
Sejak Sthira sejati menghentikan niat Vrithra, Nirya sudah menjauh sambil mengamati perbincangan antara dua pribadi dalam satu tubuh itu.
Arumi dan Dhaka juga sudah bangkit. Dhaka menarik Nirya lari menjauh dari Sthira.
"Ikut aku, aku punya rencana," ujar Arumi.
Wajah Nirya penuh tanda tanya, namun ia tetap lari mengikuti Arumi. Ia ingin percaya, menghadapi manusia berkekuatan dewata, para rekan yang sempat jadi musuhnya itu takkan mencelakai gadis yang masih agak lugu soal cinta itu kini.
Saat keluar dari balairung singgasana dan menyusuri koridor Istana Mantikei Labih, Nirya baru menoleh ke belakang. Tampak Sthira terus mengejarnya, namun pria itu tak kunjung berseru, "Jangan lari, pengecut!" atau semacamnya.
"Sekarang!" Tiba-tiba Arumi dan Dhaka berbalik dan menyerang Sthira. Nirya hanya berbalik dan berdiri siaga di koridor yang hanya bisa dilalui oleh sepuluh orang bersisian itu.
Arumi melompat, hendak menjepit Sthira dari atas. Ia menembakkan hujan panah Sayap-Sayap Api Abadi, menembakkan beberapa anak panah sekaligus dari Busur Jalabar ditambah larik-larik prana api dahsyat.
Sedangkan tombak Dhaka menembakkan rentetan larik energi Terjangan Batu Terbang, mengurung Sthira dari posisi bawah. Sepanjang pengetahuan, manusia manapun mustahil menangkal dua jurus yang amat berbeda sifat, kecepatan dan pergerakannya.
Masalahnya, Sthira kini adalah manusia-dewa. Dengan tenang, ia menembakkan selarik besar petir dari salah satu ujung tombak-gada Vajra. Tembakan Meriam Halilintar Digdaya memecah hujan panah api sekaligus menghantam Arumi.
Memanfaatkan celah terbuka di atas, Sthira melesat amat cepat dengan tambahan energi dari jurus Langkah Halilintar, melompati Dhaka yang sedang menunduk rendah. Ternyata sasaran utamanya adalah Nirya.
Menyadari itu, Nirya juga mengerahkan jurus gerak cepat Bayangan Badai. Gadis itu berbalik dan lari beberpa kali lipat lebih cepat daripada sebelumnya.
Namun Sthira telah terlanjur menyusul Nirya dan mengayunkan Vajra lagi.
Bermaksud memberi kejutan, Nirya berbalik mendadak. Ia melecutkan rantai kerambitnya sekuat dan secepat Angin Membelah Awan ke arah kepala Sthira.
"Cih!" Gawatnya, hantaman gada Sthira lebih dulu menerpa Nirya. Tubuh gadis itu terlontar dan membentur pintu salah satu ruangan istana sampai jebol dan terbuka. Nirya terus melayang hingga jatuh terkapar di lantai ruangan itu.
Nirya sadar bettul, Sthira yang sejati telah sengaja membiarkan dirinya lolos dari maut yang nyaris pasti akibat menantang manusia dewa. Jadi seharusnya ia memahami pula tindakan Sthira yang berikutnya ini.
Saat rasa sakit di sekujur tubuh Nirya memudar bukan karena pulih dengan cepat.
Saat pandangan mata Nirya makin kabur, ia masih sempat melihat sosok Sthira berdiri saja di ambang pintu, tak mendekat.
Nirya masih bisa mendengar suara asli Sthira berkata, "Jangan ikut campur, Nirya. Larilah. Lari sejauh-jauhnya dari kota ini bila kau ingin selamat."
Seharusnya Nirya memahami pergerakan Sthira yang meninggalkan gadis itu untuk menghadapi hadangan para prajurit Kalingga. Itulah yang terakhir ia lihat sesaat sebelum segalanya jadi gelap.
Satu hal yang benar-benar Nirya pahami kini, kata-kata Sthira tadi itu bukan peringatan, melainkan salam perpisahan.
\==oOo==
__ADS_1
Segalanya sirna.
Segalanya sia-sia.
Hanya ada gelap dan hampa melingkupi keberadaan Nirya kini.
