
Singkat cerita, setelah berkeliling mengumpulkan informasi, Nirya mendapatkan petunjuk tentang keberadaan penguasa Swarnara saat ini.
Raja Swarnara, Tanakara telah mangkat dalam bencana letusan Gunung Barkajang yang menghancurkan Kota Ringidatu. Satu-satunya anggota keluarga raja yang selamat dari bencana ini adalah putri tengah Tanakara, yaitu Marantika. Rakyat di perantauan telah mendaulat Marantika menjadi ratu baru Swarnara.
Masalahnya kini, bukan mengungsi sementara ke Mardani, kota perdagangan terpenting di Swarnara, Marantika malah bersembunyi di ibukota darurat sementara dalam hutan.
Orang yang mengetahui letak persisnya kota tersembunyi itu bernama Hang Tajiri, saudagar paling kaya-raya dan paling berpengaruh di Swarnara. Kebetulan Tajiri tinggal di Kota Mardani ini.
Setelah melalui proses yang berliku-liku, akhirnya Nirya dan sang utusan berhasil menemui Tajiri. Medali perintah Ratu Pirimatha yang terbuat dari emas sudah cukup untuk menyakinkan sang saudagar tentang niat Kalingga untuk berdamai. Maka, Hang Tajiri mengutus salah satu abdi kepercayaannya untuk memandu Nirya dan sang utusan ke kota tersembunyi.
Menyusuri jalan setapak dalam hutan yang terbentang antara Kota Mardani dan reruntuhan Kota Ringidatu, Nirya tak sedikitpun mengendurkan kewaspadaannya, selalu siap dengan kerambit kembar berantai terhunus. Bahkan di bawah terik matahari sekalipun, bahaya bisa saja mengintai dan siap menerjang kapan saja.
Si pemandu, seorang pria pendekar yang tampaknya sudah cukup berumur berkata, "Tak usah terlalu tegang, Nak Nirya. Hutan ini terkenal sepi dan sangat aman, tak seperti hutan dekat Gunung Barkajang yang dihuni makhluk-makhluk seperti kerlawar atau semacamnya."
Nirya hendak menyanggah dengan mengataka para kerlawar mungkin telah pindah ke hutan-hutan lain setelah Gunung Barkajang meletus. Namun satu firasat yang terbit berkat pengalaman yang berlimpah membuat Nirya tersentak.
"Awas, ada banyak musuh mengintai di depan kita!" seru Nirya sambil menghentikan langkahnya.
"Apa maksudmu? Jangan mengada-ada, hutan ini...!" Si pemandu tak sempat meneruskan kata-katanya karena sebatang anak panah telah menancap tepat di titik tengah dahinya. Ia roboh tak bernyawa, membuat misi Nirya jadi lebih sulit daripada seharusnya.
Kesulitan Nirya bertambah lagi saat sekelompok besar manusia dan siluman mengepung dirinya dan si utusan Kalingga. Pagar betis pasukan itu begitu rapat, sehingga tak ada ruang sama sekali untuk lari. Satu-satunya cara untuk selamat adalah menerobos kepungan dan lari secepat kilat, tapi agak sulit melakukannya sambil melindungi orang Kalingga tambun yang jauh lebih mahir bersilat lidah daripada bersilat sungguhan itu.
Salah seorang pengepung melangkah maju. Kepalanya gundul-licin, daerah sekitar mulut dan dagunya ditumbuhi janggut pendek kasar yang terkesan dicukur serampangan. Rasanya Nirya kenal wajah itu, namun dahinya berkerut tanda ia tak yakin.
Si gundul yang lagaknya seperti pemimpin gerombolan bandit itu berseru dengan suara dibuat-buat, "Wah, wah, nampaknya ada mangsa empuk yang mendatangi kita hari ini." Tiba-tiba matanya terbelalak dan senyumnya melebar. "Walah, coba lihat siapa ini, teman-teman! Ini mantan saudari seperguruan kita di Perguruan Kerambit Bayunara, Nirya 'si cengeng' Panigara!"
Saat itu pula Nirya ingat identitas si gundul itu. "Astaga, kau... Badar?" Nada bicaranya berubah dari terkejut jadi geram. "Dasar pengkhianat perguruan! Kebetulan aku berniat mencarimu. Seharusnya sudah kusangka aku bakal menemukanmu di sini, di dekat tempat putri pujaan hatimu berada!"
