
Ziko menghentikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan elit dan tentunya yang bisa masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu ya hanya orang-orang berduit.
Ayumi mendengus kesal, karena Ziko mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena itu membuat Ayumi mabuk dan rasanya pingin muntah sekali.
"Tuan, apa tuan ini ingin membunuhku? Tuan membawa mobil sudah seperti orang yang sedang kesetanan," kata Ayumi. "Uwek...uwek." Ayumi mual-mual, membuat Ziko meliriknya dengan sorot mata tajam.
"Jangan muntah di mobilku, turun sana buruan!" oceh Ziko, sebelum Ziko mengoceh lebih lanjut Ayumi buru-buru turun dari dalam mobil Ziko.
Dalam hati Ziko, dasar kampungan diajak naik mobil ngebut sedikit saja mabuk.
Karena Ziko melajukan mobilnya seperti orang yang sedang kesetanan, sungguh ini membuat Ayumi merasakan mual, pusing, bahkan hampir muntah.
Ziko keluar dari dalam mobilnya, lalu dia menghampiri Ayumi dan lagi-lagi main tarik tangan Ayumi dengan kasar membuat Ayumi merasa sangat kesal.
"Lama-lama tanganku bisa patah, jika cara menarik tangan saja sekasar ini," sindir Ayumi secara halus.
"Lalu maunya bagaimana? Aku menggandeng tanganmu ini dengan romantis seperti di film drama-drama yang di gemari para gadis itu," sahut Ziko seraya membenarkan gandengan menjadi gandengan yang menurutnya romantis.
Kini mereka berjalan bergandengan dengan mesra, tapi mungkin lebih baik daripada seperti ini daripada ditarik paksa oleh Ziko.
Mereka berdua masuk ke dalam mall sambil bergandengan tangan, banyak mata yang tertuju pada mereka tapi Ziko dan Ayumi berusaha tenang dan mereka terus melanjutkan perjalanan mereka masuk ke dalam mall.
"Aku ajari kamu cara menghabiskan uang dengan baik, aku tidak rela jika uang yang aku berikan padamu, kamu berikan pada wanita j*l*ng itu," bisik Ziko di telinga Ayumi.
__ADS_1
"Wanita j*l*ng itu mamaku, sebutlah namanya dengan benar!" Ayumi melirik Ziko kesal.
"Tidak akan aku menyebut nama wanita itu dengan benar, bagiku dia hanyalah j*l*ng yang gila uang," kata Ziko sambil tersenyum kecil.
Ayumi menghela nafas berat, percuma berdebat dengan Ziko, apalagi Ziko ini orangnya tidak akan mau mengalah dalam hal apapun, entah ke depannya bagaimana?
"Sudahlah jangan bicarakan wanita j*l*ng itu, sebaiknya kamu berbelanja, beli baju, tas dan kamu juga boleh membeli baju tidur seksi agar suamimu ini senang," goda Ziko dengan nakal.
Entah sudah berapa kali Ziko menyebut dirinya ini sebagai suaminya Ayumi tanpa Ziko sadar?
"Dasar laki-laki m*s*m," cibir Ayumi kesal.
Ziko hanya tersenyum jail, senang sekali rasanya saat melihat Ayumi merasa kesal, karena bagi Ziko di saat Ayumi sedang kesal itu begitu menggemaskan, rasanya ingin cepat-cepat pulang dan menguncinya di dalam kamar, itu yang ada di otak Ziko.
"Pilihlah yang kamu mau....!!" titah Ziko seraya melihat-lihat tas yang menurutnya cocok untuk Ayumi.
Ayumi hanya terdiam sambil melongo dia bingung tas branded ini untuk apa? Sedangkan setiap hari Ayumi hanya di rumah saja, bagi Ayumi membeli tas mahal-mahal itu pasti akan mubazir.
"Tuan, ini harga tas ini terlalu mahal, bisa buat satu rumah," kata Ayumi, melihat harga tas yang dia pegang harganya lebih dari 100 juta, sungguh Ayumi hanya bisa geleng-geleng kepala, ternyata jadi orang kaya itu mudah sekali membuang-buang uangnya.
"Gadis oon, kamu tidak usah melihat harga, kamu cukup pilih mana yang kamu suka saja!" jawab Ziko agak kesal tapi Ziko berusaha menahan rasa kesalnya. "Inilah efek menikahi gadis dari kalangan biasa, dia melihat harga tas sampai ratusan juta saja langsung geleng-geleng kepala," batin Ziko dalam hatinya.
"Tuan saja yang pilihkan untukku," pinta Ayumi dengan nada lembut.
__ADS_1
Karena Ziko tidak mau berdebat lebih lanjut, akhirnya Ziko memilihkan dua tas yang untuk Ayumi yang menurut Ziko cocok untuk gadis polos seperti Ayumi ini.
Setelah selesai, Ziko membayar kedua tas pilihannya itu, kini Ziko mengajak Ayumi keluar dari dalam toko tas itu dan menuju ke toko selanjutnya, entah toko apa yang akan Ziko tunjukkan pada Ayumi?
Hari ini Ziko akan benar-benar mengajari Ayumi cara menghabiskan uangnya dengan baik, agar tidak berikan pada Erina atau pun Sisil, sungguh jika itu sampai terjadi, pasti Ziko akan murka dan entah apa yang akan Ziko lakukan nanti?
"Kita mau kemana lagi, tuan? Ini beli tas saja sudah habis banyak," tanya Ayumi, rasanya sayang sekali uang ratusan juta hanya dapat dua tas branded, mungkin jika Ayumi beli di toko biasa yang ada di dalam pasar pasti uang ratusan juta sudah dapat tokonya sekaligus.
"Ikut saja denganku.....!!" sahut Ziko, sambil terus mengandeng tangan Ayumi, bahkan Ziko juga membawakan belanjaan Ayumi.
Ziko menghentikan langkah kakinya, membuat Ayumi juga menghentikan langkah kakinya.
"Tuan, kenapa ke toko baju...."
"Apa salahnya? Ini juga perlu untuk kita bertempur," sambung Ziko sebelum Ayumi melanjutkan kata-katanya.
Ziko langsung mengajak Ayumi masuk ke dalam toko itu.
"Ziko......" tiba-tiba ada suara yang memanggil nama Ziko.
Membuat Ziko dan Ayumi sama-sama menoleh secara bersamaan.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia