
“Tunggu!” Nirya menbunjuk ke sampingnya. “Lihat dulu dinding ini! Gambar pahatan ini persis adalah lanjutan ‘Cerita Barong’ di dinding-dinding yang jalurnya kita lewati tadi, jadi ini pasti jalur yang benar!”
“Katakan saja pada kecak-kecak itu!” seru Sthira sambil kembali menyiagakan mandaunya. Satu gelombang pasukan kecak lagi menyerbu cepat lewat jalur masuk tadi, menutup jalan dan berteriak-teriak, “Kita terobos mereka lagi!”
“Jangan!” seru Nirya. “Kita harus bertahan! Dengar baik-baik! Dinding pembuntu itu mulai bergeser!” Pendengaran Nirya rupanya lebih tajam daripada rekan-rekannya, sehingga ia mampu mendengar bunyi geseran bagu di sela teriakan-teriakan sengaja para musuh itu.
Nirya berseikeras dengan maju paling depan dan menembakkan larik-larik angin bagai tusukan banyak pedang ke arah para kecak.
Widuri hampir terkena larik tajam itu. Ia berhenti berlari sambil menghardik, “Gila! Apa kau ingin membunuhku, hah?”
Sebaliknya, dengan wajah tanpa ekspresi Arumi berujar, “Kali ini kurasa Nirya benar. Minggirlah, jangan salahkan aku bila kau kena panah saktiku!”
Sambil mendengus dongkol, Widuri bergerak mundur.
Maka, Arumi menarik satu anak panah di busur barunya. Saat tali busur dilepas, satu panah itu meluncur lurus, tampak seperti kepala burung phoenix berapi. Namun, di sisi-sisi “kepala” itu larik-larik api juga menyebar hingga tampak seperti sepasang Sayap Api Abadi.
Larik-larik api itu menerjang semua kecak di deretan terdepan hingga tumbang. Namun masih banyak lagi kecak yang datang menyusul, seakan tak ada habisnya menerobos kepungan jelas bukan pilihan sekarang.
“Ayo kita tahanb mereka, Arumi! Kuharap kau benar, Nirya, kalau tidak, habislah kita semua!” seru Sthira sambil mengayunkan mandau besarnya, menyambut musuh yang masuk jarak serangnya.
Arumi juga kembali berganti senjata, kerisnya juga berkelebat dengan ganasnya. Murid-murid Widuri ikut membantu, hanya sang guru saja yang tampak berpangku tangan.
Nirya sendiri terlalu sibuk mengamati keadaan. Ada dua hal yang ia temukan. Pertama, hampir semua kecak yang menyerbu jalur ini memiliki bekas-bekas luka. Anehnya, banyak dari itu adalah bekas-bekas sayatan dan tusukan di titik-titik fatal. Kedua, dinding penghalang di jalur ini mulai bergeser terbuka, sementara di saat bersamaan dinding di ambang pintu masuk tadi mulai menyembul, hendak menutup jalan.
Jadi Nirya meneriakkan kesimpulannya, “Teman-teman, para kecak tak bisa mati dan dapat pulih kembali dengan cepat! Pukul mundur mereka sampai ke belakang pintu masuk yang sedang menutup, lalu cepat lari sebelum para kecak yang tumbang di sini bangkit kembali!”
“Tapi bagaimana cara membunuh mereka?” tanya Arumi, nada bicaranya tak ketus seperti sebelumnya.
“Aku tak tahu. Mungkin Ni Widuri tahu?” Nirya sengaja melempar pertanyaan itu ke “ahlinya”.
“Tidak, aku juga tak tahu. Sebisanya hindarilah para kecak itu!” jawab Widuri. Tak ada gelagat sedikitpun ia akan mengerahkan serangan sihir seperti sebelumnya.
__ADS_1
“Heh.” Nirya tersenyum penuh kemenangan sambil bergerak maju membantu rekan-rekannya.
Gelombang demi gelombang serangan ketiga pendekar mumpuni itu terus mendesak maju. Para kecak meraung-raung, entah karena tumbang atau terus terpukul mundur. Hingga akhirnya tinggal para kecak yang berada di balik dinding pintu masuklah yang terus melawan.
