EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
WULANTRA Bagian 1


__ADS_3


Setelah berhari-hari diam dalam kehati-hatian yang mencekam, Nirya kini dapat bernapas lega. Pasalnya, kapal layar yang ditumpanginya kini merapat di dermaga sebuah pelabuhan dagang di Kota Damarwangi, wilayah Kerajaan Jayandra.


Selayang pandang, tampak suasana pelabuhan yang hiruk-pikuk, jauh lebih ramai dari pelabuhan penyeberangan di Nurbaiti. Suara para pedagang menjajakan dagangannya terdengar tumpang-tindih, bagai dengungan lebah sambut-menyambut. Anak-anak berlarian dan bermain-main riang.


Di antara mereka yang bertransaksi jual-beli banyak pula orang yang berpenampilan tak lazim. Ada kaum bertubuh tinggi dan berambut rata-rata pirang, ada pula orang-orang berkulit hitam dan kuning. Semua pendatang dari Benua Aurelia, Ubanga dan Orien itu mengenakan bermacam-macam pakaian yang jarang dilihat Nirya sebelumnya, bahkan di Ringidatu sekalipun.


Hanya satu pemikiran yang terbit di benak Nirya saat ini. Tak sadarkah mereka semua bahwa Armada Jayandra telah musnah? Tak sadarkah mereka bahwa negeri ini sedang lemah dan rentan ancaman, bagai jambangan porselen di atas kursi yang hilang satu kakinya?


Mungkin suasana inipun terjadi pula di pelabuhan-pelabuhan dagang di Swarnara sebelum Gunung Barkajang meletus dan Ringidatu luluh-lantak. Rakyat bisa disesatkan dari diamnya para pemimpin yang memang mengerahkan armadanya secara diam-diam. Jadi, agar api kekacauan yang melemahkan negeri tersulut, ada satu gunung lagi yang harus meletus di Jayandra. Dan ada satu kota yang harus dirusak, yaitu Wulantra.


Memikirkan hal ini, wajah Nirya beruah jadi cerah menjadi muram. Sebenarnya ia tak ingin ikut andil mengubah suasana kehidupan yang penuh dinamika ini menjadi bagai kota mati.


Namun apa daya, agar semua negeri di Antapada kembali “hidup” dengan merata dalam jangka panjang, beberapa negeri harus dibuat “mati suri” dulu, termasuk Jayandra.


Terutama Jayandra.


“Ayo, kita rayakan selamatnya kita bertiga di kedai minum itu,” ujar Arumi, ekspresi ceria membuat wajahnya tampak lebih cantik lagi.


“Ide bagus... Walaupun tampaknya tempat itu tidak,” tanggap Sthira, mengerutkan dahi dan hidung saat menatap ke arah yang ditunjuk.


Tak heran Sthira bereaksi demikian. Kedai minum itu tampak dari luar tak ubahnya sebuah gubuk kayu yang kumuh. Saat memasukinya, suasana di dalam sana lebih mirip kandang kuda daripada kedai. Tak heran kedai ini amat sepi, hanya pria tua pemiliknya dan dua pelayan berpenampilan dan bertampang seperti gelandanganlah yang berada di sana.


Melihat reaksi Sthira dan Nirya yang sama-sama jijik, Arumi malah tertawa geli. “Justru ini tempat paling cocok untuk melakukan pembicaraan rahasia, bukan? Tak ada gangguan dari apapun dan siapapun.”


Hanya Nirya yang menanggapi Arumi dengan anggukan. Ketiganya duduk di posisi persis di tengah-tengah ruang kedai itu. Perasaan aneh bagai tergelitik merasuki batin Nirya. Suasana di tempat ini terlalu sepi dan malah tegang. Para karyawan tampak pucat dan gemetaran. Mungkin ini wajar saja, mengingat mereka harus melayani seorang senopati di tempat yang jauh dari kata layak ini.


Jadi, daripada memusingkan hal-hal remeh, Nirya memilih memusatkan pikiran langsung pada pokok pembicaraan.


“Nah, kalau aku tak salah ingat, kalian berniat menawarkan sesuatu padaku, bukan?” tanya Arumi sambil duduk santai, menyesap minumannya dan menghela napas lega.

