EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
MANTIKEI Bagian 5


__ADS_3


Vajra sengaja meladeni pembicaraan para lawannya itu, mengulur waktu untuk menghimpun tenaga. Tubuh dewa itu melayang tanpa sayap prana. Tak tampak pancaran prana dari tubuh Vajra, karena seluruh energi itu sedang dipusatkan dan dimampatkan di satu titik saja, tak dapat dideteksi dengan cara apapun juga.


Tak bisa membuat Vajra terkena "senjata makan tuan" sedini mungkin, terpaksa Nirya pasang kuda-kuda, siap mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan serangan.


Membaca gelagat ini, Arumi mendekati dan menegur Nirya, "Simpan tenagamu untuk melakukan serangan balasan, Nirya. Biar aku yang melindungimu dengan seluruh tenagaku."


Nirya protes, "T-tapi...!"


Arumi memotong, "Dhaka luka parah dan energi pamungkasku telah terkuras. Hanya kau yang masih punya cukup banyak energi untuk melawannya!"


"Tidak, kita harus berusaha menghindar atau menahan serangan musuh bersama-sama! Aku takkan membiarkan kau...!" Satu tamparan Arumi di pipi membuat Nirya berhenti bicara.


"Tak ada cara lain! Lihat, Vajra akan menyerang tiap saat!" bentak Arumi.


"Vanapada! Saksikan kekuatan dewa sejati!" sesumbar Vajra.


Satu raungan membahana jadi pemicunya, Vajra mengulurkan jari telunjuk kedua tangannya ke atas dan ke bawah dan memancarkan dua larik petir dari kedua jari itu.  Larik petir yang ke atas melesat menembus awan. Dari awan-awan tebal itu tercurahlah hujan petir yang hampir sama dengan jurus Vajra sebelumnya, namun lebih rapat dan lebih deras.


Kekuatan tambahan jurus pamungkas Vajra ini justru terpicu oleh larik petir yang menerpa tanah. Karena efek petir dewata itu, setiap curahan petir yang menerpa tanah tidak diredam, melainkan dijalarkan dan dipantulkan kembali ke atas. Tambahan pula, daya petir statis dari tanah juga menyembur keluar bagai semburan magma. Karena itulah, daya penghancur yang dihasilkan menjadi berlipat ganda. Hasil nyatanya, segala dinding, lantai dan atap istana yang tersambar hujan petir ini pecah dan hancur seketika.


Istana Agung Mantikei Labih runtuh.


Dugaan Nirya benar. Berkat posisi berdirinya di balairung yang luas, ia berhasil menghindar dan menepis reruntuhan bangunan yang menimpanya. Namun yang mengepung Nirya kini adalah guyuran petir dari atas dan bawah. Mustahil menghindar, ia kini hanya bisa berlindung dalam medan perisai api dan es ciptaan Arumi.


Melihat semacam urat-urat menonjol di raut wajah Arumi, Nirya merasa jantungnya sedang diiris-iris belati. "Biar kubantu!" serunya.


"Jangan!" bentak Arumi. "Himpunlah terus energi sebanyak mungkin!"

__ADS_1


"Tapi kau...!"


"Lakukan saja! Saat ini, kaulah satu-satunya harapan Antapada!" Konsentrasi yang terpecah membuat perisai prana api Arumi goyah. Empat larik petir menembus pertahanan dan mengguratkan serempetan luka di tubuh Arumi dan Nirya. Imbas sambaran petir dan daya pukulan balik energi apinya sendiri membuat Arumi muntah darah.


Arumi cepat-cepat berteriak lagi. Dengan asupan dari sisa energi api dalam tubuhnya ditambah energi es dari Aksara Gaib Yamkora, medan pelindung gaib sempat utuh kembali.


Terpaksa Nirya memusatkan perhatiannya dan terus menghimpun tenaga dalam, mempercayakan segala pertahanan sepenuhnya pada Arumi. Aksara Angin Tubar'e di tangannya berpendar kehijauan makin terang.


Namun kepercayaan Nirya itu mulai retak, seiring retaknya perisai prana api Arumi akibat didera petir bertubi-tubi. Gilanya, serangan Vajra tak kunjung reda. Jika terus begini, perisai Arumi akan pecah dan buyar, sedangkan tubuh gadis Jayandra itu akan penuh oleh petir yang menyambari, menancapi bahkan menembusnya.


Inilah situasi di mana nyawa Nirya dan Arumi bagai telur di ujung tanduk.


Di saat inilah Nirya melihat kelebatan sesosok makhluk yang melesat cepat dari sisinya, terus berlari ke arah Vajra. Gadis itu terkesiap, sosok itu adalah Dhaka.


Sadar jurus pamungkasnya, Maha Bencana Gempa Semesta takkan mencapai Vajra yang masih melayang, Dhaka malah menggunakan energi pamungkas itu untuk melindungi diri semata. Tak terhitung berapa banyak larik petir yang menyambari tubuhnya, namun si komodorai perkasa tak mempedulikan itu dan terus maju ke arah Vajra.


Melihat gerakan Dhaka itu, wajah Nirya pucat-pasi seketika. Ketakutan luar biasa menghentak jantungnya amat keras. Jangan-jangan Dhaka akan...


Kedua tangan Vajra bergerak hingga teracung lurus ke arah sasaran. Berganti lurus, dari kedua telapaknya itu Vajra menembakkan Meriam Halilintar Digdaya. Larik petir raksasa melanda, siap menyambar dan ******* tubuh Dhaka di jarak beberapa langkah saja dari si penembak.


Tiba-tiba, sosok Dhaka seakan lenyap dari pandangan. Mata Vajra terbelalak tak percaya. Pendekar yang bertubuh paling besar dan pergerakannya seharusnya paling lamban dalam kelompok Sthira itu ternyata mampu berkelebat bagai bayangan.


Yang lebih mengejutkan lagi, Dhaka malah sudah muncul di belakang Vajra. Kedua tangan dan satu kaki si komodorai mengunci, seakan membelit tubuh si dewa ungu seperti ular piton raksasa membelit mangsanya.


"Hei, apa-apaan ini?" Vajra malah bertanya-tanya, padahal seharusnya ia tahu seketika apa yang harus ia lakukan. Reaksi awal yang terpikir oleh Vajra adalah meronta-ronta dan menghentak-hentakkan tubuhnya yang sarat energi petir pamungkas agar ia bisa bergerak dan meneruskan jurus pamungkasnya.


Rontaan itu membuat Dhaka muntah darah. Namun dengan prana Aksara Barkajang berunsur tanah ia makin mengetatkan kuncian lengan dan kakinya. Dhaka berteriak, "Nirya, cepat serang Vajra!"


Perisai api Arumi buyar, perapalnya roboh seketika.

__ADS_1


Nirya rupanya sempat terkesima oleh pengorbanan paling nekad yang pernah ia lihat itu. Teriakan Dhaka membuat gadis itu tersentak sadar dan langsung bergerak maju.


"Vajra! Kupaksa kau dengan pamungkas Kerambit Bayunara, Kepungan Topan Pemusnah Kota! Kembalikan Sthira!"


Sambil mengatakannya, Nirya menghunjamkan kedua kerambit berantainya tepat di celah pada bagian dada Zirah Emas Vajra, di posisi tempat jantung inangnya, Sthira berada.


Tak berhenti di sana, tubuh Nirya terangkat bagai sedang melayang. Sebenarnya pamungkas Nirya itu adalah jurus penghancur yang menjepit sasarannya di satu daerah tertentu. Namun Nirya mengubahnya menjadi satu tusukan tunggal dengan energi yang dipusatkan di ujung sepasang kerambit berantainya. Efek pergerakan energi itu adalah pusaran tanpa henti bagai bor atau angin ****** beliung yang membungkus tubuh Nirya.


Prana pamungkas yang diperkuat dengan energi dari Aksara Angin Tubar'e itu terus menekan, hingga dada Vajra mulai berdarah.


"Pengganggu dan penghalang menyebalkan, enyah!" Vajra meledakkan sisa energi pamungkasnya, meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kuncian Dhaka dan hunjaman Nirya.


Akibatnya, Nirya terpelanting ke udara. Namun Dhaka masih tetap kukuh mengunci-peluk tangan dan kaki sang dewa. Padahal, tubuh si komodorai perkasa terpapar langsung ledakan prana dan sudah tak karuan lagi permukaannya, penuh darah dan sebagian besar sisiknya telah tanggal.


Seharusnya Dhaka telah tewas. Dengan luka yang terlalu banyak dan parah, tubuh kasarnya telah rusak dan mati. Hanya semangat dan sisa prana yang dimilikinyalah yang menopang nyawa komodorai itu.


"Dibu, Rambu, Thika, tunggulah. Dhaka akan susul sebentar lagi," ujar Dhaka lemah.


"Oh tidak, kau akan menyusul mereka sekarang juga!" seru Vajra. Nampaknya masih ada sisa ledakan energi tadi yang masih bisa disalurkan dan Dhaka akan mendapat seporsi besarnya.


"Belum, masih ada aku!" Sambil menyerukannya, Nirya sekali lagi muncul di hadapan Vajra. Sekali lagi pula ia menghunjamkan kedua bilah kerambit kembarnya ke satu titik yang sama dengan yang sebelumnya, yaitu bagian dada yang tak terlindungi zirah dan telah berdarah. Pusaran angin tetap deras menggali sasaran, tanda Nirya masih memiliki banyak energi.


"Lalu apa? Kalian tetap bakal musnah olehku!"  Ini justru kesempatan bagi Vajra. Sekali lagi, petir hitam menyambar-nyambar terpancar dari tubuhnya. Jadi, bukan meronta atau meledakkan prana lagi, Vajra justru sedang menekan balik Nirya dan Dhaka. Saat cekalan Dhaka terlepas, tangannya akan bebas untuk menumpahkan seluruh kekuatannya pada Nirya.


Sekarangpun, Nirya sudah merasakan nyeri menjalari kedua tangannya dan terus ke tubuhnya. Walau berkekuatan penuhpun sepasang kerambitnya tak dapat menancap lebih dalam daripada kulit dan sedikit otot dada lawan. Wajahnya pucat pasi seketika tersaput rasa gentar tiba-tiba. Mungkinkah ini gara-gara Nirya terpelanting tadi, sehingga kekuatan serangannya tak kunjung mencapai puncak? Mungkinkah memang prana terkuat Nirya sekalipun memang kalah kuat dibanding Vajra?


Mungkin Vajra benar, sekuat apapun seorang manusia, ia tetap tak layak jadi tandingan seorang dewa sejati. Bahkan dengan pinjaman beragam kekuatan dewa dari aksara-aksara suci sekalipun, Nirya takkan pernah bisa menaklukkan dewa yang satu ini.


Pusaran energi angin makin cepat, namun energi listrik Vajra juga menekan balik dan menjalar makin jauh ke tangan, lengan bahkan bahu Nirya. Kalau terus begini, sebentar lagi tubuh Nirya akan remuk-redam luar-dalam diacak-acak petir, senasib dengan Dhaka.

__ADS_1


Gambar referensi untuk "Darat Berguncang, Langit Gempar" dari Dream.co.id.


__ADS_2