__ADS_1
"Huh! Kini Marantika sudah jadi ratu! Ia memerintahkan aku dan Pasukan Elit Bayunara menjadi penjaga tempat persembunyiannya tanpa bayaran sepeserpun. Tentu saja aku menolak mentah-mentah. Lebih baik kami meraup harta dari orang-orang kaya yang lewat di sini. Dengan demikian, kami bisa hidup mewah tanpa perlu menunggu perang!"
"Sekali pengkhianat, tetap pengkhianat." Nirya menggeleng sambil berdecak. "Sang Mahesa hendak menghukum kalian, jadi ia menggerakkan seseorang untuk menyelamatkanku dari rumah perguruan yang terbakar, menempaku lewat petualangan maha dahsyat dan mengatur pertemuan kembali antara aku dan kalian semua di sini. Waktunya kalian membayar semua kejahatan kalian."
"Huh, sombong sekali kau!" hardik Badar keras-keras. "Apa kaupikir setelah berkembang, kau mampu menumbangkan kami semua sendirian, gadis kecil?"
"Tentu aku mampu. Peringatan terakhir, kalian semua bertobatlah dengan tulus. Pergilah dari sini dan hiduplah dengan jujur, atau pembalasan ilahi akan mengakhiri riwayat kalian hari ini juga!"
Namun tak seorangpun dari gerombolan bandit itu yang pergi.
"Ayo semua, kita bungkam mulut gadis kecil itu! Biar dia yang rasakan akibatnya bermain-main jadi duta dewata!"
Seruan Badar itu disambut sorak-sorai ganas para bandit lainnay. Lalu bagai segerombolan serigala lapar mereka semua menerjang ke arah Nirya.
Nirya pasang kuda-kuda, kerambit berantainya siap menari dan melanda puluhan pengeroyok itu.
Mendadak, sesosok pria berpakaian dan bertudung serba biru maju secepat kilat melewati Nirya. Pedang biru kristal transparan di tangan pria itu berkelebat, menyayat para bandit itu satu-persatu hingga bertumbangan. Tak lebih dari semenit, tinggal Badar saja di antara gerombolannya yang masih berdiri.
Namun Badar telah gelap mata. Ia tetap menyerang ke arah Nirya, siap menyayatkan kerambitnya dengan kekuatan dan kecepatan jurus Angin Membelah Awan. "Matilah kau, hantu Bayunara!" teriaknya kalap.
Tak ada lagi yang perlu dikatakan, Nirya membalas dengan jurus Angin Membelah Awan pula, berlari secepat kilat menyambut Badar. Masuk jarak serang, keduanya menyabetkan kerambit ke sasaran masing-masing. Mereka baru berhenti setelah beberapa langkah lagi, di posisi saling membelakangi satu sama lain.
Masih terbelalak tak percaya, Badar memegangi perutnya yang kini basah kuyup oleh darahnya sendiri. Rupanya saat terjadi bentrokan tadi, Nirya sengaja merunduk amat rendah. Selain menghindari sambaran kerambit Badar, Nirya sengaja menyayat tepat di luka sayatan pedang si pria misterius tadi.
"H-hidupku telah... gagal." Teriring kata terakhirnya itu, Badar putus napas dan roboh terkapar di tanah.
"Beristirahatlah dengan tenang, Guru Panigara dan saudara-saudara seperguruan," ujar Nirya seusai menyaksikan tumbangnya Badar. "Para pengkhianat perguruan telah membayar perbuatan mereka dengan nyawa."
Dengan ini, berarti Niryalah satu-satunya pewaris Ilmu Kerambit Bayunara dalam generasinya. Kelestarian ilmu tarung yang telah teruji ketangguhannya ini kini bergantung di tangannya.
__ADS_1
Yang tampak oleh Nirya berikutnya adalah si sosok pria misterius yang sedang memapah si utusan Kalingga. Sang utusan tak mengalami luka yang berarti, namun ketegangan suasana pertarungan tadi tak ayal membuat seluruh tubuh pria berusia empat puluh tahunan itu gemetaran.
