EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
TUBAR'E Bagian 6


__ADS_3


Kesempitan serupa juga tengah dialami Nirya di puncak Tubar'e. Namun bentuk dan ukurannya berbeda, yaitu moncong seekor katak-buaya raksasa yang teramat lebar.


Setengah menyadarinya, refleks Nirya yang telah terlatih sejak kecil bereaksi. Tubuh Nirya seakan bergerak dengan sendirinya, menjatuhkan diri sambil bergulingan ke satu sisi.


Alhasil, rahang katak bertaring buaya itu hanya melahap udara. Tubuh raksasanya mendarat di tanah dengan suara berdebum, menerbangkan debu tanah dan kerikil-kerikil ke segala arah.


Mora cepat-cepat menarik Nirya menjauh sambil berkata, "Beto'dila! Dia tampaknya amat kelaparan, tak pernah kulihat dia seagresif itu!"


Arumi menimpali, "Yang pasti, kita tak bisa bersilat lidah dengan hewan siluman! Apa rencanamu, Mora?"


Sambil terus menatap Beto'dila yang menoleh kesana-kemari mengenali ketiga calon mangsanya, Mora menjawab, "Aku belum tahu. Sebaiknya kita berpencar ke tiap tepi danau kaldera. Nirya, kau ke danau hijau, Arumi ke danau biru dan aku ke danau kuning! Cari titik lemah si raksasa itu! Siap, berpencar!"


"Baik!" tanggap Nirya sambil lari menuju tepi danau hijau. Arumi ke arah berlawanan, sementara Mora yang memang sedang berada di tepi danau kuning hanya lari hingga cukup jauh dari pandangan mata si katak-buaya raksasa.


Rupanya reaksi Beto'dila terbilang lamban. Buktinya, saat ketiga lawannya telah terpencar baru ia berputar dan merayap cepat, mengincar musuh terdekat yaitu Mora.


Nirya berbalik dari posisinya, hendak membantu rekannya. Tapi Mora yang terus menghindar dengan lincahnya malah mengibaskan tangannya, mengisyaratkan Nirya agar kembali ke posisinya saja. Nirya terpaksa menurut, lagipula si Jawara Dua tampak amat lincah dan bergerak laksana angin yang adalah dasar tenaga dalamnya.


Mungkin karena tak kunjung bisa melahap Mora setelah beberapa kali terkaman, Beto'dila meraung dan melompat amat tinggi, lalu terjun ke dalam danau biru.


Nirya bereaksi. "Lho, dia lari!?"


"Kurasa tidak," jawab Mora. "Kalau benar, ia pasti turun gunung."


"Lantas bagaimana? Apa dia hendak menyerang kita secara mendadak?" tanya Arumi.


"Itu sudah pasti. Masalahnya adalah dari mana ia akan menyerang. Waspadalah kalian berdua, tetaplah di posisi kalian!" Mora juga bersiaga di posisinya, yaitu danau kuning.


Nirya bersiap dengan kerambit kembar berantainya dan bicara, "Lho, bukankah Beto'dila tadi memasuki danau biru? Bagaimana bisa...?"


Kata-kata Nirya terhenti. Tampak si katak-buaya melompat keluar dari danau berair hijau kehitaman dan menerjang ke arahnya. Belajar dari aksi sebelumnya, Nirya cepat-cepat tiarap dan menghindar ke satu sisi. Hampir saja ia tercebur ke dalam danau. Lagi-lagi keseimbangan yang telah terlatih baik menjaganya tetap di tanah padat.


Yang Nirya lihat berikutnya adalah tubuh si raksasa siluman buaya-katak lewat di atasnya, lalu menceburkan diri dalam danau kuning. Gerakan Beto'dila tak terlalu cepat, namun Nirya belum menemukan momentum yang tepat, tak sempat mengayunkan apalagi mendaratkan kerambit berantainya di bagian bawah tubuh lawan.


Mora baru tiba di titik tengah, yaitu tanah padat yang menghubungkan ketiga danau kaldera. Jadi iapun tak sempat melecutkan cambuk sarat prana angin tajamnya ke sasaran manapun.


Nirya berdecak kesal, jadi Mora menghiburnya. "Tak apa, kita coba lagi. Beto'dila pasti akan keluar dari danau kuning ini."

__ADS_1


Nirya baru akan bertanya mengapa Mora bisa seyakin itu, namun ingatan yang tiba-tiba terbit mengurungkan niatnya itu. Danau kuning tak terhubung dengan dua danau lainnya. Sangat mungkin ada terowongan yang menghubungkan danau hijau dan danau biru, dan Beto'dila berpindah danau dengan berenang melewati terowongan itu. Saat logika tuntas memproses ingatan itu, mata Nirya kini seakan berkilauan bagai berlian.


