EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
DANTONU Bagian 7


__ADS_3


Bagi kalangan petani, awan hitam bergulung-gulung memenuhi langit adalah pertanda hujan berkah akan turun. Ini berarti sawah-sawah mereka akan cukup air. Salah satu syarat mencapai masa panen bakal terpenuhi, paceklik dan bencana kelaparan akan terhindarkan.


Namun, Dhaka justru memandang fenomena ini sebagai pertanda amat buruk. Sesuatu yang amat mengerikan sedang menunggu Dhaka dan Taksaka di atas sana, yang akan bertambah mengerikan berkat asupan sesuatu dari dalam awan hitam itu.


Gawatnya pula, Dhaka sedang memanjat gunung sambil memanggul Sthira di punggungnya. Saat membicarakan rencana dan taktik dengan Taksaka tadi, tiba-tiba si pemimpin kelompok jatuh pingsan lagi. Semula mereka berniat meninggalkan Sthira di pelataran dataran tinggi gunung bersama Dapu Dapu. Namun Dapu Dapu bersikeras untuk ikut ke puncak juga, memandu Nirya dan Arumi. Jadi terpaksa Sthira juga ikut, dibawa oleh Dhaka yang bertubuh amat kuat dan ahli mendaki gunung sambil membawa beban berat.


Daripada memikirkan segala halangan yang malah bakal menyulitkan, Dhaka dengan segala pengalamannya memilih memusatkan perhatian pada jengkal demi jengkal dinding lereng batu yang harus didakinya. Satu hal yang sedikit melegakan, lereng Gunung Dantonu tak terlalu curam dan tinggi seperti Yamkora, puncak tertinggi di Antapada.


Alhasil, gabungan semua pemikiran dan fakta itu mengantar Dhaka akhirnya menjejak puncak Gunung Dantonu.


Saat menatap ke sekeliling, Dhaka terkesiap. Ternyata puncak gunung ini sebenarnya adalah sebuah kawah raksasa yang disebut kaldera. Dantonu pastilah pernah meletus beberapa kali. Tiap letusannya amat dahsyat namun terarah, seakan "mengukir" puncak itu menjadi sebuah dataran yang agak sedikit melengkung seperti kuali. Tambahan pula, dataran itu seolah-olah terkurung, dikelilingi dinding batu yang menjulang tinggi dengan puncak-puncak bagai bergerigi runcing. Pastilah Taksaka masuk lewat "gerbang", yang adalah celah bukaan di antara kesemua dinding itu.


Apapun pendapat orang, dalam benak Dhaka ini bukan pemandangan puncak atau kawah gunung belaka. Ini adalah serambi neraka.


Saat melangkah, tiba-tiba rasa sakit seperti tusukan belati menyengat Dhaka. Ternyata kakinya menginjak aliran lava panas, merah membara yang menganak-cabang dari kolam penuh magma di tengah-tengah dataran itu.


Segala pertanda yang terlihat mata itu jelas menunjukkan bahwa akhir-akhir ini Gunung Dantonu memang sedang aktif. Masalahnya, apakah ini memang kebetulan? Atau ada seseorang atau sesuatu yang memicu aktivitas ini?


Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu datang hampir seketika lewat suara kepakan sayap-sayap raksasa. Dhaka menegadah ke arah sumber suara itu dan melihat satu sosok yang mirip kelelawar. Begitu besarnya sosok itu, seluruh tubuhnya seakan menutupi setitik sinar matahari di balik awan tebal dan langit mendung, hingga suasana jadi tampak makin gelap.


Sosok yang semula mirip kelelawar itu terus turun seperti hendak mendarat dalam kaldera. Walau agak lambat, makin tegas terlihat perubahan sosok itu ke wujud sejatinya, yaitu seekor naga.

__ADS_1


Taksaka cepat-cepat berlutut takzim, Dhaka mengikutinya sambil meletakkan tubuh Sthira dengan lembut di tanah.


"Salam hormat, Yang Mulia Vrithra. Rai Taksaka, abdi setia Yang Mulia telah kembali," seru Taksaka.


Naga Vrithra meliukkan leher panjangnya, menghadapkan kepalanya yang dipenuhi tanduk panjang bagai mahkota ke arah insan-insan yang berlutut itu. Tubuh raksasanya lantas mendarat di permukaan kaldera dengan suara berdebam. Bahkan Dhaka merasakan guncangan bagai gempa dahsyat dari bawah lututnya dan terus menjalar ke paha dan bahkan tubuhnya.


Kilatan-kilatan petir menyambar-nyambar di sepanjang tubuh atas Vrithra, menggantikan surai dan duri-duri pada naga biasa. Sepasang mata Vrithra juga tampak berkilatan, melengkapi pertunjukkan kekuatan dan wibawanya. Si naga-trenggiling ini seakan tanpa tanding, bahkan dibanding dengan makhluk gaib terkuat di Antapada sekalipun.


Bahkan suara Vrithra seperti gelegar guntur. "Rupanya kau membawa tamu, hei Ular Kecil. Jelaskan!"