Tak ada lagi mimpi keluarga bahagia yang terdiri dari Nirya, Sthira dan anak semata wayang mereka berdua.
Tak ada lagi masa depan Antapada yang damai sentosa, tak dirundung perang berkepanjangan atau dikekang tirani.
Hanya ada hitam.
Tiba-tiba, sebuah suara sayup-sayup terngiang.
Seakan suara itu hendak menggapai alam bawah sadar Nirya.
"Nirya... Nirya..."
Suara batin Nirya menanggapi suara pria yang terkesan agung itu, "S-siapa yang memanggilku?"
"Ah, syukurlah akhirnya batinku berhasil mencapai batinmu, Nirya. Aku Barong, Penjaga Agung dan juru kunci Gunung Idharma." Sambil mengatakannya, Barong menampakkan diri sebagai pria bertubuh amat kekar dan berambut emas, panjang bergelombang.
Sukma Nirya tampil pula dengan wajah terheran-heran. "Astaga, Sang Duta Dewata! T-tapi mengapa kau menghubungiku?"
Nirya baru paham kini. Ialah yang pertama pingsan dan pikirannya sedang hampa karena kehabisan akal, sehingga dapat mendengar suara batin Barong ini.
"Lantas, mengapa kau menghubungi kami? Bukankah kami ini para pembawa bencana yang telah menghilangkan teramat banyak nyawa? Bukankah kami pantas mati di sini?"
"Seperti kataku di Idharma, niat kalian mengembalikan perdamaian di Antapada itu amat mulia, namun cara kalian salah. Masalahnya, cara yang salah itu satu-satunya jalan menuju terwujudnya perdamaian sesegera mungkin. Jadi aku mengarahkan cara yang salah itu ke tempat yang benar, yaitu Kota Dabongsang dan Gunung Tubar'e.
Setelah Dabongsang, Sang Mahesa dan Sang Srisari berusaha mengarahkan kalian ke tempat-tempat dan gunung-gunung benar lainnya. Maka, di Yamkora dan Dantonu kalian menumpas sumber-sumber bencana dan tirani yang lebih besar lagi daripada Perang Besar Antapada. Kini, setelah pembawa bencana yang sesungguhnya menampakkan diri dan kalian terdesak, saatnya aku turun tangan memberi petunjuk dan bantuan."
Nirya menghela napas lega. "Ah, terima kasih. Kami sungguh kewalahan menghadapi Vrithra yang telah merasuki Sthira. Petunjuk apa yang ingin kausampaikan?"
"Coba kau ingat, Nirya. Di Dantonu, kau sempat memberikan Aksara Gaib Gunung Barkajang pada Dhaka. Dhaka lalu berhasil mengerahkan kekuatan gaib itu. Kau tahu apa sebabnya?"
"Dhaka dan Aksara Barkajang sama-sama berunsur tanah. Lagipula, kehilangan keluarga membuat prana Dhaka melonjak drastis, hingga ia dapat menggunakan aksara gaibnya."
"Tepat sekali. Nah, kuberitahu kau satu rahasia."
"Rahasia apa itu?"
"Cara menggunakan aksara gaib tanpa harus kehilangan keluarga atau semacamnya. Selain Barkajang, aksara gaib apa saja yang kalian miliki sekarang?"
__ADS_1
Nirya menjawab, "Arumi memegang Aksara Api Megaswari dan Aksara Es Yamkora. Sedangkan Mo... Dewi Sasanda meminjamkan Aksara Angin Tubar'e padaku."
"Ah, kurang Aksara Air, penghantar petir terbaik, tapi tak apa. Nah, untuk menggunakan aksara gaib, kita harus memusatkan pikiran dan tenaga dalam atau tenaga gaib, lalu mengucapkan nama aksara itu dengan lantang sebagai mantra pemicu kekuatannya."
"Hah? Dari mana kita tahu nama masing-masing aksara gaib itu?"
"Perlu kau tahu, pencipta Aksara Gaib ini adalah sang Resi Dewa, Arya Manikrama. Ia merangkai huruf-huruf dalam bahasa kuno sedemikian rupa hingga membentuk satu lambang. Huruf-huruf untuk lambang itu berasal dari nama gunung tempat aksara kunci itu bernaung."
