
"Ikuti pesut itu!" serunya pada jurumudi sesaat kemudian. "Ia akan pandu kita keluar dari daerah badai!"
Si jurumudi menoleh ke kanan-kiri mencari sang nahkoda dan makhluk yang dimaksud. Lalu ia berseru balik, "Sampaikan pada nahkoda saja, dia yang menentukan segalanya!"
Daeng Hasan yang kini berdiri di balik tubuh si jurumudi berseru, "Ikuti petunjuk Dhaka! Silakan, Dhaka! Segala bantuan kami terima dengan lapang dada! Tapi kami tak bisa melihat pesut itu di mana-mana!"
"Serahkan saja pada Dhaka!" Sambil mengatakannya, si komodorai merayap secepat kilat ke haluan. Ia lantas melihat si pesut dan memastikan arah pergerakannya. Lalu Dhaka kembali ke anjungan jurumudi dan berseru, " Putar kiri, tiga putaran penuh roda kemudi!"
Dengan patuh, jurumudi memutar roda kemudinya tiga kali putaran penuh.
"Baiklah!" Selanjutnya, tak terhitung lagi berapa kali Dhaka bolak-balik haluan dan buritan Pinissi. Sempat terbit rasa kesalnya, mungkin lebih baik si pesut yang menyerukan arah dari sampaing kapal saja supaya ia tak terlalu kerepotan dan bisa membantu para awak dan rekan pendekar lain yang tengah berjuang sekuat tenaga.
Namun dalam keadaan genting ini, si pesut berakal panjang tak mau sampai tertabrak badan kapal yang sedang ganti haluan. Jadi, Dhaka seketika memupus rasa kesal itu dan terus bergerak, melaksanakan tugasnya.
Tak sampai satu jam, barulah ada titik terang di ujung perjuangan. Badai seakan berangsur-angsur mereda, padahal sebenarnya Pinissilah yang baru meninggalkan daerah penuh badai yang masih menggila itu.
Barulah saat bintang-bintang petunjuk arah kembali tampak di langit, layar-layar Pinissi kembali terkembang. Ombak makin tenang, gejolak lautpun mereda. Kaplpun tak lagi berayun dan berguncang keras, sehingga Dhaka dapat berdiri di tempat tanpa harus bersusah-payah menyeimbangkan tubuhnya lagi.
Seketika, tubuh Dhaka terasa lemas dan amat berat. Terpaksa si komodorai duduk dekat pagar sisi kanan kapal dekat haluan. Sorak-sorai para awak kapal berkumandang, itu terdengar seperti musik yang memijat hati, bagai air yang membelai, menyegarkan otot-otot yang nyeri akibat digerakkan berjam-jam nyaris tanpa henti tadi.
Yang menyusul kemudian adalah rasa kantuk. Giliran mata Dhaka yang kini terasa bagai tertindih longsoran salju Yamkora. Saat si komodorai perkasa nyaris terbuai, terbawa ke alam mimpi, suara keras sang nahkoda kapal, Daeng Hasan Alamuddin membuat Dhaka terperanjat. "Nah, ini dia pahlawan kita hari ini. Berkat petunjuk-petunjuk dan kerja luar biasa Dhaka Komodorai, kita semua selamat melewati badai kali ini."
Dhaka memaksa diri bangkit berdiri dan berujar, merendah, "Dhaka hanya ikut petunjuk Sang Srisari. Bunda Alamlah yang bimbing kita, kirim pesut yang bisa bicara, dengan ajaib beri petunjuk arah yang tepat keluar dari daerah badai." Lalu ia menoleh ke kiri-kanan. "Oh ya, di mana pesut itu sekarang? Dialah pahlawan yang sesungguhnya."
"Apakah dia pergi begitu saja setelah melaksanakan amanat Sang Srisari?" tanya Arumi.
__ADS_1
Nirya berkomentar, "Sungguh hewan ajaib yang berhati mulia."
"Tunggu dulu. Lihat, kurasa pesut itu ada di sana." Semua mata tertuju ke arah yang ditunjuk Sthira.
Tepat saat itu pula sang pesut melompat lagi dari laut, kali ini tak setinggi biasanya.
Ternyata pula, tak hanya siluman macam Dhaka saja yang memahami kata-kata si pesut itu. "T-tolong... Dapu Dapu lelah... Bolehkah... Dapu Dapu naik ke kapal?"
Para manusia terperanjat. Walau berjenis mamalia, hewan menyusui, pesut masih tergolong ikan, hewan laut yang bukan hewan dua alam seperti katak. Kalau terlalu lama keluar dari air, pesut itu akan mati kehabisan udara.
Justru di sela-sela keraguan dan jawaban yang tak kunjung tiba itu Dhaka berseru, "Silakan, Dapu Dapu!"
Dapu Dapu si pesut bersorak kekanak-kanakan, "Hore! Terima kasih!"
