
Kapal Layar Pinissi kembali mengarung perairan dan telah jauh meninggalkan pulau-pulau di Rainusa Timur. Kali ini, haluannya terarah hampir persis ke arah matahari yang terbit.
Nirya menatap pemandangan indah itu, pikirannya menerawang. Sejauh ini telah empat gunung meletus, tiga kota hancur dan sebuah armada kapal laut rusak. Korban jiwa dari bencana-bencana itu kira-kira sepuluh ribu orang. Bandingkan dengan ratusan ribu nyawa prajurit dan rakyat Antapada yang melayang akibat perang besar dan berkepanjangan ini.
Sepuluh ribu nyawa harus dikorbankan demi mengakhiri perang.
Andai ada cara yang jauh lebih baik dariapda ini, seperti tuntutan Dhaka. Sayangnya, sejauh ini bahkan sosok-sosok bijak seperti Mpu Galahasin, Barong dan Dewi Sasanda sekalipun tak kunjung menerbitkan gagasan, usulan yang lebih jitu dengan korban sesedikit mungkin.
Jalur perundingan, semua gagal.
Jalur suap dan kompromi, gagal.
Bagaimana cara agar semua negeri yang berperang di Antapada berdamai tanpa harus menjajah negeri lain?
Sementara ini, hanya Misi Cincin Apilah jawabannya.
Lantas, haruskah daratan serba hijau, serba hutan yang kini tampak di depan mata Nirya itu jadi salah satu negeri yang harus dilemahkan? Haruskah Dhuraga, negeri-pulau paling primitif, paling terbelakang dan paling terkucil di Antapada selama ini diusik pula?"
"Ya, kita harus buat Dhuraga lemah dulu," kata Dhaka saat ditanya mengapa harus ke negeri-pulau paling timur di Jazirah Antapada itu, bukan ke Bethara atau ke Akhsar saja. "Beberapa tahun silam, sepasukan armada kapal beranggotakan ribuan tentara dari Dhuraga serang Kepulauan Rainusa sebelah timur, termasuk Pulau Komodorai dan Kota Dabongsang. Pemimpin mereka adalah seorang pria berkulit gelap dan hampir sekekar Hurek. Yori Mbeko nama dia."
"Wah, nekad sekali pasukan Dhuraga itu," tanggap Nirya saat itu, matanya berbinar penuh minat.
"Ya, nekad. Mereka hanya pakai tombak dan panah sederhana, tapi mereka amat garang. Pasukan Dhuraga jarah tempat yang mereka serang. Tapi yang mereka rampas barang-barang dan senjata-senjata untuk mereka tiru dan buat sendiri."
Sthira menimpali, "Wah, berarti orang Dhuraga mulai belajar dari peradaban dan berkembang."
Arumi terkesiap. "Kalau terus dibiarkan seperti itu, suatu hari mereka akan mengambil kesempatan menguasai negeri-negeri yang telah dilemahkan. Justru musuh paling tak terduga adalah yang paling berbahaya."
Dhaka mengangguk. "Ya, dan sasaran pertama Dhuraga adalah Rainusa. Bila Dhuraga dibiarkan, tuan Dhaka, Wiranata bakal kena jepit dari dua arah. Itu bakal ancam perjuangan, bahkan nyawa tuan Dhaka. Jadi sasasran kita berikutnya harus Dhuraga."
Suasana dalam ruang nahkoda kapal itu jadi hening beberapa saat.
Hingga Sthiralah yang memecah keheningan itu. "Satu pertanyaan saja dariku. Apakah gagasan melemahkan Dhuraga ini berasal dari benakmu sendiri, Dhaka, atau atas perintah Wiranata dan Mora?"
__ADS_1
"Itu gagasan Dhaka. Dhaka harus siapkan jalan buat jalur perjuangan tuan Dhaka."
Sulit menentukan si wajah komodo itu berbohong atau tidak. Jadi Sthira hanya mengangguk cepat saja. "Kalau tak ada pertanyaan lain, kita ganti haluan menuju Dhuraga."
Di sinilah Nirya saat ini. Pantai Pulau Dhuraga berpasir putih-bersih, dengan latar belakang laut dan langit biru nan luas, serta latar depan lautan rimba hijau. Semua itu sungguh memberi nuansa alami nan murni, disempurnakan belaian angin yang menyejukkan nurani.
