak dan berseru ke arah Arumi, “Arumi, Sthira tak ada di kamarnya! Jangan-jangan dia telah meninggalkan kapal!”
“Apa!?” Arumi tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya. “Tapi pedangnya masih kusandang!” Ia menunjuk ke mandau besar Sthira yang tergantung di punggungnya.
“Gila, nekad sekali orang itu! Apa dia pergi sendirian ke Dabongsang?”
“Pastinya, karena kemarin saat kita hampir sampai di Sasanda, pulau tempat Gunung Tubar’e dan Kota Dabongsang berada ini, Sthira masih ada di kamarnya, bermeditasi seharian untuk memulihkan kesehatannya, ‘kan?”
Nirya tertunduk. “Benar juga. Kurasa Sthira ingin membuktikan pada kita bahwa ia layak jadi pemimpin kelompok yang dapat diandalkan dan punya wibawa. Ia pasti menganggap tindakan kita bertolak ke Dabongsang tanpa persetujuannya sama saja dengan menginjak-injak wibawanya. Jadi, Sthira bertekad untuk menyelesaikan ‘misi sampingan’ ini seorang diri, kalau bisa tak perlu sampai memicu letusan Gunung Tubar’e.”
Arumi menggenggam busurnya kuat-kuat. “Dasar keras kepala! Sampai matipun Sthira takkan percaya kata-kata Barong bahwa Rainusa sudah lemah dan butuh Wiranata untuk pulih! Awas kalau kutemukan dia nanti...” Tiba-tiba Arumi menunjuk ke arah haluan. “Awas, Nirya! Siagalah! Kita sedang memasuki daerah pelabuhan!”
Menyadari situasi mulai genting, Nirya menyiagakan kerambit kembar berantainya. Namun senjata itu tak ia acungkan, supaya tak memicu salah paham dari sosok-sosok yang tengah mengawasi mereka dari menara-menara Pelabuhan Dabongsang itu.
Masalahnya, penampilan para pengawas itu amat mencurigakan. Mereka tak berseragam dan tampak berangasan. Pandangan mata mereka tak lepas dari kapal yang baru masuk itu, tak ubahnya sekelompok serigala tengah mengincar seekor sapi.
Anehnya, tak satupun dari para “serigala” itu memanah, apalagi menyerbu maju. Tak ada pula yang membunyikan tanda bahaya atau semacamnya. Padahal, bisa jadi kapal perang yang datang ini bertujuan hendak menyerang Kota Dabongsang. Hampir pasti, semua kapal perang kerajaan apapun di Antapada datang untuk membasmi para penjahat di sarangnya ini.
__ADS_1
Bahkan saat kapal perang Jayandra itu merapat di dermaga yang lowong, tak seorangpun penjahat maju menyerang. Nirya sungguh tak habis pikir, wajahnya terus terheran-heran melihat gelagat yang tak lazim ini.
“Baiklah, kita berdua akan turun kapal paling awal,” ujar Arumi sambil menyandang segala persenjataan. Ia membawa dua pedang, satu busur dan satu sarung penuh anak panah.
“Apa kau yakin, Arumi?” tanya Nirya. “Tidakkah kita sebaiknya membawa pasukan?”
Arumi menjawab, “Ya. Aku sudah mempersiapkan beberapa prajurit yang menyamar sebagai petugas pengangkut barang untuk ikut serta dengan kita.”
“Tapi, yang aku masih tak mengerti, mengapa kita dibiarkan merapat?”
“Coba ingat-ingat lagi. Rainusa adalah jajahan Jayandra, ‘kan? Menurut desas-desus di kalangan rakyat, Jayandra telah bersekongkol dengan Geng Dabongsang untuk menempatkan I Gde Bakangga di takhta. Wiranata sengaja disandera di kota ini agar Dabongsang dapat menggunakannya untuk mengendalikan si raja boneka, Bakangga, dan tetap menjaga hubungan baik dengan Jayandra.”
“Jadi kau sudah tahu sejak awal kalau kita bakal dibiarkan merapat di sini?”
Arumi menggeleng. “Aku tak tahu. Aku hanya berspekulasi berdasarkan informasi yang ada.” Ia bergerak ke sisi, hendak menuruni kapal. “Tentu aku dan seluruh awak telah diam-diam berjaga-jaga dari kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Untunglah spekulasiku tepat, jadi kita bisa sedikit lebih tenang menjalankan rencana selanjutnya.”
