
Taktik serangan balik Arumi ternyata tak terus lancar. Dengan cerdik, rukhan-rukhan di baris belakang rombongan lari menyebar, menyerang lewat celah-celah sempit lainnya dan mengepung para “calon mangsa” itu.
Namun Arumi tak kehabisan akal. “Panjat pohon!” serunya.
Dengan cukup cepat, Arumi dan Sthira memanjat pohon-pohon jati yang berbeda-beda. Nirya memanjat pohon ketiga dengan menancapkan kerambit kembarnya pada batang pohon, gerakannya malah lebih cepat lagi.
Para rukhan melompat-lompat, mencoba meraih para pemanjat. Namun cakar-cakar mereka hanya menerpa udara. Sebenarnya rukhan bisa memanjat pohon. Namun bara api di punggung mereka mungkin bakal membakar pohon yang mereka panjat, dan itu akan sangat merugikan bagi mereka sendiri.
Jadi, sebagai hewan yang cukup berakal, para rubah-kancil itu menggunakan energi api yang mereka miliki untuk melompat lebih tinggi lagi.
Terkesiap, Arumi dan Nirya menghindar dengan memanjat lebih tinggi. Jadi serangan terparah yang masuk hanya cakar berapi di pangkal paha Arumi. Sebaliknya, seekor rukhan menggigit punggung Sthira yang tak begitu lincah. Sthira mengerang sambil terus memanjat.
Arumi menembakkan beberapa anak panah dan menewaskan empat rukhan. Sementara Nirya bergelantungan pada kerambit berantainya dan menembakkan panah-panah prana Angin Membelah Awan, menumbangkan tiga rukhan.
“Cukup sudah kita membuang waktu di sini!” Tak sabar lagi, Sthira terjun dari batang pohon. Arumi dan Nirya terperanjat, tak sempat mencegahnya.
Sthira mendarat sambil menghunjamkan goloknya. Energi petir dari imbas pertumbukan golok dan tanah menyebar bagai Gelombang Kejut Halilintar, menyambar, melontarkan bahkan membunuh para rukhan yang bergerombol di bawah sana.
Rukhan-rukhan yang selamat jadi amat murka. Tanpa peduli apapun lagi, mereka mengibaskan ekor masing-masing, menembakkan bola-bola api pada Sthira. Mengayunkan goloknya bagai menari, Sthira menepis bola-bola api itu. Namun jumlah bola api terlalu banyak, hingga tubuh Sthira tersengat bara di sana-sini.
“Cih, temanmu itu sungguh sembrono, Nirya!” Arumi terpaksa merosot menuruni pohon untuk membantu Sthira. Sempat ia mendengar Nirya berseru balik, “Dia bukan temanku!” Pasalnya, teman atau bukan, bila Sthira tewas, semua rencana bakal berantakan, nyawa Arumi dan Niryapun bakal terancam. Jadi Nirya ikut turun pula.
Gliran Nirya menari dengan kerambit berantainya, membabat sedikitnya dua rukhan. Namun saat mengincar musuh ketiga, bilah kerambit yang diayun dari jarak jauh itu malah menancap di batang salah satu pohon.
Saat Nirya hendak mencabut senjatanya, satu rukhan malah menerjangnya dari samping. Bereaksi cepat, Nirya menghentakkan kakinya dan maju ke arah batang pohon. Lalu gadis itu melompat, menjejak dan menolakkan kakinya pada batang itu, bersalto dengan indahnya. Ujung bilah kerambit tercabut seketika, dan Nirya ganti menancapkannya pada leher seekor rukhan yang ada di garis serangannya.
Tak berhenti di sana, Nirya menyalurkan tenaga dalam ke kedua tangannya dan mengayunkan rantai kerambit itu. Punggung rukhan yang tertancap di ujungnya masih membara. Tubuh berbobot seperempat bobot tubuh Nirya itu ikut terayun seperti bola besi berapi, menghantam sekaligus membakar rukhan-rukhan lain. Aksi itu membuat Nirya sesaat terkesan sekuat tenaga fisik Sthira. Hasilnya, lebih banyak rukhan terhalau, terpukul mundur.
