
Melihat kesempatan ini, Kamaja kembali menyunggingkan senyum luar biasa lebarnya. “Sekeras apapun perlawananmu, hasilnya sama saja. Kau mati pertama, teman-temanmu pasti menyusulmu ke neraka.” Ia kini melompat tinggi-tinggi, kaki-kakinya siap melumatkan tubuh Arumi tanpa memberinya kesempatan melarikan diri sama sekali.
“Kena kau.” Tiba-tiba Arumi melompat seakan terbang, menyabetkan keris panjangnya tegak-lurus. Larik sabetan itu membentuk pilar-pilar api yang menjulang ke atas. Itulah jurus Semburat Magma Inti Neraka yang sama dengan milik Kamaja. Bedanya, pilar-pilar itu tidak menyebar, melainkan berjajar di satu garis lurus. Tanpa ampun, pilar-pilar api Arumi menembus, seakan membelah tubuh Kamaja.
“A-apa?” Teriring satu teriakan, justru Kamaja yang jatuh lebih dahulu. Tubuh raksasanya membentur tanah dan menebar bunyi berdebam keras. Si wanita-kuda tak benar-benar terbelah, namun pasti ia menderita luka dalam yang cukup parah akibat gempuran Arumi tadi. Ia terpedaya akibat terlalu percaya diri, dan akhirnya harus membayar mahal.
“Hebat, Arumi! Kau telah menumbangkan raksasa itu!” seru Nirya yang pertama bangkit.
Disusul Begarwana yang memegangi kepalanya. “Si Kamaja jahanam itu pasti tewas akibat serangan telak tadi. Bagus nak, akhirnya kau berhasil membalaskan dendam ibumu.”
Anehnya, Arumi malah melotot bengis pada Begarwana, lalu berkata ketus, “Seorang ayah sejati lebih rela mati agar anaknya tetap hidup, daripada merelakan anaknya mati agar ia sendiri tetap hidup. Kau bukan ayahku, Begarwana. Setelah semua ini selesai, aku akan membuat perhitungan denganmu.”
Begarwana terhenyak, sama sekali tak menyangka reaksi Arumi bakal sekeras itu. Memang benar, Begarwanalah biang keladi penderitaan Arumi selama ini. Ia lebih memilih menghadirkan Arumi di dunia untuk ia lenyapkan suatu hari kelak, daripada mati di Sriwedari.
Tiba-tiba, datanglah peringatan dari Sthira. “Awas, Kamaja bangkit!”
Perlahan-lahan, Kamaja kembali berdiri tegak. Darah yang mengalir dari luka-luka di tubuhnya tampak seakan mendidih bagai magma, menggelegak oleh amarah meledak-ledak.
“Keparat kau, anak haram pengkhianat! Menyerangku dengan jurusku sendiri! Secara tak langsung aku ini gurumu, tahu!” Bahkan darah yang menggenangi bibir dan dagu Kamajapun mendidih pula.
“Benarkah?” jawab Arumi. “Yang kutahu, seorang wanita misterius yang selalu menutupi wajahnyalah yang diam-diam mengajariku jurus-jurus api. Baru sekarang ini, di tempat inilah aku tahu wanita itu adalah ibuku, Ni Lara Sati, dan jurus-jurus itu berasal dari dirimu. Jadi, karena kau bukan guruku dan telah merebut tubuh ibuku, kau adalah musuhku!”
Walau tubuhnya agak limbung kini, Kamaja menghardik hingga darah yang menggenang di mulutnya tersembur. “Dasar pengkhianat tak tahu terima kasih! Jadi kini kau berubah pikiran lagi, hendak membunuhku demi dendam? Bukan membantuku supaya pengorbanan ibumu tidak sia-sia?”
“Itu menurutmu. Akulah yang salah karena tak tahu kau hendak ‘mengambil-alih’ tubuh ibuku, bukan ‘meminjamnya’. Aku juga salah karena mementingkan keselamatan ibuku sendiri daripada berusaha menghadirkan perdamaian demi kepentingan rakyat Jayandra. Mahapatih Galahasin benar, karena rentetan ‘cincin api’ bencana itu sudah disulut, mau tak mau kami harus menuntaskannya agar tak timbul bencana yang lebih gawat lagi. Terpaksa kami harus menghancurkan yang ada supaya bisa mulai dari awal lagi!”
“Tidak boleh! Aku adalah penjaga Gunung Megaswari. Walau seluruh dunia di sekitarku harus terbakar, aku takkan membiarkan gunung ini meletus sebelum waktunya!” Suara Kamaja melengking di puncak amarahnya. “Jadi enyahlah kalian semua dengan jurus pamungkasku, Letusan Bara Semesta!”
Kamaja lantas mengulurkan kedua tangannya tinggi-tinggi. Hampir seketika, sebentuk bola api raksasa berpusar di atas kedua telapak tangan itu.
“Nah, Arumi, bagaimana kita mematahkan jurus ini?” tanya Nirya.