Arumi lantas menyampaikan perintah pada nahkoda Pinissi agar selalu siaga menjaga kapal bersama para awaknya. Lalu ia bersama Nirya dan beberapa orang prajurit Jayandra yang menyamar meninggalkan kapal dan berjalan menyusuri dermaga.
Tiba-tiba Nirya terkesiap dan berseru, “Awas!”
Di ujung dermaga itu, tampak banyak sekali orang bergerak amat cepat dan berkumpul di sana. Gerombolan besar itu jelas-jelas menghadang rombongan yang terdiri dari dua pendekar dan seregu prajurit itu. Gelagat para penghadang yang rata-rata bertampang sangar itu jelas tak bersahabat, siap menyerang kapan saja.
Nirya juga siap mengayunkan kerambit berantainya. “Tahan dulu, Arumi! Jangan serang mereka! Lebih baik mereka yang maju ke dermaga yang sempit ini daripada kita dikeroyok di daratan!”
Entah Arumi bakal menurut atau tidak, saat ini Nirya membatin, mungkin jauh lebih baik mengikuti cara Sthira, menempuh jalan darat untuk menyusup diam-diam di Dabongsang. Tapi Arumi pasti tak setuju dengan cara Sthira itu.
Dan kini, kesalahan Arumi itu harus dibayar amat mahal, lewat pertumpahan darah yang dapat meletus sewaktu-waktu.
Dermaga Dabongsang mungkin akan menjadi tempat pemberangkatan Nirya dan Arumi menuju akhirat hari ini.
\==oOo==
Sesuai dugaan Nirya dan Arumi, Sthira memang telah diam-diam turun dari kapal dan berenang ke tepi pantai Pulau Sasanda. Setelah menjemur pakaian luarnya hingga cukup kering, barulah Sthira berjalan menyusuri rerimbunan pepohonan sepanjang garis pantai.
Sthira sedang dalam kondisi tak bersenjata. Penampilannya saat inipun cukup gagah, namun cenderung sangar dan “berantakan” akibat pertarungan-pertarungan dahsyat yang baru ia lalui. Janggut tipis yang bertebaran di dagunyapun mempertegas kesan sangar itu. Bermodalkan itu semua, Sthira berhasil memasuki Kota Dabongsang tanpa hambatan apapun.
Namun, makin jauh Sthira berjalan dalam kota ini, ia malah terus mengerutkan dahi. Pasalnya, dari semua kota yang pernah ia datangi, tak ada yang lebih kumuh, lebih berantakan dan lebih tak layak huni dibanding Dabongsang.
__ADS_1
Rumah-rumah yang dibangun di kaki gunung ini kebanyakan terbuat dari kayu atau batu, dengan bentuk asal-asalan dan jauh dari kata “indah”. Bahkan tak sedikit pula tampak “rumah-rumah langsung jadi” yang terbuat dari patahan-patahan kapal laut. Sumbernya? Entah dari kapal-kapal yang karam di perairan dekat Pulau Sasanda, ataupun kapal-kapal korban bajak laut Dabongsang yang sudah terlalu rusak untuk diapungkan di air lagi.
Kesan berantakan dan penuh-sesak terlukiskan dari penempatan bangunan-bangunan di kota ini. Rumah-rumah dibuat tampak seakan dibangun bertumpuk-tumpuk, memenuhi lereng Gunung Tubar’e. Panggung-panggung dari kayu juga dibangun memanjang, difungsikan sebagai jalan di depan tiap rumah, juga ada tangga-tangga yang menghubungkan tiap tingkat itu. Jadi, daerah di kaki gununglah yang dijadikan pusat kota, tempat berkumpulnya para penjahat paling elit, sakti dan terkemuka.
Maka, di pusat kota inilah Sthira menjelajah, menghabiskan waktu. Karena menurut logika, ini pasti tempat paling ideal untuk markas Dabongsang, sang pemimpin tertinggi, walikota merangkap ketua geng terbesar dan terkuat di kota para penjahat ini. Pusat kota ini juga ideal untuk kegiatan-kegiatan terpenting, termasuk misalnya, menyandera seorang raja.