Lantas, dinding pintu masuk yang bergeser hampir tertutup rapat, hanya menyisakan celah yang hanya bisa dimasuki kecak dengan menyelinap. Itulah saat Nirya berseru, “Lari!”
Enam orang pendekar berbalik dan langsung lari secepat yang mereka bisa.
Membuktikan dugaan Nirya, sedikitnya dua kecak yang semula terkapar di tanah bangkit, dan luka-lukanya pulih. Dengan sigap Sthira memenggal kepala satu kecak, dan keris satu murid Widuri menyayat amat dalam di dada kecak kedua, menumbangkannya sekali lagi.
Saat kakinya berderap melewati dinding pintu yang terbuka, baru Nirya bisa bernapas sedikit lega. Namun, peluang makin banyak pula kecak yang kembali bangkit dan mengejar membuat ia hanya melambatkan larinya saja, mengikuti tindakan rekan-rekannya.
Tiba-tiba terdengarlah teriakan Arumi, “Nirya, berhenti!”
Tanpa pikir panjang Nirya menghentikan langkahnya. Benar saja, dari lubang-lubang di tanah di depannya mencuatlah paku-paku panjang. Andai tertusuk, paku-paku besi itu pasti bakal menembus hingga ke pinggang, membuat Nirya terjatuh ke kematiannya.
Jadi, Nirya terpaku saja di tempat dan mengelus dada atasnya, lalu menoleh pada Arumi dan tersenyum sebagai tanda terima kasih. Arumi membalas itu dengan senyuman pula.
“Lihat ke sana.” Widuri menunjuk ke depan. “Jebakan paku itu berderet-deret.”
Namun pikiran Nirya kini terpusat lagi untuk melewati jebakan-jebakan paku itu, untuk menentukan kapan dan sejauh apa ia perlu melompat. Mengandalkan kelincahan kakinya, ia lantas melompat-lompat sesuai pola dalam ingatannya. Sesekali Nirya melompat terlalu jauh dan nyaris kehilangan keseimbangan saat mendarat. Untunglah, berkat latihan yang giat ia berhasil menegakkan diri seketika. Satu lompatan lagi, barulah Nirya menarik napas lega.
Saat berikutnya, tampaklah satu pemandangan menyebalkan. Ni Luh Widuri rupanya menggunakan Ilmu Peringan Tubuh, menggunakan prana untuk melayang sedikit di atas paku-paku itu. Ia berjalan di udara dengan penuh gaya dan mendarat beberapa langkah di depan Nirya. Ada baiknya dinding-dinding labirin itu setinggi sepuluh meter hingga nyaris menyentuh langit-langit gua. Karena bila Widuri bisa melewatinya, tentunya bakal lebih menyebalkan lagi.
Terus melangkah, jalur yang dilalui Nirya dan rombongannya makin kompleks, berliku-liku dan bercabang-cabang. Namun petunjuk pada dinding relief dan pengetahuan Widuri yang lengkap mengenai kisah sepak terjang Sang Barong membuat emreka hampir selalu menemukan jalur yang benar.
Namun, ini bukan berarti segala sesuatunya pasti lancar. Segerombolan kecak lagi menghadang rombongan Nirya, namun kali ini mereka menyisakan satu jalur kosong, seakan mereka sengaja memancing para penyusup untuk memasuki jalur itu.
“Awas, ini jebakan!” teriak Nirya. “Kita terobos saja mereka lagi...!”
Terlambat, para rekan laint elah masuk jalur kosong itu. Geram, Nirya terpaksa mengikuti mereka, sambil tentunya menghalau para pengejar dengan selarik Angin Membelah Awan. Ia bergerakamat cepat menyusul rombongan dengan kekuatan jurus Bayangan Badai.
Lagi-lagi Nirya menghentikan langkahnya. Pasalnya, ia mendengar bunyi berdebam yang amat keras, teriring teriakan seorang gadis yang melengking, lalu lenyap seketika.
__ADS_1
“W-Warni! Oh, tidak!” Tampak dua gadis murid Widuri berdiri dengan tangan menutupi mulut dan wajahnya di depan sebuah bongkahan batu bata raksasa yang menghalangi jalan.