__ADS_1


Sthira menjawab, “Ya. Dan kurasa inilah waktu dan tempat yang tepat untuk membahasnya.” Ia lantas membeberkan rencananya, yaitu misi mengembalikan kedamaian dan keseimbangan, mengakhiri perang besar di seantero Antapada dengan cara paling keras dan satu-satunya.


Tentang rencana membuat enam-tujuh gunung berapi meletus berturut-turut.


Tentang rencana melembahkan dan melumpuhkan negeri-negeri kuat agar mereka menyadari kerapuhan diri dan kembali ke perdamaian sejati.


“Jadi, meletusnya Gunung Barkajang di Swarnara itu adalah ulah kalian,” tanggap Ayumi tanpa ekspresi.


“Ya, benar. Kami terpaksa menumbnagkan juru kunci sekaligus penjaga Barkajang, Gajahmina dan merebut kunci ini.” Nirya memperlihatkan gelang perunggu di pergelangan tangannya.


“Dan kabarnya letusan gunung itu meluluhlantakkan Ringidatu.”


“Ya, seperti itulah kabar yang kami dengar.”


Sthira menyela, “Begini, Arumi. Kau tentu sadar bahwa Laksamana Begarwana telah melarikan diri dan meninggalkanmu. Sedangkan satu kapal telah melanggar perintah laksamana, berbalik dan mencari dirimu dan para prajurit dan anak kapal lain yang masih hidup. Di mata Jayandra, kalian semua sudah gugur. Karena itulah, kurasa kembalinya kau ke Wulantra bukan ide baik, apalagi bersama kami.”


Nirya menimpali, “Benar itu. Wulantra bukan tempat tinggalmu lagi, Arumi. Terimalah kenyataan dan bantulah kami. Bilamana misi kita ini rampung, kedamaian akan tercipta dan kau akan bisa kembali dan hidup tenang di negerimu ini.”


“Jadi ini tawaran dari kalian untukku? Apa ini berlaku bagi para awak kapal penyelamatku pula?” tanya Arumi.


Arumi terdiam sejenak, seakan sedang berpikir keras dan mempertimbangkan segala pilihan yang ada.


Jantung Nirya berdebar-debar, ketegangan melanda kalbu saat harus menebak-nebak jawaban Arumi atas tawaran mereka. Kedua tangan gadis berambut jingga itu bergeser dan menyentuh gagang sepasang kerambitnya, yang siap dihunus dan disambungkan dengan rantai bila perlu.


Sthira juga pasang wajah tegang, tangannya siap menghunus golok dari posisi manapun.


Beberapa saat kemudian, bibir Arumi bergerak-gerak. “Andai kata-kata kalian benar, Nirya dan Sthira, aku lebih memilih hidup tenang di tempat terasing, jauh dari perang daripada ikut kalian. Daripada nanti aku dihujat Sang Mahesa, Sang Srisari dan seluruh dunia karena ‘main dewa’. Mungkin tujuan kalian amat mulia, tapi aku tak suka cara kalian ini!”


Menangkap gelagat tak baik, Sthira cepat-cepat menyanggah, “Kau salah, Arumi! Silakan sebut cara-cara lain untuk mencapai gencatan senjata. Pikir, untuk apa kami repot-repot menjalankan misi ini bila segalanya bisa diatasi lewat diplomasi?”


“Ya, aku tahu selama ini kami menggunakan perang untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada. Tapi selama ini pula hampir semua pertempuran meletus di laut dan perairan. Tak pernah ada kota yang hancur dan rakyat tak berdosa jadi korban...”

__ADS_1


“Cepat atau lambat perang pasti bakal menyentuh daerah perkotaan dan pedesaan!” hardik Nirya. “Pasti bakal lebih banyak rakyat yang jadi korban!”


“Cara kalian sama saja! Malah ini lebih kejam daripada perang, daripada bencana alam yang terjadi tanpa pertanda! Beraninya kalian melangkahi Sang Srisari, Maha Pengatur Alam!? Bagaimanapun juga, aku harus menghentikan kalian!” Arumi bersiul nyaring. Hampir seketika, puluhan prajurit bermunculan dari segala arah, mengepung rapat Sthira dan Nirya.


