
Takdirpun akan bicara di Danau Kaldera Tiga Warna di puncak Gunung Tubar'e.
Nirya memusatkan perhatiannya pada kumpulan buih yang menggunung dan seakan menggelegak di permukaan danau hijau.
Mora tak kunjung mengerahkan "kekuatan simpanan"-nya untuk membantu menahan serangan Beto'dila, si monster katak-buaya raksasa. Entah apa maksud kata-kata "si pemandu banyak tahu" itu sesaat yang lalu. Mungkin ini semacam taktik agar musuh tak terlalu habis-habisan mengerahkan tenaganya. Atau mungkin Mora sedang mempersiapkan kejutan?
Nirya sempat teringat ajaran gurunya bahwa kejutan bisa jadi unsur penentu kemenangan, tergantung situasi dan lawan yang dihadapi. Karena Beto'dila adalah hewan, secerdik apapun ia, kecerdasannya takkan pernah melampaui manusia.
Sebelum pikiran Nirya sempat larut untuk memperkirakan gerakan lawan, lawan telah lebih dahulu bergerak. Dari danau hijau menyemburlah semacam air mancur yang menjulang sangat tinggi, seolah mencakar langit. Atau lebih tepatnya lagi, seolah-olah Gunung Tubar'e telah meletus tanpa harus membuka "kunci"-nya dahulu.
Air hitam pekat yang membubung mungkin bisa dihindari tanpa terlalu banyak kesulitan. Masalahnya, saat air itu memancur dari ketinggian, tampaknya seperti hujan ribuan panah hitam yang menerpa setiap jengkal ruangan di tanah di bawahnya.
Terpaksa Nirya mengerahkan seluruh prananya untuk bertahan, memutar-mutar kerambit berantainya bagai payung. Putaran rantai itu berhasil menepis curahan hujan Air Mancur Hitam, namun hanya sebagian. Sesuai sifat alami zat cair itu, ada energi air yang melesat terlalu cepat menyusup lewat putaran rantai. Ditambah daya imbas benturan air dengan rantai, giliran prana pelindung tubuh Niryalah yang terus didera tanpa henti. Jika pertahanan lapis terakhir itu runtuh, habislah riwayat Nirya Panigara.
Hujan air hitam itu tercurah amat deras hampir dua menit lamanya. Setelah akhirnya reda, Nirya jatuh berlutut di tanah. Asap hitam tampak mengepul dari tubuhnya, wajahnya kini terlalu pucat dan lemas untuk mengekspresikan deraan rasa nyeri terdahsyat dan terlama sepanjang hayatnya ini.
Mencoba menatap ke kejauhan, Nirya terperanjat. Tampak danau hijau dan danau biru yang tersambung dengannya nyaris kering. Air yang tersisa hanya menggenangi kaki dan sedikit perut si siluman buaya-katak raksasa, Beto'dila. Yang lebih mengerikan lagi, Beto'dila menunjukkan enerignya tak ada habis-habisnya dengan melompat tinggi-tinggi lagi dan menceburkan diri dalam danau kuning, danau terakhir Puncak Tubar'e yang masih penuh air.
Gila, berarti ia akan menyemburkan air mancur dan hujan air hitam lagi? Batin Nirya berkecamuk hebat. A-aku tak bisa menahannya lagi! Pranaku sudah terkuras, kalau kupaksa menahannya, takkan ada setitikpun tenaga dalam tersisa untuk menyerang balik!
Nirya tahu, dirinya telah ditekan hingga mati langkah. Apalagi kini lagi-lagi buih air kuning kehitaman menggelegak, kandungan belerangnya tampak berasap. Bila sampai terkena, efek kikisan air hitam ditambah daya panas belerang lebih dari cukup untuk membuat tubuhnya hangus melepuh seperti kepiting rebus. Tanpa prana pelindung yang kuat, akibat itu hampir pasti bakal terjadi.
Dengan satu raungan keras, lagi-lagi Beto'dila dari dasar danau menembakkan air mancur yang menjulang tinggi-tinggi di udara.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba Nirya terperanjat. Sesosok makhluk terbang amat cepat. Sambil melayang di udara, ia menahan pancuran air itu dari atas dengan hembusan badai sarat tenaga dalam pamungkas berunsur angin.
Saat itulah Nirya bisa melihat wujud makhluk itu dengan jelas. Itu adalah seorang wanita bergaun serba putih, dengan sayap kupu-kupu bermotif warna-warni yang sangat indah. Rambutnya yang panjang berombak membubung di udara, seakan terus-menerus dihembus angin. Warna rambut itu berubah putih keperakan, membiaskan cahaya matahai yang menerpanya sehingga tampak tujuh warna pelangi berkilapan di tiap helainya.
Hanya wajah wanita itu yang perubahannya tak terlalu kentara, hanya lebih bersih dan seakan memendarkan cahaya kecantikan dewata. Nirya langsung mengenali wajah itu dan berseru, "M-Mora, kau...?"
Mora si bidadari jelas terlalu sibuk menekan serangan lawan. Jadi, ia secara tak langsung menjawab Nirya dengan seruan, "Saatnya aku, Sasanda membalas pengusiranmu, Beto'dila!"
Terungkap sudah, ternyata Mora adalah Dewi Sasanda yang selama ini menyusup dalam Geng Dabongsang sebagai Jawara Dua. Jadi ia lebih lanjut usia daripada Kota Dabongsang sendiri. Namun, kehidupan yang serba damai dan sepi selama ini membuat kekuatan sihir Sasanda kurang terlatih. Akibatnya, ia terpaksa melarikan diri dari lawan yang lebih kuat daripada dirinya.
