EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
WULANTRA Bagian 3


__ADS_3


Walau bangunan-bangunan di kompleks Keraton Griyanagari tak semenjulang menara-menaranya, sebenarnya tempat ini adalah semacam labirin yang hampir pasti bakal menyesatkan siapapun yang memasukinya pertama kali tanpa pemandu. Apalagi dengan penjagaan amat ketat di setiap sudut dan koridor keraton, mustahil orang biasa mampu menyusup, apalagi keluar dari labirin ini tanpa insiden.


Namun, ada saja orang yang dengan nekadnya melompati atap-atap bangunan demi bangunan keraton dalam kegelapan malam, dengan langkah-langkah amat ringan bagai berjalan di atas awan. Entah ia sudah gila, amat sakti atau keduanya.


Mengenakan tudung dan jubah serba hitam, sosok dengan bentuk tubuh seperti pria langsing ini mendarat dengan sempurna dalam salah satu gedung di lapis terluar kompleks keraton itu, menerobos langit-langit.


Lantas, pria itu “bertengger” di rangka kayu yang melintang di langit-langit gedung itu, melihat suasana di bawahnya. Tampak sel-sel seperti kandang-kandang berjajar di sepanjang interior gedung. Itulah ruang tahanan sementara di istana bagi para terdakwa yang sedang dalam proses pengadilan, atau sedang menunggu pelaksanaan hukuman mati.


Namun, tak banyak yang menghuni sel-sel itu sekarang. Hal ini terjadi karena hampir semua kasus kejahatan diadili oleh hakim kerajaan, bukan prabu. Dan bisa pula karena gabungan kinerja Prabu Narendra yang tegas dan Patih Galahasin yang bijaksana membuat segala kasus berat yang ditangani istana hampir selalu tuntas dengan cepat.


Dua orang penjaga lewat tepat di bawah si pria bertudung. Di saat yang tepat, si penyusup terjun dari kayu penyangga atap, mendarat mulus tepat di belakang kedua prajurit.


“Hei, siapa yang...?” Refleks, kedua penjaga itu berbalik sambil mengayunkan tombak-tombak mereka. Namun si penyusup lebih cepat, menyemburkan semacam asap tepat ke wajah kedua penjaga itu. Asap itu bekerja seketika, membuat kedua manusia pria itu ambruk bertumpukan di lantai, lalu tidur mendengkur.


“Hoi, ada apa ini? Ada kekacauan?” Seorang narapidana pria yang menghuni salah satu sel mendekat ke jeruji besi, wajahnya harap-harap cemas. Namun semburan asap si penyusup menerpanya pula, menguapkan harapan kebebasannya jadi sebatas mimpi belaka.


Si pria bertudung hitam lantas mengambil rangkaian kunci dari tubuh salah seorang penjaga di lantai, lalu mengepaskannya pada salah satu sel. “Arumi, bersiaplah! Kau bebas!” Suara si pria berdesis, namun cukup keras untuk didengar calon lawan bicaranya.


“M... Mpu Galahasin?” Arumi terkesiap, mengenali suara itu.

__ADS_1


“Ssst!” Mpu Galahasin mencoba kunci perkiraan keduanya, yaitu kunci kelima dari ujung rangkaian yang lain. Ternyata kunci bisa diputar penuh ke satu sisi, pintu berjeruji besi berdecit dan terbuka.


“K-kau... membebaskanku?” Arumi tak segera keluar, masih was-was dengan tindakan Galahasin ini.


“Nanti saja kita bicara! Ayo kita pergi sebelum penjaga lain datang!” desis Galahasin lagi, memperlihatkan janggut putih dan sebagian raut wajahnya yang berkeriput pada Arumi.


“Tidak, aku tak mau pergi tanpa mereka.”


“Mereka siapa?”


Arumi menunjuk ke “teman satu sel”-nya yang baru saja bergabung. “Nirya dan Sthira, tentu saja.”


“Kalau aku menolak membebaskan mereka?”


“Tapi mereka akan mendatangkan bencana bagi Antapada! Tak kasihankah kau pada rakyat Wulantra?”


“Aku lebih kasihan pada seluruh rakyat Antapada yang hidup serasa mati akibat perang, seperti di Wulantra ini!” sergah Arumi. “Tapi kau masih bisa menyelamatkan rakyat. Setelah kami pergi, tolong peringatkan Sang prabu dan sebanyak mungkin rakyat baik-baik agar meninggalkan kota ini dengan diam-diam. Karena bila kami berhaisl, kalian akan terhindar dari bencana dan membangun kembali kota ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.”