Arumi berseru lagi, “Asal kalian tahu saja, aku sudah mempersiapkan tempat jebakan ini di detik kapal merapat di dermaga. Jadi, apapun yang kalian tawarkan padaku, bahkan andai kalian hanya pamit saja, aku tak akan membiarkan kalian pergi. Apapun alasannya, keberadaan dua pendekar dari Kalingga dan Swarnara di Jayandra jelas amat mencurigakan dan berbahaya.”


Sthira menghela napas. “Justru salah satu tujuan misi kami adalah untuk mengakhiri situasi pelik yan gberasal dari pemikiran yang keliru itu. Walau berbeda-beda, negeri-negeri di Antapada seharusnya bisa hidup berdampingan dalam damai, sehingga pendekar-pendekar seperti kami bisa berkelana dengan tenang. Perdagangan antar negeri-negeri bertetangga kembali lancar, tak lagi ada persaingan tak sehat yang telah memicu terjadinya perang besar ini.”


“Ya, aku juga menginginkan itu terjadi. Tapi aku tetap tak suka cara kalian.”


“Memangnya kau punya cara yang lebih baik?” sergah Nirya.


“Sayangnya tidak.” Arumi menggeleng. “Jadi kami hanya dapat melakukan cara terbaik yang selama ini ada, yaitu mempersatukan seluruh Antapada di bawah naungan sayap-sayap Jayandra nan perkasa. Karena kalian secara tak langsung mendorong Sabailuha merusak rencana besar ini, kalian harus dihukum mati. Dengan begitu, Prabu Narendra dan Laksamana Begarwana akan memaklumi tindakanku ini. Kehormatanku pasti akan dipulihkan, dan pamorku akan meningkat.”


“Huh, ternyata kau hanya mementingkan kehormatan diri sendiri. Aku telah salah menilaimu, Arumi.” Nirya mengangkat sepasang kerambitnya yang tak dipasangi rantai, pasang kuda-kuda dengan sikap siap menyerang.


Hampir pasti akan ada pertumpahan darah lagi seperti di Nurbaiti.


Namun Sthira merentangkan tangannya di depan Nirya sambil berkata, “Jangan, Nirya. Niat kita semula memang mengajak Arumi dan para anak buahnya ke pihak kita, ‘kan?”


“Ya, tapi sekarang percuma saja...”


“Mereka belum tahu apa yang sesungguhnya bakal menimpa mereka di ibukota. Harap saja si Begarwana itu benar-benar ambisius, picik dan pendengki seperti perkiraanku. Kalau tidak, biar Prabu Narendra sendiri mencicipi amukan terakhir seorang pejuang Kalingga. Percayalah padaku. Bila Sang Mahesa sungguh mendukung perjuangan kita, ia akan membantu kita keluar dari masalah ini.”


Mendengarnya, Nirya sempat mengerutkan dahi sejenak. Lantas wajah tegangnya mengendur, dan ia menurunkan kedua kerambitnya.


“Oh, jadi kalian tak melawan? Sadar juga kalian, apapun hasilnya, kalian akan diburu dan takkan dibiarkan bernapas di negeri ini. Ringkus mereka!” perintah Arumi.


Para prajurit dengan sigap melaksanakan perintah itu. Mereka menyita senjata-senjata, membelenggu tangan-tangan Nirya dan Sthira dengan belenggu besi yang tebal dan kokoh. Lalu mereka mulai menyeret kedua tawanan itu maju.


Nirya menatap tajam ke arah Arumi. Gadis berambut hitam panjang itu malah membuang muka sambil pasang wajah angkuh.

__ADS_1


Terpaksa Nirya hanya bisa membatin. Kalau Sthira benar, akan kusaksikan raut wajahmu itu berubah. Dan itu akan jadi hiburan manis untukku dalam pertaruhan takdir ini.


Keterangan gambar: Referensi Wulantra, ibukota Jayandra dari situs Trowulan, ibukota Majapahit. Denah Trowulan.


__ADS_2