
Berkat kehangatan dari genggaman tangan Sthira, Nirya hanya sedikit gemetaran saja sepanjang pelariannya ini. Bahkan saat menegadah dan mendapati lereng gunung seakan telah menutupi langit sejauh mata memandang, rasa gemetarannya itu tak makin parah.
Namun Dhaka melayangkan protes, "Bagaimana ini? Kalau kita daki gunung ini, sebentarpun para pengejar bakal menyusul kita!"
Sang ketua kelompok, Sthira Tarunaga tak langsung menjawab. Ia melayangkan pandangan ke arah para rekannya termasuk Arumi yang sudah siuman namun masih pucat-pasi.
"Kita akan lawan mereka di sini," ujar Sthira, mengambil keputusan akhir.
"Tapi, bukankah ini belum tentu tempat Aswa dan Yori dapat mencapai kekuatan pamungkas mereka?" tanya Nirya sambil mengerutkan dahi.
"Ya, segala situasi ini memang tak menentu," jawab Sthira. "Namun setidaknya kesempatan kita untuk melihat 'kelemahan di balik kekuatan' lawan lebih besar di sini daripada di bawah sana."
Masih terhuyung-huyung dan pasang wajah getir, mungkin karena melihat kedekatan Nirya dan Sthira, Arumi berseru, "Sebaiknya kita bersiap, teman-teman. Musuh sudah menyusul kita lebih cepat dari dugaan Dhaka." Ia menunjuk ke arah hutan.
Benar saja, dari balik pepohonan di dataran tinggi Pegunungan Sorendo'reri itu para musuh muncul mendekat. Namun jumlah mereka hanya dua orang.
Yori Mbeko dan Aswa Rakwar.
Yori angkat bicara dengan nada menyindir, "Aku tahu, kalian pasti ingin bertanya 'di mana para prajurit', bukan?"
Sthira, Nirya, Arumi dan Dhaka tak menjawab. Mereka mengambil sikap siaga dengan senjata tergenggam erat di tangan.
Lagipula, lawan toh tak peduli. "Asal kalian tahu, tanah yang kalian pijak ini adalah tempat suci dan terlarang. Aku tak mau menghukum mati para prajurit yang melanggar pantangan demi tugas," lanjut Yori sambil merentangkan kedua tangannya.
Giliran Aswa bicara, "Jadi, kami biarkan para prajurit berjaga di dalam hutan, cukup kami berdua saja yang mengurus kalian berempat di sini."
Dhaka menghardik balik, "Sudah cukup bicara? Ayo selesaikan saja cepat!" Si komodorai menjulur-julurkan lidahnya yang bercabang.
"Baik, lagipula kami takkan membiarkan kalian berlama-lama mencemari tempat suci ini," tanggap Yori. "Sudah saatnya memakai wujud penjaga, bukankah begitu, Aswa?"
"Tentu, Yori. Kalian para pengganggu, rasakan kekuatan penuh penjaga Puncak Yamkora!"
Setelah mengatakannya, Aswa mengikuti Yori dan secara bersamaan menggumamkan mantra rumit. Perlahan tapi pasti, tubuh mereka seakan terselubungi selaput putih bersih, persis seperti kepompong ulat sutera.
Dhaka sudah bergerak untuk melabrak para musuh yang dikiranya sedang tak berdaya itu, tapi mandau besar Sthira menghalangi langkahnya. Sthira menggeleng pada Dhaka sambil menunjuk dengan dagunya.
__ADS_1
Nirya sendiripun menatap ke arah yang ditunjuk dan baru mengerti maksud Sthira itu. Seberkas energi biru muda terpancar dari kedua kepompong itu, menebar hawa dingin membekukan. Kepompong energi terurai dan membuka, menampilkan dua sosok seperti burung raksasa di dalamnya.
Melihat wujud baru kedua musuhnya itu, Nirya terkesiap dan berseru, "A-astaga! Mereka... cayari raksasa!"
Kedua burung raksasa itu memang mirip cayari, monster cendrawasih. Tubuh mereka masing-masing dua kali lipat lebih besar daripada Dhaka. Yang satu memiliki bulu-bulu tubuh dan ekor panjang berwarna kuning kemerahan, sedangkan cayari yang sedikit lebih besar dari keduanya berbulu putih kebiruan.