"Ampun Baginda," ujar Taksaka. "Hamba mengantar Dhaka, seorang komodorai dari suku di bawah gunung yang ingin mengabdi pada Baginda. Ia telah menaklukkan seorang pendekar penyusup dan membawanya kemari sebagai bukti kesaktiannnya, serta kesetiaannya pada Baginda."


Pandangan mata Vrithra sejenak beralih antara Dhaka dan Sthira. Sang naga lantas berkata, "Hmm, bagus sekali, hei Kadal Kecil. Nampaknya pendekar yang kautangkap itu amat sakti, jadi kekuatanmu pasti setara atau setidaknya sedikit di bawah Ular Kecil. Hahaha, Ular Kecil dan Kadal Kecil, kombinasi yang pas untuk budak-budak andalan Sang Naga Dewata."


"Bagus, bagus." Kepala Vrithra mengangguk-angguk pelan. "Namun, sebagai calon abdi terdekatku mendampingi Ular Kecil, aku harus memberikan sesuatu padamu terlebih dahulu. Nah, mendekatlah padaku."


Diam-diam Dhaka terkesiap. Sesuai dugaannya, Vrithra berniat untuk mengendalikan benak Dhaka seperti halnya terhadap Taksaka dan Savitri. Dugaan terburuk Dhaka adalah Vrithra langsung menyerang layaknya hewan buas, hendak membunuh dirinya dan Sthira. Namun pada kenyataannya, hidup seperti boneka dan membuat sebuah negeri bagai neraka dunia jelas lebih parah daripada mati.


Walau demikian, Dhaka tetap maju mendekati Vrithra.


Apakah si komodorai itu sudah gila, hendak menantang kekuatan sihir setara dewata?


Mengumpulkan segenap keberanian, mata Dhaka tak lepas menatap mata Vrithra. Taksaka memang tak menceritakan tentang cara Vrithra mempengaruhi benaknya, namun Dhaka berasumsi shir pengendali benak bakal disalurkan lewat hipnotis alias tatapan mata. Seperti pengalaman sebelumnya menghadapi cayari di Dhuraga, sebagai seorang siluman Dhaka lagi-lagi akan mengandalkan pertahanan alaminya terhadap sihir pengendali benak.

__ADS_1


Saat dirinya hanya berjarak kira-kira sepuluh langkah dari leher Vrithra yang terjulur ke arahnya, tiba-tiba kepala, kedua tangan, kedua kaki dan tubuh Dhaka terasa nyeri bagai tersambar petir. Ternyata Vrithra mengerahkan sihir lewat aliran benang-benang petir yang terjalin menjadi jaring yang menusuki sasaran-sasaran tertentu, bukan dengan hipnotis.


"Berbahagialah, Kadal Kecil! Dengan hadiah dariku ini, Jaring Kendalisukma, kau pasti akan menjadi abdiku dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan!"


Dhaka mengerang bukan buatan. Energi petir mengalir, menjalari setiap jengkal tubuhnya. Segala daya perusak itu mengalir ke satu sasaran, yaitu otaknya.


Walau terus didera kesakitan luar biasa, Dhaka memaksa diri meredam rasa itu dengan berkata terbata-bata, "Pikir lagi, Vrithra... Kesetiaan... sejati bukan... d-datang dari pikiran... tapi... dari hati. B-berhentilah... tipu... diri sendiri."


"Ha! Sudah kuduga, kau pasti hanya pura-pura takluk, Kadal Kecil! Justru aku harus gunakan cara ini untuk menjamin kesetiaan siapapun juga! Tak ada yang bisa dipercaya, manusia, siluman, bahkan dewa!"


"Itu tergantung... cara kamu... peroleh... kekuasaan. Kalau kamu selalu... pakai paksaan... yang niat setia dari hatipun akan urung."


"Omong kosong! Lihat saja sendiri! Aku masih punya abdi setia! Ular Kecil, habisi kadal kecil ini sekarang juga! Jawab, Ular Kecil!"


"Kau mau jawaban? Rasakan ini!" Tiba-tiba Taksaka menusuk pangkal leher Vrithra dengan tombak pinjaman dari Dhaka.


Tak hanya itu, Nirya dna Arumi yang sejak tadi sudah menyusul di puncak dan menyelinap saat perhatian Vrithra tersita oleh Dhaka turut menghunjam perut samping si naga-trenggiling dengan kerambit berantai dan keris panjang sarat prana angin dan api.


Namun, dengan nada mencemooh Vrithra berkata, "Kalian kira senjata-senjata murahan itu bisa melukaiku? Cicipilah neraka!"


Dengan satu entakan energi petir, Vrithra mementalkan para pembokong itu seperti sapi mengusir lalat-lalat yang hinggap di tubuhnya dengan kibasan ekornya. Akibatnya, para pendekar termasuk Dhaka dan bahkan Taksaka terpental ke segala arah.


Yang paling parah tentunya Nirya yang bertubuh paling ringan dalam kelompoknya. Gadis itu melayang tak terkendali hingga menabrak dinding kaldera. Nirya roboh seketika, tak jelas apakah gadis itu ikut tak sadarkan diri atau... takkan pernah bergerak lagi selamanya.

__ADS_1


Ilustrasi Vrithra, variasi pertama oleh Andry Chang.


__ADS_2