Seperti dugaan, Beto'dila melompat keluar dari danau kuning, mulut kataknya hendak menelan Arumi bulat-bulat.


Namun Arumi lebih sigap, mungkin teringat pula pada semua petunjuk Mora yang secara tak langsung mengacu pada pola gerakan musuh tadi. Arumi memanah bagian perut bawah Beto'dila berkali-kali dengan tiga Panah Api Membara.


Panah-panah teramat tajam itu menancap di tubuh Beto'dila. Namun tak adanya raungan kesakitan menandakan mosnter itu entah tak terluka, kebal rasa sakit atau menahan sakit sampai ia terjun dalam telaga biru.


Karena pikiran Arumi, Nirya dan Mora kini tertuju sepenuhnya pada Beto'dila, tanpa sadar mereka kini berdiri agak berdekatan di dataran titik tengah kaldera.


Maka, Beto'dila melompat tinggi dari telaga biru dan hendak mendarat di titik tengah, sekaligus menimpa ketiga lawannya sekaligus hingga *****. Tentu saja aksi naluriah itu terbaca dengan mudah oleh tiga manusia berakal-budi yang jadi lawannya. Nirya, Mora dan Arumi melompat ke satu sisi, namun imbas daya benturan tubuh raksasa dengan tanah itu menghantam mereka hingga terpental.


Setelah berhasil menyeimbangkan posisi berdirinya, Nirya melihat posisi tarung kini adalah mereka bertiga mengelilingi Beto'dila, dan hewan itu seakan ingin dikeroyok.


"Ini kesempatan! Ayo kita cari dan cecar titik lemahnya!" seru Nirya, memutar-mutar rantai kerambitnya siap maju menyerang.


"Tunggu dulu!" teriak Mora. "Beto'dila sengaja menantang kita agar kita jadi sasaran empuk serangan terkuatnya! Ia juga sengaja agar kita mengira dia lengah, dan sudah menyiapkan jebakan apabila kita menyerangnya!"


"Yang benar saja, masa' hewan siluman itu mampu menghimpun tenaga dan menjebak musuh secara bersamaan? Biar kucoba!" Arumi melesatkan anak panah berapinya ke arah kepala katak raksasa. Beto'dila bereaksi dengan memancarkan energi dari tubuhnya hingga panah itu hancur menyerpih di udara.


Arumi terperangah. Untunglah ia tak ceroboh karena meremehkan kecerdasan hewan itu. Setidaknya kini ia tahu sesuatu. "Beto'dila amat gigih melindungi kepalanya! Mungkin kepala itulah titik terlemahnya!" serunya pada rekan-rekannya.


Membuka mulut kataknya selebar-lebarnya, Beto'dila menyemburkan rentetan "ludah" air hitam yang ia minum banyak-banyak saat masuk danau biru tadi. Ditambah Energi Air Hitam dari tubuhnya, semburat air berdaya kikis dahsyat itu menyebar ke arah ketiga lawannya.


Terkejut bukan kepalang, Nirya pontang-panting menghindar, bergerak secepat angin dengan jurus Bayangan Badai. Pemandangan yang terjadi ini setara dengan seregu pemanah sedang memanah tiga orang wanita.


Selincah apapun pergerakan Nirya, dua "gumpalan ludah" menerpa tubuhnya. Walau terlindung prana angin Aliran Bayunara, rasa nyeri dan gatal tetap menusuk-nusuk tubuh gadis berambut jingga itu, pergerakannya jadi kacau.


Tak hanya itu, setelah rentetan tembakan "ludah" itu reda, Mora dan Arumi bahkan tampak terkapar di tempat. Tinggal Nirya sendirian yang masih berdiri di hadapan si monster sekarang. Tak ayal, keringat dingin gadis mungil itu bercucuran.


Nirya hendak menghindar saja sejauh-jauhnya dan membantu rekan-rekannya. Namun, ia melihat tubuh besar Beto'dila juga bergeming di tempat. Apakah hewan raksasa itu diserang Arumi atau Mora hingga tumbang?


Dahi Nirya berkerut. Lalu, rasa ingin tahu yang lebih besar daripada rasa takut mendorong Nirya berlari ke arah Beto'dila. Ia melecutkan kerambit berantainya dengan jurus sarat prana, Angin Membelah Awan.


Tak ada reaksi, si sasaran tampak seakan pasrah saja. Saat kerambit tajam menghunjam kepalanyalah, Beto'dila meraung kesakitan. Untung Nirya cepat-cepat menarik rantai, mencabut kerambitnya. Kalau tidak, ia bakal ditarik si raksasa itu ke dalam danau kuning. Sudah dipastikan, titik lemah Beto'dila terletak di kepalanya.