Jadi, aksi nekad Sthira tadi membuat kedua rekannya ikut “menggila”.
Satu siulan panjang dan nyaring berkumandang. Semua rukhan yang mendengarnya menghentikan langkah mereka, lalu berlarian ke segala arah.
“Hei, kembali! Biar kuhabisi kalian semua!” Emosi Sthira seakan meluap-luap.
__ADS_1
Nirya malah pasang wajah kebingungan. “Lho, bukankah para rukhan itu tengah mengepung kita, memaksa kita melawan habis-habisan? Mengapa mereka ditarik mundur?”
Arumi menaikkan bahu. “Mungkin majikan mereka tahu, para rukhan takkan bisa menang melawan kita bertiga.” Ia mengerutkan dahi, terkesan meragukan kata-katanya sendiri.
“Wah, percaya diri sekali para anak muda itu.” Suara serak si wanita misterius terdengar lagi. “Padahal mereka tak tahu apa-apa.”
Suara wanita kedua yang lebih lembut menimpali, “Mereka pikir kita menarik mundur para rukhan karena kita takut. Ck, ck, ck. Salah besar!”
“Jangan bertele-tele!” Emosi Sthira kembali meledak. “Katakan apa mau kalian, atau kubakar seluruh hutan ini!”
“Hohoho,” tanggap si suara serak. “Kami sudah cukup melukai kalian, dan kami justru akan membiarkan kalian mati membusuk di sini. Coba saja bakar dan memantik bara amarah alam, kematian kalian dijamin akan sangat cepat dan tak terhindarkan.”
“Jadi, apapun yang kalian pilih, kalian toh pasti akan mati,” ancam si suara lembut. “Kalian hanya bisa pilih ingin mati cepat dalam kesakitan parah, atau mati perlahan-lahan.”
“Kami punya pilihan yang lebih baik,” tegas Arumi. “Kami akan keluar dari hutan ini dan membuat perhitungan dengan kalian.”
“Bualan besar si jiwa sekarat,” ujar si serak.
“Benar, benar,” sambut suara wanita yang halus, berangsur hilang seolah terbawa angin.
“Minggir, Arumi!” bentak Sthira.
Justru Arumi balas menegur, “Kendalikan dirimu. Gunakan akal sehatmu, Sthira. Dengan memilih ‘mati dengan perlahan’, kita jadi punya kesempatan untuk terus mencari, siapa tahu ada titik terang di tengah kesempitan ini.”
Sthira terkesiap. Biasanya dialah yang selama ini mengarahkan dan menguatkan Nirya lewat kata-kata dan sikapnya yang tegar. Kali ini, malah Arumi yang baru ia kenal meredam gejolak emosi yang adalah sisi gelap diri Sthira sendiri. Nirya tertunduk lesu, Arumi tampaknya lebih memahami Sthira daripada Nirya mengenalnya.
Maka, Sthira menurunkan goloknya dan berjalan mengikuti Arumi tanpa bicara sepatah katapun. Nirya berjalan gontai, suasana ini terlalu canggung baginya. Hujan sudah berhenti sama sekali sejak tadi, namun mendung di hatinya tak kunjung menepi.
Ketiga insan itu berjalan dan terus berjalan, tanpa bisa memantau posisi pancaran surya Sang Mahesa yang terhalang lebatnya dedaunan. Mereka hanya mengikuti jalur jalan setapak, berharap ada jalan keluar di ujung jalur itu. Lebih aneh lagi, tak ada satupun hewan buas atau tidak yang mereka lihat berkeliaran di tanah. Hanya suara-suara kicauan burung dan hewan-hewan pengeratlah yang mulai bersahut-sahutan di atas pepohonan, seolah menyambut perginya para rukhan dan para pengganggu kedamaian. Para hewan yang malang. Mereka sama sekali tak sadar, petaka yang lebih besar dari gangguan apapun sedang menghampiri mereka.
Setelah lebih dari setengah jam berjalan, Nirya mendadak berkata, “Teman-teman, rasanya kita tengah berputar-putar saja dalam hutan ini.”
“Apa maksudmu, Nirya?” sergah Sthira.
