
"Penjara" yang dimaksud Aswa Rakwar tadi ternyata adalah kerangkeng-kerangkeng berbahan kayu besi yang ditempatkan di atas panggung-panggung di batang-batang pohon.
Masih tak bisa bergerak, Nirya hanya bisa pasrah dan menggigil hebat. Angin malam terus-menerus menerpanya, menusuk hingga ke tulang. Walau percaya semua rekannya juga dikurung dalam kerangkeng-kerangkeng satuan di sebelah kerangkengnya, dada Nirya terasa makin sesak. Saat ini pula, Ia butuh tahu keadaan Arumi, Dhaka dan terutama Sthira.
Ya, sejak musibah Perguruan Bayunara, satu-satunya keinginan hidup Nirya adalah mengikuti Sthira, berbagi suka-duka dengannya. Menjadikan cita-cita dan impian Sthira milik Nirya pula. Hasrat untuk "menyelamatkan" Antapada, rasa kasih Nirya pada seluruh insan Antapada juga terbit berkat Sthira.
Andai Sthira tiada, andai Nirya masih diberi kesempatan hidup, sanggupkah gadis polos itu meneruskan perjuangan pria yang paling berarti bagi dirinya itu? Terserah takdir. Andai Antapada akhirnya harus porak-poranda, Nirya lebih berharap menemani Sthira di akhirat saja, entah itu surga atau neraka, daripada hidup dirundung segala duka.
Tiba-tiba sebuah bisikan membuyarkan lamunan Nirya. "Ssh! Jangan bicara, ikuti saja petunjukku kalau ingin selamat!"
Nirya terkesiap, itu sama sekali bukan suara Sthira atau Dhaka. "Siapa kau!?" sergahnya.
"Sssh, sudah kubilang diam! Aku Wufabwe, bergelantungan di pohon tepat di atasmu!"
Nirya ingin menegadah, tapi lehernya masih tak bisa digerakkan. Tiba-tiba sebuah tabung bambu tampak tepat di depan wajahnya.
"Minum itu!" perintah Wufabwe.
Nirya menggerakkan bibirnya yang memang tak ikut kaku, meraih mulut tabung dan meminum cairan di dalamnya. Rasa cairan itu jelas membuat perut amat mual, baunya seperti bau bangkai. Tapi rasanya Nirya pernah meminum itu sebelumnya.
Yang memastikan khasiat minuman itu adalah tubuh Nirya berangsur-angsur dapat digerakkan kembali. Tanpa sadar bibirnya berbisik, "Astaga... Ini... darah cayari?"
"Ya, aku sempat menyimpan sedikit dalam tabungku itu, untuk jaga-jaga andai kalian butuh penawar racun atau sihir cayari lagi seperti sekarang. Ini, ambil senjatamu dan bebaskan teman-temanmu pula!"
Wufabwe menjatuhkan kerambit kembar berantai dengan kurang hati-hati, hampir menghunjam tubuh Nirya yang tak sempat menghindar.
Namun daripada protes, Nirya memilih memegang tabung "penyambung nyawa" kelompoknya itu erat-erat. Ia lantas mulai memotong tali dari akar-akaran yang digunakan untuk mengikat pintu kerangkeng. Walau tak sekeras logam, tali akar cukup sulit dipotong. Terpaksa Nirya mengalirkan tenaga dalamnya, mempertajam bilah kerambit sehingga dapat memotong dengan lebih mudah.
Tiba-tiba Wufabwe berbisik lagi, "Psst, ada penjaga!"
Nirya terkesiap dan segera kembali ke posisi semula, yaitu duduk tegak dan kaku.
Benar saja, seorang prajurit jaga lewat sambil menyandang tombaknya. Ia menatap sejenak ke dalam tiap kerangkeng dan mengangguk, memastikan para tahanan masih ada di dalamnya.
Saat menatap ke dalam sel Nirya, si penjaga tersenyum aneh. Ia berbisik, "Wah, wah, cantik dan putih sekali. Hei gadis, mumpung kau tak bisa bergerak dan besok pasti mati, bagaimana kalau malam ini kau bersenang-senang denganku dulu?"
