EVERNA Cincin Api

EVERNA Cincin Api
HAMENTANE Bagian 3


__ADS_3


"Sthira!" Nirya berteriak histeris, padahal nyawanya dan nyawa bayinya juga terancam. Para pengeroyok sengaja tak menyerang Nirya supaya Nirya melihat sendiri hasilnya karena berpihak pada orang yang salah. Saat senjata-senjata terayun ke arahnya, teriakan Nirya makin keras, serak dan melengking.


Anehnya, suara Sthira yang ia dengar justru berkata, "Nirya, bangunlah! Bangun, Nirya!"


Saat itu pula, tubuh Nirya serasa terguncang. Pandangan mata Nirya jadi gelap, seakan ia tengah memejamkan mata. Saat Nirya membuka matanya, tampaklah wajah yang dicintainya menatap cemas padanya. Sthira masih hidup, rupanya yang Nirya alami tadi hanya mimpi.


Tanpa pikir panjang Nirya langsung menghambur ke pelukan Sthira sambil menangis sejadi-jadinya. "Sthira, syukurlah...! Tadi itu... mengerikan sekali...!"


Sthira membelai rambut dan punggung Nirya dengan lembut. "Tenanglah, Nirya. Itu hanya mimpi saja. Kau tadi mengigau, tapi semua hal yang kauteriakkan itu tak nyata."


"Tidak, Sthira! Andai kita berhasil di sini, perang di Antapada belum tentu berakhir. Mau tak mau kita harus akhiri misi kita di sini. Sebaiknya kita biarkan saja Kalingga menguasai seluruh Antapada. Dengan begitu, setidaknya seluruh negeri bisa bersatu dan pulih kembali."


Suasana hening seketika. Sthira lantas mengulurkan tangannya, mengendurkan pelukannya pada Nirya. Pria muda itu sama sekali tak berniat menyembunyikan senyumnya, membuat Nirya mendelik, bertanya-tanya.


"Terus terang, aku tak menduga kau akan mengatakan itu," ujar Sthira lembut.


"Benarkah?" tanya Nirya.


"Ya. Semula kuduga kau akan bersikap seperti Arumi dan Dhaka. Untuk melemahkan sebuah negeri tanpa mereka menuduh negeri lain, kita harus mendatangkan bencana di kota terpenting negeri itu."


"Itulah yang selama ini kita lakukan, tapi tak bisa di Hamentane."


"Aku sepenuhnya sadar akan hal itu. Kita bisa saja memicu letusan gunung berapi dengan mengalahkan juru kunci dan penjaganya, lalu merebut kunci aksara gaib gunung itu. Bila kita ingin menciptakan bencana banjir atau tanah longsor, kita bisa menggunduli hutan dan menunggu hujan turun amat deras."

__ADS_1


Nirya menghela napas. Memang benar, pada dasarnya ada beberapa macam bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Letusan gunung berapi tak masuk dalam jenis itu, namun di Antapada dimungkinkan oleh adanya para juru kunci.


Sthira melanjutkan, "Namun, bagaimana dengan bencana-bencana yang lebih dahsyat lagi, seperti misalnya gempa bumi dan badai? Bahkan penyihir atau makhluk gaib tersaktipun belum tentu mampu mendatangkan gempa atau badai sedahsyat bencana alam itu. Kalau kita berdoa agar Sang Mahesa mendatangkan bencana alam, apa ia akan mengabulkan permintaan semacam itu?"


Nirya menggeleng.


"Nah. Tindakan pengrusakan apapun dari manusia, baik serangan tentara, teror, pembakaran atau apapun pasti akan membuat Kalingga murka, menuduh negeri-negeri Antapada lain bersekongkol melawannya dan maju perang habis-habisan."


"Jadi, satu-satunya jalan adalah..."


"Usulmu tadi itulah cara terbaik," potong Sthira. "Tapi aku yakin, Dhaka dan Arumi takkan setuju. Terpaksa aku merahasiakan tentang Kalingga ini sejak awal pada mereka. Kalau tidak, saat ini kita pasti masih mendekam dalam penjara di Wulantra."


Nirya mengangguk, mengiyakan.


"Sempat aku terkejut oleh Arumi yang tahu banyak tentang Antapada dari catatan perjalanan Arya Manikrama. Untunglah sama sekali tak ada catatan mengenai Kalingga, negeri yang sengaja menutup diri ini. Maka, aku bisa bernapas lega."