Tak membuang waktu, Nirya menghampiri kedua rekannya, berharap ia bisa menyampaikan informasi penting ini secepatnya pada mereka.


Tampak Mora sudah perlahan bangkit berdiri sambil memegangi dahinya, namun Arumi masih terkapar tak bergerak. Nirya berlutut di sini rekannya dari Jayandra itu, mengangkat tubuh Arumi dan berseru, "Bangun, Arumi! Jangan pingsan sekarang di sini!"

__ADS_1


Arumi masih bernapas, namun ia masih bergeming. Terpaksa Nirya berseru, "Maaf, terpaksa!" Ia menampar wajah Arumi. Walau tak sepenuh tenaga, tamparan itu cukup kuat sampai-sampai Arumi tersentak bangkit.


"Aagh! Nirya, Mora!" Ekspresi wajah Arumi seakan ia baru terbangun dari mimpi buruk.


"Aku di sini! Mora juga!" Nirya berseru. "Dengar, kau benar, Arumi! Titik lemah Beto'dila memang adalah kepalanya!"


Arumi masih tampak tegang. "Tapi apakah kalian sudah membunuhnya?"


"Belum, ia terjun ke danau kuning."


"Astaga, kita harus siaga!" Arumi cepat-cepat bangkit berdiri, lalu kembali jatuh berlutut. Tanpa zirah, seharusnya tubuh gadis itu masih terlindungi prana api. Namun, rupanya Arumi terkena terlalu banyak "ludah hitam", sehingga mengalami luka dalam.


Nirya bergerak melindungi Arumi, menghadap ke danau kuning.


Rupanya, kali ini ada jeda beberapa saat baru Beto'dila kembali melompat keluar. Mora yang sudah amat sigap lantas melompat tinggi-tinggi dan melecutkan cambuk saktinya. Ia berhasil menghantam kepala katak si siluman dengan jurus yang senapas dengan jurus Angin Membelah Awan Nirya. Cambuknya laksana pedang raksasa teramat tajam yang hendak membelah satu kepala menjadi dua.


Gilanya, kepala Beto'dila yang adalah titik terlemahpun masih amat keras. Walau tak sampai terbelah, pendarahan yang makin parah di kepala itu membuat si raksasa kehilangan keseimbangan dan mendarat di tanah dengan suara berdebum keras.


"Kesempatan! Ayo habisi dia!" Sambil menyerukan itu, Mora dan Nirya bergegas maju. Namun si monster kali ini malah menjauh, menceburkan diri dalam danau hijau terdekat. Kedua pendekar hanya bisa berdecak kesal melihatnya.


Saat berikutnya, tampak kumpulan buih di permukaan danau hijau. Buih yang adalah air yang menghitam itu makin banyak, meluas dan seakan menggunung, pertanda apakah itu?


"Astaga, jangan-jangan Beto'dila hendak melancarkan serangan terkuatnya lagi?!" Arumi yang masih tertatih-tatih terperangah ngeri.


"Bukankah ia seharusnya kehabisan Energi Air Hitam setelah sekali melancarkan pamungkas tadi?" Nirya menggeleng tak percaya. "Tenaganya seolah tak ada habisnya!"


Mora berujar, "Ya, ini jelas tak wajar! Jangan-jangan ketakterbatasan energinya itu bersumber dari sambung nyawa antara Beto'dila dan Zakuay! Baru sekarang aku tahu itu!"


"Kalau begini, kita harus lari dari sini! Kalau kita terus melawan dia, kita yang bakal mati kalah tenaga atau kehabisan tenaga!" Nirya mulai ambil ancang-ancang.


Mora mengangkat tangannya. "Percuma! Beto'dila yang penuh energi pasti bakal menyusul kita! Mau tak mau kita harus melawannya di sini dengan seluruh kekuatan kita!"


Dihadapkan pada situasi tanpa harapan seperti ini, Arumi berujar lemah, "Aih, andai saat ini ada seseorang, siapa saja yang sedang melawan Dabongsang Zakuay. Atau, kita mendapat bantuan atau asupan kekuatan dewata yang tak terbatas!"


Mendengar kata-kata itu, Mora malah mengembangkan senyum cerah. "Wah, tepat sekali ucapanmu, Arumi. Mungkin aku bisa mewujudkan salah satu andaianmu itu."


Masalahnya, andaian mana yang Mora maksudkan itu?


Dewi Anjani dari puncak Gunung Rinjani. Gambar referensi untuk Dewi Sasanda, sumber Google.com.

__ADS_1


__ADS_2