
Miko menarik nafasnya dengan pelan, dia juga berusaha tenang dan tetap santai.
"Sekertaris Miko, apa anda sudah punya kekasih?" tanya Selin, bahkan Selin tidak ada rasa canggung sama sekali.
Miko yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dia mengurungkan niatnya lalu menaruh kembali makanan itu di atas piring.
"Belum Nona, lagi fokus dengan karir dulu," jawab Miko tanpa melihat ke arah Selin.
"Sekertaris Miko, jika berbicara dengan orang lain lihatlah orangnya! Jangan menunduk seperti itu karena itu tidak baik," cetus Selin saat ini Selin merasa gemas sekali dengan sikap Miko yang enggan melihat dirinya saat berbicara padanya.
Miko mengangkat kepalanya, lalu berusaha melihat ke arah Selin. "Iya maaf Nona, saya jarang mengobrol berduaan dengan seorang gadis, jadi rasanya canggung," jelek Miko.
Selin tersenyum kecil, seketika hatinya berbinar senang. "Apa laki-laki di hadapanku ini tergolong laki-laki yang begitu polos? Aku rasa usiaku dan usia dia mungkin hanya selisih beberapa tahun saja," batin Selin, Selin juga terus senyam-senyum dalam hatinya.
Padahal usia Selin dan Miko tuaan Miko tapi Selin itu memang terkenal genit, dia juga suka sekali jika melihat laki-laki tampan, rasanya pingin cepat-cepat di jadikan kekasihnya.
"Kita ini kan sekarang sudah menjadi rekan kerja, anggap saja saya ini rekan kerja anda!" pinta Selin, berharap bisa lebih dekat dengan Miko dengan cara seperti ini.
Miko mengangguk pelan, kini mereka melanjutkan makan mereka sambil ngobrol, Miko juga terpaksa menjadi asik karena tidak mau membuat Selin kecewa dan tentunya tidak mau juga kalau gajiannya sampai di potong oleh kakaknya.
*****
Ziko yang baru saja sampai di rumah, dia buru-buru masuk ke dalam rumahnya, dia langsung mencari-cari sosok Ayumi, karena rasanya begitu kawatir.
"Kenapa dia sampai tidak makan seharian?"
"Bahkan dia tidak memberitahuku kalau dia belum makan dari tadi siang, jika dia sakit bagaimana?"
__ADS_1
Ziko terus bergumam sambil berjalan menuju masuk ke dalam kamarnya.
"Pak Han, Nona ada di kamar kan?" tanya Ziko yang melihat Pak Han sedang berjaga di depan pintu kamar Ziko dan Ayumi.
"Ada tuan, Nona muda tidak mau keluar sama sekali dari tadi tuan," jelas Pak Han. Membuat Ziko semakin kawatir pada Ayumi.
Sejak Ziko pergi makan malam dari tadi, Ayumi memang langsung masuk ke dalam kamar dan tidak keluar kamar lagi.
Ziko buru-buru membuka pintu kamarnya dengan cepat.
"Ceklek...."
Suara gagang pintu itu membuat Ayumi kaget dan langsung mengalihkan pandangannya dari buku novel yang sedang dia baca.
"Tuan, sudah pulang?" tanya Ayumi dengan suara lemah lembut.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kamu belum makan sejak kapan?" Ziko kembali bertanya, kali ini dia sudah di tepi ranjang sambil menatap Ayumi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sejak tadi siang," jawab Ayumi dengan gugup. Siapa yang tidak gugup jika sikap Ziko tiba-tiba berubah seperti ini?
"Makan sekarang...!!"
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapi atau aku yang akan memakanmu?"
__ADS_1
Sorot mata Ziko menunjukkan sebuah ancaman, membuat Ayumi tidak bisa melawan lagi karena tidak mau menjadi santapan Ziko malam ini, apalagi dua hari ini Ayumi terus-terusan di bolak-balik seperti gorengan oleh Ziko dan itu membuat tubuh mungil rasanya pegal semuanya bahkan masih berasa sampai sekarang.
"Ayo makan...!!"
Tanpa menunggu jawaban dari Ayumi, Ziko langsung membopong tubuh mungil Ayumi, dia mengangkat Ayumi dengan begitu ringan seperti mengangkat kapas.
"Turunkan saya tuan! Malu nanti ada yang melihat kita," oceh Ayumi sambil memukul-mukul dada bidang milik Ziko.
"Nanti aku turunkan setelah sampai di ruang makan," jawab Ziko dengan tegas.
Sesampainya di meja makan akhirnya Ziko menurunkan Ayumi, lalu menarik satu kursi untuk Ayumi duduk.
"Saya tidak lapar," kata Ayumi dan langsung di tatap tajam oleh Ziko.
"Kamu harus makan....!!" paksa Ziko.
Karena tidak mau terus-terusan berdebat, akhirnya Ayumi menuruti apa kata Ziko, laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Dengan perhatian Ziko mengambil makanan yang ada di atas meja untuk Ayumi, setelah itu Ziko memberikan makanan yang sudah di ambil itu pada Ayumi.
"Makanlah yang banyak, aku tidak mau kamu sakit," dengan penuh perhatian Ziko menatap Ayumi, lagi-lagi tatapan Ziko ini sulit di artikan oleh Ayumi.
Ayumi mengangguk, lalu dia menikamati makanan yang sudah di siapkan oleh Ziko. Malam ini Ayumi agak heran, kenapa dengan suaminya ini? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1