Karena informasi yang didapatkan dari Barong teramat minim, wajar saja bila Sthira kini berburu lebih banyak informasi. Dengan tinju petirnya, Sthira baru saja “memeras” informasi dari seorang penjahat sakti. Dan kini, ia mendatangi tempat sumber informasi terbesar dan tersubur di Dabongsang, yaitu Kedai Minum Lapo Ktodong.
Baru selangkah ia memasuki gedung berdinding kayu jati ini, napas Sthira terasa sesak. Tempat ini penuh sesak dengan manusia dan siluman. Bau badan orang-orang yang amat jarang mandi itu berpadu dengan bau napas mereka yang bercampur dengan bau minuman keras. Ini hampir seperti segerombolan **** yang dijejalkan dalam kandang merangkap kubangan lumpur.
Tak hanya bau-bauan, pemandangan dan suara-suara bising di tempat inipun membuat Sthira muak. Kebanyakan penjahat di sini bersenang-senang seenaknya, sepuasnya, seakan hari esok takkan pernah tiba. Mereka bercengkerama dengan wanita-wanita penghibur, tak jarang pula yang berjudi, adu minum atau bernyanyi keras-keras dengan suara sumbang.
Sebenarnya Sthira agak tergoda untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ia lihat itu. Mungkin pula ia pernah melakukan itu semua dulu di Kalingga, untuk menghibur diri saat ia masih jadi tentara. Namun, rasa muak yang lebih parah daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya mengingatkannya kembali pada tujuan utama kedatangannya di kota ini.
Jadi, hanya satu hal yang Sthira pikirkan saat ini. Bagaimana cara agar aku mendapatkan informasi dalam suasana separah ini? Ingat-ingatlah pengalamanmu, Sthira!
Beberapa saat kemudian, wajah Sthira berubah cerah. Ia lantas berjalan perlahan sambil terus mengamati suasana sekitarnya.
“Hai, tampan! Mau bersenang-senang?” sapa seorang wanita penghibur. Namun Sthira tak menghiraukannya. Seorang wanita lain dengan genit menyentuh bahu Sthira. Namun saat tangan itu hendak menyentuh dada bidangnya, Sthira langsung mencekal “tangan nakal” itu dan memuntirnya.
“Aduuh! Kasar sekali!” Wanita penghibur itu kesakitan bukan buatan.
Sthira cepat-cepat melepaskan cekalannya dan berbalik. Namun seorang laki-laki bertubuh tinggi-besar, kelihatan tambun namun terkesan kuat dan sangar menghadangnya.
“Hei, bocah! Beraninya kau kurang ajar pada wanitaku!” hardik pria bermata kecil tapi berbibir tebal itu.
Namun Sthira hanya berdiri mematung. Tatapannya lurus, memelototi si tambun-besar.
“Heeh?! Beraninya kau memelototi aku? Wah, kau pasti pendatang baru, ya? Tak ada seorangpun di kolong langit ini memelototi Paju Gulak, algojo utama tuanku Dabongsang lalu masih punya mata setelahnya!”
Pasang ekspresi bosan, Sthira baru berujar, “Aku tak punya waktu untuk gertakan kosong. Kebetulan aku sedang bosan, jadi sekalian saja kutantang semua orang di sini bertarung dengan tangan kosong.”
Paju Gulak menyindir, “Tentu ada taruhannya, ‘kan?”
“Tentu. Pasang taruhan kalian. Bila aku menang, semua uang taruhan jadi milikku. Bila aku kalah, silakan coba ambil uangku, mataku, bahkan nyawaku.”
“Setuju!” seru Paju. Namun si tambun itu malah beringsut mundur. “Semua, beri ruangan! Aku ingin lihat tontonan seru dulu. Siapa mau jadi yang pertama menjajal bocah itu?”
__ADS_1
Seorang pria botak bertelanjang dada dan berutubuh kekar maju. “Aku, Habo akan beri anak ingusan ini pelajaran!” Habo menitipkan beberapa keping uang pada seorang wanita penghibur yang bertindak sebagai bandar, lalu maju berhadap-hadapan dengan Sthira.
Sumber gambar referensi bangunan di Kota Dabongsang: Desa Tradisional Waerebo di Manggarai, Flores. Sumber: Google.