Menangkap setitik api keraguan di raut wajah Nirya, Sthira meredamnya dengan sekali lagi memeluk kekasihnya itu. Tak berhenti di sana, bibirnya kini terpaut kurang dari sejengkal dari bibir Nirya yang bagai delima merekah. Maka terhubunglah kedua insan itu dalam jalinan kehangatan cinta, di ambang batas yang hanya bisa dilalui dalam kesucian ikatan pernikahan.


Sthira dan Nirya nyaris melanggar batasan itu saat tiba-tiba pintu kamar penginapan didobrak hingga terbuka. Suara keras dari aksi itu membuat kedua sejoli itu melepas pelukan mereka dan berdiri siaga. Nirya belum sempat menghunus kerambit kembar yang selalu ia sembunyikan di balik lipatan ikat pinggangnya.


Beberapa pria berseragam menyeruak masuk dan menutup jalan keluar. Salah satu dari mereka berseru keras, "Nirya dan Sthira! Atas nama Triawarman, Raja Kalingga, kalian kami tahan atas tuduhkan merencanakan teror di Kalingga! Menyerahlah, atau kami takkan segan menggunakan kekerasan!"


Tentu saja Nirya terperanjat dan protes, "Itu tuduhan tak berdasar! Dari mana kalian tahu nama kami? Siapa yang melaporkan itu pada kalian?"


"Kami orang yang lapor!" seru Dhaka sambil melangkah maju bersama Arumi.

__ADS_1


"Kalian?! M-mengapa...?"


Giliran Arumi bicara, "Sudah jelas, 'kan? Apapun yang kalian lakukan pasti akan berujung bencana di Hamentane. Karena itulah kami harus menghentikan kalian."


"Yap, kalian benar." Semua mata lantas tertuju pada pria yang mengatakan itu. Semua insan di sana, termasuk Nirya, Arumi dan Dhaka terkejut saat tahu justru Sthiralah yang mengatakannya.


"Apa maksudmu, Sthira?" bentak Arumi. "Jangan mengada-ada! Mau mengelabui kami lagi seperti taktik pura-pura pingsanmu yang basi itu?"


"Biar kutegaskan lagi," tanggap Sthira. "Aku memang berniat untuk tak merusak, apalagi menghancurkan Hamentane sejak awal. Aku memang berniat ingin kembali seorang diri ke negeri tempat aku dilahirkan ini dan menuntaskan segala sesuatunya. Namun sayang, aku sungguh-sungguh pingsan lagi dan kalian malah ikut ke kota ini."


"Sudahlah, tak usah berbelit-belit," sergah Dhaka. "Kau tahu kami orang tak percaya pada kau lagi."


"Oh, begitu rupanya?" Sthira terkejut, namun tak jelas itu sungguhan atau buatan. "Tapi tak masalah. Tugas kalian toh telah usai. Nirya ikut denganku karena kami berniat akan menikah setelah misi ini selesai. Kebetulan aku memang berniat menghadap Raja Triawarman dan Ratu Pirimatha. Walau aku lebih suka mengunjungi Istana Mantikei Labih tanpa terbelenggu dan digiring tentara, mau tak mau aku harus ikut tanpa banyak ribut."


"Baiklah, ikat mereka berempat!" seru si komandan pasukan.


"Apa?" Arumi terkejut. "Tapi kami yang telah melaporkan Sthira dan Nirya...!"


"Berdasarkan pembicaraan tadi, jelas kalian adalah satu kelompok walau tampaknya ada perpecahan yang parah. Untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan, biarlah keputusan Paduka Raja dalam pengadilan nanti yang akan menentukan nasib kalian."


Dhaka dan Arumi berdecak kesal. Rupanya Sthira sengaja bicara panjang lebar agar para prajurit yang tak tahu apa-apa itu berpikir mereka berdua tengah berkhianat, menjadikan Sthira dan Nirya kambing hitam untuk entah apapun yang akan mereka lakukan di Hamentane ini.


Sekarang, mereka berempatlah yang harus diadili di hadapan Raja dan Ratu Kalingga.


Seperti halnya di Jayandra dan Dhuraga, hampir pasti hasilnya takkan menyenangkan.

__ADS_1


Firasat Nirya berkata, benarkah demikian?


Gambar referensi untuk Permaisuri Pirimatha adalah gambar Putri Aji Bidara Putih. Sumber: Creepypasta.


__ADS_2