__ADS_1
Arumi membalas ketus, “Aku tak tahu! Ibu tak mengajarkan jurus itu padaku!”
Jawaban itu membuat Sthira mengambil keputusan cepat. “Nirya, Arumi, menghindarlah dan lari memutari Kamaja! Aku dan Begarwana akan mencoba menahan dan meredam daya penghancur dari bola raksasa itu!”
Kamaja mungkim mendengar taktik Sthira itu, namun ia tetap meneruskan aksinya. Setelah bola api raksasa itu dirasa cukup besar, Kamaja mengayunkan kedua tangannya ke depan. Ia melemparkan bola itu pada para sasarannya, seolah hendak melumat empat semut dengan satu batu besar.
Nirya mulai lari secepat mungkin, sementara Sthira dan Begarwana memusatkan tenaga dalam mereka untuk menghadang jalur bola.
Di sisi lain, Arumi mendapat gagasan gila. Karena busurnya sudah patah, terpaksa ia memusatkan seluruh energinya di satu titik, yaitu ujung kerisnya. Ya, itulah rencananya. Arumi akan bertindak seperti “panah hidup”, membuyarkan pamungkas musuh sepenuhnya. Lagipula bola itu bergerak agak lamban, nampaknya rencana ini bakal lancar.
“Hehehe, kalian salah kira!” Kamaja menghentakkan energi tak kasat mata dari kedua tangannya. Alhasil, bola api raksasa itu meledak, pecah menjadi serpihan-serpihan yang berlesatan ke segala arah.
Para pendekar terpedaya sudah, mustahil mereka dapat menghindar dari jarak dekat. Daya ledakan saja telah membuat Sthira dan Begarwana terdorong mundur, sedangkan Arumi terpelanting. Ditambah lagi, serpihan-serpihan api tajam membakar, menghujani tubuh mereka.
Bahkan Arumi, senopati yang tangguh itu mengerang kesakitan. Serpihan-serpihan api tajam itu ternyata menembus lapisan prana pelindung tubuhnya, menorehkan luka-luka tusukan dan goresan di bagian-bagian tubuhnya yang tak terlindung zirah. Kabar baiknya, luka-luka itu tak sampai membahayakan nyawa Arumi. Kabar buruknya, luka-luka itu harus segera ditutup dengan sihir, prana atau obat-obatan, jangan sampai Arumi tewas kehabisan darah.
Jadi, setelah hujan serpihan api reda, Arumi tak lantas melancarkan serangan balasna. Ia malah mundur menjauh, lalu mengerahkan prana untuk memulihkan luka-lukanya. Arumi memilih tetap hidup untuk melanjutkan misi daripada menghabisi musuh dengan bayaran nyawanya sendiri.
“Gelagatmu mudah ditebak! Matilah!” Menyertai ucapan itu, tangan Kamaja yang menyatu dengan bilah bagai pedang tajamnya menghunjam deras tepat ke jantung Arumi.
Hampir.
Tiba-tiba gerakan Kamaja terhenti. Arumi bereaksi dengan menoleh, berputar ke si calon pengantar mautnya itu. Ternyata Nirya yang tadi jauh menghindar berhasil membenamkan kerambitnya dalam perut Kamaja. Tentunya ditambah daya prana angin yang berpusar tanpa henti bagai bor, yaitu jurus andalan Nirya, Pusaran Badai Terabas Selaksa. Daya bor jurus itu menembus hingga ke belakang punggung Kamaja, lebih membahayakan nyawa dan lebih sulit dipulihkan daripada semua luka Arumi tadi.
Kamaja mengeluarkan suara tercekat, tersedak oleh darah panas yang kini menggenangi mulutnya. Nirya tak kunjung melepaskan hunjamannya, malah memompakan makin banyak tenaga penghancur ke dalam tubuh si raksasa.
“Tidaak!” Kamaja meraung kesakitan. “I-ini bukan akhir! Megaswari tak boleh meletus! Ah... ha! Aku tahu! Kumusnahkan saja Aksara Gaib Kunci Megaswari dalam tubuh ini, beserta kalian semua! Ya, benar itu! Aku, Kamaja sungguh amat cerdas! Ah-ha hahaha!” Kecerdasan sebesar apapun percuma saja bila si empunya sudah terganggu jiwanya.
Menegaskan ucapannya, Kamaja meledakkan tenaga dalamnya sehingga Nirya terpental. Lalu ia memusatkan semua prana yang tersisa itu, ditunjukkan dengan sebentuk cahaya kuning yang berpendaran di dadanya. Gawat! Tubuh Kamaja bisa meledak setiap saat.
“Ya, betul begitu. Kalaupun tubuh ini dan Sriwedari harus hancur, harus kupastikan Megaswari selamanya takkan meletus lagi!” Kehilangan seluruh akal sehatnya, Kamaja menerjang lurus ke arah... Arumi!