Nista. Inikah sebenarnya mental seorang prajurit, yang seharusnya menjunjung tinggi disiplin? Mumpung para tahanan telah teracun dan tak bisa bergerak, ia ditugaskan berjaga-jaga sendirian. Tapi si penjaga itu tadi sempat meninggalkan tempat tugasnya entah untuk urusan apa, lalu kembali untuk berbuat tak pantas pada tahanan?
Hasrat Nirya untuk membunuh penjaga itu di tempat menggelegak. Namun wajah Nirya malah berubah tersenyum karena mendapat satu gagasan baru.
"Wah, apa senyummu itu berarti kau mau?" Air liur menetes dari bibir tebal si penjaga.
Senyum Nirya makin menggoda, bicaranyapun dibuat-buat, "Mengapa tidak? Aku tentu tak mau meninggalkan dunia ini dengan tubuh tersia-sia, 'kan? Kemarilah, prajurit perkasa."
__ADS_1
Si prajurit makin bernafsu. Ia menurunkan tombaknya, lantas membuka mengurai tali ikatan pintu kerangkeng dengan mudahnya. Ia begitu terburu-buru, hingga tak sadar sudah ada sedikit bagian tali itu yang terpotong. Lalu ia memasuki kerangkeng dengan berkata, "Pilihan bagus! Kau pasti bakal puas, gadis cantik!"
Mendadak, Nirya malah menyambut dengan hunjaman kerambit tepat di jantung si prajurit bejat. "Kau yang harus meninggalkan dunia sekarang, bung."
Si prajurit ingin berteriak untuk memperingatkan orang-orang lain, namun Nirya menghunjamkan kerambitnya makin dalam. Suara lelaki itu tercekat, tersedak darah yang memenuhi mulutnya.
Setelah yakin si penjaga telah tewas, Nirya cepat-cepat keluar dari kerangkeng. Wufabwe juga sudah turun dan membuka tali pengikat pintu tiap kerangkeng. Wufabwe juga sudah turun dan membuka tali pengikat pintu tiap kerangkeng lain.
Nirya lalu cepat-cepat meminumkan darah cayari ke mulut rekan-rekannya. Obat penawar racun itu bereaksi seketika. Tubuh Sthira, Dhaka dan Arumi mulai bergerak kembali.
"Cepat lari, sebelum lebih banyak prajurit berdatangan! Ikut aku!" seru Wufabwe dengan suara berdesis.
Tanpa bicara apapun lagi, Nirya dan kelompoknya langsung bergegas. Wufabwe ternyata juga membawakan senjata-senjata para rekan Nirya, jadi rombongan bisa langsung lari ke luar kota.
Wufabwe yang kenal betul seluk-beluk Kota Teminobe bergerak melintasi anjungan demi anjungan kayu dalam gelap. Hebatnya, hingga mereka turun di tangga tali anjungan terakhir di batas kota, tak seorangpun prajurit maupun warga kota yang menghadang mereka.
Saat kaki-kaki para pelarian kembali menjejak tanah padat, barulah Wufabwe berkata, "Yap, kita sudah sampai di luar kota! Ayo kita sekarang ke pantai, kembali ke kapal kalian...!"
"Tidak," tukas Sthira. "Kami masih harus mencari Yori Mbeko. Apa kau tahu di mana dia berada?"
Wufabwe mengerutkan dahi. "Sang Yumano Yori Mbeko, pemimpin seluruh Dhuraga bersatu? Ada apa kalian mencarinya?"
Arumi mencoba memberi penjelasan sesederhana mungkin. "Kami berpikir, dengan membunuh Yori berarti kami menghentikan aksi pembajakan dan penjarahan yang selama ini dilakukan Dhuraga, dengan dalih membangun negeri."
Nirya terkesiap, namun masih merasa kurang yakin dnegan kata-kata Wufabwe sampai di titik itu. Pasalnya, di negeri primitif, perang antar-suku sudah biasa meletus, dan banyak nyawa hilang begitu saja. Jadi belum cukup alasan bagi Wufabwe untuk membebaskan kelompok Nirya dan menentang para pemimpinnya sendiri.