Sang guru tampak terpaku dalam kengerian, suaranya bergetar. “Warni... kau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan aku, si guru ceroboh ini... Guru harus berhasil menemui Sang Barong, agar arwahmu tenang di alam baka!”
“Ni Widuri! Cepatlah cari cara, jalur lain atau apalah! Kami tak bisa terus menahan mereka di sini!” teriak Arumi. Jumlah anak panah dalam sarungnya yang menipis menunjukkan kata-katanya itu bukan isapan jempol belaka. Sthira malah terlalu sibuk mengerahkan tenaga, mencegah pasukan kecak makin mendekat.
Walau miris dengan pengorbanan gadis yang lukanya ia sembuhkan itu, Nirya tetap memusatkan perhatiannya dengan menunjuk ke depan. “Lihat, batu besar itu membubung!” serunya sambil lari. “Ayo kita cepat-cepat lewat dari bawahnya!” Tanpa membuang kesempatan sedikitpun, Nirya lari persis di bawah batu raksasa berukuran kira-kira panjang sepuluh meter dan tinggi lima meter itu.
Arumi ikut bersama Nirya, namun Nirya menahannya hingga berhenti satu-dua langkah setelah melewati batu besar itu. Itu karena ada batu besar kedua yang baru jatuh berdebum tepat di depan Nirya dan Arumi. Salah perhitungan sedikit saja, mereka akan bernasib sama mengenaskan dengan Warni.
“Awas, masih ada batu-batu lainnya!” seru Widuri yang berdiri di balik batu pertama. “Seharusnya kalian menunggu dulu di sini dan mengamati keadaan di depan!”
Dan melihat pemandangan amat mengenaskan dari gugurnya seorang rekan? Dengan pikiran itu Nirya bertukar tetapan penuh arti dengan Arumi. Entah sejak kapan mereka sepaham tentang satu hal seperti saat ini.
“Aduh, ada dua batu besar berjajar bersisian di depan sana!” Arumi bersuara dibuat-buat agar terkesan dramatis.
“Bagaimana kita bisa lari cukup cepat melewatinya?” Nada bicara Nirya juga terkesan takut dan cemas.
Sesaat kemudian, Widuri berhasil melewati batu pertama yang baru terangkat dengan ilmu peringan tubuhnya sambil berkata, “Biar kubantu...!” Namun ia ternganga. Rupanya Nirya dan Arumi baru lari secepat kilat dengan jurus-jurus dan tenaga dalam mereka, keduanya tiba di sisi lain batu kedua dan ketiga sambil tersenyum pada Widuri, puas melihat wajah geram si pemandu sambil kedua batu raksasa itu jatuh berdebam.
Tentu saja Nirya dan Arumi menunggu hingga seluruh rombongan lewat dengan selamat dari batu-batu penimpa itu.
Setelah Sthira dan kedua murid Widuri bergabung, baru sang pemandu angkat bicara, “Mulai detik ini, aku berhenti menjadi pemandu kalian. Silakan pilih jalan masing-masing.”
“Mengapa?” tanya Sthira.
“Oh, biasa. Kalian anak muda sudah bersikap kurang ajar, tak menghormatiku...”
Bagai kuda-kuda yang dilepas dari kekangnya, Nirya dan Arumi melesat lari. Tampak lagi satu percabangan tiga jalur. Dan seperti semula, gelombang serangan kecak tampak menerpa dari tiga jalur itu, tak memberi kesempatan untuk berpikir.
Sthira yang baru menyusul berseru, “Nirya, cari tahu jalur yang benar, biar kami yang menahan mereka!” Ia lantas sibuk menangkisi serangan empat kecak sekaligus.
“Tapi, Widuri?” tanya Arumi sambil sibuk membendung kecak-kecak lainnya.
__ADS_1
Sthira tak menjawab. Tak tampak Widuri dan kedua muridnya dari tikungan di kejauhan. Kemungkinan besar mereka juga sedang sibuk membendung para kecak yang melewati “medan batu terbang” tadi.
Gambar referensi Banaspati adalah dari Gendruwoedan di Twitter.