Kini, berkat bantuan Nirya dan Arumi, Sasanda mendapatkan satu-satunya kesempatan untuk membalas dendam dan merebut kembali kedudukannya sebagai juru kunci Tubar'e.
Sasanda mengerahkan seluruh energinya, pusaran badainya makin jauh menekan semburan air hitam belerang Beto'dila. Namun beberapa saat kemudian, semburan si siluman ganti menekan balik badai sang dewi. Kalau situasi ini terus berlanjut, peristiwa kelam puluhan tahun silam bakal terulang lagi, bahkan bisa lebih fatal.
"Dewi Sasanda!" Nirya maju terseok-seok sambil menyeret kerambit berantainya. Namun seluruh tubuhnya terasa amat berat, perlu waktu hingga tenaga dalamnya pulh kembali.
Di saat bersamaan, wajah Sasanda makin menegang. Kedua mata hijaunya terbelalak, seakan urat-urat bertonjolan di sana. Daya air hitam makin keras menerp, mulai mengikis energi pertahanan tubuh Sasanda.
Lalu kulit wajah Sasanda mulai tampak bergelombang, seolah sedang dihantam tinju bertubi-tubi. Tampak pula serpihan-serpihan seperti debu-debu putih beterbangan, mengasap dari tubuh sang dewi. Bila serpihan-serpihan itu makin besar, dipastikan sang dewi kehilangan tubuh duniawinya.
Tepat di batas daya tahan jasmani Sasanda, tekanan energi pengikis mendadak sirna. Seakan sebuah garukan cakar teramat tajam dan fatal tercerabut dari tubuh sang dewi.
Nirya juga terperanjat. Perhatiannya cepat beralih dari Sasanda ke arah Beto'dila. Siluman raksasa itu sebenarnya dalam posisi berdiri saat menyemburkan air mancur mautnya. Asupan energi dari sambung jiwa Beto'dila dengan Zakuay tiba-tiba saja terputus. Akibatnya, si monster buaya-katak rubuh ke posisi merayap, mencipratkan air yang tersisa di danau kuning ke segala arah.
Nirya memutar-mutar kerambit lagi untuk menepis cipratan air maut. Tak menyia-nyiakan kesempatan emas, ia berlari dan melompat terjun ke arah Beto'dila di dasar danau yang nyaris kering itu. Nirya lalu ganti menghujani kepala katak Beto'dila dengan badai rangkaian tusukan dan tebasan prana berunsur angin, jurus Pusaran Badai Terabas Selaksa.
__ADS_1
Terhantam berkali-kali, si monster meraung pilu. Darah hitam bersemburan di luka-luka baru pada bagian atas kepalanya, tempat mata dan otak berada.
"Awas Nirya, giliranku!" teriak Arumi dari udara.
Nirya cepat-cepat menyingkir, menggunakan tubuh si buaya siluman sebagai pijakan untuk melompat sejauh-jauhnya.
Arumi yang melompat tinggi-tinggi pula menghunjam kepala Beto'dila dengan energi api jurus Semburat Magma Inti Neraka yang dimampatkan, dipusatkan di satu titik, yaitu ujung bilah keris pedangnya, Agninetra.
Beto'dila meraung pilu, darah hitam menyembur dari luka fatalnya. Siluman buaya-katak raksasa yang pernah mengalahkan seorang dewi dan merajai puncak Gunung Tubar'e selama puluhan tahun kini harus mengakhiri nasibnya di dasar danau air belerang.
Yang memastikan akhir riwayat Beto'dila adalah percikan-percikan sinar hijau yang menguap keluar dari lubang luka di kepalanya itu. Debu-debu sinar lantas menyatu, membentuk sebuah aksara gaib yang berpendar hijau, melayang di udara. Itulah kunci gaib Gunung Tubar'e.
Anehnya, kunci aksara gaib itu seakan memiliki kesadaran sendiri. Kunci itu tiba-tiba menempel di telapak tangan seseorang, dan orang itu bukan Sasanda, melainkan Nirya.
Sebelum Nirya sempat berpikir, aksara itu memancarkan selarik bola sinar yang menyusup ke dalam lubang danau kuning yang selama ini selalu penuh air dan endapan tanah.
Yang menyusul kemudian adalah sebuah guncangan semacam gempa. Rasanya amat keras di pijakan kaki dan merambat terus hingga ke badan. Gejala ini sangat mirip dengan saat-saat menjelang meletusnya Gunung Barkajang, Ratauka dan Megaswari. Namun kali ini Nirya berada di puncak gunung, jadi guncangannya jauh lebih terasa daripada di lereng, apalagi di kaki gunung.
Wajar saja Nirya cepat-cepat menghampiri Arumi sambil berseru panik, "Gunung ini akan meletus, tapi kita masih ada di puncak! Bagaimana kita bisa lari dari sini?"
"Biar kubantu!" Sambil mengatakannya, Dewi Sasanda alias Mora Nggarai memeluk tubuh Nirya dan Arumi erat-erat. Sepasang sayap kupu-kupunya berkepak, ketiga wanita itu membubung tinggi, melesat di udara. "Pegang erat, jangan lihat ke bawah!"
Nirya mematuhi pesan dewi yang menerbangkannya pergi dari bahaya itu. Namun rasa ingin tahu menggodanya, membuatnya menoleh ke belakang.
Menatap Gunung Tubar'e yang menyemburkan lava bercampur air dalam murkanya.
__ADS_1
Gunung Tubar'e diciptakan dari gabungan bentuk Gunung Rinjani dan kawahnya berupa danau 3 warna dari Gunung Kelimutu. Sumber Gambar: Gunung Rinjani dari The Jakarta Post.