Arumi menyela, “Ingatkah kata-kataku saat kita masuk tadi? Hampir semua orang yang pernah memasuki Hutan Sriwedari ini tersesat dan tewas dengan berbagai cara, termasuk menjadi gila dan bunuh diri.”
__ADS_1
“Jadi dengan kata lain, apakah kita tersesat?” tanya Nirya.
“B-bisa jadi... Tapi, a-aku tak tahu...” Untuk pertama kalinya, Arumi menengok kiri-kanan seperti orang kebingungan.
“Sudahlah! Ayo kita jalan terus! Siapa tahu ujung hutan sudah tak jauh lagi dari sini!” Tanpa menunggu jawaban rekan-rekannya, Sthira tampak melangkah dengan tegap. Padahal ia sedang menyembunyikan ekspresi kelelahannya dari sorot mata kedua gadis di belakangnya itu.
Arumi melangkah seakan kedua kakinya tertindih gunung. Dadanya terasa sesak, namun bercampur aduk dengan rasa hangat dan akrab yang entah kapan pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa amat dekat, seolah dipeluk dalam haribaan nan hangat, berselimut sayap-sayap malaikat.
Namun, secercah kenangan suram dari asam-garam jalan petarung menyadarkan kembali si senopati belia ini pada jalan yang sedang diarung. Tidak! Aku adalah pendekar yang telah ditempa sejak berusia tujuh tahun oleh si guru pengkhianat, Begarwana! Tak ada ruang untuk kelembutan dan nyamannya kasih sayang dalam hatiku! batin Arumi. Walau aku tak pernah menginjakkan kaki di Sriwedari ini, rasanya aku pernah kemari sebelumnya. Namun aku sama sekali tak ingat kapan, dan apa yang membuat perasaanku tak menentu seperti ini.
Marah dan gembira, gelisah dan damai.
Benci dan cinta, semua membuncah di saat yang sama.
Tiba-tiba Arumi yang sedang setengah melamun tersandung sesuatu. Gadis itu menunduk dan ternganga. Ternyata kakinya tersandung bangkai rukhan. Lebih ternganga lagi Arumi melihat tubuh-tubuh rusak hewan sejenisnya berserakan di sana-sini. Dan ini hanya berarti satu hal.
“Astaga... Itu... Berarti sejak tadi kita hanya berputar-putar saja? Lalu kembali ke tempat kita melawan para rukhan tadi?!” Apalagi Nirya, wajahnya pucat pasi.
“Ya, pasti begitu!” seru Sthira. “Apalagi kini hari hampir gelap, terpaksa kita bermalam dulu saja di sini!”
Tiba-tiba suara seorang pria menyela, “Kalian tak harus bermalam di hutan.”
Ketiga pendekar menoleh, semua mata lantas tertuju pada sumber suara itu. Sumber yang amat mereka benci.
Sthiralah yang menegaskan identitas pria itu. “Begarwana!” Seperti biasa, ia bereaksi paling cepat. Ia menodongkan goloknya ke arah pria setengah baya berkumis tebal itu.
Nirya menggenggam erat senjatanya dan ikut menghardik, “Orang yang kita incar sejak Ratauka ternyata muncul sendiri di sini, kebetulan sekali!”
“Hai, hai,” Laksamana Begarwana justru berpangku tangan sambil tersenyum. “Justru sebaliknya, akulah yang mengincar dan memburu kalian hingga ke hutan ini. Sengaja aku menunggu di sini, karena aku tahu, cepat atau lambat kalian pasti kembali ke titik ini.”
“Masa bodoh. Kalau kau berpikir mampu menandingi kami bertiga seorang diri, akan kubuktikan saat ini juga itu sama saja bunuh diri.” Sthira menarik bilah pencabut nyawanya sesaat, siap menghunjamkan ujung runcingnya tepat ke jantung si pria besar. “Selamat tinggal, Begarwana!”
Namun, betapa terkejutnya Sthira saat sebilah keris panjang menyeruak, tepat menangkis tusukannya.
“A-arumi!?” Sthira terkejut bukan kepalang melihat si penghalang.
__ADS_1
Keterangan Gambar: Referensi untuk monster rukhan dari "fox deer" (Sumber: Pinterest).