Nuansa segar Nirya ini lantas agak terganggu oleh satu pemandangan lain. Tampak oleh gadis itu Sthira sedang bicara serius dengan Arumi. Tak jelas apa yang mereka katakan, tapi bila itu menyangkut misi, seharusnya Nirya juga dilibatkan.
Jangan-jangan...
Jantung Nirya serasa melompat. Seluruh tubuhnya gemetar. Padahal belum lama berselang ia tahu Sthira bisa bicara lepas dan bercanda dengan Nirya. Dari semua pria yang Nirya kenal, hanya Sthiralah yang bisa membuat dirinya tersenyum dan tertawa. Bila Sthira jadi milik Arumi, ke mana lagi Nirya harus mencari pria seperti Sthira?
Tiba-tiba sebuah suara serak nan berat menyapa Nirya, "Dhaka lihat Nirya sedang galau. Apa itu karena Sthira dan Arumi?"
Terperanjat, Nirya menoleh ke arah Dhaka di belakangnya. Ia melihat si komodorai menunjuk ke arah orang-orang di depan rombongan.
"Bukan urusanmu, pak tua!" sahut Nirya ketus sambil kembali menoleh ke arah semula dan berjalan makin cepat.
Langkah kaki Nirya terhenti sesaat, lalu ia berjalan lagi lebih perlahan.
Nirya menanggapi tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. "Sebatas itu sajakah?"
"Ya, setidaknya hingga misi kalian tuntas dulu. Mora dan Wiranata berhasil lakukan itu. Dhaka yakin Nirya bisa."
"Bagaimana dengan dua orang di sana itu?"
"Terus-terang, Dhaka bisa dengar mereka dari jauh. Tenang saja, mereka hanya bicara tentang misi saja, tak ada yang pribadi. Begini, begitu sempat Dhaka akan coba bicara pada Sthira dan Arumi sendiri-sendiri, cari tahu perasaan mereka sebenarnya. Tak apa, 'kan?"
"Ya, kurasa tak apa," jawab Nirya, walau nada bicaranya menyiratkan rasa ragu, kuatir dan curiga. Bagaimana tidak, Dhaka baru saja bergabung dalam kelompok Nirya, tapi malah cepat menawarkan ini-itu. Apa memang benar Dhaka mampu mendengar pembicaraan orang lain dari jarak jauh?
Daripada larut dalam prasangkanya sendiri, Nirya memilih diam saja dulu dan terus memandang ke depan. Apalagi kini pepohonan yang mereka lintasi makin rimbun. Hamparan daun di pohon-pohon itu seakan menyaring, nyaris menutupi sinar matahari.
Sthira yang berjalan paling depan bicara, "Hutan di Dhuraga ini masih lebih renggang daripada di Kalingga. Di Kalingga, jarak antara pohon yang satu dengan yang lainnya amat rapat, sehingga tak ada jalan setapak dan sulit menentukan arah, baik siang maupun malam hari."
Arumi menimpali, "Jadi karena Sthira ahli menjelajah hutan, aku mahir pertempuran laut dan Dhaka pendaki gunung, tak apalah kali ini Sthira memimpin dan memandu kita."
__ADS_1
Kata-kata Arumi itu membuat Nirya lagi-lagi mengerutkan dahi. Kalau Sthira ahli di hutan, Arumi di laut dan Dhaka di gunung, lantas Nirya ahli di mana? Emosi darah muda membuat Nirya jadi merasa tersinggung, rasa sebalnya pada Arumi terbit lagi.
Namun, daripada mengeluh, marah atau merajuk, Nirya mencoba bersilat lidah saja. "Tak masalah. Tapi daerah ini 'kan sama sekali asing buat kita berempat. Kita harus minta bantuan dan petunjuk dari penduduk setempat, seperti halnya di Jayandra dan Rainusa. Kalau tidak, kita ini sama saja empat orang buta yang sedang melintasi labirin di malam gelap."
"Hmm, masuk akal juga," kata Dhaka.
Sthira menyahut pula, "Oh ya, tentu saja. Selama ini memang penduduk setempatlah yang banyak membantu kita... Begarwana, Ni Luh Widuri, Mora, Minata juga kau, Nirya. Terima kasih banyak telah mengingatkan kami!"