Bedanya pula dengan cayari biasa, tanduk-tanduk berselaput terangkai indah di kepala kedua cayari raksasa itu bagai mahkota. Bentuk "mahkota biru" tampak mengembang, sementara "mahkota merah" agak meruncing, rapat dan hampir tegak. Tiap cayari itu membentangkan sayap-sayap yang panjang rentangnya kira-kira dua kali tinggi tubuhnya saat berdiri tegak. Mereka memancarkan energi penuh wibawa bagai sepasang penguasa dunia.
"A-astaga... I-itu... Cayari Yumano dan... Cayari Aronawa!" Teriakan itu ternyata berasal dari seorang prajurit Dhuraga yang melanggar disiplin, mendaki lereng gunung demi memuaskan rasa ingin tahunya sendiri.
Tiba-tiba suara Aswa bergema dari paruh Cayari Aronawa, si burung raksasa merah. "Lancang! Sudah tahu dilarang mendatangi lereng gunung suci ini, tapi kau nekad melanggar! Hukumannya, mati!"
Si cayari merah menembakkan selarik sinar putih kemerahan dari paruhnya. Si prajurit bodoh dan malang itu pucat pasi dan berbalik hendak lari, namun tubuhnya yang tak terlindung tenaga dalam atau sihir apapun terhantam cahaya merah dan mematung, tak bergerak lagi. Rupanya seluruh tubuhnya dibuat beku hingga permukaannya tampak mengkristal.
Pertunjukkan kekuatan ini membuat Nirya dan teman-temannya terkesiap. Namun reaksi itu karena mereka baru pertama kali seumur hidup menyaksikan seperti apa "membeku" itu, yaitu "mematung" dalam wujud yang bukan batu atau hanya lumpuh seperti pada pengaruh serangan cayari biasa.
Efek beku ini hal yang sama sekali baru, asing dan cara mengatasinya belum dikenal oleh keempat pendekar dari negeri-negeri beriklim tropis itu. Bahkan mereka mungkin belum pernah mendengar kata "beku", "es", atau "salju" selama ini.
"Nah, giliran kalian berempat dijatuhi hukuman mati!" Sambil mengatakannya, Cayari Yumano menembakkan empat larik sinar biru sekaligus dari paruhnya ke arah para pendekar, hendak membekukan keempatnya sekaligus.
"Salah! Demi kedamaian seluruh Antapada, kalianlah yang harus mati!" Sthira bergerak secepat kilat dengan jurus Langkah Halilintar, hendak menikam langsung perut Yumano. Namun Cayari Yumano telah dengan cepat mengepakkan sayap dan membubung tinggi.
Nirya yang melesat dengan jurus gerak cepat Bayangan Badai hanya menusuk udara. Cayari Aronawa yang masih siaga dan bugar telah membubung ke arah langit lepas.
"Mungkin kalian lupa. Lihat sayap-sayap kami, udara adalah daerah kekuasaan kami," ujar Sang ratu cayari.
"Kalian bukan makhluk penerbang, jadi keunggulan mutlak ada pada kami," timpal sang raja cayari.
Sthira berdecak kesal melihat tingkah para lawan itu. Ia menoleh pada Dhaka sambil berkata, "Kali ini aku sepenuhnya setuju denganmu, Dhaka. Mereka berdua memang yang paling banyak bicara dari semua lawan yang pernah kuhadapi sepanjang misi ini."
Dhaka mengangguk. "Yap, lebih parah daripada Dabongsang Zakuay."
Nirya menyela, "Sudahlah, kita harus mencari cara mengalahkan musuh yang lebih tangguh di udara."
Arumi mencoba memanah Cayari Aronawa, namun si sasaran malah terbang menghindar dengan mudah. Lagi-lagi ia berdecak kesal. Apa akal? Kalau serangan jarak jauh andalan saja tak bisa mengenai lawan, apa harus tunggu sampai lawan menukik dan menyambar sasaran di tanah?
Parahnya pula, para lawan tak perlu terjun untuk menyerang. Yumano berseru, "Cicipilah ini, Sayap-Sayap Hujan Beku!" Ia dan Aronawa lantas mengepakkan sayap di udara.
__ADS_1
Daya kepakan itu, ditambah hawa dingin dari puncak gunung seketika menurunkan suhu udara. Uap air di udara mengkristal ke wujud jarum-jarum es yang tak terhitung jumlahnya, semua itu dihunjamkan seketika ke bawah seperti hujan deras. Daya kepakan sayap ditambah gaya tarik daratan atau gravitasi mempercepat curahan jarum es.