Mpu Galahasin malah menggeleng. “Tidak. Kota Wulantra sudah rusak sejak lama, dirusak oleh korupsi, kemelaratan dan dampak perang berkepanjangan. Kami akan mencari tempat bakal ibukota baru yang lebih baik, supaya Jayandra menjadi negeri yang lebih maju di segala bidang.” Ia lantas membuka pula pintu sel Sthira yang berseberangan dengan sel Arumi.


“Sekarang, ayo kita pergi!” Galahasin mulai bergegas, diikuti Nirya, Sthira dan Arumi. Tak lupa mereka melumpuhkan beberapa penjaga lain dan mengambil kembali senjata-senjata sitaan di gudang penjara. Lalu mereka berlari terus menuju gerbang belakang terluar kompleks Keraton Griyanagari.

__ADS_1


Mata Mpu Galahasin lalu tertuju pada gerbang terdepan yang dijaga sedikitnya enam prajurit bersenjata tombak dan parang. Ia lalu berkata pada ketiga anak muda itu, “Nah, saatnya aku bermain jadi pengalih perhatian dan berpisah dengan kalian. Satu pesan untukmu, Arumi, dan untuk kalian semua. Misi meletuskan gunung-gunung ini adalah rencana tergila yang pernah kudengar. Nirya, Sthira, kalian telah melakukan dosa terbesar yang pernah dilakukan siapapun juga. Dan bila kalian gagal sekarang, Jayandra dan Swarnara akan hancur dilalap negeri-negeri yang masih kuat, dan itu akan jadi dosa yang jauh lebih besar lagi.”


Nirya dan Sthira tercengang. Mereka mungkin tengah mendengarkan ulangan dari sesuatu yang telah merak tahu. Namun cara Galahasin menyampaikannya justru menerbitkan pemahaman baru tentang misi yang sedang mereka jalani ini.


Nirya, Sthira dan kini juga Arumi tak boleh mati, apalagi menyerah di tengah jalan. Menyerah atau mati bukan berarti misi mereka gagal saja, tapi juga bakal mengundang bencana-bencana yang lebih parah daripada letusan gunung berapi dan perang. Tepatnya, itu bencana bernama penindasan dan penjajahan negeri tetangga atau negeri asing.


“Yah, karena kini aku sudah dianggap pengkhianat Jayandra, mau tak mau aku harus mengawasi, bahkan membantu para sesama pendosa ini. Setidaknya ini masih lebih baik daripada dihukum mati. Terima kasih banyak, Mpu Galahasin.” Arumi tersenyum pahit.


“Berterima kasih pulalah pada Sang prabu yang amat memperhatikanmu. Nah, saatnya beraksi.” Sambil mengatakannya, Mpu Galahasin menanggalkan jubah hitam panjangnya, memakai pakaian kerja sehari-harinya sebagai patih alias perdana menteri.


Tanpa menunggu tanggapan Arumi, Galahasin berlari ke arah penjaga gerbang terluar keraton sambil berseru-seru, “Gawat! Darurat! Ada tahanan melarikan diri dari penjara istana! Ikut aku! Kita cegat dan tangkap mereka!”


“Siap, patih!” seru komandan jaga.


Mungkin karena terlalu percaya kata-kata Galahasin, semua prajurit jaga gerbang lari mengikuti Galahasin ke penjara, tentunya melewati jalur yang dilalui para pelarian.


Sekilas Galahasin menoleh ke satu sisi, mendapati Arumi dan kedua rekannya telah bersembunyi. Gadis pintar, batinnya. Bahkan Sang Mahesa sudi membukakan jalan bagi para pembawa bencana itu. Atau mungkinkah Sang Angkara yang kini tengah bekerja dan kami telah diperalatnya? Jawaban untuk semua ini mustahil kudapat dalam waktu dekat. Jadi hasil akhir tindakanku ini tergantung perjuangan teramat berat yang akan kami lakukan nantinya.


Sambil terus lari dan mengarahkan pandangan mata lurus ke depan, Galahasin kembali membatin. Yah, mungkin ini yang terbaik. prabu belia itu mungkin bakal kehilangan kharisma, wibawa serta nyawanya, terjerumus dalam duka berkepanjangan andai Arumi tiada. Dan itu akan jadi bencana ganda untuk Jayandra.


Walau kalian sungguh layak dihukum mati besok pagi, kukatakan ini sekali lagi. Semoga beruntung dalam misi ini, Sthira, Nirya dan Arumi. Nasib seluruh Antapada ada di tangan kalian.

__ADS_1


Keterangan Gambar: Referensi untuk keris panjang-besar Arumi: Keris Nagaraja / Naga Sasra, dengan bilah dan gagang yang 2-3 kali lebih panjang.


__ADS_2