Namun, ada satu perasaan aneh yang merasuki Nirya saat itu. Rasanya ia juga pernah bertemu si tudung putih ini sebelumnya.
Dengan sopan Nirya menyapa si tudung putih, "Terima kasih sudah menolong kami, tuan. Namaku Nirya dan aku sedang mengawal utusan dari Kalingga..."
"Aku tahu. Senang jumpa lagi denganmu, Nirya," ujar si tudung putih sambil membuka tudungnya. Ternyata ia adalah pendekar sakti yang pernah bertemu dengan Nirya di Kota Nurbaiti. Rambut biru panjangnya yang tergerai indah dihembus angin, kedua bola matanya yang berbeda warna hijau-biru dan parasnya yang nyaris seperti paras bidadari tak mungkin Nirya lupakan.
"A-astaga, Minata?" Nirya tiba-tiba mengangkat kerambitnya lagi. "Tapi bukankah kau adalah mitra Sabailuha, penjaga Gunung Ratauka? Mengapa kau membantuku? Tidakkah kau dendam padaku saat..."
Dengan lembut Minata menepis kerambit Nirya itu menggunakan tangannya. Katanya, "Dengarkan dulu penjelasanku. Setelah Ratauka meletus, Sang Srisari menghukum kami. Aku dan Sabailuha berpisah tubuh, dan Sabailuha diberikan tubuh mandiri. Aku masih memegang Aksara Air Kunci Ratauka, sedangkan Sabailuha bebas tugas dan menjadi liar."
"Ah, begitu rupanya." Nirya tak dapat menyembunyikan senyum leganya. Ia tak berani membayangkan apa yang bakal dilakukan MInata andai Sabailuha yang ganas yang pernah menyapu bersih Armada Jayandra itu menumpahkan dendamnya pada Nirya. "Lalu, bagaimana bisa kau kemari dan membantuku?"
"Entah ini kebetulan atau tidak, aku memutuskan pindah dari Nurbaiti dan menjadi pendekar pengelana. Saat aku tinggal sementara di Mardani, aku melihat pengumuman Hang Tajiri sedang merekrut pendekar-pendekar bayaran. Aku melamar pekerjaan itu dan langsung diterima karena kesaktianku melebihi semua pelamar lain."
Nirya mengangguk. Soal kesaktian, Minata memang tak perlu diragukan lagi.
Minata melanjutkan, "Ternyata kami ditugaskan untuk mencari tempat persembunyian para anggota keluarga kerajaan dan para pengungsi dari Ringidatu. Aku dan seorang pendekar lainlah yang menemukan kota rahasia Ratu Marantika di hutan ini. Namun rekanku ternyata hendak berkhianat dan menjual informasi itu ke Jayandra dengan harga tiga kali lipat imbalan kami. Jadi aku terpaksa membunuh rekanku itu dan menyampaikan informasi penting itu langsung pada Hang Tajiri."
"Oh, jadi karena itulah kau mendapatkan kepercayaan Hang Tajiri."
"Ya, jadi beliau mengutus dua pemandu kepercayaan, bukan satu untuk mengawal kalian. Yang lebih kebetulan lagi, kok bisa kau jadi pengawal utusan dari Kalingga? Padahal kau orang Swarnara, dan bersama Si Sthira itu kau sedang menjalankan 'misi berbahaya'. Apa yang terjadi selama ini?"
"Ceritanya panjang sekali. Mungkin akan kuceritakan padamu setelah tugas ini selesai. Sayangnyta saat itu kau harus kembali bertugas lagi, mengabdi pada Hang Tajiri."
"Tidak juga. Aku hanya pendekar bayaran yang tak terikat pengabdian pada Tajiri. Begini saja, saat kita kembali di Mardani nanti, aku akan pamit berhenti pada Hang Tajiri. Dengan begitu, kau bisa menceritakan petualangan besarmu padaku seluruhnya sambil kita berkelana keliling Antapada," kata Minata.
Nirya Panigara menyunggingkan senyum termanisnya pada Minata seraya berkata, "Aku suka usulmu itu. Nah, sebagai langkah pertama, ada seorang ratu yang harus kita temui. Ayo kita lanjutkan perjalanan ini."
__ADS_1
Ilustrasi Arumi Dyahrani karya Andry Chang