Arumi pucat-pasi lagi. Nirya dan Sthira sudah tersingkir, siapa yang bisa menyelamatkan nyawa Arumi kali ini? Begarwana? Mana mungkin laksamana Jayandra itu sudi menolong orang yang tadi baru saja mengancamnya?
__ADS_1
Namun, itulah terjadi. Tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri, Begarwana yang tubuhnya penuh luka menahan laju serbuan Kamaja dengan satu hantaman Gada Gunung, sekuat tenaga. Tak berhenti di sana, pria perkasa itu memeluk si wanita-kuda raksasa dengan sepenuh tenaga.
“Minggir kau, manusia laknat!” Kamaja menyabetkan dan menghunjamkan keempat pedangnya berkali-kali ke punggung Begarwana. Serangan telak beruntun itu berhasil membongkar prana pelindung si penghadang, mencincang tubuh besar itu hingga darah bertetesan deras ke tanah.
“Nirya, Sthira, Arumi! Cepat lari, kalian semua!” teriak Begarwana di ambang batas ketahanan tubuhnya, di penghujung napasnya.
Tak peduli lagi dengan misinya, Arumi berteriak, “Jangan! Ayo kita lari bersama... ayah!”
Mulut Begarwana yang penuh **** darah menyunggingkan senyum saat ia mendengar kata “ayah” disebut. Akhirnya, ia mendapat pengakuan dari putri haramnya. Itulah yang ia harapkan dari pengorbanannya ini. Begarwana memang pernah salah langkah karena dipaksa keadaan. Tindakannya ini memang untuk memperbaiki kesalahan tersebut, dan kini ia puas, matipun tiada sesal lagi.
Jadi, Begarwana mencurahkan seluruh rasa itu dengan suara lantang, “Cepat pergi! Kau harus tetap hidup, karena kaulah yang seharusnya jadi anak kesayanganku... Arumi!”
Arumi melihat wajah ayah kandungnya sendiri menoleh ke arahnya untuk terakhir kalinya. Dan itu sudah lebih dari cukup jadi pemicu dirinya berlari secepat-cepatnya menyusul Nirya-Sthira.
Air mata Arumi berderai lepas kendali. Masih terdengar olehnya sayup-sayup suara Kamaja meraung, “Dasar bodooh! Bukankah sejak awal kau ingin menghentikan mereka, Begarwana?”
Suara Begarwana terdengar makin sayup dan lemah sekali. Arumi hanya sempat mendengar beberapa kata, yang kurang-lebih artinya, “Terserah kau ingin memusnahkan kuncimu dan menyelamatkan gunungmu, yang penting putriku harus selamat. Selebihnya tergantung kehendak Sang Mahesa.”
Yang menyusul kemudian adalah suara ledakan yang amat keras dan dahsyat. Semburat hawa panas menyeruak cepat ke arah Arumi. Senopati wanita itu cepat-cepat menjatuhkan diri, tiarap sedekat mungkin dengan tanah. Punggungnya terasa amat nyeri terlanda panas ledakan itu, untunglah Arumi tak menderita lebih daripada itu.
Saat gelombang panas reda, barulah Arumi bangkit berdiri. Punggungnya masih didera nyeri akibat terlanda api ledakan tadi, mungkin sekali ia menderita luka bakar. Namun, semua itu jadi tak terasa ketika Arumi menoleh ke arah tempat bekas pusat ledakan. “A... yah...” gumamnya, air matanya masih berlinangan.
Lalu Arumi terperanjat. Dilihatnya sebuah tanda yang menyala-nyala melayang, membubung dari pusat ledakan itu. Menelaah bentuk huruf yang menyerupai lidah api yang tengah membara itu, Arumi baru mengenalinya. Itulah aksara gaib yang semula tertanam dalam patung Kamaja kristal tadi.
Kunci Api Gunung Megaswari.
Di udara, aksara gaib itu membesar, lalu bentuknya berubah menjadi sebuah busur. Busur itu berwarna merah menyala, berhias lekuk-lekukan ornamen berwarna emas dan membuatnya tampak teramat indah. Busur itu turun dan mendarat mulus di genggaman tangan Arumi, seolah benda itu hidup dan berjiwa, dan ia telah memilih Arumi sebagai mitranya. Atau bisa saja itu adalah warisan terakhir dari Begarwana dan Ni Lara Sati untuk putri mereka.
Tak lepas mata jeli Arumi menatap busur itu. Prana api yang dipancarkan pusaka itu meresap hangat dalam tubuh gadis itu, juga dengan cepat memulihkan luka-lukanya.
Seberkas cahaya terpancar dari busur sakti, wujud baru aksara gaib itu, melambung bagai pelangi dan seakan terjun ke dalam kawah di puncak gunung. Melihat gelagat itu, Arumi tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, sekarang juga.
Lari. Lari lebih cepat lagi.
__ADS_1
Sumber Gambar: Letusan Gunung Merapi dari Gettyimages.com