Bukan kata-kata, melainkan senyum tulus Sthiralah yang menghembuskan angin sejuk di hati Nirya. Mungkin Dhaka benar tentang arti perbedaan sikap Sthira pada Nirya dan pada Arumi. Namun, satu-satunya cara untuk tahu pasti adalah lewat komunikasi dan pernyataan langsung dari dalam relung hati Sthira sendiri.
Pandangan Nirya beralih pada Arumi, wajah gadis berambut merah itu tampak masam.
Mungkin sadar Nirya tengah menatapnya, Arumi seakan mengalihkan perhatian semua orang dengan menunjuk ke satu arah. "Bicara soal penduduk lokal, itu ada satu di sana. Siapa tahu dia mau memandu kita." Arumi langsung bergegas menghampiri orang yang ia maksud itu.
Sthira menegur Arumi selembut mungkin, "Hati-hati, jangan ungkapkan misi kita yang sebenarnya!"
Arumi hanya mengangkat satu tangan tanpa menoleh, seakan bilang, "Aku tahu."
Si penduduk lokal ternyata adalah seorang laki-laki yang sedang mengerat batang pohon sagu hutan dengan kapaknya. Hasil keratan itu ia ikatkan di sekeliling pinggangnya.
Laki-laki berkulit hitam-legam dan berbibir tebal itu hanya mengenakan semacam rok yang dianyam rapat-rapat dari jerami kering. Yang menghiasi tubuh atasnya hanya sebentuk kalung warna-warni. Rambutnya keriting nan lebat, menunjukkan usianya yang relatif muda. Laki-laki lokal itu tampak bicara dengan Arumi, matanya terbelalak melihat wanita yang mengenakan zirah berkilap itu seolah tengah bertemu seorang dewi.
Sejenak kemudian, si lelaki mencabut batang pohon sagu yang telah ia kerat sampai ke tengah batangnya itu. Ia menggantung hasil keratan itu di pinggangnya, lalu mengambil tombak yang ia tancapkan di tanah. Tentu saja setiap orang yang menjelajah hutan harus membawa senjata untuk membela diri dari binatang buas, penyerang dari suku musuh atau bahaya-bahaya sejenisnya. Ini sangat wajar bagi orang-orang Dhuraga, beda dengan orang-orang kota yang bukan pendekar dan dilindungi hukum di negeri masing-masing.
Sebelum Arumi sempat memperkenalkannya, si laki-laki Dhuraga itu mendekat dengan cepat ke arah Nirya dan kelompoknya. Tak mempedulikan sopan-santun ia langsung berseru, "Wufabwe namaku! Aku siap memandu para tetamu di Hutan Apukondao, ya!"
Sthira protes, "Tunggu dulu, tanyakan dulu pada Arumi apakah...!"
Arumi menyela, "Tak apa, Sthira. Wufabwe biasa mencari sagu untuk makanan pokok keluarganya dan sukunya di sini. Saat tahu kita adalah saudagar yang hendak berdagang dengan Suku Dhuraga Bersatu, Wufabwe amat senang dan langsung menawarkan diri untuk memandu kita ke kotanya di jantung Hutan Apukondao."
Nirya juga ingin berkomentar, namun ia lantas mengurungkan niatnya itu dan ganti berkata, "Ayo kita jalan terus. Selama Wufabwe ada di paling depan, kita tak perlu kuatir."
Nirya menatap wajah Wufabwe. Tatapan mata dan ekspresi wajah Wufabwe terkesan amat polos, mudah percaya pada apapun dan tak menyembunyikan apapun. Beda sekali dengan Minata, Begarwana, apalagi Widuri. Semoga memang itu yang sebenarnya, karena keberadaan Wufabwe, ketersediaan pemandu di waktu yang tepat dalam hutan yang amat lebat dan luas ini rasanya terlalu kebetulan.
Atau mungkinkah Sang Mahesa sendiri yang menempatkan Wufabwe di sana sebagai bentuk dukungannya pada Misi Cincin Api?
__ADS_1
Referensi Hutan Dhuraga dari foto Hutan Papua, Indonesia. Sumber: Google.