Setelah jeda beberapa saat, baru Wufabwe melanjutkan, "Setelah aku kembali ke desaku, barulah aku tahu bahwa yang menyerang dan menaklukkan desaku adalah suku asal Yori Mbeko, dan pemimpin pasukan penyerang tak lain adalah Aswa Rakwar. Ternyata selama ini mereka mempersatukan suku-suku Dhuraga lewat kekerasan dan pertumpahan darah. Detik itu pula, aku berhenti menjadi prajurit dan beralih menjadi pengerat sagu, menunggu saat terbaik untuk membalas dendam keluargaku pada Yori dan Aswa. Ternyata benar, kalian hendak membunuh Yori Mbeko, bukan duta saudagar. Jadi, aku akan mengantar kalian ke Gunung Yamkora, tempat Yori kini bersemadi, dengan satu syarat."
"Syarat apa?" tanya Dhaka.
"Setelah kalian membunuh Yori, kalian juga harus membunuh Aswa Rakwar."
Sthira menjawab, "Tentu saja. Pohon kejahatan harus dicabut sampai ke akar-akarnya."
"Tapi, apa kalian cukup tangguh untuk melawan suami-istri itu?"
Tanpa bermaksud menyombongkan diri, Arumi berkata, "Kami tak tahu setangguh apa Yori dan Aswa, tapi kurasa kami mampu melawan mereka."
"Terima kasih, teman-teman," ujar Wufabwe, matanya berkaca-kaca. "Ayo, kita harus menyelesaikan urusan kita di Yamkora sebelum pasukan pengejar menyusul kita!"
Untunglah Wufabwe yang banyak akal membawa obor, jadi rombongan dapat melihat jalan di depan dengan lebih baik, tak hanya tergantung dari cahaya kilatan petir dari Mandau Gharma dan cahaya kobaran api dari keris besar Arumi, Agninetra. Ditambah pula, Nirya memungut akar-akaran, menyalakannya dengan batu pemantik api dan bersama Dhaka memegang masing-masing satu.
Walaupun pergerakan mereka cukup lincah dan cepat, tetap saja para pelarian itu tak berani berlari di sela-sela rapatnya jarak antar pohon di Rimba Apukondao ini.
Untunglah saat langit hitam mulai meremang, saat bola raksasa penerang dunia mulai mengintip dari balik cakrawala, sudah tampak Gunung Yamkora yang menjulang dengan agungnya. Rupanya itu puncak tertinggi di Pegunungan Sorendo'reri yang berdiri berjajar dengannya.
__ADS_1
"Puncak Putih Yamkora," gumam Wufabwe. "Mungkin hanya Yori Mbeko dan para pendekar terkuat di Dhuraga, para juru kunci pendahulunya yang pernah mendaki hingga ke sana. Mungkin hanya mereka yang tahu ada apa di puncak itu, dan apa yang membuatnya begitu putih seakan menembus awan."
Tentu saja, bahkan kaum cendekiawan Antapada di Zaman Shir inipun belum dapat membuktikan apa yang menyelimuti Puncak Putih Yamkora itu. Jadi, satu-satunya cara untuk mencari tahu keberadaan Yori Mbeko adalah dengan mendaki Gunung Yamkora, bila perlu hingga ke puncaknya.
Menyadari itu, tanpa sadar tubuh Nirya menggigil. Firasatnya berkara, pengetahuan dan persiapan untuk pendakian kali ini sangat minim. Rasa menggigil itu mungkin adalah pertanda pengalaman buruk yang bakal menanti seluruh rombongan ini di Yamkora.
Jadi, daripada diam saja, Nirya mengambil inisiatif untuk bertanya pada Arumi, "Arumi, apakah di Kitab Manikrama ada keterangan tentang Puncak Putih Yamkora?"