Tanpa menunggu jawaban susulan dari nahkoda kapal dan pemimpin misi, si pesut menyelam, menghimpun seluruh sisa tenaganya. Lalu ia melompat setinggi mungkin dari air, melewati pagar sisi kapal dan mendarat di geladak. Tubuh besar, kelabu dan licin itu menggelepar di lantai kayu. Sirip dan ekornya menghentak-hentak.
Namun Dhaka tak mempedulikan tatapan itu dan memperhatikan apa yang terjadi berikutnya pada si pesut. Mungkin karena kelelahan, tubuh berbentuk mirip ikan lumba-lumba itu berubah wujud dengan perlahan. Mulai dari kepala, tubuh, sirip dan terakhir ekornya mengecil menjadi kepala, tubuh, tangan dan kaki manusia.
Tepatnya, wujud lain si pesut itu adalah seorang anak laki-laki yang dari rupa jasmaninya berusia tak lebih dari sepuluh tahun. Anak itu hanya mengenakan semacam celana yang terbuat dari jalinan rumput dan ganggang laut. Kulitnya putih bersih, rambutnya hijau dan panjang, bergelombang dan terjalin tebal-tebal bergaya gimbal. Dalam kegelapan malam itu, semua mata mungkin salah mengira rambut itu adalah rumput dan ganggang laut pula.
Yang paling menarik tentunya wajah anak laki-laki itu amat rupawan, cenderung manis. Nirya yang polos langsung mendekat, menempelkan telapak tangannya lembut di dada anak itu. Nirya lantas merapal sihir Semilir Angin Penyembuh, menyalurkan daya gaib lewat tiap jari tangannya dan memulihkan tiap tanda cedera, luka dan kelelahan dalam tiap jengkal tubuh langsing-mungil itu.
Anak laki-laki itu tersenyum, wajahnya yang semula pucat kembali cerah bersemangat. "Terima kasih, kakak manis. Dapu Dapu tak kelelahan lagi," katanya. Persis seperti dalam wujud pesut, suaranya bernada tinggi, hampir melengking.
Disebut "kakak manis", jelas pipi Nirya merona merah. "Sama-sama. Justru kami semua di sini yang berterima kasih padamu karena telah memandu kami keluar dari badai dan menyelamatkan nyawa kami. Ngg, Dapu Dapu itu namamukah?"
Dapu Dapu mengangguk cepat.
__ADS_1
Arumi yang ikut penasaran bertanya pula, "Apakah wujud aslimu manusia atau pesut?"
Pertanyaan dari Sthira lebih langsung. "Dari mana asalmu, Dapu Dapu?"
Hasan ikut berkomentar, "Dia 'kan pesut, jadi dia pasti dari Akhsar, ya 'kan?"
Diberondong banyak pertanyaan, akhirnya Dapu Dapu berteriak, "Cukup! Dapu Dapu pusing, tahu!"
Akhirnya Dhaka yang angkat bicara, "Biar Dapu Dapu istirahat dulu. Ini malam yang amat keras, kalau ingin bicarakan sesuatu, tunggu hingga tubuh dan benak segar lagi.'
Tak ada sepatah kata sanggahanpun terlontar. Maka Dhaka berujar lagi, "Ah, jadi semua setuju dengan Dhaka, ya? Baiklah. Ayo Dapu Dapu, Dhaka tunjukkan tempat tidurmu."
Namun Dapu Dapu menepis uluran tangan Dhaka itu dan berseru, "Tidak! Dapu Dapu mau kakak manis itu saja yang antar Dapu Dapu!"
Dhaka terperanjat mendengarnya. Tapi ada yang lebih terkejut lagi, yaitu Nirya. "Eh, kau sama Dhaka dulu saja ya, kakak masih harus merawat yang terluka..." Padahal alasan Nirya yang sesungguhnya adalah ia ingin merawat luka-luka Sthira.
"Tidak mau! Sama kakak manis saja!" Dapu Dapu merajuk layaknya anak seusianya.
"Sudahlah Nirya, antar Dapu Dapu dulu, baru rawat yang luka-luka," kata Dhaka.
Wajah Nirya bersemu merah padam, mungkin karena malu. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia membimbing Dapu Dapu pergi.
Kerumunan orang di geladak juga bubar, tinggal Dhaka yang berdiri sendirian, menegadah menatap bintang-bintang. Gumamnya, "Inikah pernyataan kehendak Sang Srisari. Pasti ada maksud Sang Srisari panggil badai dan datangkan Dapu Dapu pada kami."
Dhaka bertekad akan mengurai tuntas segala kebenarannya saat matahari terbit.
Sumber referensi gambar untuk Daeng Hasan, Nahkoda Kapal Pinissi adalah gambar Sultan Hasanuddin, Pahlawan Nasional Indonesia dari Makassar yang digunakan di akun Daeng Koro, Twitter.
__ADS_1