
Setelah terjadinya Bencana Besar Cincin Api, tugas juru kunci gunung api hanya memberitahu khalayak tentang gejala letusan gunung api saja, memantik kewaspadaan.
Aksara gaib takkan lagi jadi kunci pemicu letusan dan semata-mata menjadi sumber tenaga tingkat tinggi bagi pendekar-pendekar terpilih.
Semua gunung berapi di dunia akan meletus secara alamiah pada waktunya, dan tak ada apapun dan siapapun yang bisa mencegah atau mempercepatnya.
Demikianlah sabda suci Sang Mahesa, Bapa Seluruh Vanapada.
- Arya Manikrama\, Sutra Cincin Api\, halaman terakhir.
Sejak kehilangan rumahnya, sejak Kota Ringidatu rata dengan tanah, tak sekalipun Nirya bermimpi menginjakkan kaki lagi di negerinya sendiri, Swarnara.
Sejak dirinya ikut Sthira dalam misi bunuh diri yang pasti ditolak oleh pendekar sesakti apapun, Nirya bahkan sudah siap kehilangan nyawa kapan saja.
Tampak rumah-rumah gadang yang bagai bukit barisan dari pelabuhan Mardani, kota perdagagan utama di Swarnara. Sungguh, pemandangan inilah imbalan bagi Nirya yang sebenarnya mustahil dan tak pantas ia dapatkan.
Sebenarnya, dosa-dosa yang telah Nirya lakukan bersama-sama dengan Sthira, Arumi dan Dhaka sudah terlalu besar. Sebenarnya mereka lebih pantas mendapat hukuman siksa paling mengerikan di neraka.
Karena itulah, hingga detik ini Nirya belum sepenuhnya paham maksud Sang Trinitas Vanapada ikut campur dalam aksi empat manusia terkutuk pembawa bencana ini.
Sang Angkara memang menghadirkan pelbagai halangan, dan tantangan. Bahkan puncaknya adalah menempatkan Vrithra di Dantonu dan dalam raga Sthira.
__ADS_1
Sang Srisari memberikan bantuan dengan menempatkan para pemandu dan petunjuk-petunjuk jalan. Di antaranya ia membukakan jalan keluar untuk para pendekar yang tersesat di Hutan Sriwedari, menempatkan Wufabwe sebagai pemandu di Hutan Apukondao, Ni Luh Savitri di Idharma, serta Dapu Dapu di Akhsar. Sedangkan Mora dan Dhaka membantu para pendekar di Dabongsang.
Sang Mahesa tentunya memberi bantuan terbesar. Ia memberi pencerahan pada Mpu Galahasin sehingga membebaskan kelompok Nirya dari penjara. Ia pula yang memerintahkan Barong, dutanya mengampuni nyawa Nirya dan kawan-kawannya, memberi petunjuk penggunaan aksara gaib pada Nirya dan bahkan memberi asupan energi suci tambahan di saat kritis, penentu kemenangan melawan sang titisan dewa, Vajra.
Daripada terus memikirkan cara pikir para dewa yang jelas bagai samudera dibanding pikiran manusia yang bagai setetes embun, Nirya memilih menikmati setiap momen kepulangannya ini di atas geladak Kapal Pinisi yang ia tumpangi.
Setelah kapal mantap merapat di dermaga, barulah Nirya berjalan menuruni tangga dari kapal bersama dua orang lainnya. Yang satu adalah seorang pria berpakaian jubah warna-warni penuh corak khas Kalingga. Pria berperawakan tambun itu langsung berjalan cepat seolah ada urusan teramat penting yang tak bisa ditunda lagi.
Orang kedua, Arumi Dyahrani tertawa sambil bicara pada Nirya. "Haha, dasar orang jarang melaut. Bahkan saat turun dermagapun ia mual ingin muntah lagi."
Nirya ikut tertawa kecil, namun lepas. "Ya, sama seperti aku saat pertama kali berlayar dengan Pinissi dulu. Oh ya, ngomong-ngomong terima kasih telah memberiku tumpangan dan mengantarku sampai di sini ya, Arumi."
"Ah, tak apa. Ini 'kan juga sebagian dari tugasku sebagai pembawa damai," ujar Arumi. "Yang penting, kau tak dendam karena aku dan Dhaka sempat memusuhi kau dan Sthira, 'kan?"
"Baiklah, kita tinggalkan saja segala perbedaan dan perselisihan kita di masa lalu. Sekarang, apa rencanamu ke depan?"
Nirya menjawab, "Entahlah, yang pasti pertama-tama aku ingin tahu bagaimana hasil perundingan antara utusan Kalingga dan penguasa baru Swarnara, siapapun dia. Baru nanti aku akan putuskan apakah akan terus menjadi pendekar dalam masa damai atau kembali jadi pengantar kematian dalam masa perang."
"Lho, kau takkan memulai 'Misi Cincin Api' baru, 'kan?"
"Tidak. Seumur hidup aku takkan pernah mengulang perjalanan terkutuk itu lagi."
"Sama denganku. Karena itulah kita harus berpisah di sini." Arumi tersenyum. "Aku akan mendampingi duta perdamaian Kalingga menghadap Prabu Narendra. Tentu saja statusku sebagai mantan Senopati Jayandra akan cukup membantuku nanti."
__ADS_1
"Harap saja begitu. Kalaupun itu tidak berhasil, kau bisa selalu mencari dukungan Patih Mpu Galahasin. Beliau yang membebaskan kita dari penjara di Wulantra, 'kan? Memastikan misi kita berlanjut dengan bantuanmu pula."
Arumi menjentikkan jari. "Oh ya, kau benar sekali. Jadi, agar peluang terwujudnya perdamaian Jayandra-Kalingga lebih terbuka, aku harus menghadap Patih Galahasin dulu dan melaporkan segala sesuatunya tentang misi kita. Terima kasih, Nirya."
"Sama-sama." Senyum di wajah Nirya berganti kerutan dahi. "Rasanya berat sekali harus berpisah denganmu di sini, Arumi. Sebenarnya aku... aku ingin tinggal bersamamu di Jayandra. Tapi kurasa itu sudah tak mungkin lagi, ya."
"Ya, inilah hukuman kita. Kita tak bisa hidup tenang hingga perdamaian di seluruh Antapada benar-benar terwujud. Lagipula kita harus membantu menjaga perdamaian itu, melindungi yang lemah dengan bekal kekuatan kita dan aksara-aksara gaib."
Arumi mengangkat kedua tangannya. Aksara Api Megaswari dan Aksara Es Yamkora berpendar lembut di masing-masing punggung telapak tangannya.
Nirya juga mengangkat kedua tangannya dan memperlihatkan Aksara Angin Tubar'e dan Aksara Tanah Barkajang. Lalu ia dan Arumi saling bertepuk punggung tangan. Cahaya warna-warni merah, biru, kuning dan hijau memercik dari kedua titik tepukan itu.
"Nah, sampai jumpa lagi, saudariku. Bila kau benar-benar rindu padaku, kita bisa menggunakan aksara gaib untuk saling berkomunikasi lewat telepati. Semoga Sang Mahesa selalu menjagamu, Nirya."
Nirya membalas, "Semoga Sang Srisari selalu membimbing tiap langkahmu, Arumi."
Perlu waktu cukup lama bagi Arumi hingga ia berbalik dan melangkah pergi. Setelah lama berjuang bersama dalam perjalanan yang menentukan arah sejarah, sebagai yang masih bertahan hidup dari keempat sekawan Tim Misi Cincin Api, ada ikatan persaudaraan yang telah terjalin antara Nirya dan Arumi, yang takkan pernah terputus oleh jarak, waktu dan situasi.
Tatapan mata Nirya tak lepas sekejappun pada rekannya yang kembali menaiki geladak kapal Pinissi, untuk seterusnya bertolak ke Jayandra.
Di luar dugaan Nirya, kelak Arumi Dyahrani, si mantan senopati akan menjadi pendamping terdekat Prabu Narendra sebagai Permaisuri Jayandra. Arumi akan membentangkan sayap-sayap pengaruhnya sebagai salah seorang pelindung dan penjaga perdamaian tersakti di seluruh Antapada. Di masa pemerintahan Narendra dan Arumilah Kerajaan Jayandra akan memasuki masa keemasannya.
Bagaimana dengan Nirya? Dalam kesepiannya, yang bisa gadis Swarnara itu lakukan saat ini adalah mulai meniti jalan hidupnya yang baru, yaitu jalan menuju perdamaian di Antapada.
__ADS_1
Ilustrasi Nirya Panigara karya Andry Chang