Arumi hanya menggeleng saja. Entah apakah memang tak ada keterangan dalam kitab itu, ia lupa, tak tahu, atau pada dasarnya malas meladeni rekan yang merepotkan macam Nirya.
Malah Wufabwe yang menanggapi Nirya, "Sudahlah, satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya mencari Yori di Gunung Yamkora. Harap saja kita tak perlu mendaki hingga ke puncak...!"
Tiba-tiba Wufabwe terpaku di tempat, dari mulutnya keluar suara seperti tersedak.
Melihat itu, Nirya yang berjalan di posisi tengah rombongan menyeruak maju, melewati Sthira di posisi terdepan. Kedua tangan Nirya bergerak seakan menutupi mulutnya yang ternganga. Mata gadis itu terbelalak ngeri, menemukan sebilah ujung tombak mencuat dari punggung si pria pemandu itu.
Lebih terkejut lagi Nirya melihat si pelempar tombak di kejauhan. Itu adalah si pria bertangan luar biasa panjang yang perawakannya sulit dilupakan setiap orang, bahkan Nirya ingat namanya adalah Hongke Jombe.
"Rasakan hukumanmu, pengkhianat!" seru Hongke Jombe dengan senyum penuh kemenangan. "Aku sengaja bergerak lebih awal untuk menghadang kalian, para duta palsu! Saat pasukan pengejar pimpinan Sang Aronawa, Aswa Rakwar sendiri menyusul, riwayat kalian semua dipastikan tamat!"
Sthira menghunus Gharma dan siap menyambut serangan si Panglima.
Namun, di ujung nyawanya Wufabwe berteriak, "Jangan hiraukan Jombe! Terus lari, cari... Yori sebelum ia... meninggalkan Yamkora!"
Nirya terkesiap. Maksud Wufabwe, sebagian pasukan pengejar pasti berderap terus ke Yamkora untuk memperingatkan Yori. Pencarian satu orang manusia di tengah Hutan Apukondao yang teramat luas dan berliku-liku, atau Pegunungan Sorendo'reri yang amat luas cakupan jaraknya pasti lebih mustahil daripada di satu Puncak Yamkora saja.
"Baik!" seru Nirya pada Wufabwe. Namun si pria pengerat sagu itu telah roboh di tanah, selamanya tak akan pernah bangkit lagi.
Akhirnya kau berkumpul dengan istri dan anakmu lagi, Wufabwe, batin Nirya sambil berlari, air matanya berderai. Ia jelas mengikuti Sthira dan rekan-rekan lainnya, juga memenuhi amanat terakhir si pemandu.
"Eit, jangan harap bisa lari! Mati saja kalian semua di sini!" seru Jombe. Sambil berlari, lengan panjang Jombe menggenggam dua lembing yang baru ia hunus dari antara lembing-lembing yang diikat di punggungnya. Lalu, ia melemparkan kedua lembing itu ke dua sasaran, yaitu Dhaka dan Arumi yang berlari di posisi paling belakang dalam formasi.
Dhaka si komodorai cukup berkelit ke satu sisi, tombak hanya menyerempet sisik-sisiknya yang keras nan tebal.
Saat lembing terus berdesir ke arah Arumi, gadis berambut merah itu melompat sambil berputar ke belakang. Tak hanya itu pula, ia melepaskan tali busur yang sejak tadi ia tarik. Anak panah melesat lebih cepat daripada tombak, menghunjam tepat di dahi Hongke Jombe.
Yakin dengan hasil panahannya, Arumi langsung berbalik dan kembali lari sambil berseru, "Beristirahatlah dengan tenang, Wufabwe. Dendammu telah kubalaskan!"
Sekilas menyaksikan aksi Arumi tadi, Nirya lantas bergerak lincah menghindari rangkaian lemparan lembing para pengejar. Namun, tatapannya hampir selalu lurus ke depan. Perhatiannya tertumpu pada satu tempat tujuan.
Puncak putih Gunung Yamkora.
Gambar referensi untuk Gunung Yamkora adalah Puncak Jaya Wijaya, Papua.
Sumber gambar: KSM Tour.
__ADS_1