
Jam menunjukkan pukul 8 pagi, Ziko yang baru saja selesai dengan ritualnya di dalam kamar mandi bersama istri kecilnya.
Kini Ziko bergegas untuk siap-siap pergi ke kantor, Ayumi juga sudah berdandan cantik dengan riasan tipis seperti biasanya.
"Gadis oon, terimakasih untuk pagi ini," kata Ziko sambil mengeluarkan kartu ATM miliknya dari dalam dompetnya.
"Gunakanlah uang di kartun ATM ini sesukamu! Jika kurang katakan saja padaku," sambung Ziko seraya menaruh kartu ATM di meja rias milik Ayumi.
Ayumi menatap Ziko dengan penuh tanda tanya? Kesambet dedemit apa Ziko ini? Tumben sekali memberikan kartu ATM miliknya pada dirinya.
"Ini untuk apa tuan? Bukankah bayaran saya sudah di transfer ke mama aku, kenapa tuan memberikan kartu ATM tuan pada aku?" tanya Ayumi dengan nada lembut.
"Mulai sekarang aku tidak akan mentransfer uang lagi ke mama kamu, jadi kamu gunakan kartu ATM itu dengan baik!" jawab Ziko tegas.
"Malas sekali aku transfer wanita j*l*ng itu lagi, jangan harap! Apalagi dia sudah membuat istriku menangis," batin Ziko dalam hatinya.
"Tapi kenapa tuan?" tanya Ayumi.
"Nanti mama pasti akan marah padaku, apalagi jika Tuan Ziko tidak transfer uang lagi," gumam Ayumi dalam hatinya.
"Sudahlah jangan banyak tanya! Aku mau berangkat kerja, jika kamu mau pergi kemana-mana minta di anterin sama Pak Han, ingat pulanglah tepat waktu! Sebelum aku sampai di rumah, kamu harus sudah ada di rumah," celoteh Ziko panjang lebar, tidak biasanya Ziko bersikap seperti ini, ini nyatanya membuat Ayumi agak terkejut.
__ADS_1
"Baik tuan," jawab Ayumi singkat.
Ziko berpamitan berangkat kerja, beda dari biasanya bahkan pagi ini Ziko meminta Ayumi untuk mencium punggung tangannya dan Ziko memberikan kecupan manis di kening Ayumi, sungguh ini membuat Ayumi semakin terkejut di buatnya.
"Aku rasa Tuan Ziko mulai tidak waras," batin Ayumi dalam hatinya.
Setelah berpamitan dengan Ayumi, Ziko keluar dari dalam kamarnya dan langsung pergi menuju ke kantor.
Ayumi megambil kartu ATM yang ada di atas meja rias, dia melihat kartu ATM itu dengan baik-baik.
"Ini pasti isinya banyak sekali," kata Ayumi.
"Tapi ini mau buat apa? Aku juga bingung mengunakan kartu ATM ini," sambung Ayumi.
Ayumi mengangkat telpon dari mamanya, lalu menaruh ponselnya tepat di telinganya.
"Hallo mama..." sapa Ayumi.
"Hey, anak b*d*h, kamu mengadu apa pada Tuan Muda Ziko? Dia sampai datang ke rumah dan marah-marah padaku," celoteh Erina dengan penuh amarah.
Ayumi terdiam, perasaan dirinya tidak pernah mengadu apa-apa pada suaminya itu.
__ADS_1
"Ma, Yumi tidak pernah mengadu apa-apa pada Tuan Muda," jelas Ayumi dengan nada lembut.
"Bohong, buktinya Tuan Ziko datang dan dia mengatakan tidak akan mentransfer uang lagi padaku, lalu bagaimana kuliah kakakmu?" oceh Erina dengan nada marah-marah.
Ayumi hanya terdiam, dia berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi?
"Sungguh ma, Yumi tidak mengatakan apa-apa," jelas Ayumi dengan jujur.
"Sekarang aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menghasilkan banyak uang untuk aku, kamu tahu biaya kuliah Sisil itu mahal." Erina kembali berceloteh seperti burung beo.
"Iya ma, aku tahu, nanti aku coba bicarakan pada Tuan Ziko," jawab Ayumi dan langsung mematikan saluran telpon mamanya.
Erina terlihat begitu marah, bahkan saat ini ingin sekali bertemu dengan Ayumi agar bisa menj*mb*k rambut panjang milik Ayumi.
"Sisil, kita harus bagaimana? Jika anak b*d*h itu tidak bisa menghasilkan uang banyak lagi, maka kuliahmu bagaimana?" Erina terus berceloteh seperti burung beo yang sedang kelaparan.
"Mama, Sisil juga tidak tahu, Sisil kan dari dulu tidak boleh kerja sama mama, jadi Sisil bingung harus berbuat apa?" jawab Sisil dengan begitu santainya, bahkan Sisil masih sempat makan cemilan di saat mamanya sedang marah-marah.
"Kita harus mencari cara, agar transferan Tuan Ziko kembali lancar," kata Erina dengan nada marah-marah.
Entah apa yang akan Erina lakukan nanti?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia