
Makin jauh Nirya dan kelompoknya berlari, kejaran para prajurit Dhuraga tak kunjung surut. Maklumlah, walau sama-sama cukup berpengalaman menjelajah hutan, para pengejar lebih mengenal medan tempat tinggal mereka daripada keempat "pendatang-pengacau" itu.
Namun, masih memegang teguh pesan terakhir si pemandu lokal, Wufabwe, hampir tak sekalipun Kelompok Cincin Api berhenti atau berbalik menyerang para pengejar. Hanya satu orang prajurit saja yang bernasib naas, ia berlari terlalu dekat hingga perutnya berlubang tersambar tombak Dhaka.
Jadi, kelompok Nirya kini tak ubahnya empat ekor ikan yang berenang melarikan diri dari kail-kail berumpan dalam air, sementara para nelayan terus-menerus mengayunkan tongkat-tongkat pancing mereka.
Nirya bukan ahli strategi perang, namun ia sadar pergerakan musuh sangat aneh. Terkadang para prajurit mendekat, namun setelah melemparkan lembing mereka malah sengaja lari lebih lamban, memperbesar jarak dengan para "buruan".
Taktik pergerakan tarik-ulur ini rupanya banyak dilakukan para pemburu primitif saat mengincar hewan-hewan cepat, kuat, amat buas dan amat berbahaya seperti harimau atau hewan setaranya. Namun Sthira, Nirya, Arumi adalah manusia, dan Dhaka siluman setengah manusia, setengah hewan yang memiliki akal budi layaknya manusia seutuhnya.
Jadi, belajar dari para rekan yang bernasib malang, apalagi setelah kehilangan pemimpin pasukan yang kuat, Hongke Jombe, para pengejar jadi jauh lebih berhati-hati daripada biasanya.
Tiba-tiba Sthira yang pernah jadi pemburu berseru, "Awas, hati-hati! Para pengejar sedang menggiring kita ke suatu tempat!"
"Selama arahnya masih ke Yamkora, tak masalah," jawab Dhaka dengan nada lebih tenang, seakan si manusia-komodo tua sedang membimbing rekan-rekan belianya agar tak gegabah dan tak panik dalam situasi apapun.
"Oh ya, benar juga." Di sisi lain, Sthira juga menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin yang terbuka dan mau berlapang dada apabila ia memang salah. "Kebetulan tempat tujuan kita sama dengan giringan mereka."
Namun sifat polos Nirya tetap kambuhan. "Tetapi, bukankah itu berarti kita sedang jelas-jelas digiring ke dalam jebakan?"
"Tentu saja. Asalkan dalam jebakan itu ada Yori dan Aswa sekalian, kita jadi bagai sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui," jawab Arumi, mengutip salah satu peribahasa Jayandra.
Nirya malah menggigil. Perasaannya berkata, bicara memang jauh lebih mudah daripada kenyataan. Ia memang mencoba untuk bersikap lebih tenang menghadapi tantangan seperti rekan-rekannya.
Mungkin tantangan kali ini tak lebih berbahaya daripada di Dabongsang.
Mungkin musuh yang akan mereka hadapi takkan lebih kuat daripada Barong, entitas gaib hidup terkuat di Antapada.
Jadi, sekali lagi Nirya diingatkan bahwa tantangan terbesar kali ini bukan berasal dari musuh atau lingkungan, melainkan sesuatu yang asing, yang tak mereka pahami sama sekali dalam medan yang akan mereka jelajahi ini.
Saat kembali memusatkan perhatian ke arah Yamkora, Nirya baru sadar dirinya telah melangkah ke sebuah daerah terbuka. Rupanya sejak tadi para pelarian itu melalui jalur menanjak. Kini mereka tiba di dekat puncak sebuah bukit yang luas di dataran tinggi.
__ADS_1
Lagi-lagi Nirya menggigil, namun kali ini rasa dingin itu bukan firasat semata. Walaupun udara di tempat ini masih hangat sesuai letaknya di tengah wilayah beriklim tropis, anehnya angin di dataran tinggi ini serasa menusuk-nusuk dan membekukan tulang. Angin di dataran-dataran tinggi di Swarnara dan daerah-daerah lain yang pernah didatangi Niryapun tak pernah sedingin di sini.
Parahnya lagi, Dhaka rupanya juga tak tahan dingin dan menggigil hebat. Si komodorai berdarah panas itu bicara sambil berdesis, "Astaga, dingin...! Apa ini angin alami?"
"Sayangnya ya," kata Arumi. "Di Kitab Manikrama ada tertulis tentang angin dingin di dataran tinggi dekat Pegunungan Sorendo'reri ini, tapi tak ada keterangan lebih lanjut tentang penyebabnya."
"Mungkin itu ada hubungannya dengan puncak putih Gunung Yamkora," timpal Nirya. Kata-kata itu membuat para rekannya tercengang, seolah baru menyadari satu mata rantai penting, untuk dirangkai menjadi gambaran Gunung Yamkora yang utuh, sejelas-jelasnya.
Tiba-tiba Nirya melihat dua sosok, satu pria dan satu wanita berdiri tegap di puncak bukit pipih itu. Mengenali si wanita, tanpa sadar gadis itu menghela napas lega. Setidaknya rombongan Nirya tak perlu mendaki hingga ke puncak putih, mewujudkan firasat terburuknya. Namun, ancaman maut yang amat kuat kini menekan dirinya dan teman-teman lain, membuat kelegaan sesaat tadi berubah menjadi rasa sesak di dada.
Masalahnya, tekanan itu selain berasal dari si wanita di puncak bukit juga terpancar dari pria di sampingnya. Pria itu berperawakan tinggi-besar. Walau tak sekekar Dabongsang Hurek, hawa energi dingin yang memancar dari tubuhnya menerpa bagai badai, ganas dan sarat tantangan nyata.
Berbibir tebal, berkulit gelap, berambut panjang berombak, pria itu mengenakan semacam mahkota berhiaskan bulu-bulu burung yang berwarna-warni. Itu bulu-bulu cayari, karena bentuknya lebih lebar daripada bulu-bulu ekor burung cendrawasih. Sekujur tubuh dan wajah pria itu tampak dilumuri semacam cat kapur putih, merah, kuning dan hijau, dengan pola-pola titik dan garis yang cukup rumit dan apik. Segala pernik penampilan itu adalah tanda bahwa itu adalah tato perang pemimpin besar.
Suara pria itu seakan menggelegar bagai guntur, "Inikah para pendekar pengacau yang kauceritakan itu, Aswa? Mereka hanya berempat, apa yang perlu kautakutkan dari mereka?"
Si wanita bermahkota bulu cayari, Aswa Rakwar melontarkan protes halus, "Lihat baik-baik Yori Mbeko, sayangku. Panglima Hongke Jombe tak muncul melapor sekarang. Ia tahu kelalaian macam itu ganjarannya hukuman mati, jadi Jombe pasti telah tewas."
"Benarkah?" Aswa terkejut bukan buatan. "Salah satu gadis kecil itu saja mampu menewaskan Panglima Dhuraga, apalagi si pria dan si manusia-kadal itu!"
Namun Yori Mbeko yang perkasa malah tertawa terbahak-bahak. "Kau berlebihan, Aswa! Hongke Jombe itu hanya orang bodoh yang hanya mengandalkan fisik saja, tak rajin berlatih tenaga dalam, beda dengan kita! Lihat saja, empat pecundang itu pasti bakal bagai telur-telur dalam lumpang dan ditumbuk alu batu!"
Hanya perlu sesaat bagi Aswa untuk paham, wajahnya yang muram jadi cerah seketika. "Benar juga!" Lalu ia menunjuk lurus ke arah kelompok Nirya. "Nasib kalian berakhir di sini, hei empat pengacau! Jangan harap kalian bisa kembali ke negeri masing-masing membawa pengetahuan tentang kekuatan Dhuraga! Seperti kataku, Dhuraga bersatu tak butuh sekutu! Wahai negeri-negeri Antapada, bersiaplah saja menyambut Yori Mbeko, penguasa baru kalian!"
Tanpa menyandang senjata apapun, Sang Yumano, Raja Diraja Dhuraga hanya menebar prana dingin membekukan. Namun itu cukup memberikan tekanan langsung yang dapat meruntuhkan semangat juang para lawannya.
Dengan berwibawa pula Sthira menjabarkan taktik tarung pada rekan-rekannya. "Dhaka, than dan usir para prajurit pengepung. Kita tak mau mereka ikut campur dan buang nyawa sia-sia! Nirya dan Arumi, kalian lawan Aswa. Aku sedang ingin adu tinju dengan Yori!"
Menyarungkan kembali Mandau Gharma, tanpa menunggu pendapat para rekannya, dengan dua tangan terkepal Sthira lari ke arah Yori Mbeko.
Nirya mengulurkan tangan ingin mencegah, tapi sia-sia. Ingin ia membantu Sthira saja, tapi Aswa yang bersenjatakan tombak rotan mungkin bakal amat menyulitkan bila dihadapi Arumi sendirian.
Sedangkan kekuatan Dhaka ternyata memang setara dengan satu pasukan tentara. Stelah selesai menghalau para prajurit, baru Dhaka bisa membantu Sthira, Nirya atau Arumi.
__ADS_1
Jadi saat Aswa menusuk-nusukkan tombaknya mencecar Arumi, Nirya berlari ke arah wanita beroot keras itu. Masuk jarak serangan senjatanya, Nirya menyabetkan kerambit kembar berantainya. Seketika, ujung bilah kerambit yang bengkok mengancam, hendak membenamkan diri dan mengait tubuh dan kulit Aswa robek.
"Eit, jangan harap!" Aswa berkelit ke satu sisi, bilah kerambit mengait angin dingin.
"Wah, aku dikeroyok dua lawan sekaligus? Tak masalah! Biar kalian rasakan teknik tarung yang cepat dan juga lentur!"
Seakan ingin membuktikan kata-katanya, tubuh Aswa bergerak amat akrobatis. Sesekali ia menegadah sambil melekukkan tubuh ke belakang, menghindari sapuan keris panjang Arumi yang horisontal. Lalu, bertumpu dengan satu tangan ia malah menyabetkan tombak lenturnya ke arah kaki Nirya.
Tak mau kaki andalannya terluka dan kalah lincah, Nirya terpaksa melompat. Namun anehnya, Aswa menggebah tombak itu di tanah dan daya bantuan itu memantulkan tombak ke atas, ujungnya mengancam tubuh Nirya yang seakan mati langkah di udara.
Namun Nirya yang panjang akal menggunakan pengetahuan dari perjalanan tarung sebelumnya. Ia ternyata telah siap, tubuhnya berputar cepat di udara, mengayunkan kerambit berantainya ke arah lawan dengan daya prana angin dari jurus Angin Membelah Awan.
Di detik itu pula Aswa Rakwar beraksi. Ia memutuskan menangkis kerambit lawan dengan tenaga dalam dingin yang mempertajam dan memperkokoh tombaknya. Bilah besi kerambit membentur batang tombak berbahan rotan. Untuk sesaat hukum alam tampaknya akan berlaku, yaitu besi mematahkan rotan. Namun yang terjadi malah kelenturan rotanlah yang balik mementalkan kerambit.
Walau tak terluka, saat Nirya mengakhiri gebrakan pertama itu dengan mendarat mulus di tanah, ia malah berdiri dengan wajah penuh tanda tanya.
Arumi lebih heran lagi. "Astaga, Aswa lebih lentur dari ular dan lebih lincah daripada kera! Senjatanya pula... Bukankah rotan lebih rapuh daripada kayu?"
"Wah, penasaran ya? Biar kupuaskan penasaran itu sebelum kalian ke akhirat," sindir Aswa. "Ini bukan tombak rotan biasa. Ini rotan yang dianyam dengan amat rapat, lalu direndam dalam minyak dan ramuan khusus selama bertahun-tahun. Hasil penantian itu adalah rotan istimewa yang lebih keras daripada besi atau logam langka, namun juga lebih lentur daripada sebelumnya."
Aswa Rakwar menegaskan fakta itu dengan sengaja membengkokkan tombaknya. Gilanya, hingga tombak itu melengkung sampai hampir membentuk gelang bulat sempurna, tak ada tanda maupun suara sedikitpun yang menunjukkan rotan itu bakal retak, apalagi patah.
Melihat itu, Nirya bergidik, campuran terpukau dan ngeri.
"Cukup penjelasan dan peragaannya. Giliran Tombak Bungo'awe yang bicara!" Aswa melecutkan tombak itu ke arah lawan paling dekat dan tak terlalu lincah, yaitu Arumi.
Tak sempat menghindar, Arumi terpaksa menangkis dengan keris besarnya. Gilanya, daya lentingan tombak dan prana dingin membuat tenaga Aswa, si wanita perkasa meningkat tiga kali lipat dari serangan biasanya. Gagang rotan tak hanya membentur dan menekan bilah keris, tapi juga meliuk hingga bilahnya seakan menghunjam dada Arumi.
Untunglah pertahanan Arumi lebih kuat dua kali lipat dengan zirah sakti dan prana api pelindung tubuhnya. Akibatnya, Arumi hanya terdorong mundur saja sambil merengkuh bagian dada di zirahnya.
Tahu serangannya membuahkan hasil walau setitik, Aswa hanya tersenyum sekilas. Namun Nirya sudah mencuri serang dengan gerakan maut cepat dari jurus Bayangan Badai dan mengayunkan sepasang kerambit, seakan tak memberi kesempatan lawannya menarik napas.
Gambar referensi untuk Gunung Yamkora adalah Puncak Jaya Wijaya, Papua. Sumber: Sudahmasa.
__ADS_1