EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
WATAS Bagian 3


__ADS_3


Haluan Kapal Pinissi tetap terarah ke barat. Kadang arahnya berganti ke barat laut atau utara, mengikuti arah hembusan angin. Yang pasti, tempat tujuan perjalanan kali ini telah ditetapkan, yaitu Negeri Bethara.


Yang pasti pula, badai perpecahan dalam kelompok beranggotakan Nirya, Sthira, Arumi dan Dhaka tak terulang lagi, terhindarkan berkat nasihat sang komodorai bijaksana.


Semua kenyataan ini terpancar jelas dari ekspresi wajah Sthira, si pemimpin kelompok yang tampak lebih tampan dan lebih cerah dari biasanya. Setidaknya, itu jauh lebih cerah daripada awan-awan kusam nan kelam yang kini menggantung di langit senja. Walau matahari belum sepenuhnya terbenam di batas cakrawala, langit kini nyaris segelap malam. Gejala alam ini biasanya hanya menandakan bakal terjadi hujan lebat.


Namun Dhaka yang dekat dan mampu meraba alam malah cepat-cepat menghampiri Sthira, Arumi dan nahkoda kapal. "Akan ada badai!" seru si komodorai. "Angin dingin seperti di Yamkora sedang hembus, seakan tusuk tulang Dhaka. Dhaka tahu, badai besar akan landa kita!"


Sthira mendelik. "Itukah ramalan cuaca terbaikmu, Dhaka?"


Dhaka mengangguk cepat.


Nahkoda Pinissi bertanya pula, "Menurut pendapatmu, Sesepuh Dhaka, apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari badai ini?"


"Ada satu cara," jawab Dhaka cepat. "Tapi Dhaka rasa seseorang tak akan suka itu."


"Langsung saja, sesepuh! Tak usah berbelit-belit!" Nada bicara Sthira terkesan gusar.


"Putar haluan sekarang juga. coba ambil jalur memutar menuju Akhsar, baru kita punya peluang menghindari bencana."


Tatapan mata Sthira menghunjam Dhaka bagai belati. "Kita tetap ke Bethara."


Dhaka menoleh ke arah nahkoda asal Akhsar itu, seolah ingin berkata, "Apa kubilang, dia pasti tak suka."


Sang nahkoda, Daeng Hasan Alamuddin mengelus ujung janggutnya yang dikuncir rapi. Ujarnya, "Sepanjang tahun-tahun pengabdianku sebagai nahkoda kapal, segala keputusan yang kubuat selalu selaras dengan tanda-tanda alam Sang Srisari. Itulah yang membuat Pinissi bertahan utuh hingga detik ini. Bahkan saat Armada Jayandra rusak, Pinissi termasuk yang masih mampu berlayar."

__ADS_1


Sthira ganti mendelik pada Hasan. "Apa maksudmu, Nahkoda?"


Tanpa setitikpun bayang gentar di sorot matanya, tatapan Hasan beradu, berbenturan dengan bilah tatapan Sthira. "Ramalan Dhaka itu selaras dengan intuisiku sebagai nahkoda. Jadi, kali ini aku setuju dengan usul Dhaka. Kalau kau membunuhku di sini dan sekarang dengan alasan aku memberontak, kau harus membunuh semua anak buah kapal ini pula!" Hampir semua awak Kapal Pinissi berasal dari Akhsar, hanya segelintir yang adalah warga Jayandra. Jadi wajar saja kalau mereka sepenuhnya setia pada Daeng Hasan.


Dhaka menambahkan, "Hei, daripada kehabisan awak untuk jalankan kapal, lebih baik Dhaka habisi Sthira di sini."


Sthira terpaku seketika. Raut wajahnya menyiratkan seakan seluruh dunia tengah mengepungnya. Andai Nirya dan Arumi hadir pula di anjungan kemudi kapal ini, mereka pasti akan ikut menentang Sthira pula. Lebih baik si pemimpin egois yang tumbang daripada semua orang jadi korban. Toh kedua pilihan itu bakal berujung sama, yaitu misi gagal dan terhenti.


Dan badai bencana yang lebih besar bakal menerpa seluruh Antapada.


Sthira mempertimbangkan segala akibat itu dengan akal sehatnya, lalu bicara, "Baiklah. Bila semua bersikeras, kita putar haluan ke Akhsar."


Setelah mengatakannya, Sthira berbalik pergi ke arah haluan kapal. Namun, tanpa menoleh ia berujar, "Tapi awas, Dhaka dan Hasan. Bila kalian ternyata salah atau sengaja mengada-ada, kalian harus menerima hukuman dilempar ke laut dari kapal dengan sukarela."


Sebagai lelaki, tentunya Dhaka dan Hasan memegang teguh keputusan mereka itu. Jadi, tak ada sanggahan, protes apalagi kata apapun lagi terlontar dari mulut mereka.


Daeng Hasan Alamuddin bertukar pandang dengan Dhaka, lalu menghela napas. "Dasar darah muda, kurang asam-garamnya."


Apa mau dikata. Sejauh apapun Pinissi berganti haluan, tetap saja badai besar datang melanda. Satu-satunya hal yang melegakan adalah mereka tak terus maju sampai ke pusat badai di jalur ke Bethara.