"J-jadi nama Aksara Angin di tanganku ini adalah... Tubar'e? Dan aku tinggal memusatkan tenaga dan menyebutkan nama itu saja untuk menggunakan kekuatannya?"
Citra sosok Barong mengangguk.
"Ya ampun!" seru Nirya. "Andai kau memberitahuku tentang cara itu sejak awal, Dhaka mungkin takkan perlu kehilangan keluarganya!"
"Nirya! Sadarkah kau betapa sulitnya melacak keberadaan kalian di Jazirah Antapada yang amat luas ini? Sudahlah, berhentilah mengeluh dan bangkitlah! Bantu teman-temanmu!"
"Tunggu dulu Barong, aku...!"
"Bangkitlah, Nirya!"
Mendadak, Nirya tersentak dan bangkit dari posisi tidur ke duduk. Ruangan istana yang dindingnya telah jebol di satu sisi jadi pertanda ia tak lagi pingsan atau bermimpi.
Namun, apakah pertemuan dan percakapan batiniah antara Nirya dan Barong hanya mmpi belaka?
Nirya menggeleng-geleng sendiri. Sekali lagi, ia memutuskan untuk mengesampingkan logika dan percaya pada "mimpi"-nya. Andai Barong bicara pada Arumi tadi, kemungkinan besar Arumi akan mengikuti logikanya dan mengabaikan petunjuk lewat telepati jarak jauh alias "mimpi" itu.
Dengan langkah-langkah yang masih terseret-seret, Nirya berusaha mencari rekan-rekannya. Namun yang ada sepanjang koridor itu malah membuat Nirya mual. Bau anyir darah amat pekat, melengkapi pemandangan mengenaskan para prajurit dan pendekar yang terkapar, berserakan seperti guguran daun-daun kering di tanah.
Saat kembali di balairung singgasana, barulah Nirya terpaku sejenak melihat situasi yang terpampang di hadapannya. Arumi tampak terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan.
Sedangkan Dhaka kini berteriak untuk mengerahkan tenaga sekuatnya, berlari menerjang ke arah Sthira. Dengan tenang Sthira menghantamkan Gada-Tombak Vajra ke arah lawan. Namun Dhaka amat "licin", berkelit ke samping sambil merunduk serendah-rendahnya.
Tombak Dhaka lantas melesat dari bawah dan mengincar lambung Sthira. Lawan menangkis dengan Vajra, ujung bilah Tombak Komodorai seakan tersangkut di celah-celah pada bagian gadanya. Gawat, gerakan tombak Dhaka telah terkunci, pertahanan si komodorai telah terbuka amat lebar.
Di luar dugaan, Dhaka kembali berteriak mengerahkan segenap tenaga. Dengan satu entakan ia mengangkat tombaknya dan melontarkan Sthira bersama senjatanya di udara. Tak berhenti di sana, Dhaka melancarkan Rentetan Hunjaman Tombak ke arah tubuh lawan.
Sulit bergerak bebas di udara, Sthira refleks menangkis sekenanya dengan Vajra. Tanpa ampun, dirinya jadi bulan-bulanan hujan tombak tajam.
"Matilah, biang bencana!" Dhaka mengakhiri serangannya dengan satu tusukan pamungkas terkuat. Alhasil, Sthira terpelanting tanpa kendali ke belakang dan jatuh dengan keras, membentur lantai kayu. Tubuh Sthira tak bergerak. Apakah serangan Dhaka berhasil menghabisinya? Untuk memastikan keadaan lawan, si komodorai berjalan maju dengan tombak siap dihunjamkan lagi.
Namun tiba-tiba Sthira yang terkapar dengan cepat melompat bangkit. Sebelum Dhaka dapat bereaksi apapun, lawan telah lebih dahulu menembakkan selarik besar petir dari ujung Vajra. Tembakan Meriam Halilintar Digdaya tanpa ampun menghantam si komodorai perkasa. Energi petir bertegangan tinggi menjalar amat cepat, sehingga seluruh tubuh Dhaka seakan terbungkus petir menyambar-nyambar.
Setelah daya tembakan habis, Dhaka berdiri membungkuk. Asap dan sisa percikan petir tampak di sekujur tubuhnya, bau seperti daging hangus semerbak hingga ke penciuman Nirya.
__ADS_1
Ilustrasi Sthira Tarunaga by Andry Chang