Empat pendekar di tanah pontang-panting bergerak menghindar dan menangkis dengan senjata-senjata mereka. Malang, banyak pula jarum yang berhasil menyusupi segala pertahanan mereka yang selama ini telah teruji ketangguhannya. Teriakan-teriakan kesakitan Nirya, Arumi, Sthira dan bahkan Dhaka bergema memenuhi udara.
Saat hujan jarum es akhirnya reda, empat sekawan itu hanya berdiri limbung, tak bergerak. Apakah mereka telah membeku?
Nirya yang paling sedikit terkena jarum eslah yang pertama bangkit. Namun ia terkejut bukan kepalang, matanya terbelalak akrena cakar-cakar raksasa tengah menukik untuk menghabisi dirinya. Dengan refleks Nirya bergerak amat lincah untuk menjauh. Namun cakar-cakar itu masih terus mengarah padnaya bagai elang hendak menerkam kelinci yang sedang lari kencang.
Tiba-tiba, si pengejar Nirya yang rupanya adalah Cayari Aronawa berteriak kesakitan dengan suara melengking. Refleks, Nirya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. rupanya cayari merah itu tengah tersuruk di dinding Puncak Yamkora, segaris merah tampak masih membara di satu sisi tubuhnya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Nirya berlari maju, siap meluncurkan kerambit berantainya untuk menghabisi lawan.
Namun saat hampir tiba di jarak lontaran lantainya, sosok raksasa Cayari Yumano terjun, tepat ke arah Nirya. Terpaksa dengan refleksnya Nirya berlari menjauh lagi. Si biru mendarat, posisi tubuhnya menutupi si merah, menghalangi arah serangan Nirya dari depan.
"Jangan-coba-coba-sakiti-istriku," ancam Yumano.
Nirya lantas melayangkan pandangan pada Arumi, api masih memercik pada bilah Agninetra. Setidaknya kini Nirya tahu, jurus-jurus berunsur api seperti Sabit Api tadi mampu menorehkan luka serius di tubuh Cayari Aronawa.
Sebuah kesimpulan terbentuk dalam benak Nirya, namun ia agak ragu untuk mengutarakannya pada Arumi. Pasalnya, gadis Jayandra itu kini tampak dingin padanya.
Namun sebenarnya Arumi sendiri sedang serius dengan kesimpulannya sendiri, yang seketika menerbitkan gagasan baru. Sepasang cayari raksasa telah membubung lagi, jadi inilah kesempatan Arumi berseru, "Dhaka, bawa aku mendaki gunung! Nirya, Sthira, lindungi aku!"
Tentu saja Dhaka protes, "T-tapi dingin sekali di sini. Kalau sampai di puncak, Dhaka tak akan tahan...!"
"Tak perlu sampai puncak, cukup sampai tebing itu saja!" Arumi menunjuk ke atas. "Ayo, mereka akan menyerang kita lagi!" Ia lantas berbalik dan mulai lari ke arah lereng gunung.
Terpaksa Dhaka menyusul Arumi. Setelah menyarungkan tombak di punggungnya, ia lari dengan tangan-kaki menjejak tanah seperti komodo hewani pada umumnya. Arumi yang tersusul segera meloncat, lalu duduk menunggangi punggung Dhaka. Keduanya lalu mulai mendaki Puncak Yamkora.
Nirya dan Sthira juga ikut lari, tak terlalu masalah mengikuti usul dadakan yang tak sempat dirundingkan dan tak memandang kedudukan dalam kelompok ini. Yah, apa boleh buat. Sejak awal kelompok pimpinan Sthira ini memang kumpulan sahabat seperjuangan, bukan pasukan atau sejenisnya.
"Hah, mendaki Yamkora sambil melawan kami?" sergah Yumano.
"Kasihan, mereka sudah gila. Ayo, kita habisi saja mereka!" Sambil mengatakannya, lagi-lagi Cayari Aronawa bersama Cayari Yumano memberondong keempat pemanjat itu dengan jarum-jarum es.
Gambar referensi untuk Cayari Aronawa, Ratu Cayari Es adalah Ice Phoenix.
Sumber gambar: IPhone 3D Wallpapers.
__ADS_1