Andai Pinissi tak mengubah haluan sejak awal, badai yang melandanya bakal terlalu dahsyat, kapal layar "sempurna" berbahan kayu terbaik inipun takkan tahan dan bakal tiba di Bethara sebagai serpihan-serpihan.


Namun badai tetaplah badai. Sebesar apapun badai itu, tiap insan di kapal harus ikut berjuang untuk bertahan hidup. Layar-layar telah diturunkan, Pinissi seakan pasrah dipermainkan ombak mengganas. Sudah dua jam "amukan alam" ini berlangsung, bisakah kapal kayu ini terus dipertahankan keutuhannya?


Intinya, jangan sampai kapal kehilangan keseimbangan, apalagi sampai pecah dan tenggelam. Ombak-ombak itu rata-rata sedahsyat ombak buatan Dhaka di Dhuraga. Satu gelombang ombak buatan berbanding rentetan ombak badai alami, dapat dibayangkan seberat apa perjuangan yang dikerahkan.


Seperti halnya para rekannya, Dhaka Komodorai kini tengah mengerahkan tenaga sekuatnya. Bersama beberapa awak kapal, ia menarik tali yang terhubung dengan tiang utama kapal, menjaga agar tiang itu tak sampai tumbang dihempas badai dan ombak.

__ADS_1


Mengandalkan kelincahan bak kadal, sering Dhaka bergerak laksana terbang kesana-kemari, meraih tali di satu sisi tiang. Saat kemiringan kapal berubah, ia melompat lagi dan merengkuh tali di sisi satunya lagi. Kalau sampai pegangan tali Dhaka terlepas, tubuh besarnya terus terlontar keluar dari kapal.


Jadi, kepiawaian Dhaka sebagai anggota dengan fisik terkuat dan pemanjat terbaik dalam timnya lagi-lagi sedang diuji amat keras kali ini.


Apalagi dalam badai keras, kerap terjadi hal-hal di luar dugaan. Saat Dhaka baru meraih tali tiang, tiba-tiba kapal oleng lagi ke sisi berlawanan. Saat hendak melompat lagi, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan Sthira. Menoleh sekilas, mata Dhaka melihat pria Kalingga itu melayang, terhempas di pagar tepian kapal.


Sebelum terlontar ke dalam pusaran ganas arus laut yang bakal melumatkan tubuhnya, tangan Sthira sempat mencengkeram tapi pagar itu. Namun pagar kayu itu amat licin, pegangan penyambung nyawa itu bisa terlepas setiap saat.


Tanpa pikir panjang, Dhaka menerjang ke arah rekannya. Tepat saat itu, pegangan Sthira lepas. Di detik itu pula, satu sambungan baru nyawa Sthira terjalin dalam wujud pegangan tangan Dhaka pada tangannya.


Kapal lantas oleng ke sisi lain. Daya gerakan kapal itu dimanfaatkan Dhaka dengan menarik Sthira ke posisi paling aman, yaitu di tengah geladak kapal.


Wajah Sthira tampak sepucat mayat, lidahnya terlalu kelu untuk berkata-kata. Namun dari sorot matanya, Sthira amat berterimakasih pada Dhaka yang telah menyelamatkannya.


Belum sempat Dhaka mengatur napas, untuk beraksi lagi, terdengarlah teriakan dari arah haluan. "Ada pesut berlompatan persis di depan kapal!" Seruan itu diulang tiga kali.


Maka, Dhaka cepat-cepat melesat ke arah haluan untuk memeriksa keadaan. Lalu, ia menatap lurus ke arah yang dimaksud dengan ketajaman mata komodorainya yang mampu melihat benda jauh dalam gelap.


Beberapa saat kemudian, tampaklah sosok makhluk seperti ikan melompat dari dalam air yang menggelora, melambung di udara lalu menceburkan diri ke dalam permukaan laut dengan indahnya.


Satu-dua kali lagi hewan yang disebut "pesut" oleh awak kapal yang orang Akhsar itu melambung dan menyelam. Anehnya, pesut yang nampaknya adalah sejenis ikan lumba-lumba itu bergerak bebas, seakan tak sedikitpun imbas badai dan ombak yang menerpanya.


Saat si pesut tampak makin mendekat, naluri Dhaka mendorongnya untuk berteriak, "Hai, pesut! Apa kau sedang main-main, pamer kau punya bisa atau apa?"


Si pesut yang telah dekat dengan kapal ternyata bisa bicara. Serunya, "Ini bukan waktunya pamer! Ikuti Dapu Dapu kalau mau terus hidup!"


Ternyata pesut itu siluman. Mungkinkah ia utusan Sang Srisari untuk menyelamatkan kapal ini? Dengan pemikiran itulah Dhaka menjawab cepat, "Baik! Dhaka beritahu nahkoda dan jurumudi!"

__ADS_1


Dhaka kembali melesat secepat kilat, menunjukkan kebolehannya pula dengan merayap sepanjang geladak kapal ke arah buritan.


Referensi untuk karakter "Dapu Dapu" adalah Pesut Mahakam. Sumber Gambar: Inibaru.id.


__ADS_2